
Tengah malam telah tiba. Keadaan di dalam Istana Kekaisaran Song tampak mulai sepi. Semua pejabat di sana sudah beristirahat dengan nyenyak.
Yang masih terjaga pada saat itu hanya para prajurit dan para pengawal saja. Walaupun hari sudah larut malam, namun orang-orang itu tetap harus melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh.
Di sebuah kamar tamu yang besar dan istimewa, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka lebar. Disusul kemudian dengan munculnya pria tua yang mengenakan pakaian mewah.
Pria tua yang dimaksud tersebut bukan lain adalah Kaisar Qin Feng Yang. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, dia sudah mempunyai janji dengan Kaisar Song untuk berbicara empat mata ketika tengah malam tiba.
"Kaisar, apakah ada sesuatu yang harus hamba lakukan?" tanya seorang pengawal pribadinya.
"Tidak ada," jawabnya sambil tersenyum dan menggelengkan kepala. "Kalian tetaplah di sini dan berjaga-jaga. Aku akan pergi menemui Kaisar Song, ada sesuatu yang akan kita bicarakan,"
"Apakah Kaisar tidak memerlukan pengawalan?" tanya pengawal yang satunya lagi.
"Tidak perlu, ini adalah pertemuan rahasia. Jadi tidak boleh ada satu orang pun yang tahu,"
"Tapi ..."
"Jangan banyak membantah. Laksanakan saja perintahku," katanya sedikit tegas.
"Baik, Kaisar. Kami mengerti," jawab dua orang pengawal tersebut sembari mengangguk dan memberi hormat.
"Bagus. Aku pergi dulu,"
Kaisar Qin menepuk pundak keduanya. Setelah itu dia segera pergi dari kamarnya tersebut.
Jarak antara kamarnya dan kamar pribadi Kaisar Song itu cukup lumayan jauh. Tetapi karena situasi di dalam Istana Kekaisaran sudah mulai sepi, maka Kaisar Qin bisa bertindak lebih leluasa lagi.
Wushh!!!
Dia mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya. Kaisar Qin berlari cepat bagaikan awan di atas sana. Dalam waktu beberapa tarikan nafas saja, ia telah berhasil tiba di depan kamar Kaisar Song.
Keadaan di sana juga terlihat sepi sunyi. Di depan pintu kamar tidak ada pengawal. Sepertinya Kaisar Song telah mempersiapkan segalanya.
Baru saja Kaisar Qin akan mengetuk pintu kamar, tiba-tiba pintu itu malah terbuka lebih dulu.
"Masuklah, Kaisar Qin," kata Kaisar Song sambil tersenyum ke arahnya.
"Kau membuatku sedikit kaget," ia berkata sambil tersenyum. Setelahnya Kaisar Qin pun segera masuk ke dalam kamar.
Kaisar Song menyuruhnya untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Ia menjamu tamu istimewa tersebut dengan seguci arak mewah dan langka.
"Ini adalah Arak Dewa. Rasanya benar-benar manis dan nikmat. Arak Dewa ini adalah arak paling mahal di Kekaisaran Song," ucapnya sambil mengisi cawan arak.
Setelah kedua cawan terisi penuh, mereka segera bersulang.
"Benar-benar arak yang lezat. Aku baru tahu bahwa di dunia ada arak semacam ini," ucap Kaisar Qin memberikan pujian.
"Ah, kau terlalu memuji," Kaisar Song tersenyum ke arahnya.
Dua orang itu bersulang arak beberapa kali. Setelah basa-basi sebentar, obrolan di antara mereka pun segera lebih serius lagi.
"Ngomong-ngomong, apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Kaisar Song langsung ke inti pembahasan.
"Pertama, aku ingin mengucapkan rasa terimakasih karena kau sudah mengambil langkah ini. Jujur saja, sejak beberapa waktu lalu, aku juga sudah memiliki maksud yang sama denganmu, Kaisar Song. Sayangnya, aku belum mempunyai keberanian untuk mewujudkannya,"
"Jadi ... kau juga mempunyai pikiran yang sama denganku?"
"Benar," katanya mengangguk. "Apa yang kau pikir dan rencanakan ini, semuanya sama denganku,"
Kaisar Song menganggukkan kepala beberapa kali. Namun dia belum membuka mulutnya.
"Kekhawatiran apa itu?" Kaisar Song bergaya sambil melirik kepadanya.
"Aku takut mereka akan berbuat licik. Waktu tiga bulan itu tidak terlalu lama. Aku rasa, mereka akan melakukan berbagai macam cara untuk mencelakai Ketua sekaligus Datuk Dunia Persilatan yang telah kita pilih untuk menjadi perwakilan nanti,"
Mereka yang dimaksud olehnya tentu saja adalah Kaisar Zhou dan Kaisar Jin!
Kaisar Qin sangat yakin akan hal tersebut. Sebab dia sudah tahu betul bagaimana watak kedua Kaisar itu.
Bukan hanya dia saja, bahkan sejak jauh-jauh hari, Kaisar Song pun mempunyai pikiran yang sama dengannya.
Dia tahu, Kaisar Zhou dan Kaisar Jin pasti akan melakukan hal itu. Karena mereka berdua adalah salah satu orang yang mempunyai sifat tidak mau kalah.
Apapun yang terjadi, mereka harus selalu menang. Walaupun harus melakukan beragam cara, kedua Kaisar itu pasti akan mewujudkannya.
"Ya, kau benar. Aku pun sudah mempunyai firasat akan hal ini. Tetapi di samping itu, aku juga merasa yakin terhadap Ketua dan Datuk Dunia Persilatan yang telah aku pilih. Mereka pasti bisa menghadapi berbagai cobaan itu," ucap Kaisar Song penuh keyakinan.
"Semoga saja seperti itu. Namun bagaimanapun juga, kah harus tetap membantu mereka,"
"Ya, pasti. Kau tenang saja, aku telah memikirkan semuanya," kata Kaisar Song.
"Aku percaya kepadamu,"
Kaisar Qin membalas senyuman yang diberikan. Setelah itu, keduanya kembali bersulang arak sebanyak tiga kali.
Suara arak yang masuk ke dalam tenggorokan segera terdengar. Baru beberapa cawan arak yang diminum, wajah dua Kaisar tersebut sudah mulai memerah.
"Sebenarnya, mengapa kau begitu yakin kepada dua orang tokoh tersebut? Apa alasannya?" tanya Kaisar Qin lebih jauh.
"Entahlah, aku sendiri tidak bisa menjelaskannya kepadamu. Yang pasti, firasatku mengatakan bahwa mereka berdua akan membawa perubahan bagi sejarah Tionggoan kita. Khusunya adalah Ketua Dunia Persilatan yang saat ini,"
Kaisar Qin mengangguk. Dia sudah banyak mendengar cerita tentang Zhang Fei dari orang-orangnya. Maka dari itu, ketika Kaisar Song berkata seperti barusan, ia tidak banyak bicara.
Bahkan secara tidak langsung, dia pun merasa setuju.
"Anak muda itu memang luar biasa. Kekaisaran Song benar-benar beruntung karena mempunyai pendekar muda seperti dirinya,"
Kaisar Song tidak menjawab. Dia hanya tersenyum hangat.
Lewat beberapa saat berikutnya, Kaisar Qin kembali bicara lagi. "Semoga saja pertarungan nanti akan dimenangkan oleh pihakmu. Aku sangat tidak setuju kalau pemenangnya dari orang-orang mereka,"
"Tenang saja. Kita percayakan semua hal ini kepada para Dewa," ujar Kaisar Song.
Kedua Kaisar itu meneruskan pembahasannya sampai rembulan bergeser ke sebelah barat. Tanpa terasa, kentongan pertama telah terdengar di kejauhan.
Itu artinya, tanpa sadar mereka berdua telah bicara cukup lama.
"Hari sudah larut malam, aku pamit sekarang saja," kata Kaisar Qin sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya.
"Mengapa kau terburu-buru sekali? Arak Dewa yang disuguhkan ini pun masih belum habis,"
"Aku sudah tidak kuat lagi. Semakin bertambahnya usia, maka semakin berkurang juga takaran minumku," jawabnya sambil tertawa ringan.
"Hahaha ... baiklah. Aku mengerti," tukas Kaisar Song. "Terimakasih karena kau sudah percaya kepadaku,"
Kaisar Qin menganggukkan kepala. Setelah berpamitan, dia segera keluar dari kamar tersebut.
Kaisar Song memandangi kepergiannya untuk beberapa saat. Setelah itu dia segera menutup pintu kamar untuk melakukan istirahat.