Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Datang Tepat Pada Waktunya


Keenam Datuk Dunia Persilatan aliran sesat itu kaget setengah mati. Masih untuk mereka bisa mengambil tindakan sedikit lebih cepat. Kalau tidak, mungkin sekarang keenamnya telah mengalami luka yang parah.


Kepulan debu tebal masih mengepul tinggi. Akibat ledakan barusan, setidaknya ada lima batang pohon di sekitar yang telah menjadi korban. Pohon-pohon itu hancur menjadi serpihan kecil. Dan di tempat mereka berdiri sebelumnya, terlihat ada cekungan dengan diameter cukup lebar.


Dalam pada itu, tanpa sepengetahuan para tokoh sesat tersebut, dibalik kepulan debu, seseorang telah memegangi pundak Zhang Fei. Orang itu pun langsung menotok beberapa titik penting di tubuhnya.


Zhang Fei tidak melawannya. Dia tetap membiarkan orang itu melakukan pekerjaannya. Dia pun tidak bertanya, karena Zhang Fei sudah mengetahui siapa orangnya.


"Kau datang tepat waktu, Tuan Kiang," ucapnya setelah proses itu selesai.


"Ya, sepertinya begitu, anak Fei," jawab seseorang yang bukan lain adalah Dewa Arak Tanpa Bayangan.


Sementara itu, tidak lama setelah kepulan debu lenyap, Enam Datuk Dunia Persilatan dari dua Kekaisaran tadi tampak kaget ketika melihat bahwa di sana sudah ada satu tokoh lain.


"Dewa Arak Tanpa Bayangan!" kata mereka hampir secara bersamaan.


"Hemm ..." orang tua itu mendengus dingin. "Aku tidak menyangka, ternyata di dunia masih ada tokoh-tokoh pengecut seperti kalian,"


"Hahaha ... mau kau sebut apapun, terserah. Kami tidak akan peduli," jawab salah seorang.


Diam-diam, mereka pun segera mempersiapkan dirinya masing-masing.


"Tuan Kiang, hati-hati, mereka adalah Datuk Dunia Persilatan aliran sesat dari Kekaisaran Zhou dan Jin," ucap Zhang Fei memberitahu.


"Benarkah, anak Fei?" Dewa Arak Tanpa Bayangan terkejut sambil menoleh ke arah Zhang Fei.


"Ya, begitulah, Tuan Kiang. Aku tahu hal ini dari pengakuan mereka sendiri,"


"Kurang ajar!" ia mengepal kedua tangannya keras-keras sampai semua otot nampak keluar.


"Tuan Kiang, apakah kita harus melarikan diri?" tanya Zhang Fei lebih lanjut.


Dia tahu, dengan jumlah musuh dan kedudukan mereka yang begitu tinggi, pihaknya pasti tidak akan mampu menghadapi secara langsung.


Apalagi dilihat dari segi jabatan, kedudukan di antara mereka tidak jauh berbeda. Itu artinya, kemampuannya pun pasti hampir setara.


Maka dari itu, selain melarikan diri, Zhang Fei tidak mempunyai jalan keluar lagi.


"Percuma saja, anak Fei. Kita tidak akan bisa lari dari mereka," sahut Dewa Arak Tanpa Bayangan penuh rasa yakin. "Mau tidak mau, kita harus mengikuti apa maunya,"


"Tapi, kita tidak akan bisa mengalahkan mereka, Tuan Kiang,"


"Lalu, mau bagaimana lagi? Apakah kau ingin kita menyerah secara sukarela?"


"Tentu saja tidak. Pantang bagiku untuk menyerah," tegas Zhang Fei.


"Karena itulah, kita harus melawannya," ia berkata dengan tegas. "Sekarang, bagaimana kondisimu?"


"Cukup baik. Sedikit demi sedikit, aku mulai bisa menyalurkan kembali tenagaku,"


"Bagus. Kalau begitu, kita harus bersiap sekarang juga,"


"Ya, aku mengerti," Zhang Fei mengangguk.


Percakapan di antara mereka pun langsung berakhir. Kini keduanya sama-sama memandang kepada keenam musuhnya.


Bersamaan dengan kejadian tersebut, keenam Datuk Dunia Persilatan juga turut memandangi dua orang di depannya. Salah satu mereka kemudian berkata, "Apakah kau merasa ada yang aneh?"


"Ya, lihat saja, si Zhang Fei itu tampak lebih segar dari sebelumnya," kata salah seorang sambil menunjuk ke depan.


"Hemm ... mungkinkah tenaganya sudah pulih kembali?"


