
Tombol itu berbentuk batu warna hitam. Letaknya berada di dinding. Bedanya dari batu-batu yang lain, batu yang ini terlihat sedikit menonjol.
Karena merasa curiga, Zhang Fei segera menekan batu tersebut. Siapa sangka, tidak lama setelah itu, tiba-tiba seluruh ruangan goa bergetar keras. Sesaat kemudian muncul ruangan rahasia bawah tanah yang sedang mereka cari-cari.
"Itu dia ruang rahasianya," seru Yao Mei sambil menunjuk ke ruangan yang baru muncul tersebut.
"Benar. Mari kita masuk ke sana,"
Mereka kemudian memasuki ruang bawah tanah itu. Keadaan di sana sangat gelap. Tetapi karena tidak terlalu luas, maka hanya sebentar saja benda yang dicari sudah bisa ditemukan.
"Nona Mei, mari kita naik ke atas," kata Zhang Fei sambil menaiki anak tangga yang tersisa.
Setelah tiba di ruangan goa, Zhang Fei segera membuka dua buah kotak hitam yang berukuran cukup besar itu. Rupanya apa yang dikatakan oleh si Tua Tempat Informasi memang tidak salah.
Kotak itu berisi kitab pusaka dan bunga mawar yang mempunyai warna merah terang.
Mereka saling pandang untuk beberapa saat.
"Zhang Fei, apa yang akan kita lakukan dengan benda ini?" tanya Yao Mei kebingungan.
"Lebih baik kita bawa dulu kedua pusaka ini dan kita berikan kepada Ketua Dunia Persilatan. Atau kalau tidak, kita berikan kepada Datuk Dunia Persilatan,"
"Menurutku itu bukan jalan yang terbaik. Bagaimana kalau di perjalanan nanti, kita mendapat kesulitan? Lagi pula, aku sangat yakin di Tua Tempat Informasi tidak akan tinggal diam. Mungkin dia sudah menyuruh orang-orangnya untuk mengejar kita," jawab Yao Mei sambil mengemukakan pendapatnya.
"Hemm, benar juga," sahut Zhang Fei.
Setelah dipikir beberapa saat, apa yang dikatakan oleh gadis itu memang benar. Dalam keadaan yang sedang kacau balau seperti saat ini, sudah tentu pengembaraan mereka nanti tidak akan berjalan dengan mulus.
Entah apa yang akan menghalangi jalannya, yang jelas segala macam rintangan pasti sudah menunggu.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan dengan benda pusaka ini?" tanya anak muda itu sambil memandang gadis yang berdiri di depannya.
Yao Mei memandang langit-langit goa sambil memegangi dagunya. Sepertinya gadis itu sedang memikirkan jalan keluar yang sedang mereka hadapi saat ini.
"Bagaimana kalau kita makan saja Bunga Mawar Tengah Malam itu?"
"Ah, tidak, tidak. Ini tidak baik. Bunga ini bukan milik kita, jadi kita tidak boleh memakannya begitu saja," jawab Zhang Fei sambil menggelengkan kepala.
"Kau ini bagaiamana? Bukankah bunga ini adalah benda pusaka yang diperebutkan oleh orang-orang persilatan? Kalau benar begitu, jadi siapa pun yang berhasil memiliki, maka dia mempunyai hal untuk memakannya. Sekarang, benda ini ada di tangan kita, jadi apa salahnya juga kalau kita yang menyantapnya?"
Yao Mei memandang Zhang Fei lekat-lekat. Setelah beberapa saat kemudian, dia berkata lagi. "Coba kau pikir lagi, daripada Bunga Mawar Tengah Malam ini jatuh ke tangan orang-orang sesat, bukankah lebih baik kita yang memanfaatkan khasiatnya?"
Zhang Fei masih belum menjawab. Dia masih memikirkan langkah mana yang harus diambil. Keadaan di dalam goa menjadi sunyi. Kedua orang itu tidak ada yang bicara lagi.
"Cepat putuskan sekarang juga. Waktu kita tidak banyak lagi," seru Yao Mei sedikit kesal karena sudah cukup lama Zhang Fei tidak menjawab.
"Baiklah, baiklah. Aku rasa hanya itu jalan yang terbaik. Mari kita santap saja bunga ini,"
Dia kemudian mengambil Bunga Mawar Tengah Malam yang masih tersimpan di dalam kota. Setelah itu Zhang Fei segera membaginya dengan rata.
