Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Sayembara I


Setelah berjalan ke sana kemari, akhirnya Zhang Fei menemukan juga toko yang sedang dia cari. Di depan sana, terlihat ada sebuah bangunan besar dan cukup mewah. Bangunan itu menjual pakaian dan juga peralatan-peralatan lain.


Zhang Fei segera menuju ke sana. Kebetulan, saat itu suasana tokoh sedang sepi. Sehingga dia tidak perlu takut ada orang lain yang akan mengetahui siapa dirinya.


"Permisi, Paman," katanya dengan sopan begitu dia tiba di depan toko.


"Apakah ada yang bisa aku bantu, Tuan Muda?" tanya pelayan toko yang berjaga di depan.


"Aku ingin memesan satu set pakaian biru tua dengan corak hitam, ditambah juga dengan satu buah topeng penutup wajah yang terbuat dari bahan mahal. Apakah ada?"


"Ada, Tuan Muda, tentu saja ada. Pokoknya, apapun yang kau cari, pasti bisa ditemukan di toko kami ini," sambil berkata demikian, si pelayan juga mengajak Zhang Fei masuk ke dalam.


Setelah berada di sana, di pelayan langsung pergi ke belakang untuk mengambilkan semua pesanan Zhang Fei. Sesaat kemudian, dia sudah datang kembali dengan membawa satu set pakaian dan satu buah topeng yang ditaruh di atas nampan.


"Apakah kau merasa cocok dengan pakaian ini, Tuan Muda?"


Zhang Fei segera melihat pakaian tersebut dengan teliti.


"Hemm, sepertinya cocok. Kalau boleh tahu, topeng ini terbuat dari apa?"


"Topeng ini terbuat dari batu kemala yang langka. Harganya juga cukup mahal,"


"Berapa harganya?" tanya Zhang Fei sambil memperhatikan topeng antik tersebut.


"Kurang lebih sekitar sepuluh keping emas," jawab si pelayan.


"Baik, aku ingin membelinya,"


Zhang Fei langsung merogoh keping emas dari saku bajunya. Dia memberikannya kepada si pelayan.


Lewat beberapa waktu kemudian, transaksi pun selesai. Zhang Fei langsung memilih mengenakan pakaian barunya tersebut di dalam ruangan yang telah disediakan oleh toko.


"Pakaian dan topeng ini benar-benar pas denganku," gumamnya tersenyum kegirangan.


Begitu dirasa cocok, dia langsung keluar dan segera pergi untuk melanjutkan pengembaraannya.


Selama kurang lebih tujuh hari, Zhang Fei terus melakukan perjalanan siang dan malam. Dia tidak pernah berhenti kecuali hanya untuk melakukan pekerjaan pokok saja.


Hari ke delapan, tepat pada saat pagi hari, Zhang Fei sudah tiba di gerbang Kota Luoyang.


"Rasanya sudah cukup lama aku tidak kemari. Apa kabar Kota Luoyang? Apakah masih sama seperti yang dulu?"


Zhang Fei menarik nafas dalam-dalam sebelum dia memasuki kota.


Suasana di kota itu ternyata masih sama seperti beberapa tahun lalu. Semua yang tersedia juga masih serupa. Bedanya, di pusat kota, sekarang telah bertambah banyak bangunan-bangunan yang mewah dan megah.


Selain daripada itu, Zhang Fei juga bisa tahu bahwa di kota tersebut ada banyak orang-orang persilatan yang hadir.


Mereka yang datang ke kota tersebut kebanyakan berasal dari aliran putih dan netral. Tentunya, mereka juga berasal dari berbagai daerah.


'Apakah di kota ini akan terjadi sebuah peristiwa? Hemm ...'


Tanpa sadar, Zhang Fei tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Dia berhenti di pinggir jalan sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang.


Menurut pengalamannya dulu, keadaan seperti sekarang ini, biasanya menandakan bakal terjadi sebuah peristiwa yang cukup besar dalam dunia persilatan.


Tapi, peristiwa apakah itu? Mengapa dia belum mendengar informasinya?


"Tuan, bolehkah aku bertanya?" Zhang Fei menghentikan seorang pendekar setengah umur, dia berniat untuk menanyakannya.


"Ada apa, saudara?" tanya pendekar tua itu.


"Eh, memangnya kau belum tahu?"


