Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kalung Warisan


"Apakah hanya seperti ini saja ilmu pedangmu? Sungguh mengecewakan," kata orang tua tersebut sambil terus menghindar dan menangkis semua serangan Zhang Fei.


Anak muda itu menggertak gigi. Dia sendiri merasa kesulitan untuk melawan orang tua itu. Jangankan membunuh atau melukai, bahkan mengenai ujung bajunya saja, ia tidak mampu.


Menurutnya, orang tua serba putih tersebut ibarat jejak bayangan yang tidak bisa disentuh walau dengan cara apapun juga.


Keringat dingin membasahi seluruh tubuh Zhang Fei. Pertarungan ini benar-benar menguras tenaganya. Tenaga sakti yang ia miliki pun, telah terkuras cukup banyak.


Sudah puluhan jurus dia menyerang. Tapi semua serangannya tidak ada yang berhasil.


Sementara di sisi lain, harimau dan monyet putih yang tadi bertarung dengannya, kini sedang menyaksikan pertarungan di pinggir arena.


Kedua binatang buas itu tampak kegirangan melihat majikannya berhasil mempermainkan lawan. Kadang kala, mereka seperti memasang wajah mengejek saat menyaksikan Zhang Fei kewalahan.


"Mengaku pendekar pedang, tapi tidak mampu memainkan pedang dengan benar. Aku sungguh kecewa kepadamu, anak muda,"


Orang tua serba putih itu berkata lagi. Malah sekarang ucapannya semakin menusuk telinga.


"Tua bangka, sejak tadi kau hanya mampu menghindar dan menangkis seranganku saja. Apakah kau tidak sanggup memberikan serangan balasan?" tanyanya sambil tetap menyerang.


"Itu perkara mudah. Sekali saja membalas serangan, aku yakin kau tidak akan sanggup membebaskan diri,"


"Omong kosong. Buktikan saja ucapanmu itu," kata Zhang Fei menentangnya.


"Hemm, baik. Tahan seranganku ini!"


Si orang tua tiba-tiba menggetarkan ranting pohon miliknya. Seluruh batang ranting itu bergetar keras. Sesaat kemudian, gerakannya berubah drastis.


Ranting itu mendadak terlihat seperti sebatang pedang. Pedang yang sangat tajam.


Tebasan dan tusukan datang dari segala penjuru mata angin. Setiap serangan itu mengincar titik penting di tubuh Zhang Fei.


Gulungan sinar keperakan memenuhi seluruh tubuhnya. Baru beberapa saat menyerang, Zhang Fei sudah berada di bawah angin.


Ternyata benar apa yang dia katakan, kalau sekali saja membala serangan, niscaya dirinya tidak dapat membebaskan diri.


'Sial. Orang tua ini benar-benar hebat,' batinnya berkata.


Anak muda itu terus bergerak. Ia terus berusaha membebaskan diri dari kurungan serangan lawan.


Plakk!!! Plakk!!!


Ranting pohon itu tahu-tahu telah menampar pipinya dengan keras. Garis merah langsung terlihat. Zhang Fei merasakan kedua pipinya panas seperti dibakar.


Semakin lama ia diserang, maka semakin banyak juga bagian tubuh yang menjadi sasaran ranting pohon.


Orang tua serba putih tersebut benar-benar mendesaknya. Dia tidak memberikan kesempatan bagi Zhang Fei untuk mengambil nafas.


Wutt!!!


Ranting pohon tiba-tiba meluncur secepat kilat.


Zhang Fei melihat hal itu. Ia langsung menggerakkan Pedang Raja Dewa untuk dibenturkan dengannya.


Trangg!!!


Suara nyaring terdengar. Bukannya menang, ia malah kalah dalam adu senjata barusan. Pedang Raja Dewa terlempar dan menancap cukup dalam di atas batu.


Ujung ranting pohon milik si orang tua, sudah ada di depan tenggorokannya. Tinggal didorong sedikit saja, niscaya ranting itu akan menusuk dengan telak.


Tapi nyatanya, ia tidak melakukan hal itu. Dirinya malah menarik ranting pohon dan berjalan mengambil Pedang Raja Dewa yang menancap di atas batu.


"Lakukan sekali lagi!" katanya sambil melemparkan pedang tersebut.


Wushh!!!


Begitu menerima pedang, Zhang Fei segera menyerang tanpa memberikan aba-aba lebih dulu. Kali ini, setelah mengetahui kehebatan lawan, dia tidak mau lagi membuang waktu.


