Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Akhir Peperangan


Nenek Tua Seribu Jarum mendengus dingin. Dia tidak percaya kalau dirinya sampai dibuat terdesak oleh seorang bocah ingusan.


Tiba-tiba saja orang tua itu membentak nyaring. Dia langsung melompat ke depan dengan tinggi dan segera mengirimkan tusukan beruntun ke arah musuh.


Sasaran utama dari tusukan tersebut bukan hanya kepala. Melainkan seluruh tubuh!


Datuk sesat tersebut sepertinya sudah berlaku sangat serius. Setiap gerakannya mampu membuyarkan tenaga dalam yang sudah terkumpul. Belum lagi jika ditambah dengan tusukan dari Jarum Kembar Emas Perak.


Rambut dan pakaian Zhang Fei dibuat berkibar-kibar cukup keras. Usahanya untuk membunuh orang tua itu dengan cepat sepertinya telah mengalami kegagalan.


Saat ini yang berada di posisi menyerang adalah Nenek Tua Seribu Jarum. Dua senjata kembar itu menusuk-nusuk sangat cepat. Beberapa kali Zhang Fei hampir tewas di tangannya.


Tusukan jarum yang sekarang sedang mencecar dirinya sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Jurus Nenek Tua Seribu Jarum yang sekarang benar-benar dahsyat. Zhang Fei pun tidak bisa menebak ke mana atau bagaimana gerakan yang akan dilakukan.


Ia mati langkah! Zhang Fei berada di posisi kebingungan setengah mati.


Selama sepuluh jurus, ia terus dipaksa untuk berada di posisi bertahan. Meskipun Zhang Fei telah berusaha semaksimal mungkin, namun tetap saja ia tidak bisa bertindak leluasa seperti sebelumnya.


Dalam pertarungan yang sengit tersebut, mendadak Nenek Tua Seribu Jarum membengkak nyaring. Jarum Kembar Emas Perak menusuk secara bersamaan. Dia juga turut melayangkan tendangan tangan kanan yang mengarah ke bagian tulang rusuk.


Kalau tiga serangan berbeda itu mampu mengenai sasaran, niscaya usia Zhang Fei tidak akan lama lagi.


Trangg!!!


Saat detik-detik penentuan, ketika Zhang Fei sudah mulai pasrah dengan takdir hidupnya sendir.


Tiba-tiba dia malah melakukan gerakan tak terduga. Tubuh Zhang Fei berputar dengan cepat. Bersamaan dengan itu Pedang Raja Dewa juga ditebaskan dengan kemampuan yang tersisa.


Hasilnya, luar biasa. Jarum Kembar Emas Perak terpental. Sebelum Nenek Tua Seribu Jarum melanjutkan lagi usahanya untuk membunuh Zhang Fei, tiba-tiba anak muda itu melesat lebih dulu dan pedangnya langsung menusuk ke tenggorokan.


Slebb!!!


Pedang Raja Dewa menusuk dengan telak sampai melesak lebih dari setengah batang pedang. Nenek Tua Seribu Jarum melotot ke arah Zhang Fei. Sepasang mata itu kemudian memandang pula ke batang pedang yang telah merenggut nyawanya.


"Ka-kau juga harus mampus ..." kata Nenek Tua Seribu Jarum dengan susah payah.


Wutt!!!


Tiba-tiba Jarum Emas diangkat dan ditusukkan pula. Serangan itu terlampau mendadak, Zhang Fei sendiri tidak menyangka akan hal tersebut.


Slebb!!!


Jarum Emas juga menembus ulu hatinya. Untunglah saat itu tenaga Nenek Tua Seribu Jarum sudah keburu habis. Nyawanya juga melayang lebih dulu. Sehingga sebelum senjatanya benar-benar masuk, gerakannya malah berhenti di tengah jalan.


"Akhirnya kau yang mampus!" kata Zhang Fei dengan nada hambar.


Ia segera mencabut Pedang Raja Dewa dari tenggorokan Nenek Tua Seribu Jarum. Setelah pedangnya dimasukkan ke dalam sarung, buru-buru Zhang Fei menyalurkan hawa murninya untuk menekan jalan darah.


Tidak hanya itu saja, dia segera mencabut Jarum Emas dari dadanya.


"Untung saja jarumnya belum menusuk lebih dalam," gumam Zhang Fei sambil tersenyum dingin.


Wushh!!!


