
Lima hari sudah berlalu kembali. Itu artinya, sekarang adalah waktu yang ditunggu-tunggu untuk para tokoh berangkat ke Kotaraja.
Saat itu, waktu masih menunjukkan pagi. Mentari baru saja memunculkan diri di ufuk sebelah timur. Sinarnya yang hangat telah menyala semua makhluk yang hidup di atas muka bumi.
Semua orang di Gedung Ketua Dunia telah bangun dari tidur. Bahkan hampir semuanya sudah siap melaksanakan tugasnya masing-masing.
Begitu juga dengan para tokoh utama. Belum lama ini, mereka baru saja menyelesaikan sarapan bersama.
Sekarang, orang-orang itu sedang melakukan persiapan masing-masing. Setelah semuanya selesai, mereka segera berkumpul di halaman depan sambil menunggu yang lainnya.
"Di mana Nona Mei dan Nona Yin?" tanya Dewa Arak Tanpa sambil menoleh ke sana kemari.
"Mereka masih di kamarnya, Tuan Kiang. Sebentar lagi, Nona Mei dan Nona Yin akan segera keluar," jawab seorang petugas.
"Oh, baiklah,"
Dewa Arak Tanpa Bayangan mengangguk. Dia langsung diam sambil menunggu kedua gadis itu.
Tidak lama kemudian, orang yang ditunggu telah datang. Mereka muncul secara bersamaan dari dalam gedung.
"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Zhang Fei kepada mereka.
"Sudah, anak Fei,"
"Baiklah, kalau begitu, mari kita berangkat sekarang juga,"
Mereka kemudian berjalan ke tengah halaman. Kebetulan, di sana sudah ada para petugas yang sejak tadi menunggu. Masing-masing sedang memegang tali seekor kuda.
"Paman, aku titipkan Gedung Ketua Dunia Persilatan ini kepadamu. Maaf kalau aku merepotkanmu lagi," kata Zhang Fei kepada orang yang dipercaya.
"Ketua Fei tidak perlu khawatir. Aku dan yang lainnya pasti akan menjaga gedung ini," katanya menjawab sopan.
"Baiklah, terimakasih,"
Zhang Fei langsung naik ke atas kudanya. Setelah itu mereka segera menarik tali kekang kuda dan akan memulai perjalanannya.
Suara ringkik kedelapan ekor kuda itu terdengar keras dan seolah-olah saling sahut. Kepulan debu segera mengepul tinggi ke tengah udara.
Dalam waktu yang sangat singkat saja, para tokoh itu sudah berada cukup jauh dari Gedung Ketua Dunia Persilatan.
Di tengah perjalanan, sesekali mereka membalapkan kudanya masing-masing supaya bisa sedikit mengusir rasa bosan.
Perjalanan para tokoh utama itu dihiasi dengan canda tawa yang menggembirakan. Setiap melewati tempat-tempat yang ramai, mereka selalu saja mendapat penghormatan dari banyak orang yang kebetulan bertemu dengannya.
###
Tanpa terasa, Zhang Fei dan yang lain sudah tiba di Kotaraja sejak kemarin. Selama satu hari penuh, bisa dibilang mereka semua terus beristirahat total.
Terutama sekali adalah Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan!
Kedua orang itu benar-benar menjaga pengeluaran tenaga dan pikirannya. Mereka tahu, pertarungan penentuan nanti akan berjalan dengan sangat sengit sekali.
Buka hanya itu, bahkan keduanya pun paham bahwa perubahan bisa terjadi kapan saja. Mereka belum tahu sama sekali tentang jalannya pertarungan penentuan besok, namun yang pasti, pertarungan tersebut pasti akan berjalan sangat luar biasa sekali.
Sekarang sudah masuk hari kedua. Itu artinya, pertarungan penentuan akan dimulai hari ini juga!
Lebih daripada itu, malah ada cukup banyak juga orang-orang biasa dan para pendekar dunia persilatan yang datang dari masing-masing Kekaisaran.
Kotaraja Kekaisaran Song pada saat itu benar-benar dipadati oleh banyak orang. Semua penginapan dan restoran diisi penuh oleh para pengunjung yang terus berdatangan.
Pada waktu bersamaan, warga yang tinggal di Kotaraja kebanjiran rezeki. Mereka yang membuka usaha di sana, diserbu oleh banyak orang.
