Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Ingin Mati, Atau Ingin Hidup?


Yang satu menyerang dari jarak jauh. Satunya lagi menyerang dari jarak dekat. Dua tokoh sesat itu menyerang secara bersamaan. Kerja sama yang mereka perlihatkan benar-benar sempurna.


Kalau saja lawannya bukan Pendekar Pedang Perpisahan, mungkin sudah sejak tadi dia tewas.


Untunglah lawan mereka saat ini adalah dirinya. Datuk sesat nomor dua di dunia persilatan Tionggoan, khususnya di Kekaisaran Song.


Walaupun serangan dan cara kerja sama mereka sempurna, tapi semua modal itu masih jauh dari kata cukup kalau ingin mencabut nyawa Pendekar Pedang Perpisahan.


Bayangkan saja, sudah belasan jurus mereka menyerang, tapi sampai saat ini semua usahanya belum juga memberikan hasil.


Bagaimanapun dan dengan jurus apapun, mereka tetap tidak mampu memberikan luka kepada Pendekar Pedang Perpisahan. Jangankan menorehkan luka, bahkan merobek bajunya saja, mereka tidak sanggup melakukannya.


Orang tua itu mampu bergerak bagaikan kilat. Gerakan tubuhnya lebih cepat dari jurus-jurus milik kedua lawannya. Jadi, tidak heran kalau sampai ini mereka tidak mampu memberikan 'hadiah' kepadanya.


"Main-mainnya sudah cukup. Sekarang, bersiaplah untuk bertemu dengan Raja Akhirat!"


Pendekar Pedang Perpisahan berkata di tengah-tengah gempuran serangan dari kedua lawan. Ucapan itu seperti mengandung daya kekuatan yang tidak bisa diungkapkan.


Sehingga membuat keduanya merasa bergidik ngeri. Tanpa sadar, mereka menerima sedikit langkahnya ke belakang.


"Pedang Kesengsaraan!"


Wutt!!!


Datuk sesat itu berteriak lantang. Sesaat kemudian tubuhnya meluncur dengan cepat ke depan sana. Pedang pusaka di tangannya bergetar sehingga terlihat menjadi beberapa buah.


Ia memberikan tebasan pedang ke arah si Burung Besi. Pada saat itu, tokoh sesat tersebut kebetulan juga sedang melancarkan serangannya. Alhasil, dua macam senjata kembali bertemu di tengah jalan.


Pertemuan kali ini tidak seperti tadi. Begitu berbenturan dengan pedang lawan, rantai tersebut seketika putus. Bola besinya terlempar jauh entah ke mana.


Pendekar Pedang Perpisahan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Sekali kakinya menjejak tanah, ia langsung mendekat ke arah lawan.


Srett!!!


Pedang pusaka itu berhasil menebas leher lawan sampai hampir putus. Darah segar menyembur ke udara. Si Burung Besi ambruk detik itu juga.


Dalam waktu yang bersamaan, si Pedang Darah sebenarnya berniat untuk menyelamatkan nyawa rekaannya tersebut. Tetapi sayangnya dia terlambat beberapa langkah.


Sehingga dirinya gagal menyelamatkan nyawa si Burung Besi.


Wungg!!!


Pendekar Pedang Perpisahan melakukan gerakan berputar. Pedangnya dijulurkan ke depan.


Gerakan itu dilakukan secara tiba-tiba. Si Pedang Darah tidak pernah menyangka akan hal tersebut. Akibatnya, dia pun tidak bisa mempertahankan nyawanya lebih lama.


Tebasan pedang barusan telah memberikan luka tebasan yang cukup dalam di perutnya. Darah langsung keluar seperti air bah.


Ia sempat melotot sekejap sebelum ambruk ke tanah.


Selesai membunuh kedua tokoh sesat tersebut, Pendekar Pedang Perpisahan segera melanjutkan kembali langkahnya. Dia berniat mencari lawan yang berikutnya.


###


Di sana ada kerumunan orang yang pastinya sedang bertempur dengan sengit. Zhang Fei mampu melihat ke arah sana dengan jelas.


Ia menyaksikan ada beberapa orang anak murid Kuil Seribu Dewa yang berada dalam posisi terpojok. Sepertinya beberapa kejap kemudian, mereka akan tewas di tangan lawan.


