
Tujuh hari sudah berlalu kembali. Peristiwa pertempuran berdarah yang terjadi di Partai Pengemis telah menyebar luas dalam dunia persilatan.
Seperti dugaan sebelumnya, banyak dari kalangan rimba hijau yang pro kontra atas peristiwa tersebut. Tetapi berkat kejadian itu, setidaknya Partai Pengemis jadi lebih mempunyai nama dalam dunia persilatan.
Banyak tokoh-tokoh aliran sesat yang ingin membalaskan dendam Partai Tujuh Warna. Hanya saja, tidak ada satu pun dari mereka yang berani mewujudkan niatnya tersebut.
Alasannya karena mereka tahu bagaimana kekuatan Partai Pengemis.
Kalau Partai Tujuh Warna yang memiliki banyak anggota saja bisa dihancurkan, apalagi mereka yang kebanyakan dari kalangan perorangan?
Lebih daripada itu, dalam dunia persilatan juga tersiar kabar terbaru. Kabar inilah yang mengejutkan banyak orang.
Nama Zhang Fei kembali mencuat untuk yang kesekian kalinya. Pendekar muda itu banyak dibicarakan oleh kalangan rimba hijau. Bukan hanya oleh tokoh-tokoh aliran putih, malah dari tokoh-tokoh aliran sesat pun, tidak sedikit yang membicarakannya.
Pasalnya, sepak terjang Zhang Fei pada saat terjadinya peristiwa berdarah di Partai Pengemis itu benar-benar hebat. Banyak tokoh dari tiga aliran (putih, tengah, hitam) yang memujinya.
Tidak sedikit pula dari mereka yang ingin menguji langsung dan ingin membuktikan, apakah kabar itu benar atau tidaknya.
###
Suasana di Partai Pengemis mulai kembali seperti sedia kala. Walaupun banyak anggota mereka yang tewas karena pertempuran itu, tapi sekarang sudah terganti lagi dengan anggota baru.
Perlu diketahui, semenjak kejadian itu, terdapat banyak orang yang secara tiba-tiba mendaftarkan diri ke Partai Pengemis. Malah orang-orang tersebut berasal dari berbagai kalangan. Mereka yang berasal dari kalangan atas pun tidak terkecuali.
Akibatnya, kondisi Partai Pengemis dengan cepat bisa stabil. Malah kali ini lebih baik daripada sebelumnya.
Saat itu, suasana masih pagi hari.
Pengemis Tongkat Sakti sedang duduk merenung di halaman belakang. Ia duduk seorang diri sambil memandangi pemandangan di taman bunga buatan miliknya.
Di depannya ada sebuah meja. Di atas meja ada beberapa bakpao dan juga poci teh yang masih hangat.
Tepat setelah ia menghabiskan satu cawan teh hijau, tiba-tiba ada seseorang yang mendatanginya.
Orang itu bukan lain adalah cucunya sendiri, Chen Liu Yin.
"Kakek," kata gadis cantik itu dengan suara manja. Dia langsung duduk tepat di sisi Pengemis Tongkat Sakti.
"Ada apa, cucuku?" tanyanya dengan lembut.
"Kakek, ke mana kedua orang tamu kita itu?" tanyanya lebih jauh. Sembari demikian, dia pun menuangkan teh ke dalam cawan yang sudah kosong itu.
"Maksudmu Orang Tua Aneh Tionggoan dan anak Fei?"
"Benar. Ke mana mereka? Kenapa aku tidak melihatnya?"
"Oh, mereka sudah pergi kemarin sore. Saat itu kau sedang jalan-jalan keluar, sehingga dirimu tidak tahu kepergiannya,"
"Apa? Mereka sudah pergi? Tapi ... tapi kenapa Kakek tidak memberitahu aku kalau mereka akan pergi sore itu?" tanya Yin Yin.
Ekspresi wajah gadis itu langsung berubah. Dia seperti kecewa kepada kakeknya, sekaligus juga sedih karena kepergian kedua orang tersebut.
"Mereka pergi buru-buru karena masih ada urusan. Yin Yin, kenapa kau ini? Memangnya kenapa kalau mereka sudah pergi tanpa sepengetahuanmu?" tanya Pengemis Tongkat Sakti sambil memandangi cucunya dengan tatapan curiga.
Tidak biasanya Yin Yin bersikap seperti sekarang ini. Kalau cucunya sudah bersikap demikian, biasanya ada sesuatu didalamnya.
