Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Orang Tua Aneh Tionggoan


Zhang Fei tidak langsung menjawab. Dia tampak sedang berpikir antara harus menjawab, atau tidak.


Orang tua asing itu mengerti apa yang dirasakan olehnya. Karena itulah dia segera berkata. "Kalau kau keberatan dengan pertanyaan barusan, maka tidak usah kau jawab saja,"


"Ah, tidak," buru-buru dia bicara dengan cepat. "Lima orang guruku itu, mempunyai julukan Lima Malaikat Putih," katanya memberitahu.


"Lima Malaikat Putih?"


"Benar,"


"Hemm," dia mendehem perlahan. "Jujur saja, aku tidak terlalu mengenal kelima gurumu. Mungkin karena aku sudah jarang berkelana lagi. Tapi yang pasti, aku benar-benar kagum kepada mereka karena mempunyai murid seperti dirimu,"


Akhirnya dia memuji Zhang Fei secara langsung!


Saat mendengar pujian tersebut, anak muda itu merasa tidak enak. Tentu saja, apalagi yang memujinya adalah orang tua berkemampuan sangat tinggi.


"Tidak berani, tidak berani. Aku hanyalah anak muda yang sedang mencari pengalaman saja," katanya berusaha merendah.


Si orang tua kemudian tertawa bergerak. Seolah-olah dia merasa lucu saat mendengar perkataan Zhang Fei.


"Sudahlah. Lupakan soal itu," katanya menyudahi pembahasan tersebut.


"Ngomong-ngomong, kau tidak ingin tahu siapa aku?"


"Aku ... aku tidak berani bertanya seperti itu. Menurutku, itu terlampau tidak sopan," jawab Zhang Fei dengan suara halus.


"Hahaha ... kau terlalu memandang tatakrama, anak muda," katanya sambil tertawa.


"Kalau ingin tahu siapa aku, cukup sebut saja Orang Tua Aneh Tionggoan, Kai Luo,"


"Oh, baiklah, Tuan Kai,"


Setelah berbicara beberapa waktu, kedua orang tersebut akhirnya saling diam lagi. Mereka tenggelam bersama arak yang mempunyai beberapa khasiat itu.


"Anak muda, hari sudah malam. Tidurlah lebih dulu," katanya menyuruh Zhang Fei tidur.


"Baik, Tuan Kai. Kebetulan aku sudah mulai merasa kantuk,"


"Nah, pergilah tidur. Pakai saja pembaringan itu,"


Dia mengangguk. Kemudian segera pergi masuk ke dalam gubuk.


###


Pagi-pagi hari sekali, anak muda itu sudah bangun kembali. Ketika ia berjalan keluar dari gubuk, dilihatnya ada orang tua aneh itu yang sudah duduk di tempat semalam.


"Kemarilah, mari kita sarapan bersama," katanya mengajak Zhang Fei.


Dia berjalan menghampiri. Ternyata di sana sudah ada ayam hutan bakar yang baru saja matang.


Kedua orang itu kemudian menyantap sarapan bersama-sama. Ayam hutan bakar yang cukup besar itu, habis dalam waktu singkat.


Beberapa saat kemudian, ketika mentari pagi sudah mulai naik tinggi, Zhang Fei pun segera meminta diri. Dia ingin melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda itu.


Kebetulan, sekarang tubuhnya sudah terasa segar bugar. Walaupun bekas luka belum hilang, tapi semua luka itu sudah mulai mengering. Sehingga ia bisa bergerak dengan leluasa lagi.


"Kenapa kau sangat terburu-buru sekali?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan setelah Zhang Fei menyampaikan niatnya untuk melanjutkan perjalanan.


"Bukankah lebih cepat, malah lebih baik?" anak muda itu menjawab seraya tertawa. "Mumpung masih ada kesempatan, aku ingin segera sampai ke sana, Tuan Kai. Lagi pula, aku pun sangat ingin membantu mengembalikan kedamaian dalam dunia persilatan, aku ingin negeri kita kembali sejahtera lagi," ujarnya melanjutkan.


Orang Tua Aneh Tionggoan melihat bahwa di dalam diri anak muda itu, ada tekad yang sangat kuat dan penuh keyakinan pada saat ia berkata demikian.


"Baiklah. Semoga perjalananmu tidak menemui halangan apapun," kata orang tua itu sambil menepuk pundaknya.


