
"Kalau dihitung sampai saat ini, mungkin sudah hampir satu bulan lamanya," jawab Tian Lu dengan nada sedih.
"Apakah sejak awal, kondisinya sudah seperti itu?" tanya Pendekar Tombak Angin penasaran.
"Benar, Tuan. Malah semakin bertambahnya hari, kondisi Ketua Beng Liong juga semakin bertambah parah,"
Tuan Lu memasang wajah muram. Nada bicaranya juga terdengar semakin sedih.
"Apakah Tuan Lu tidak mencoba memanggil tabib untuk memeriksa keadaan Ketua?" Dewi Rambut Putih yang sejak tadi terdiam, sekarang juga sudah ikut nimbrung dalam pembicaraan.
"Hal itu sudah aku lakukan sejak awal, Nyonya Ling," jawab Tian Lu sambil menoleh ke arah Dewi Rambut Putih Giok Ling. "Namun keadaan Ketua tetap seperti itu. Bahkan Tabib Dewa Dong Ying pun tidak bisa berbuat banyak,"
"Apa? Jadi Tabib Dewa Dong Ying pun tidak bisa membantu Ketua Beng Liong?"
Dewa Arak Tanpa Bayangan berkata secara spontanitas. Tiga orang Datuk Dunia Persilatan dan Zhang Fei seketika juga memperlihatkan ekspresi terkejut.
Di Kekaisaran Song, siapa yang tidak mengenal si Tabib Dewa Dong Ying?
Ia adalah tabib ternama yang sering dipanggil oleh Istana Kekaisaran. Pengobatan dan ilmu pertabiban yang ia kuasai sudah melebihi semua tabib yang ada.
Menurut cerita orang, ia bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Kalau ada seseorang yang sudah hampir mati, asalkan ia masih bernafas, maka Tabib Dewa Dong Ying pasti akan mampu menyembuhkannya.
Kalau ucapan itu disematkan kepada orang lain, mungkin siapa pun tidak akan yang mempercayainya. Tapi beda cerita kalau disematkan kepada dirinya.
Semua orang pasti sangat setuju. Sebab kemampuan Tabib Dewa Dong Ying memang sudah terbukti. Manusia mana pun sudah tahu akan hal tersebut.
Sekarang, Tian Lu justru mengalami bahwa Tabib Dewa Dong Ying tidak bisa berbuat banyak kepada kondisi Ketua Beng Liong, lelucon macam apa ini?
Keadaan di sana tiba-tiba saja menjadi sepi hening. Semua orang yang ada tidak berbicara walau sepatah kata pun.
Keadaan semacam itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
Lima orang tokoh dunia persilatan saat ini sedang menatap ke arah Tian Lu dengan tatapan tajam. Mereka sedang mengamati orang tua itu lebih jauh.
"Aku tahu kalian merasa ragu, akan tetapi aku juga tidak menyalahkan kalau kalian tidak percaya terhadap ucapanku," ujar Tian Lu sambil membalas tatapan mereka.
"Hahh ..." Dewa Arak Tanpa Bayangan menghembuskan nafas berat. "Aku mengerti. Kau pasti tidak sedang berbohong. Hanya saja, ucapanmu barusan telah mengejutkan kami semua,"
Tian Lu tetap diam. Dia belum berbicara lagi.
"Kalau si tabib tua itu tidak bisa berbuat banyak, artinya kondisi Ketua Beng Liong benar-benar mengkhawatirkan," keluhnya.
"Begitulah. Aku sendiri merasa sangat kasihan melihat Ketua yang semakin hari semakin melemah,"
Suara arak yang dituang ke dalam cawan terdengar. Dewa Arak Tanpa Bayangan mijum arak beberapa kali untuk menenangkan pikirannya.
"Apakah kau tahu, mengapa Ketua bisa jatuh sakit?" tanyanya kembali.
"Yang aku tahu, Ketua bisa berada dalam kondisi sekarang tepat setelah ia minum arak,"
"Arak? Arak dari mana?"
"Tentu saja adalah arak yang terdapat di sini, Tuan. Bahkan araknya masih tersedia di atas meja di ruangan pribadinya,"
"Saat itu, apakah ada seseorang yang menemani Ketua minum arak?"
