
"Terimakasih, Nona Mei," kata Zhang Fei sambil tersenyum malu.
Sepasang matanya kemudian melirik ke atas meja. Di mana, pada saat itu, ada dua pasang tangan yang saling menggenggam satu sama lain.
Yao Mei baru menyadari akan hal tersebut, buru-buru dia melepaskan genggamannya saat itu juga.
"Ah, maaf, maaf, Ketua. Aku ... aku tidak sengaja,"
"Tidak masalah, Nona Mei," sahut Zhang Fei.
Bersamaan dengan hal tersebut, para Datuk Dunia Persilatan juga menyaksikannya. Hanya saja mereka pun memilih diam seolah-olah tidak mengetahui.
Dua orang muda-mudi itu kemudian menundukkan kepalanya masing-masing. Mereka tidak berani mengangkat wajah seperti sebelumnya.
Lewat beberapa saat kemudian, terdengar Dewi Rambu Putih bertanya. "Nona Mei, kalau boleh tahu, kenapa kau bisa selamat ketika terjatuh ke dalam jurang itu? Bukankah jurang tersebut sangat dalam sekali?"
Dewi Rambut Putih masih ingat bagaimana cerita Zhang Fei terkait Yao Mei. Dan sekarang, ketika orang yang dianggap sudah tiada itu berdiri di hadapannya, tentu ia merasa sangat penasaran kenapa dirinya bisa hidup sampai saat ini.
Padahal menurut logika, siapa pun pasti akan menganggap bahwa Yao Mei telah mati. Mengingat bahwa jurang itu benar-benar dalam.
Para Datuk Dunia Persilatan yang lain ikut menganggukkan kepala. Sepertinya mereka juga merasa penasaran kenapa Yao Mei bisa selamat dan hidup sampai saat ini.
Maka dari itu, sekarang semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut sedang menunggu dirinya menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi.
Pada saat itu, Yao Mei ingin segera menjawab. Hanya saja dia bingung harus memanggil dengan sebutan apa. Karena pada dasarnya, ia belum tahu banyak tentang tokoh-tokoh dunia persilatan saat ini.
Lagi pula, sebelumnya ia memang belum mengenal para Datuk Dunia Persilatan kecuali hanya Dewa Arak Tanpa Bayangan dan juga Orang Tua Aneh Tionggoan.
Zhang Fei bisa melihat kebingungan di wajah gadis itu. Karenanya dia langsung bicara dan memberitahukan siapa mereka.
Setelah mendengar penjelasan dari Zhang Fei, pada akhirnya Yao Mei pun mulai bercerita.
"Apa yang Nyonya Ling katakan itu memang benar. Kurang tersebut sangatlah dalam. Bahkan aku rasa, dasarnya tidak bisa diukur. Jika hanya mendengar sekilas, siapa pun pasti akan menyangka bahwa aku sudah mati. Sebenarnya pada saat itu, aku sendiri juga tidak punya harapan untuk bisa hidup lebih lanjut,"
"Hanya saja keajaiban telah terjadi. Langit menurunkan ukuran tangannya untukku. Ketika tubuhku jatuh ke jurang, tidak lama setelah itu ada sekelebat bayangan putih yang melesat dengan cepat sekali. Bayangan putih itu kemudian menyambar tubuhku. Setelahnya, aku tidak ingat apa-apa lagi,"
Yao Mei berhenti sebentar. Sekedar untuk mengingat-ingat kejadian yang sudah berlalu itu.
Beberapa saat berikutnya, dia melanjutkan lagi. "Aku baru sadar setelah berada di dalam sebuah goa di pinggir jurang. Goa itu cukup besar, keadaan di dalamnya juga bersih. Aku menduga bahwa goa tersebut dihuni oleh seseorang. Dan ternyata memang benar, ada satu tokoh dunia persilatan yang sudah menetap cukup lama di goa tersebut,"
"Siapa dia, Nona Mei?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan dengan cepat. Sepertinya dia sudah tidak sabar ingin mengetahuinya.
"Aku tidak tahu betul siapa orang tersebut. Hanya saja dia adalah seorang wanita yang usianya kira-kira sudah mencapai sembilan puluh tahun. Beliau mengaku mempunyai julukan Ratu Pedang Kembar Kesunyian,"
"Apa?" Dewa Arak Tanpa Bayangan berseru tertahan. Dia sangat terkejut. Begitu juga dengan para Datuk Dunia Persilatan yang lain.
