Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kondisi Zhang Fei IIl


Selesai berbicara, tabib itu pun segera mengundurkan diri. Ia masuk kembali ke ruang pengobatan bersama tabib yang lainnya untuk melakukan pengobatan lebih lanjut.


Karena masalah yang menyulitkannya sudah beres, maka sekarang para tabib itu sangat yakin mereka bisa mengatasi masalah lain.


Terkait racun yang masuk dan masih ada di dalam tubuh Zhang Fei, para tokoh dunia persilatan yakin bahwa tabib-tabib itu pasti mampu membereskannya dengan baik.


Sementara itu, setelah berlalunya di tabib, para tokoh pun segera pergi dari ruang pengobatan. Selanjutnya mereka menuju ke halaman belakang untuk membicarakan beberapa hal.


Begitu tiba di sana, tidak lama kemudian Yao Mei membuka mulutnya.


"Tuan Kiang," katanya sambil menatap orang tua itu yang belum lama ini baru selesai mengobati lukanya. "Menurutmu, apakah kita harus melaporkan kejadian ini kepada Kaisar?"


"Aku rasa tidak perlu, Nona Mei," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil menggelengkan kepala.


"Kenapa tidak perlu? Aku rasa ini justru sangat perlu. Kalau sampai Kaisar tahu akan kejadian ini, niscaya dia akan menyuruh Tabib Dewa Dong Ying untuk menuju kemari dan mengobati Zhang Fei,"


Dari cara bicara dan ekspresi wajah, siapa pun tahu bahwa saat itu Yao Mei masih panik. Kepanikannya tersebut tidak bisa ditutupi sama sekali.


"Benar, Tuan Kiang. Kalau sudah ada Tabib Dewa, aku yakin Zhang Fei bisa sembuh dengan cepat," sambung Yin Yin yang juga merasakan hal serupa.


Para tokoh lain segera tersenyum sembari memandang ke arah mereka berdua. Lewat beberapa saat kemudian, Dewa Arak Tanpa Bayangan baru menjawab.


"Nona Mei, Nona Yin, aku tahu bahwa kalian berdua ini sangat khawatir dengan keadaan anak Fei sekarang. Tapi, cobalah berpikir lebih jernih, kondisi anak Fei saat ini benar-benar genting. Kalau kita memberitahu Kaisar atau mengundang Tabib Dewa, hal itu percuma saja,"


"Kenapa percuma?"


"Ya, kenapa percuma?"


Kedua gadis itu bertanya hampir dalam waktu yang bersamaan.


"Coba kalian ingat, jarak dari sini ke Istana Kekaisaran itu tidak dekat. Kalau hanya mengirim surat, mungkin waktunya masih bisa disingkat lewat burung pengirim surat. Tapi bagaimana nantinya? Benarkah Tabib Dewa bisa juga titipkan kepada burung itu?"


Seperti yang sering diceritakan, jarak dari Gedung Ketua Dunia Persilatan ke Istana Kekaisaran itu setidaknya membutuhkan waktu normal paling cepat tujuh hari.


Pada saat seperti ini, tujuh hari itu cuman waktu yang sebentar. Malah sudah terhitung sangat lama. Mengingat bahwa kondisi Zhang Fei sangat mengkhawatirkan. Dia harus mendapatkan pengobatan secepat mungkin.


Kalau harus menunggu selama tujuh hari, rasanya hal itu sama saja dengan membiarkan Zhang Fei mati konyol.


"Lagi pula," Dewa Arak Tanpa Bayangan kembali melanjutkan bicaranya. "Para tabib yang ada di sini pun sudah mempunyai ilmu tinggi dan pengalaman luas. Aku yakin, mereka bisa mengatasi semuanya, sesuai dengan apa yang kita harapkan. Hanya saja memang, mereka tidak mempunyai bekal tenaga dalam yang tinggi seperti halnya Tabib Dewa. Tapi kalau dalam ilmu pengobatan, aku sendiri juga mengakui kehebatan mereka,"


"Hemm ... baiklah, kalau begitu. Aku ikut apa kata kalian saja," ujar Yao Mei dengan ekspresi muka cemberut.


"Tapi kalau sampai ada apa-apa dengan Zhang Fei, lihat saja. Aku akan memberikan pelajaran kepada para tabib itu," sambung Yin Yin.