"Tahu apa, Tuan?" Zhang Fei mengerutkan kening.


Kalau dia tidak tahu apa-apa, bagaimana mungkin dia bisa tahu?


"Hemm ... tiga hari lagi, di Kota ini akan terjadi sebuah sayembara,"


"Sayembara? Sayembara apa itu, Tuan?" Zhang Fei bertanya lebih lanjut. Dia benar-benar ingin tahu akan hal ini.


"Asal kau tahu saja, di kota ini telah berdiri sebuah kelompok baru. Kebetulan, kelompok itu sedang membutuhkan beberapa orang untuk dijadikan sebagai petingginya. Dan beberapa hari yang lalu, mereka telah mengirimkan surat undangan kepada banyak orang bahwa siapa yang bisa bertahan tiga puluh jurus dari ketuanya, maka orang tersebut akan dianggap layak," kata pendekar tua itu menjelaskan.


"Hemm ... mengapa ada banya pendekar yang ingin menjadi petinggi di sebuah kelompok baru? Padahal kan, mereka bisa dengan mudah masuk atau bahkan membuat kelompok sendiri," kata Zhang Fei masih merasa bingung.


Dia tidak yakin alasan utamanya cuma untuk memperebutkan jabatan saja. Kalau pihak penyelenggaranya adalah sebuah kelompok yang telah mempunyai nama besar, mungkin Zhang Fei masih bisa percaya.


Tapi ini? Pendekar tua itu mengatakan bahwa yang mengadakannya adalah kelompok baru. Bukankah hal ini terlalu tidak masuk akal?


Otak Zhang Fei terus berputar mencari jawaban. Untunglah pada saat itu, terdengar si pendekar tua sudah bicara lagi.


"Sebenarnya, alasan utama kami ikut dalam sayembara ini bukan karena kedudukannya. Melainkan karena ada hadiah-hadiah lain yang ditawarkan oleh mereka,"


"Oh, benarkah?" tanyanya sedikit terkejut.


"Tentu,"


"Hadiah apa itu, Tuan?"


"Hadiah utama dari sayembara ini adalah satu peti keping emas, senjata dan kitab pusaka. Selain itu, si pemenang juga akan mendapatkan seorang wanita cantik layaknya bidadari yang boleh dibawa pulang,"


Pada saat mengatakan hal tersebut, terlihat sepasang bola mata si pendekar tua berbinar-binar. Hampir saja Zhang Fei tertawa karenanya.


Untunglah dia bisa mengendalikan diri, sehingga ekspresi wajahnya masih terlihat serius.


"Pantas saja ada banyak orang persilatan yang berdatangan kemari," kata Zhang Fei kemudian. "Apakah Tuan adalah salah satu orang yang akan ikut andil dalam sayembara itu?"


"Hahaha ... tentu saja. Kalau tidak, buat apa aku jauh-jauh datang ke sini?" pendekar tua itu tertawa cukup lantang sampai menggerakkan tubuhnya.


Zhang Fei segera membalas suara tawanya. Setelah itu dia bertanya lagi, "Paman, kalau aku boleh tahu, apa nama kelompok baru itu?"


"Oh, itu. Namanya adalah Kelompok Bintang Langit,"


"Baiklah. Terimakasih atas informasinya, Tuan," ujar Zhang Fei sambil memberikan hormat kepadanya.


"Sama-sama," jawab si pendekar tua sambil menganggukkan kepala. "Kalau tidak ada yang ingin kau tanyakan lagi, aku pamit sekarang juga,"


Pendekar tua tersebut kemudian berlalu dari sana. Zhang Fei memandangi kepergiannya sambil menggelengkan kepala beberapa kali.


"Ternyata apa yang dikatakan oleh pepatah itu memang benar. Godaan terbesar bagi manusia adalah harta dan jabatan. Sedangkan godaan paling hebat khusus untuk laki-laki, salah satunya adalah perempuan cantik,"


Zhang Fei tertawa ringan. Entah apa makna dari tawanya tersebut.


"Aku rasa peristiwa ini menarik untuk diungkap. Hemm ... aku akan mencobanya,"


Wushh!!!


Dia langsung pergi dari sana. Satu helaan nafas kemudian, Zhang Fei sudah tidak ada lagi di tempat sebelumnya.