"Terimakasih, Tuan Kai,"


"Maksud, Tuan Kai?"


"Kau akan mengerti saat waktu itu tiba," jawabnya dengan cepat. "Yang jelas, saat itu kita tidak memiliki waktu banyak untuk minum arak bersama," lanjut orang tua itu sambil tertawa.


Zhang Fei tidak berlama-lama lagi, dia langsung pamit undur diri pada saat itu juga.


Beberapa saat kemudian, ia segera turun gunung. Menuju ke arah Selatan.


Orang Tua Aneh Tionggoan Kai Luo memandang kepergian Zhang Fei dengan senyuman hangat. Beberapa kali dia juga menggelengkan kepalanya perlahan.


"Anak muda yang hebat. Kau adalah orang yang ditakdirkan untuk membereskan semua ini. Semoga langit selalu memberkatimu," gumamnya perlahan.


Setelah bayangan anak muda itu menghilang, dengan cepat pula ia pun segera pergi dari sana.


Hanya satu kali gerakan, dia sudah lenyap dari tempatnya.


###


Anak muda bernama Zhang Fei itu terus berjalan menelusuri berbagai tempat. Kadang kala ia harus melewati pula hutan dan sungai yang besar.


Sepanjang perjalanan itu, tidak lupa juga dia bertanya-tanya kepada orang yang ditemui terkait di manakah Gunung Awan Putih tersebut.


Dan menurut informasi yang terakhir kali dia dapatkan, untuk sampai ke Gunung Awan Putih, setidaknya masih dibutuhkan waktu selama satu bulan banyaknya.


Dalam keadaan seperti sekarang, satu bulan bukanlah waktu yang sebentar. Malah sudah terbilang cukup lama.


Karena ingin mempercepat perjalanan, akhirnya Zhang Fei memutuskan untuk membeli seekor kuda jempolan.


Untunglah dia sempat membawa harta rampasan dari markas Organisasi Bulan Tengkorak, sehingga dirinya bisa membeli kuda yang mempunyai harga mahal itu.


Setiap harinya, dia melakukan perjalanan hampir seharian penuh. Waktu untuk istirahatnya sangatlah sedikit.


Hal itu sengaja dia lakukan, sebab dirinya ingin segera sampai di sana.


Meskipun di tengah perjalanan, dia tahu ada banyak masalah yang terjadi, tapi ia berusaha menguatkan diri untuk tidak memberikan pertolongan. Setidaknya untuk sementara waktu ini.


Alasannya bukan lain adalah karena dia tidak ingin menambah masalah. Dia tidak mau terlibat dalam banyak persoalan yang berlangsung saat ini.


Zhang Fei ingin memfokuskan diri untuk meningkatkan dan mematangkan kemampuannya. Bagaimanapun juga, dia tahu bahwa dalam dunia persilatan dewasa ini, terdapat banyak sekali tokoh-tokoh yang lihai dan berilmu tinggi.


Terutama sekali para tokoh tua.


Maka dari itu, untuk sekarang dia tidak mau menunjukkan dirinya dalam dunia persilatan.


Memangnya, dengan kemampuan yang sekarang, apa yang bisa dia lakukan?


Waktu terus berlalu kembali. Tanpa terasa, sebentar lagi akan satu bulan. Itu artinya, tidak lama lagi dia pun akan segera tiba di tempat tujuannya.


Yaitu di Gunung Awan Putih!


Saat itu hari sudah masuk malam. Rembulan baru saja turun menyapa bumi.


Zhang Fei memutuskan untuk beristirahat di sebuah kota. Kota itu bernama Ciliang. Di sekitar Kota Ciliang, terdapat sebuah sungai yang sangat lebar dan panjang.


Karena berada di Kota Ciliang, maka sungai itu pun diberi nama yang sama.


Sungai Ciliang tersebut mempunyai air yang jernih dengan warna hijau muda. Arusnya cukup deras. Sehingga kalau ingin menyebrang ke sana, setidaknya diwajibkan untuk menumpang perahu lebih dulu.


Zhang Fei pun berniat untuk menyewa perahu. Tapi, ia memilih esok hari. Sebab sekarang tubuhnya sudah terasa lelah. Perutnya juga lapar. Apalagi dia belum makan sejak siang tadi.


Maka dari itu, setelah menemukan rumah makan, dengan cepat dia segera masuk ke sana.