"Tidak ada. Beliau hanya minum seorang sendiri,"
"Jika demikian, dari mana kau tahu kalau Ketua Beng Liong sakit tepat setelah minum arak?" Dewa Arak Tanpa Bayangan semakin menatap tajam Tian Lu.
"Karena seingatku, sebelum dan sesudahnya beliau tidak melakukan kegiatan apapun lagi. Aku bisa mengetahui keadaan Ketua karena pada saat itu ada seorang tamu yang ingin bertemu dengannya. Sayangnya beliau sudah mengalami musibah. Jadi terpaksa aku menyuruh tamu tersebut untuk kembali,"
"Aku sungguh merasa prihatin atas apa yang telah menimpa Ketua Dunia Persilatan,"
Ruangan itu segera diliputi oleh kesedihan yang mendalam. Tidak bisa dipungkiri lagi, Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan merasa pendek harapan.
Kalau dilihat dari kondisinya, mereka merasa umur Ketua Beng Liong sudah tidak akan bertahan lama lagi.
"Nyonya dan Tuan sekalian, aku pamit undur diri dulu. Aku harus memberikan obat demi menjaga kesehatan Ketua," kata Tian Lu tiba-tiba bangkit berdiri.
"Oh, baiklah, Tuan Lu. Kalau begitu, kami juga pamit pergi," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan mewakili yang lain.
"Aih, tidak perlu. Kalian bisa menginap di sini sambil melihat perkembangan Ketua,"
"Aku takut kami malah merepotkanmu, Tuan Lu,"
"Tentu saja tidak, Tuan Kiang. Sebentar lagi, aku akan menyuruh seseorang untuk datang kemari,"
"Baiklah. Terimakasih sebelumnya,"
Tian Lu langsung pergi dari ruangan itu. Zhang Fei mendadak bangkit lalu berjalan ke pintu, dia memperhatikan keadaan sekitarnya. Setelah dipastikan aman, dengan segera ia menutup rapat pintu tersebut.
"Aku merasa curiga dengan tua bangka itu," kata Zhang Fei setelah ia kembali duduk di tempatnya.
"Mengapa kau bisa seperti itu, anak Fei?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Karena aku tahu dia sedang berbohong. Apa yang diucapkannya benar-benar membuatku curiga,"
Zhang Fei mengepalkan tangannya. Walaupun alasannya masih belum bisa ditemukan, tapi ia selalu yakin terhadap firasat sendiri.
"Hahaha ..." tiba-tiba Orang Tua Aneh Tionggoan tertawa lantang. "Rupanya sekarang kau sudah bertambah cerdas, anak Fei,"
Dia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan kembali. "Sebenarnya kami berempat juga merasakan hal yang sama. Kami pun curiga terhadap si tua Li,"
"Benar sekali," sahut Dewi Rambut Putih sambil mengangguk. "Walaupun nada bicaranya tegas dan penuh keyakinan, tapi aku bisa melihat gejala lain dari bagian tubuhnya. Mulut bisa berbohong, tapi anggota tubuh lainnya tidak,"
Sesempurna apapun orang tersebut, kalau dia berbohong, maka Empat Datuk Dunia Persilatan pasti bisa mengetahuinya. Jangan lupa, mereka adalah para tokoh angkatan tua yang sudah banyak pengalaman.
Terhadap trik semacam ini, mereka sudah tidak merasa aneh lagi.
"Kita tidak bisa tinggal diam saja. Bagaimanapun juga, kita harus bisa membongkar peristiwa ini," tegas Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Ehmm ... setuju. Kita tidak boleh pergi dari Gedung Ketua Dunia Persilatan sebelum semuanya terbongkar," sambung Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Baik setuju," Pendekar Tombak Angin mengepalkan tangan kanannya.
Kelima orang tersebut berbicara lebih jauh tentang peristiwa yang menimpa Ketua Beng Liong. Tidak lupa juga, mereka merencanakan berbagai macam langkah yang akan diambil.
"Kapan kita akan menjalankan rencana ini?" tanya Zhang Fei seketika.
"Besok," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan. "Biar aku yang mengatur semuanya,"
"Baiklah. Kami siap menerima perintah,"
Pembicaraan kelima tokoh dunia persilatan terpaksa harus dihentikan setelah pintu diketuk oleh orang dari luar.