
Rumah makan yang dipilih oleh Zhang Fei adalah rumah makan yang sangat istimewa. Menurut informasi yang sempat dia dengar dari beberapa orang lokal, katanya rumah makan itu berada di urutan ke lima.
Itu artinya, baik makanan, minuman, maupun pelayan yang diberikan, tentu sudah tidak perlu diragukan lagi.
Dan hal itu benar-benar terbukti setelah mereka berada di dalam sana. Makanannya sangat lezat. Arak yang disajikan juga merupakan arak berkualitas tinggi dan mahal harganya. Sedangkan terkait pelayanan, mereka telah dilayani oleh beberapa orang wanita muda yang cantik dan anggun.
Gerak-gerik mereka penuh kehalusan. Setiap yang dilakukannya selalu mengundang perhatian orang. Selain itu, para pelayan muda tersebut juga sangat murah senyum.
Sehingga para pelanggan yang datang juga merasa senang karenanya.
"Semua menu yang disajikan di sini benar-benar enak. Aku tidak menyesal bisa makan di rumah makan ini," kata Orang Tua Aneh Tionggoan setelah menghabiskan makannya.
"Kau benar, orang aneh," sambung Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan cepat. "Arak yang mereka berikan juga sangat lezat. Menurutku, rasa arak ini bahkan lebih enak daripada arak buatanmu,"
Orang Tua Aneh Tionggoan tidak marah ketika mendengar perkataan itu. Dia malah menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.
Lagi pula, apa yang diucapkan oleh sahabatnya tersebut memang tidak salah. Apalagi dia telah mencobanya sendiri.
"Walaupun biayanya mahal, tapi aku rasa, siapa pun yang pernah berkunjung kemari, pasti tidak akan ada yang merasa menyesal," ucap Dewi Rambut Putih berkata pula.
"Benar. Benar sekali," sahut Pendekar Tombak Angin.
Keempat Datuk Dunia Persilatan itu punya pemikiran yang sama.
Zhang Fei pun tidak terkecuali. Walaupun sejak tadi dia belum bicara, namun dirinya juga tidak menampik. Apa yang dikatakan oleh keempatnya, hampir sama dengan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Dia tahu, biaya makan di rumah makan mewah ini pasti sangat mahal. Tapi Zhang Fei tidak merasa keberatan karena hal tersebut. Alasannya karena dia merasa sangat puas. Entah itu dari sekian menu, maupun juga pelayannya.
Bukankah yang dicari oleh para pelanggan, adalah kepuasan?
"Setelah dari sini, ke mana tujuan kita selanjutnya?" tanya Zhang Fei secara tiba-tiba.
Dia belum punya tujuan yang pasti. Jadi tidak ada salahnya kalau Zhang Fei pergi bersama-sama dengan para Datuk Dunia Persilatan tersebut. Itu pun kalau memang diperbolehkan.
"Bagaimana kalau kita pergi ke Gedung Ketua Dunia Persilatan? Aku ingin melihat bagaimana kondisi Ketua Beng Liong sekarang. Aku rasa, pasti ada sesuatu yang tidak beres dibalik peristiwa ini," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Kau benar, setan arak. Aku juga merasa ada yang tidak beres. Apalagi, seperti yang kita ketahui bersama, Ketua Beng Liong adalah orang yang sangat berbakat. Daya tahan tubuhnya sangat kuat, malah beberapa jenis racun pun tidak akan mempengaruhi dirinya," sambung Orang Tua Aneh Tionggoan.
Semua hal tersebut sudah diketahui oleh banyak orang. Tidak terkecuali dengan Empat Datuk Dunia Persilatan.
Karena alasan itulah, mereka merasa heran kenapa Ketua Beng Liong bisa sakit. Apalagi menurut Kaisar, sakitnya itu cukup parah.
Padahal sebelumnya, dia tidak pernah mengalami kondisi seperti itu.
"Setuju. Aku pun merasa khawatir kepada beliau," ucap Pendekar Tombak Angin sambil menghela nafas berat.
"Baiklah. Keputusan sudah bulat. Sekarang tujuan kita selanjutnya adalah pergi ke Gedung Ketua Dunia Persilatan untuk melihat keadaan Ketua Beng Liong," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan mengambil keputusan tetap.