Zhang Fei langsung pergi dari hutan itu. Ia tidak memperdulikan lagi bagaimana nasib mayat Nenek Tua Seribu Jarum.


Sekarang sudah tidak ada lagi kedua belah pihak yang bertempur. Tidak ada pasukan Kekaisaran yang saling berjuang membela tanah airnya. Tidak terdengar pula teriakan sakit dan kematian yang menggema di tengah udara.


Kini, yang ada dan terlihat di padang rumput itu hanya ribuan mayat prajurit yang bergelimpangan seperti domba yang mati kelaparan.


Hujan masih turun dengan deras Darah segar telah bercampur dengan genangan air dan tanah yang becek. Bau amisnya darah, sedikit demi sedikit mulai pudar karena diterpa hembusan angin dingin.


Setelah berjuang dengan segenap tenaga dan mengorbankan jiwa raga, akhirnya peperangan itu dimenangkan oleh Kekaisaran Song.


Jenderal Qi Guan benar-benar berhasil meraih kemenangan bagi pihaknya!


Ini adalah pencapaian yang sangat luar biasa. Khusunya karena di awal, jumlah kekuatannya lebih kecil daripada pihak musuh.


Namun ternyata, justru karena hal itulah pasukan yang dipimpinnya bisa menang!


Dari ribuan pasukan prajurit yang dia bawa, sekarang yang tersisa paling-paling hanya tiga ratus orang saja. Itu semua sudah dihitung dengan prajurit yang mengalami luka.


Empat Datuk Dunia Persilatan Kekaisaran Song, saat ini sedang berada di kedalaman hutan. Mereka sedang mengobati luka-luka yang diderita olehnya masing-masing.


Di garis depan sana, terlihat ada Jenderal Guan yang sedang berdiri dengan gagahnya. Di tangan kanan ada sebatang pedang yang masih mengucurkan darah segar. Tepat di bawah kakinya ada mayat yang kepalanya hampir putus.


Mayat tersebut mengenakan pakaian mewah. Golok yang ia pakai untuk bertempur adalah golok mewah dengan taburan intan mutiara di sarungnya.


Sayang sekali, semua kemewahan itu sudah tidak ada gunanya lagi. Karena di pemilik golok, telah tewas mengenaskan.


Orang yang dimaksud tersebut adalah Jenderal besar yang memimpin pasukan Kekaisaran Zhou. Walaupun kemampuan aslinya hebat, tapi buktinya, toh dia tidak bisa mengalahkan Jenderal Guan.


Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Malah dia sendiri yang tewas di bawah pedang lawan.


Saat ini, sepasang mata Jenderal Qi Guan sedang menatap jauh ke depan sana.


Di sana, tampak ada cukup banyak prajurit yang lari tunggang langgang. Para prajurit itu berusaha lari secepat mungkin dari medan peperangan.


Tidak hanya itu saja, bahkan terlihat pula ada belasan atau puluhan pendekar dunia persilatan yang juga mengambil langkah sama.


Orang-orang itu sepertinya sudah ketakutan setengah mati. Mereka tahu bahwa kemenangan sudah terjatuh ke tangan musuh.


Karena itulah, daripada harus tertangkap atau menyerahkan diri, mereka lebih memilih untuk lari!


Sepuluh orang prajurit Kekaisaran Song tiba-tiba muncul dari belakang. Mereka semua menunggang kuda yang gagah. Sepertinya, orang-orang tersebut ingin mengejar musuh yang melarikan diri itu.


"Jangan dikejar!" kata Jenderal Guan menahan niat mereka. Tangan kanannya diangkat ke atas sebagai isyarat. Sepuluh orang prajurit tersebut secara serempak langsung menghentikan laju kuda miliknya.


"Mengapa kami tidak boleh mengejarnya, Jenderal?" tanya salah satu dari mereka.


"Biarkan saja mereka lari. Daripada mengejar orang-orang tersebut, lebih baik bantu saja rekan-rekan kalian yang terluka,"


"Oh, baiklah. Kalau begitu, sekarang juga kami akan menjalankan perintah,"


Sepuluh orang prajurit memutarkan kudanya. Mereka kemudian berlari ke arah sebelumnya dan segera menjalankan perintah dari Jenderal Guan.


"Kau benar-benar hebat, Jenderal. Aku merasa bangga bisa bertemu dengan Jenderal semacam dirimu," sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakangnya.