
Gerakan gadis itu sangat lincah. Pedangnya berkelebat di antara cahaya golok dan pedang lawan yang ingin memangsa tubuhnya. Benturan nyaring seketika terdengar keras. Percikan bunga api tampak memercik mewarnai jalannya pertarungan tersebut.
Dalam pada itu, Yao Mei juga tidak mau membuang waktu lebih lama lagi. Karenanya dia segera mengeluarkan salah jurus pedang andalannya.
"Hiatt!" tiba-tiba dia melompat ke depan sambil menebaskan pedangnya. Cahaya putih keperakan melesat di tengah udara kosong.
Pertarungannya baru saja berjalan sebanyak sepuluh jurus, tapi dia sudah berhasil menciptakan korban jiwa. Satu dari enam orang itu telah tewas. Ia meregang nyawa karena dadanya tergores cukup dalam.
Melihat satu rekannya menjadi korban, lima orang lainnya semakin marah. Mereka juga mulai mencecar Yao Mei dengan jurus pedang dan golok yang cepatnya tidak bisa diragukan.
Gadis cantik yang selalu tampil dingin itu tersenyum sinis. Walaupun ada lima batang senjata yang terus-menerus mencecar tubuhnya tanpa henti, tapi dengan mudah saja ia bisa membebaskan dirinya.
Tubuh Yao Mei seperti belut. Sangat licin dan tidak bisa disentuh. Dalam pada itu, adu senjata semakin banyak terjadi. Hawa pernah telah menyatu dalam satu gulungan.
Sinar putih keperakan dan sinar hitam bertemu di tengah-tengah jalan. Ketika mencapai dua puluh jurus, pertarungan tersebut semakin berjalan lebih seru lagi.
Tapi Yao Mei juga tidak mau mengalah. Dia tidak memberikan keringanan sedikit pun bagi lima lima lawannya tersebut.
"Memetik Bunga Menebas Rembulan!"
Wushh!!!
Gerakan pedangnya tiba-tiba berubah. Begitu mengeluarkan jurus tingkat tinggi, posisi lima orang itu langsung merosot. Mereka jadi terdesak hebat oleh serangan balasan Yao Mei.
Sekitar sepuluh jurus berikutnya, pertarungan gadis cantik itu sudah mencapai puncak. Satu-persatu dari mereka mulai meregang nyawa. Beberapa tarikan nafas berikutnya, lima orang itu sudah benar-benar meregang nyawa!
Selama jalannya pertarungan barusan, Yao Mei merasakan ada perubahan di dalam dirinya. Tenaganya terasa meningkat pesat, bahkan meskipun sudah mengeluarkan jurus tingkat tinggi, dia merasa tidak lelah sama sekali.
Padahal jurus Memetik Bunga Menebas Rembulan itu adalah salah satu jurus yang memerlukan tenaga besar. Siapa sangka, sekarang tenaga yang dia butuhkan ternyata hanya sedikit.
Bukan main girangnya hati gadis cantik itu. Ia terus tersenyum-senyum sendiri sambil mengawasi jalannya pertarungan lain.
Sementara itu, bersamaan dengan pertempuran yang dilakoni oleh Yao Mei, tidak jauh di sisinya, Zhang Fei juga sudah bertarung melawan tujuh orang musuh.
Musuh yang dia hadapi sedikit lebih berat daripada musuh yang menyerang Yao Mei. Hal itu tak lain adalah karena kehadiran tiga murid senior Partai Iblis Sesat.
Namun bukan berarti Zhang Fei tidak sanggup menghadapi mereka. Jangankan tiga, bahkan kalau ditambah sepuluh orang murid senior lagi pun, dia merasa yakin masih sanggup menghadapinya.
Saat ini, ia telah mengeluarkan Pedang Raja Dewa dan memainkan jurus Memadamkan Rembulan Melenyapkan Bayangan.
Dengan jurus keempat saja, Zhang Fei sudah bisa menguasai jalannya pertarungan. Tujuh orang musuhnya tidak bisa berbuat banyak. Mereka masing-masing saat ini justru sedang sibuk mempertahankan dirinya sendiri.
Wutt!!! Wutt!!!
Pedang pusaka itu terus berkelebat di antara celah-celah kecil yang diciptakan lawan. Walaupun mereka menyerang dengan rapat dan secara serempak, tapi nyatanya Zhang Fei tidak terlihat kesulitan sedikit pun.
Wungg!!!! Crash!!!
Satu tebasan pedang dilakukan secara tiba-tiba. Dua buah kepala manusia tiba-tiba menggelinding ke tanah.