Segenap tenaga dan kekuatan dikeluarkan dalam waktu serempak.


Si orang tua serba putih tersenyum. Meksipun dia bisa melumpuhkan anak muda itu dalam waktu singkat, tapi ia tidak mau melakukanya.


Dia ingin tahu lebih jauh sampai di manakah batas kemampuan Zhang Fei.


Pertarungan sengit terjadi lagi. Kedua belah pihak yang terlibat mulai saling serang satu sama lain.


Zhang Fei berusaha melukai, bahkan membunuh si orang tua serba putih. Sedangkan ia, tidak ada niat untuk melakukan itu semua.


Belasan jurus telah berlalu. Pertarungan masih imbang.


Tubuhnya tiba-tiba melayang ke depan dengan cepat. Ia membalas serangan Zhang Fei. Anak muda itu sendiri tidak mau kalah, pedangnya bergerak sangat cepat. Bahkan lebih cepat dari semua serangan sebelumnya.


Adu senjata kembali terjadi. Pedang itu beberapa kali berbenturan dengan ranting pohon.


Anehnya, sejak awal ranting itu tidak pernah patah. Bahkan Zhang Fei merasakan bahwa ranting itu sama keras dan tajamnya seperti pedang sungguhan.


Gulung angin datang menerpa. Lewat sesaat kemudian, gulungan angin itu sudah sirna.


Pertarungan telah berhenti. Pemenangnya tentu saja si orang tua serba putih.


Untuk yang kedua kalinya, ranting pohon itu berada tepat di depan tenggorokan Zhang Fei.


Sesaat kemudian, ranting tersebut bergerak lagi. Menyambar kalung yang dipakainya sejak kecil.


Clangg!!!


Kalung berikut liontinnya jatuh menimpa batu kerikil.


Zhang Fei ingin memungutnya, tapi ia kalah cepat dengan si orang tua.


"Anak muda, dari mana kau mendapatkan ini?" tanyanya sambil mengamati liontin.


Liontin yang ada di genggaman tangannya sekarang bergambar seekor naga putih yang sedang membuka mulut. Walaupun kecil, tapi seni yang tertera di dalamnya sangatlah tinggi.


Setiap lekuk garisnya sangat detail. Sehingga siapapun bisa melihat gambarnya dengan jelas.


"Kembalikan kalung itu!"


Zhang Fei berusaha meraih. Tapi dengan cepat orang tua tersebut menghadang langkahnya.


"Jawab pertanyaanku, dari mana kau mendapatkan liontin ini?" tanya orang tua itu lagi.


Kali ini ia bertanya dengan nada tegas. Tidak lembut seperti biasanya.


"Kalung itu adalah warisan dari keluargaku. Tolong, kembalikan,"


"Apa nama marga keluargamu?"


"Kenapa kau menanyakan hal ini?"


"Jangan banyak bicara. Jawab saja pertanyaanku, kalau memang kau ingin aku mengembalikan kalung serta liontin ini,"


"Margaku Zhang ..." jawabnya sambil menahan marah.


"Kau ... kau sungguh-sungguh?"


"Aku tidak berbohong,"


Orang tua serba putih itu seperti terkejut. Dia langsung menarik tangannya yang menggenggam ranting.


Beberapa kali ia memandang ke arah Zhng Fei dan liontin itu secara bergantian. Tatapan matanya menggambarkan rasa penasaran yang dalam.


Seolah-olah dia sedang mencari sesuatu.


"Apakah ada yang aneh?" tanya Zhang Fei setelah melihat perubahan di wajah si orang tua serba putih.


"Katakan, siapa Ayahmu?"


"Zhang Xin, Ayahku bernama Zhang Xin,"


"Si Pedang Kilat?"


"Begitulah orang-orang persilatan menyebutnya,"


"Ahh ..." dia terperanjat kaget.


"Orang tua, katakan ada apa sebenarnya?" tanya anak muda itu. Dia pun menjadi sangat penasaran, apalagi setelah melihat gelagat orang tua di depannya.


"Jadi kau ... kau adalah cucuku?"


"Apa maksudmu?" tanyanya semakin heran.


"Ketahuilah anak muda, Ayahmu itu adalah anakku,"


Zhang Fei terperanjat pada saat itu juga. Dia merasa seolah-olah ada petir yang menyambar kepalanya dengan telak.


"Tapi ... tapi Ayah pernah bicara bahwa Kakekku sudah lama meninggal,"