
Beberapa hari sudah berlalu kembali. Zhang Fei, Dewa Arak Tanpa Bayangan dan Yao Mei telah tiba di Kotaraja.
Suasana di Kotaraja masih sama seperti biasa. Yang membedakan adalah bahwa keadaan di sana saat ini tidak ramai seperti sebelumnya.
Sebagian tempat wisata ada yang tutup sejak beberapa waktu lalu. Begitu juga dengan toko-toko ataupun rumah makan dan warung arak.
Walaupun orang-orang yang berlalu-lalang di jalan raya masih banyak, tapi rasanya, jumlah itu masih sedikit jika dibandingkan dengan dahulu kala.
Jalan raya yang besar itu tidak begitu macet. Bahkan bisa dibilang lancar tanpa hambatan. Padahal di hari-hari biasanya, jalan raya di pusat Kotaraja pasti akan sesak dipenuhi oleh orang-orang yang berada di sana.
Tapi sekarang ... sekarang lain lagi.
Mengapa hal seperti itu bisa terjadi? Ke mana para pedagang yang memilih untuk menutup tempat usahanya? Ke mana pula para wisatawan yang biasa datang berkunjung ke Kotaraja Kekaisaran Song?
Mengapa Kotaraja jadi seperti ini?
Sebenarnya, semua hal tersebut disebabkan karena keadaan yang masih genting. Seperti yang sudah diketahui bersama, beberapa waktu belakangan ini, Kekaisaran Song banyak mendapat serangan dari berbagai pihak tertentu.
Untuk menghindari dan meminimalisir korban serta kejadian-kejadian tertentu, maka Kaisar Song Kwi Bun telah memberikan perintah untuk menutup sedikit akses dari berbagai aspek.
Maka dari itulah, tidak heran kalau keadaan di sana tidak ramai seperti biasanya.
Saat itu hari masih pagi. Tiga tokoh dunia persilatan sedang menjalankan kudanya di jalan raya secara perlahan. Tiga pasang mata terus memandang ke sisi kanan dan kiri.
Kadangkala, mereka juga menjawab orang-orang yang menyapanya di tengah jalan.
"Anak Fei, kita pergi dulu ke rumah makan. Setelah matahari naik tinggi, baru kita pergi ke Istana Kekaisaran," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan kepada Zhang Fei.
"Baik, Tuan Kiang. Kebetulan, aku juga sudah ingin sarapan pagi,"
Setelah setuju, ketiganya langsung mencari rumah makan yang sudah buka. Mereka melangsungkan kegiatan sarapan pagi di sebuah rumah makan yang cukup mewah dan sudah terkenal.
Kegiatan itu tidak menghabiskan banyak waktu. Hanya beberapa belas menit saja, perut mereka telah terisi penuh.
"Tuan Kiang, lihat lima orang itu," kata Zhang Fei berbisik di telinga Dewa Arak Tanpa Bayangan. Sembari berkata demikian, dia pun menunjuk diam-diam ke salah satu meja makan yang ditempati oleh lima orang pria berpakaian ala pendekar. "Menurutmu, siapa mereka? Mengapa gerak-geriknya sedikit mencurigakan?"
"Hemm ... rupanya kau juga sudah sadar akan hal ini, anak Fei," sahut orang tua itu dengan cepat. "Mereka memang mencurigakan. Tapi terkait siapa pastinya, aku masih belum tahu,"
"Sepertinya, mereka sedang memperhatikan tujuh orang itu," Yao Mei ikut bicara. Dia berbisik kepada mereka berdua dan menunjuk ke salah satu meja yang berada pojok ruangan.
Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan segera menoleh ke meja yang dimaksud. Diam-diam, mereka juga melakukan penyelidikan.
Setelah beberapa saat berikutnya, ternyata apa yang dikatakan oleh Yao Mei itu memang benar.
"Kau benar, Nona Mei. Hemm ... kita harus menyelidikinya lebih lanjut. Aku takut orang-orang itu adalah musuh yang bergerak secara diam-diam," ujar Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Ya, aku setuju,"
"Menurutku memang harusnya seperti itu,"
Begitulah, tanpa mereka sadari, tiga kelompok itu satu sama lain saling mencurigai. Entah siapa kawan dan siapa lawan, yang jelas kejadian tersebut berlangsung beberapa waktu lamanya.