Dua orang musuhnya telah tewas mengenaskan!
Belum lagi rasa kaget di benak mereka hilang, tiba-tiba kejadian yang membuat bulu kuduk berdiri kembali terjadi. Entah dengan cara bagaimana dia melakukannya, tapi tahu-tahu korban jiwa di sana sudah bertambah lagi sebanyak dua orang.
Kematian mereka tidak berbeda jauh dengan dua orang sebelumnya.
"Gadis kecil, lebih baik kau pulang saja. Aku tidak tega kalau harus membunuhmu," kata Zhang Fei kepada gadis yang berkuncir dua itu.
"Sembarangan saja kalau bicara," jawabnya dengan nada tidak senang. "Sebenarnya umurku sudah tidak muda lagi. Kau tahu, umurku yang asli sudah mencapai tiga puluh lima tahun?"
"Apa? Kau ... kau tidak sedang berbohong?"
"Dia mengatakan yang sebenarnya," sahut Pendekar Tangan Dewa tiba-tiba ikut dalam percakapan. "Hanya saja karena sebuah kelainan, maka dirinya terlihat lebih muda dari umur yang sebenarnya,"
Mendengar penjelasan itu, Zhang Fei menganggukkan kepalanya. Dia cukup tahu tentang hal ini.
Meskipun jarang, tapi penyakit aneh seperti ini memang seringkali terjadi.
"Ah, perduli kau masih muda atau sudah tua. Tapi aku tetap tidak tega membunuhmu," ucap Zhang Fei dengan serius.
"Apakah katana dia cantik?" Yao Mei yang menyaksikan di pinggir arena tiba-tiba berkata dengan nada tidak senang.
Zhang Fei melirik ke arahnya. Dia segera melihat raut tidak senang pada wajah gadis itu. Buru-buru dirinya menjawab. "Bukan begitu maksudku, Nona Mei. Aku tidak tega membunuhnya tak lain adalah karena dia sempat melayani kita dengan baik,"
"Jangan bawa-bawa hal itu lagi. Apa yang aku lakukan sebelumnya tak lebih karena menjalankan kewajiban saja," sela gadis berkuncir dua.
"Hemm. Baiklah. Terserah apa katamu saja," Zhang Fei segera mengakhiri percakapan di antara mereka.
Tepat setelah itu, dua murid senior yang tersisa langsung menyerangnya secara tiba-tiba. Mereka tidak main-main lagi, malah keduanya sudah menurunkan jurus pamungkas.
Dua macam golok bergerak dari dua sisi berbeda. Serangan itu sangat cepat dan dahsyat. Sedikit melakukan kesalahan saja, nyawa yang akan menjadi jaminannya.
"Bagus. Mari kita tentukan siapa yang akan mampus," kata Zhang Fei sambil tersenyum dingin.
Wutt!!! Srett!!!
Satu kali tubuhnya bergerak ke depan, dua nyawa langsung melayang seketika. Dua murid senior itu melotot, mereka seakan-akan tidak percaya dengan kejadian ini.
Brukk!!!
Tubuh keduanya lalu ambruk ke atas tanah.
Gadis berkuncir dua semakin ketakutan. Dia sadar akan keadaannya sendiri. Karena itulah dirinya belum bergerak lagi.
"Pergilah!" kata Zhang Fei sambil mengibaskan tangan.
Sementara itu, terlihat di sebelah sana Pendekar Tangan Dewa sedang mengepalkan kedua tangannya dengan kencang. Dia tidak menyangka orang-orangnya akan tewas dengan mudah.
Zhang Fei dan Yao Mei kemudian berjalan mendekat. Keduanya telah menyarungkan kembali pedang pusaka masing-masing.
"Hebat. Rupanya khasiat dari Bunga Mawar Tengah Malam sudah benar-benar kalian serap dengan baik," katanya bertepuk tangan.
Dia terlihat senang. Padahal sebenarnya, Pendekar Tangan Dewa sengaja berkata seperti itu supaya bisa menutupi kegugupannya.
"Ini semua berkat dirimu juga. Jadi, aku harus mengucapkan terimakasih kepadamu," Zhang Fei membungkuk hormat. Seolah-olah dia melakukan hal itu sungguh-sungguh.
"Bocah keparat! Walaupun kalian sudah berhasil menyerap khasiat bunga pusaka itu, tapi jangan harap bisa mengalahkan aku," teriak Pendekar Tangan Dewa sambil memburu ke depan.