Tapi, sesuatu apakah itu? Apakah dia ingin Orang Tua Aneh Tionggoan dan Zhang Fei tetap tinggal di Partai Pengemis? Ataukah cucunya ini, sudah jatuh hati kepada pemuda itu?
"Jangan-jangan ... kau merasa sedih karena telah ditinggal pergi oleh anak muda itu? Hemm ... apakah kau telah jatuh cinta kepada anak Fei?" tanyanya lagi dengan nada menggoda.
Yin Yin langsung melirik tajam ke arahnya. Ia berkata, "Terserah Kakek saja. Aku sedang marah kepadamu,"
Selesai berkata seperti itu, dia langsung bangkit berdiri sambil membanting kaki, lalu segera pergi meninggalkan kakeknya.
Melihat sikap cucu kesayangannya itu, Pengemis Tongkat Sakti tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menghela nafas berat.
"Sepertinya Yin Yin memang menaruh perasaan kepada anak Fei. Lagi pula, dengan semua yang ia miliki sekarang, gadis mana yang tidak akan jatuh hati?"
Ia bergumam sendiri sambil memandangi taman bunga di depannya.
"Ah, sudahlah. Kalau pun iya, aku juga tidak akan melarangnya. Malah aku akan senang apabila mereka bisa menyatu dalam suatu ikatan," lanjut orang tua itu berbicara seorang diri.
###
Waktu menunjukkan siang. Zhang Fei dan Orang Tua Aneh Tionggoan masih melakukan perjalanan bersama. Saat ini keduanya sedang melarikan kuda mereka masing-masing dengan kecepatan sedang.
Tujuan mereka selanjutnya adalah menuju ke Kotaraja sambil terus mencari-cari informasi tentang dunia persilatan.
"Anak Fei, sepertinya di depan ada sebuah kota. Kita berhenti di sana sambil mencari warung makan," katanya dengan suara lembut.
Setelah mengetahui latar belakang Zhang Fei, sikap Orang Tua Aneh Tionggoan terhadapnya memang mengalami perubahan drastis. Baik itu dari segi bahasa ataupun dari nada bicara.
Meskipun terkadang ia masih suka bersikap aneh, tapi setelah mengetahui kejadian tersebut, tokoh tua itu jadi lebih segan dan hormat.
Terhadap hal ini, Zhang Fei sendiri kadang merasa rikuh. Ia lebih suka Orang Tua Aneh Tionggoan yang dulu, bukan seperti sekarang yang seolah-olah sangat memandang tinggi dirinya.
Namun apa boleh buat, walaupun sudah bicara beberapa kali agar jangan terlalu seperti itu, tapi Orang Tua Aneh Tionggoan tetap keras kepala.
Sementara itu, setelah mendengar ucapan tadi, Zhang Fei pun segera melihat ke depan. Ternyata benar, di sana terlihat ada sebuah kota. Entah kota apa, sebab dia sendiri belum mengetahuinya.
"Baiklah, kebetulan aku sudah merasa lapar," jawabnya sambil tertawa.
Mereka melarikan kuda lebih kencang lagi. Beberapa waktu kemudian, keduanya telah tiba di gerbang kota.
Setelah selesai diperiksa oleh dua orang penjaga, dua tokoh dunia persilatan itu segera masuk ke dalam.
Tapi belum jauh dua ekor kuda itu melangkah, tiba-tiba dari arah kanan, terlihat ada sekelebat titik hitam yang melesat dengan sangat cepat ke arah Orang Tua Aneh Tionggoan.
Wuttt!!! Crapp!!!
Ia menangkap titik hitam tadi dengan kedua jarinya. Ternyata yang melesat bukan senjata rahasia, melainkan sebatang anak panah.
Tepat di tengah-tengah batang anak panah itu, terlihat ada segulung surat yang diikat oleh kain warna merah.
Orang Tua Aneh Tionggoan Kai Luo mengerutkan kening. Namun dengan segera ia membuka tali ikatan dan membaca isi surat.
"Tiga hari lagi, aku menunggumu di pinggir Hutan Barat kota ini."
"Dewa Arak Tanpa Bayangan Kiang Cen."
Isi suratnya hanya demikian. Sangat singkat. Tidak kurang dan tidak lebih.
"Tuan Kai, siapa yang mengirimkan surat itu?" tanya Zhang Fei penasara.