Yang lain segera menganggukkan kepalanya. Mereka kemudian menghabiskan arak yang masih tersisa. Setelah semuanya benar-benar habis, para tokoh itu langsung bangkit berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari sana.
Lima orang itu berjalan dengan cepat. Di tengah-tengah kota, mereka memutuskan untuk membeli satu ekor kuda sebagai kendaraannya.
Jarak dari Kotaraja ke Gedung Ketua Dunia Persilatan itu cukup jauh. Setidaknya dibutuhkan waktu selama tujuh sampai sepuluh hari perjalanan.
Sebenarnya mereka bisa menggunakan ilmu meringankan tubuhnua masing-masing. Hanya saja hal tersebut tentu akan sangat menguras tenaga. Mengingat perjalanan mereka yang tidak dekat.
Setelah matahari lewat dari atas kepala, Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan sudah mendapatkan kudanya masing-masing.
Sekarang mereka malah sudah memulai perjalanannya.
Lima ekor kuda yang gagah perkasa berlari dengan sangat cepat. Setiap langkahnya meninggalkan jejak di tanah dan juga mengepulkan debu tebal.
Sebagai hiburan di perjalanan, kadang-kadang mereka juga membalapkan kuda-kuda tersebut.
Lima orang itu melakukan perjalanan tanpa berhenti, kecuali hanya untuk melakukan hal-hal pokok saja.
Setalah tiga hari kemudian, mereka sudah berada di kota yang cukup jauh dari Kotaraja. Saat itu waktu sudah masuk sore hari.
Lima orang tersebut menyuruh kudanya untuk berjalan dengan santai sembari menikmati udara segar.
Tiba-tiba, telinga Zhang Fei mendengar sebuah sesuatu yang asalnya berada dari depan sana. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, dia langsung melarikan kudanya dengan cepat menuju ke arah sumber suara.
Ketika tiba di sana, ternyata suara itu berasal dari sebuah pertarungan yang sedang berlangsung di sebuah kuil di tengah-tengah perkotaan.
Kuil itu sendiri ukurannya tidak terlalu besar, sayangnya keadaan di sana sudah sepi sunyi. Seolah-olah kuil tersebut sudah tidak dipakai dalam waktu yang cukup lama.
Di halaman depan kuil, saat ini terlihat ada empat orang pendekar dunia persilatan yang sedang melangsungkan pertarungan sengit.
Di mana tiga orang adalah pria berumur sekitar lima puluh tahun. Saat ini mereka sedang menyerang biksu berumur delapan puluhan tahun secara bersamaan.
Dihadapi tiga serangan berbahaya, posisi bukti itu terlihat semakin sulit. Ia tidak bisa membebaskan dirinya karena semua jalan keluar sudah ditutup rapat oleh pihak musuh.
Namun walaupun begitu, si biksu tua terlihat tidak merasa takut sedikit pun. Walau luka-luka akibat senjata sudah terlukis di tubuhnya, akan tetapi dia tetap tidak mau menyerah.
Semakin gencar serangan yang dilancarkan oleh tiga orang tersebut, maka semakin gigih juga perlawanan yang dia berikan. Biksu tua itu benar-benar fokus terhadap pertarungannya.
Dia tidak memperdulikan keadaan di sekelilingnya. Bahkan terhadap kehadiran Zhang Fei pun, ia sama sekali tidak mengetahuinya.
Wushh!!! Wushh!!!
Angin serangan ketiga orang itu cukup dahsyat. Pakaian si biksu tua berkibar kencang karenanya. Tiga macam senjata datang dari arah berbeda. Serangan itu saling melengkapi satu sama lain. Sehingga untuk menghindar pun sudah tidak ada harapan lagi.
Biksu tua tersebut menggertak gigi. Karena tahu tidak ada jalan keluar lagi, terpaksa ia berlaku nekad. Dirinya akan mengadu jiwa bersama ketiganya.
Sementara itu, setelah mengamati situasi beberapa saat, akhirnya Zhang Fei telah mengambil keputusan. Menurutnya, orang yang pantas untuk dibantu adalah biksu tua itu.