"Nona Mei ... kau tidak bercanda bukan? Kau tidak salah dengar?" tanya orang tua itu setelah berhasil mengatasi keterkejutannya.
"Tidak, Tuan Kiang. Aku serius, aku pun tidak salah dengar. Memangnya, kenapa? Mengapa kalian terlihat terkejut seperti ini?"
Bukan hanya dia saja, bahkan Zhang Fei pun tidak terkecuali.
Dua orang pendekar muda itu benar-benar ingin tahu siapakah Ratu Pedang Kembar Kesunyian yang dimaksudkannya tersebut.
"Nona Mei, kau benar-benar beruntung. Keberuntunganmu tidak berbeda jauh dari Ketua Fei," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil tersenyum girang.
"Apa maksudmu, Tuan Kiang? Aku tidak mengerti,"
"Hahaha ..." orang tua itu malah tertawa. "Apakah dia tidak menceritakan banyak hal tentang dirinya?"
"Tidak. Setiap kali aku ingin bertanya siapa dia sebenarnya, Ratu Pedang Kembar Kesunyian selalu menjawab, 'nanti kau akan tahu dengan sendirinya'. Maka dari itu, aku tidak tahu apapun tentang beliau,"
"Asal kau tahu saja, Ratu Pedang Kembar Kesunyian yang telah menyelamatkanmu itu adalah salah satu pendekar pedang tanpa tanding yang hidup di masa lalu. Ia terhitung senior kami semua. Kalau diingat kembali, beliau hampir satu generasi dengan Tuan Zhang Liong. Bahkan mereka berdua juga terhitung teman akrab," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan memberitahu.
"Tuan Kiang ... kau tidak berbohong?" tanya Yak Mei sangat terkejut.
"Aku serius. Coba saja tanya yang lain,"
Gadis cantik itu segera melirik kepada para tokoh yang lain. Dan ternyata mereka pun menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
Setelah mengetahui siapa sebenarnya tokoh yang selama ini menyelamatkan sekaligus meltihnya ketika berada di dalam goa tersebut, tiba-tiba hati Yao Mei dipenuhi oleh rasa haru.
Dia masih tidak percaya dengan kejadian yang telah menimpanya.
"Selama kau berada di sana, apa saja yang telah dilakukan oleh Ratu Pedang Kembar Kesunyian kepadamu?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan ikut berbicara.
"Beliau juga melatihku ilmu pedang. Termasuk ilmu pedang dari kitab pusaka yang dulu menjadi rebutan, juga ilmu pedang yang katanya ciptaan dia sendiri,"
"Aih, kalian orang muda benar-benar beruntung. Bisa mendapatkan ilmu silat kelas atas dengan cukup mudah. Berbeda dengan kami yang harus mendapatkannya dengan susah payah," kata orang tua itu sambil melirik ke arah Zhang Fei dan Yao Mei.
"Aku ... aku benar-benar tidak tahu. Aku bahkan baru mengetahuinya hari ini," sahut Yao Mei merasa gugup.
"Tidak masalah, Nona Mei. Yang jelas, keberuntunganmu sama besarnya dengan Ketua Fei," Orang Tua Aneh Tionggoan tertawa penuh arti. Kemudian dia melanjutkan lagi, "Lalu, apakah kau telah berhasil menguasai ilmu pedang yang dia ajarkan?"
"Aku rasa begitu, Tuan Kai. Cuma, aku baru sekedar mengingat gerakan-gerakannya saja. Beliau tidak mengizinkan aku untuk mengeluarkan ilmu itu sebelum tenaga dalam yang aku miliki cukup,"
"Ah, itu soal mudah. Kami bisa membantumu," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil mengibaskan tangannya.
Yao Mei tersenyum girang. Dia tidak menyangka dirinya akan bernasib mujur.
Suasana di ruangan tersebut dipenuhi oleh kegembiraan. Para Datuk Dunia Persilatan tersenyum tiada henti.
"Generasi penerus sudah dilahirkan. Kita yang tua-tua ini, pada akhirnya bisa segera beristirahat dengan tenang," ucap Pendekar Tombak Angin.
"Kau benar, Tuan Cao. Sebentar lagi, kita bisa menikmati sisa hidup dengan damai," sambung Dewi Rambut Putih.