"Sudah ... sudah. Kalian tenang saja. Hari sudah larut malam, lebih baik lanjutkn tidur kalian," kata Dewi Rambut Putih menjadi penengah.


"Baiklah, Nyonya Ling. Kalau begitu, kami permisi lebih dulu,"


Yao Mei dan Yin Yin segera bangkit berdiri. Keduanya lalu pergi ke kamarnya masing-masing.


Beberapa saat berikutnya, setelah selesai minum arak, terdengar Pendekar Tombak Angin berbicara.


"Sepertinya dua gadis itu sangat mencintai anak Fei," ia tertawa ringan.


"Hahaha ... betul. Aku pun merasakan hal yang sama," sambung Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Kalau masih muda, aku pun akan ikut mencintai anak Fei. Menurutku dia adalah pemuda yang sempurna. Wajahnya tampan, pengetahuannya luas, ilmu silatnya juga diakui banyak orang. Dengan semua bekal yang dimilikinya saat ini, gadis mana yang tidak akan terjatuh dalam pangkuannya?" Dewi Rambut Putih ikut tertawa bersama yang lainnya.


"Melihat anak Fei, aku jadi teringat dengan masa mudaku dulu," ujar Dewa Arak Tanpa Bayangan. Ia tertawa puas sehingga melupakan rasa sakit yang dirasakannya saat ini.


Para tokoh tersebut tentu saja merasa kagum kepada Zhang Fei. Walaupun sedikit banyaknya mereka ikut andil dalam perkembangan Zhang Fei, tetapi pada dasarnya ia memang mempunyai bakat yang alami.


Bakat langka yang tidak bisa sembarangan ditemukan dalam diri seseorang.


"Tuan Kiang, ngomong-ngomong, di mana para Datuk Dunia Persilatan itu selayang?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan dengan datar.


Di antara para tokoh yang ada, yang tetap diam dan tidak ikut bercanda mungkin hanya dirinya saja.


Sejak melihat kondisi Zhang Fei, sejak saat itu pula dia tidak berminat untuk bercanda. Malah dalam hati kecilnya, dia ingin pergi mencari para datuk sesat itu untuk meminta pertanggungjawaban.


Entah kenapa, melihat Zhang Fei terluka parah, tiba-tiba saja amarahnya berkobar bagaikan api yang siap melahap apapun juga.


Kalau tidak bisa menahan diri, mungkin sudah sejak awal dia pergi.


"Entahlah, sepertinya mereka langsung kembali ke tanah airnya masing-masing," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil mengangkat kedua pundak.


"Keparat! Kalau aku bertemu dengan mereka, aku pasti akan langsung memenggal kepalanya!" Pendekar Pedang Perpisahan mengepal tangannya dengan keras. Giginya berbunyi karena menahan amarah yang terus saja meluap-luap.


"Eh, tunggu dulu ..." kini giliran Orang Tua Aneh Tionggoan yang berbicara. "Setan arak, di mana Pedang Raja Dewa? Apakah kau menyembunyikannya?"


Ditanya seperti itu, seketika dia langsung menundukkan wajahnya dalam-dalam. Beberapa saat kemudian, Dewa Arak Tanpa Bayangan menghela nafas panjang.


"Pedang itu sepertinya dibawa oleh datuk sesat yang menyiksa anak Fei. Saat aku membawanya pergi, pedang itu tidak ada di sekitar tempat pertarungan,"


"Aih ... celaka, ini gawat!" ia berseru tertahan setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


"Kenapa? Apanya yang celaka dan gawat?"


"Kalau sampai pedang itu benar-benar terjatuh ke tangan mereka, niscaya dunia persilatan akan kembali mendapat musibah,"


Para tokoh yang ada di sana seketika berubah tegang. Mereka merasa setuju dengan ungkapan Orang Tua Aneh Tionggoan.


Namun sebelum semuanya berlanjut, terdengar Dewa Arak Tanpa Bayangan bicara lagi.


"Tenang dulu, jangan khawatir," ucapnya perlahan. "Walaupun pedang itu terjatuh ke tangan musuh, tapi mereka tetap tidak akan bisa menggunakannya secara maksimal,"