Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Memberikan Dua Pilihan


Sementara di satu sisi lain, bersamaan dengan pertaurngan Yan Zi dan yang lainnya, di sana juga ada Zhang Fei yang sedang dikeroyok oleh tujuh orang pria dan tiga orang wanita.


Mereka terus-menerus menyerang tanpa memberikan waktu jeda. Sepuluh batang senjata berbeda, menyerang dari setiap penjuru mata angin.


Zhang Fei tidak mempunyai kesempatan untuk berpindah tempat atau bergerak dengan bebas. Sebab di setiap titik, sudah ada pendekar kelas satu yang menunggunya.


Mereka hanya menunggu kelengahan dari Ketua Dunia Persilatan. Kalau saja saat itu tiba, bisa dipastikan nyawanya akan sirna seketika.


Tetapi hebatnya, dari awal pertarungan dimulai sampai saat ini, kesempatan tersebut tidak pernah tiba. Meskipun telah disibukkan oleh sepuluh jurus berbeda dalam waktu bersamaan, namun Zhang Fei masih bisa fokus dan berkonsentrasi.


Bahkan walaupun pihak musuh telah berusaha memecahkan konsentrasinya tersebut, usaha itu tetap tidak membuahkan hasil.


Akibatnya, mereka menjadi kesulitan sendiri dalam menghadapi pemuda bertopeng itu.


Pertarungan tersebut saat ini sudah mencapai sekitar tiga puluh jurus. Selama itu, posisi kedua belah pihak terus bergantian satu sama lain.


Kadang kala Zhang Fei menyerang dua atau tiga orang sekaligus. Namun tak jarang juga dia diserang oleh mereka secara serempak.


Kilatan cahaya putih keperakan yang berasal dari senjata pusaka sudah berterbangan bagaikan daun-daun kering di musim gugur. Di setiap tempat selalu ada ancaman yang mampu membahayakan nyawa.


Zhang Fei berada di tengah-tengahnya. Ia ibarat seekor burung yang berada di antara pohon-pohon berguguran. Bersamaan dengan itu, ada pula hembusan angin kencang yang mampu membuatnya terbang.


Untunglah burung tersebut mempunyai kemampuan diluar nalar. Sehingga walau bagaimanapun juga, dia tetap berada di antara guguran daun tersebut.


Wushh!!! Wushh!!!


"Tapak Selaksa Budha!"


Wutt!!!


Zhang Fei mengeluarkan satu jurus tangan kosong. Jurus itu terkenal di masa lalu. Kekuatan yang terkandung juga tidak perlu diragukan. Apalagi, konon yang mempunyai jurus Tapak Selaksa Budha tersebut dulunya adalah tokoh kelas atas.


Jadi tidak heran kalau kehebatannya mampu membuat semua lawan pada saat itu terpukau.


Segulung angin datang berhembus dengan kencang. Tiga orang pendekar kelas satu itu terdorong mundur sejauh lima langkah ke belakang.


Zhang Fei tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Secepat kilat tubuhnya melesat ke depan sana. Ketika jaraknya sudah dekat, ia langsung mengeluarkan jurus pedangnya.


"Pedang Penakluk jagad!"


Wutt!!! Srett!!!


Zhang Fei bergerak bebas dan leluasa. Baru beberapa gerakan saja, dia telah berhasil melukai tiga orang tadi dengan luka yang cukup parah.


Darah segar menyembur deras. Mereka memekik nyaring sambil melompat mundur. Niatnya adalah untuk menyelamatkan diri.


Namun siapa sangka, yang terjadi malah sebaliknya.


Pedang Raja Dewa terus bergerak mengejar ketiganya. Dengan kecepatan tinggi, tentu saja mereka tidak mampu berbuat banyak. Apalagi pada saat itu, posisinya sangat tidak menguntungkan.


Luka robekan kain kembali terdengar jelas. Beberapa saat kemudian, tiga orang tubuh manusia jatuh ke atas tanah dengan kondisi tidak bernyawa.


Peristiwa itu disaksikan dengan jelas oleh tujuh orang yang lainnya. Dan mereka langsung bergidik ngeri saat mengetahui betapa hebatnya pemuda bertopeng itu.


"Keparat! Kau harus membayarnya dengan batok kepalamu sendiri!"


Seorang pria tiba-tiba menerjang ke depan. Disusul kemudian dengan satu orang wanita yang menggenggam pedang tipis di tangan kanannya.