Barang apapun, dagangan apapun, pasti akan laku terjual!
Sementara itu, Zhang Fei dan yang lainnya juga sudah bangun sejak tadi. Belum lama ini, mereka baru saja menyelesaikan sarapan pagi.
Setelah semua persiapan selesai, mereka berniat untuk berjalan-jalan di Kotaraja barang beberapa saat. Hitung-hitung menenangkan hati dan pikiran. Di satu sisi, mereka pun mempunyai tujuan lain, yaitu ingin memantau keadaan di lapangan.
Delapan orang tokoh dunia persilatan itu telah keluar dari penginapan. Sejak kedatangannya ke sana, Kaisar Song Kwi Bun telah mengutus beberapa orang Pendekar Elit Istana Kekaisaran untuk menjaga keamanan, khususnya adalah keamanan Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Walaupun hal-hal tak diinginkan kecil kemungkinan terjadi, tetapi waspada dan berjaga-jaga tetap nomor satu!
Meskipun Kaisar tahu dua orang itu mempunyai kemampuan sangat tinggi, namun dia pun paham bahwa mereka harus benar-benar menghemat tenaganya.
Para Pendekar Elit Istana Kekaisaran tersebut selalu membayang-bayangi ke mana pun Zhang Fei dan rombongannya pergi. Mereka selalu menjaga dalam jarak tertentu.
"Tuan Kiang, keadaan Kotaraja benar-benar ramai sekali. Aku khawatir Istana Kekaisaran tidak akan bisa menampung semua orang itu," kata Zhang Fei sembari berjalan-jalan di tengah kota.
"Sepertinya semua orang itu sangat antusias, anak Fei," sahut Dewa Arak Tanpa Bayangan. "Tapi kau jangan khawatir, bagaimanpun juga, Kaisar pasti tidak akan mengizinkan semua orang masuk. Kemungkinan orang-orang yang tidak terlalu penting akan disuruh menunggu di luar dan menanti pertarungan penentuan selesai,"
Ucapan Dewa Arak Tanpa Bayangan sangat masuk akal. Walaupun halaman utama Istana Kekaisaran sangat besar, tapi rasanya terlalu mustahil kalau semua orang yang datang diizinkan untuk masuk ke sana.
Selain berbahaya dan bisa mendatangkan hal-hal buruk, di sisi lain nantinya juga akan membatasi kegiatan yang akan berlangsung.
"Anak Fei, mereka sudah mulai masuk ke Istana Kekaisaran. Lebih baik kita pun segera ke sana," ucap Orang Tua Aneh Tionggoan setelah menyadari bahwa semua "peserta" sudah masuk ke dalam Istana Kekaisaran.
"Baiklah, Tuan Kai. Mari,"
Zhang Fei setuju dengan ucapannya. Mereka semua segera masuk ke sana.
Begitu tiba di halaman depan, ternyata masing-masing kubu sudah mendapat tempatnya tersendiri. Di sana ada tiga bagian, setiap bagian itu didiami oleh satu Kekaisaran.
"Ketua Fei, di sini," sebuah suara tiba-tiba masuk ke telinga Zhang Fei. Begitu ia menengok ke asal suara tersebut, ternyata di sana sudah ada Kaisar Song Kwi Bun yang telah menunggunya. Saat itu dia sedang melambaikan tangan kepada Zhang Fei.
"Oh, baik, Kaisar. Kami akan segera ke sana,"
Ketua Dunia Persilatan langsung mengajak rombongannya untuk menuju ke tempat di mana Kaisar Song Kwi Bun berada. Setelah tiba di sana, ternyata di tempat itu pun telah berkumpul setidaknya dua puluhan orang.
Hitungan tersebut sudah termasuk dengan pengawal pribadi Kaisar.
Walaupun pertarungan penentuan itu dilangsungkan di wilayah kekuasaannya, namun Kaisar Song Kwi Bun tidak mau curang.
Dia memberlakukan pihaknya seperti juga pihak-pihak lain yang akan terlibat.
"Salam hormat, Kaisar. Semoga Kaisar panjang umur," Dewa Arak Tanpa Bayangan memberikan hormat setelah tiba di hadapannya.
Yang lain pun segera mengikuti terkait apa yang dia lakukan saat itu.