"Tidak mungkin. Racun yang ditaruh di dalam makanan dan minuman itu bukan racun sembarangan,"


"Tapi buktinya, dia ..."


"Baik,"


"Ya, setuju,"


Mereka kemudian menyalurkan tenaganya masing-masing. Setelah itu, tanpa banyak bicara lagi, keenam tokoh sesat tersebut langsung menerjang ke depan.


Masing-masing membawa serangan mematikan dan sangat berbahaya. Pendekar biasa mustahil bisa menahannya.


Wushh!!! Wushh!!!


Bayangan manusia berkelebat cepat bagaikan kilat. Hawa sesat segera memenuhi hutan sekitar.


Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan menahan nafas. Melihat lawan sudah memulai serangannya, buru-buru mereka pun mempersiapkan diri.


Blamm!!!


Benturan antar tenaga dalam terjadi. Dua tokoh dunia persilatan Kekaisaran Song itu terdorong terdorong sejauh tiga langkah. Mereka kalah dalam adu tenaga melawan keenam tokoh sesat tadi.


"Jangan kira kami akan takut melawan kalian. Tidak, kami tidak takut sedikit pun," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil tersenyum dingin.


Selesai berkata seperti itu, dia segera menenggak arak dari Guci Arak Murni miliknya.


"Hemm ... tua bangka, ngomong-ngomong bagaiamana kau bisa sampai kemari?" tanya salah satu dari mereka.


"Aku yang telah memberitahunya lewat seorang penjaga kuda," jawab Zhang Fei dengan cepat.


"Oh?"


Baik dia maupun lima orang rekannya yang lain, terlihat sama-sama terkejut setelah mendengar jawaban dari Zhang Fei.


"Asal kalian tahu saja, sebenarnya aku sudah mempersiapkan segalanya. Tetapi, aku tidak menyangka bahwa kejadiannya jauh dari apa yang telah aku bayangkan,"


Zhang Fei tersenyum kecut. Ia memang telah mempersiapkan diri. Maka dari itulah secara diam-diam, dia telah memberitahukan Dewa Arak Tanpa Bayangan lewat seorang penjaga kuda.


Jadi, tidak heran kenapa orang tua itu bisa tahu di mana posisi Zhang Fei.


"Hemm ... rupanya kecerdasanmu yang tersiar itu bukan omong kosong," katanya sambil menarik muka. "Tetapi sayangnya, semua itu sudah terlambat. Sekarang, terima saja nasib buruk kalian!"


Wushh!!!


Tokoh sesat itu kembali menerjang. Ia tampak seperti seekor harimau yang sedang marah besar. Serangan yang diberikan olehnya benar-benar dahsyat.


Tetapi di satu sisi, Dewa Arak Tanpa Bayangan juga telah mempersiapkan diri. Begitu melihat lawan menyerang, buru-buru dia maju ke depan dan menghalaunya.


Benturan antar jurus kembali terjadi. Tokoh sesat yang melancarkan serangan, segera terdorong sejauh lima langkah ke belakang. Sedangkan Dewa Arak Tanpa Bayangan, ia hanya terdorong mundur satu langkah.


'Gila! Tua bangka itu benar-benar hebat. Aku bahkan sampai dibuat terpental olehnya,' batin tokoh sesat itu sedikit kaget setelah merasakan bagaimana kehebatan lawannya.


Ia kemudian membetulkan posisinya. Lalu berjalan mendekat ke arah lima Datuk Dunia Persilatan yang lain.


"Lawan yang kita hadapi sepertinya mempunyai kemampuan diluar dugaan. Maka dari itu, tidak ada cara lain lagi kecuali kita melawannya secara bersama-sama,"


"Ya, aku rasa hanya itu cara satu-satunya," sahut salah satu tokoh sesat.


Yang lainnya ikut mengangguk. Pertanda bahwa mereka pun setuju akan hal tersebut.


Beberapa saat kemudian, setelah semua persiapan selesai, mereka segera menyerang dari enam penjuru mata angin. Setiap serangan itu mampu mendatangkan Malaikat Pencabut Nyawa. Jadi, pertarungan kali ini tidak bisa lagi dianggap main-main.


"Anak Fei, apakah kau sanggup kalau melawan tiga tokoh sekaligus?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan tepat ketika melihat lawannya menyerang.


"Aku tidak bisa menjamin hal itu, Tuan Kiang," jawab Zhang Fei dengan jujur. "Tapi, aku akan mencobanya semaksimal mungkin,"


"Bagus. Kalau begitu, mari kita mulai sekarang juga,"