Mereka memberikan serangan dengan jurus pamungkasnya masing-masing.


Melihat ada serangan dari arah lain, Zhang Fei segera menoleh. Ia tersenyum sinis saat menyaksikan dua senjata lawan.


Wushh!!! Trangg!!!


Padahal, mereka telah menyerang secepat dan sekuat tenaga.


"Aku akui kalian sangat cepat. Tapi, kalian masih jauh di bawahku," kata Zhang Fei sambil tersenyum mengejek.


Selesai berkata seperti itu, ia langsung melanjutkan gerakannya yang terhenti. Zhang Fei mementalkan senjata lawan, dilanjutkan lagi dengan serangan telapak tangan kiri.


Usaha itu membuahkan hasil. Telapak tangannya mengenai dada dengan telak. Ketika dua orang tersebut belum mendapatkan posisi, Pedang Raja Dewa kembali bergerak.


Tebasan cepat datang bagaikan hembusan angin. Cahaya warna merah segar memancar ke atas. Satu detik berikutnya, tahu-tahu dua tubuh ambruk bersimbah darah.


Pedang Raja Dewa ternyata meminta korban kembali!


Lima orang pendekar kelas satu, terbunuh hampir secara bersamaan. Perbedaan waktu di antara mereka hanya sedikit.


Saat itu, Zhang Fei tampil bagaikan Malaikat Maut. Pedang yang ia genggam masih mengucurkan darah segar para korbannya.


Pendekar kelas satu yang tersisa memandangnya dengan tatapan ngeri. Mereka tidak mampu berkata apa-apa lagi kecuali hanya bisa menggertak gigi.


"Bagaimana? Apakah kalian ingin bernasib serupa seperti mereka?" tanya Zhang Fei sambil melirik ke arah para korban.


Orang-orang itu saling pandang. Mereka tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana.


"Baiklah. Kalau kalian tidak mau menjawab, biar aku sendiri yang menentukan bagaimana selanjutnya,"


Zhang Fei sudah tidak sabar lagi. Saat mengetahui lawannya tidak memberikan jawaban, dengan segera dia mengambil keputusan.


"Murka Pedang Dewa!"


Wutt!!!


Ia berteriak kencang. Pedang pusaka di tangannya bergerak bagaikan kilat yang menyambar. Tidak ada seorang pun yang mampu menyaksikannya secara jelas.


Mereka hanya bisa merasakan adanya hawa pedang dan hawa kematian yang sudah bercampur menjadi satu.


Sebelum orang-orang tersebut mengambil tindakan, Pedang Raja Dewa telah lebih dulu tiba di hadapannya.


Srett!!!


Satu orang langsung menjadi korban. Disusul dengan para korban yang berikutnya. Dalam waktu kurang dari sepuluh jurus, setidaknya sudah ada empat orang yang terkapar di tanah dengan kondisi mengenaskan.


Mereka mengalami luka-luka akibat tebasan atau tusukan pedang yang cukup dalam. Pata korbannya tersebut membawa rasa terkejut ke alam baka.


Sekarang, yang tersisa di sana hanya tinggal satu orang. Zhang Fei sengaja tidak langsung membunuhnya, sebab dia tahu bahwa orang tersebut adalah pemimpin dari dua belas orang tadi.


"Aku akan memberikan dua pilihan kepadamu," kata Zhang Fei dengan suara dalam.


"Pilihan apa?" tanya pria tua bertubuh tinggi tegak dengan sepasang pedang kembar di kedua tangannya tersebut.


"Kau ingin menyerahkan semua yang ada di saku bajumu, atau memilih supaya aku mencabut nyawamu?"


"Kalau aku tidak ingin memilih keduanya?"


"Kau harus tetap memberikan pilihan. Sebab penentuan hidup dan matimu, kini berada di tanganku,"


Zhang Fei sengaja berkata demikian. Karena pada saat itu dia tahu bahwa lawannya sudah ketakutan.


"Hemm ... sebenarnya apa yang kau cari? Apa pula yang kau inginkan dariku?" orang itu mengajukan pertanyaan. Bicaranya sedikit gugup, mungkin itu akibat ketakutan yang sedang dia alami sekarang.


"Pertama, aku mencari murid murtad dari Perguruan Kera Sakti. Dan kedua, aku mencari informasi dari orang-orang Kekaisaran Jin. Dan aku rasa, kau lah orang yang mempunyai segala informasi itu,"