Mereka saling pandang sesaat. Tanpa berkata apa-apa, keduanya kemudian menelan bunga tersebut.
Lewat beberapa tarikan nafas, dua pendekar muda itu segera merasakan ada hawa panas yang tiba-tiba muncul dari dalam perut dan sedang berusaha naik ke atas.
"Kita bermeditasi sekarang. Kita harus menyerap khasiat dari bunga ini," kata Zhang Fei dengan cepat.
Yao Mei setuju. Mereka lalu duduk bersila dan segera berkonsentrasi untuk berusaha menguasai hawa liar yang mulai menerobos ke setiap titik tersebut.
Walaupun begitu, tapi sedikit pun mereka tidak merasa lelah. Keduanya malah merasakan tubuhnya jauh lebih segar daripada sebelumnya.
Mereka tersenyum satu sama lain.
"Lalu, bagaimana dengan kitab pusaka ini?" tanya Yao Mei sambil menunjuk ke kotak hitam yang satu lagi.
"Untuk kotak ini, lebih baik kau pelajari saja, Nona. Bukan maksudku untuk merendahkan kemampuanmu, tapi aku rasa kau lebih membutuhkan daripada aku sendiri," kata Zhang Fei dengan lemah lembut.
Dia mengatakan yang sejujurnya. Dalam hati pemuda itu, tidak ada niat sedikit pun untuk menghina Yao Mei.
Sementara gadis itu sendiri, karena ucapan Zhang Fei terdengar nyaman di telinga, maka ia pun tidak merasa tersinggung.
"Tapi, aku merasa tidak enak kepadamu," keluhnya perlahan.
"Apa yang membuatmu tidak enak, Nona Mei?"
"Kau sendiri tahu, Ayahku adalah Datuk Dunia Persilatan aliran sesat. Pasti sedikit banyak, dalam hati kau pun berpikir bahwa aku tidak berbeda jauh dengannya,"
Zhang Fei menghela nafas. Dia kemudian tersenyum simpul.
"Jujur saja, awalnya aku berpikir seperti itu. Tapi setelah kejadian perebutan benda pusaka dan mendengar percakapan kalian di malam itu, pandanganku terhadapmu menjadi berbeda. Sekarang aku yakin, kau tidak sama dengan Ayahmu,"
"Benarkah?"
"Aku tidak berbohong," jawab Zhang Fei memasang wajah serius.
"Baiklah. Kalau begitu terimakasih," gadis itu berkata sambil tersenyum girang. Entah kenapa, sekarang dia merasa nyaman apabila sedang bersama Zhang Fei.
"Ini, ambilah. Kau bisa mempelajarinya apabila ada waktu luang," katanya sambil memberikan kitab pusaka yang usianya sudah tua dan menguning.
Yao Mei segera menerima kitab pusaka itu. Tepat sebelum ia menyimpannya, tiba-tiba dari arah luar sana terdengar seruan yang cukup keras.
"Hancurkan goa ini sekarang juga!"
Suara perintah itu sangat lantang. Sehingga Zhang Fei dan Yao Mei bisa mendengarnya dengan jelas.
"Gawat! Mereka benar-benar datang kemari," seru gadis cantik itu.
"Jangan panik, Nona Mei. Kita hadapi saja mereka,"
Zhang Fei segera mempersiapkan dirinya. Ia mulai menyalurkan hawa murni dan tenaga saktinya. Melihat hal itu, Yao Mei tidak tinggal diam. Dia pun segera melakukan hal serupa.
Sedangkan di satu sisi, berbarengan dengan itu, seluruh goa tiba-tiba bergetar kembali. Dentuman keras mulai terdengar tanpa henti.
"Kita keluar sekarang!" seru Zhang Fei.
Bersamaan dengan itu, dia langsung melesat keluar diikuti oleh Yao Mei.
Begitu tiba di tengah halaman, keduanya terkejut saat menyaksikan bahwa di sana sudah ada empat belas orang yang telah mengepungnya.
Karena tidak ada jalan keluar lagi, terpaksa muda-mudi itu menghentikan langkah.
"Berikan dua kotak hitam itu kalau kalian ingin selamat!" kata seseorang yang mengenakan cadar.