###
Matahari pun akhirnya mulai naik tinggi. Sebentar lagi, matahari itu akan berada tepat di atas kepala.
Zhang Fei dan yang lainnya sudah keluar dari rumah makan. Selayang mereka telah kembali negara di tengah-tengah jalan raya.
Hanya saja, ketiga orang itu tidak langsung menuju ke Istana Kekaisaran. Saat ini, mereka masih menunggu. Menunggu kelompok yang dicurigai itu keluar dari dalam rumah makan.
"Jalan itu menghubungkan ke hutan. Baguslah, kita bisa bergerak lebih leluasa lagi," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil terus memperhatikan mereka.
"Baiklah, mari kita ikuti mereka sekarang juga," tukas Zhang Fei.
Keduanya mengangguk setuju. Mereka segera menjalankan kuda secara diam-diam, menuju ke jalan yang tadi dituju oleh salah satu kelompok.
Lewat beberapa saat kemudian, ketiganya sudah mulai memasuki jalan setapak di tengah hutan.
"Anak Fei, kita sergap mereka secara juga,"
"Baik, Tuan Kiang," jawab Zhang Fei setuju. "Nona Mei, mari,"
"Mari,"
Wushh!!! Wushh!!!
Ketiga tokoh dunia persilatan itu kemudian melompat dari punggung kudanya masing-masing. Gerakan mereka sangat cepat layaknya harimau menerjang.
Zhang Fei, Yao Mei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan mendarat tepat di hadapan lima orang yang sedang mereka ikuti.
Tanpa disadari oleh ketiganya, hampir dalam waktu yang bersamaan, ada lagi tujuh orang terakhir yang juga mendarat di tempat tersebut.
Kejadian itu berlangsung begitu saja. Masing-masing kelompok tidak ada yang pernah menyangkanya.
Suasana di sana langsung hening. Untuk beberapa waktu, mereka saling pandang satu sama lain.
"Siapa kalian ini?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil menatap ke arah lima orang yang ia sergap.
"Dan kalian, siapa?" tanya Zhang Fei sambil memandang ke arah tujuh orang yang baru saja datang.
Dua kelompok itu tampak terkejut. Namun keterkejutan itu bisa diatasi dalam waktu yang cukup singkat.
"Tuan Kiang ..." salah seorang dari mereka menyapa Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Aih ... ternyata Ketua Fei juga ada di sini," satu orang dalam kelompok sama ikut menyapa kepada Zhang Fei.
Mereka yang bertanya masih termasuk dalam kelompok yang berjumlah tujuh orang.
Sedangkan kelompok yang berjumlah lima orang, sampai saat ini belum ada satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaan Datuk Dunia Persilatan tersebut.
"Hemm ... dari mana asal kalian?" Yao Mei bertanya dengan nada dingin. Di antara yang lain, dia adalah orang yang paling mudah terpancing emosinya.
"Tenanglah Nona, kita masih orang sendiri. Kami bertujuh berasal dari Kekaisaran Qin," jawab salah seorang yang diduga merupakan pemimpin dari mereka.
Sembari berkata demikian, dia pun segera mengeluarkan sebuah lencana dari balik saku bajunya. Orang tersebut kemudian memberikan lencana itu kepada Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Ia menerimanya dengan tangan terbuka. Dewa Arak Tanpa Bayangan segera melihatnya. Dan ternyata benar, lencana itu memang merupakan lambang dari Kekaisaran Qin.
"Lalu, siapa mereka berlima?" tanyanya kembali menatap ke arah lima orang tadi.
"Kami pun belum tahu, Tuan Kiang. Sejak pagi, kami telah mengikuti dan mencari tahu tentang mereka. Sayangnya sampai saat ini, kami belum berhasil mengetahuinya,"
Baru saja ucapan tersebut selesai, tiba-tiba segulung angin mendadak terasa cukup kencang.
"Awas!" kata Zhang Fei berteriak.