Zhang Fei tidak mau hal itu sampai terjadi. Maka dari itu, tanpa ditahan oleh siapa pun, ia segera menjejakkan kakinya ke tanah.


Tubuhnya langsung berada di tengah udara. Sebelum menginjak tanah, Zhang Fei telah mendorong telapak tangan kirinya ke depan.


Ia melancarkan jarak jauh dari tengah udara. Meskipun hanya menggunakan sebelah lengan, tapi jangan salah, serangan itu bisa dibilang mematikan dan tidak boleh dianggap ringan.


Blarr!!!


Sembilan orang pasukan musuh yang setara dengan pendekar kelas dua langsung terdorong beberapa langkah ke belakang. Mereka terlihat kaget dengan apa yang menimpanya barusan.


Wushh!!!


Beberapa kali dirinya menyerang, korban jiwa di pihak lawan sudah tercipta. Setidaknya, saat ini sudah ada tiga orang yang tewas karena Pedang Raja Dewa.


Zhang Fei melanjutkan usahanya tanpa berhenti. Hanya dalam waktu belasan jurus saja dia telah berhasil membunuh semua musuh yang tadi telah memojokkan anggota murid Kuil Seribu Dewa.


"Terimakasih, Tuan Penolong, terimakasih,"


Seorang biksu muda mengucapkan rasa terimakasih dan mewakili yang lainnya. Zhang Fei tersenyum sambil mengangguk sebagai jawabannya.


Setelah itu, dia kembali mencari anak murid yang memerlukan bantuannya.


Selama pertempuran berlangsung, dia terus-menerus membantu murid-murid yang terdesak. Setelah dipastikan posisi mereka aman, barulah Zhang Fei mencari lawan yang sepadan dengannya.


Saat itu, dia melihat di arah depan ada lagi lima orang pendekar kelas satu yang sedang mencecar dua orang biksu muda dengan senjata dan jurusnya masing-masing.


Dua orang biksu muda itu sudah mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya. Kondisi mereka sudah mengkhawatirkan. Zhang Fei memutuskan untuk membantunya.


"Telapak Raja Naga!"


Dia berteriak kencang ketika jaraknya sudah terpaut sekitar sepuluh langkah. Serangkum angin dingin melesat dengan cepat ke arah lima orang pendekar kelas satu.


Karena jurus tangan kosong itu datang secara tiba-tiba, maka kelima orang targetnya tidak bisa berbuat banyak. Mereka langsung terpental sampai tujuh langkah ke belakang.


"Pergilah dan obati luka kalian. Serahkan mereka kepadaku," kata Zhang Fei dengan serius.


"Tapi, Tuan ..."


"Jangan banyak membantah!"


"Baiklah. Terimakasih, Tuan,"


"Semoga Dewa memberikan perlindungan kepadamu, Tuan Penolong,"


Dua orang biksu muda tersebut membungkukkan badan sebelum pergi dari sana.


Zhang Fei memandangi kepergiannya sembari memastikan keamanan mereka. Setelah dipastikan aman, barulah dia mengalihkan pandangan matanya kembali.


"Hemm ... siapa kau, manusia bertopeng?" tanya salah satu orang.


"Tidak perlu banyak tanya. Katakan saja, ingin hidup, atau ingin mati?"


"Cuih!" orang itu meludah ke tanah. Dia merasa muak dengan pertanyaan yang diajukan oleh Zhang Fei. "Sombong sekali ucapanmu itu,"


"Ini mulutku, jadi terserah apa yang aku katakan. Apa urusannya dengan kalian?" Zhang Fei menarik muka sambil melemparkan senyuman sinis.


"Keparat!"


Wushh!!!


Dia melompat ke arah Zhang Fei. Empat orang sisanya juga langsung menyusul dari belakang.


Lima macam senjata pusaka segera mengurung Ketua Dunia Persilatan. Serangan gabungan mereka tentu saja tidak bisa dipandang ringan. Apalagi, mereka merupakan pendekar kelas satu.


Tetapi sayangnya, Zhang Fei yang sekarang bukanlah Zang Fei yang dulu. Dengan sorot mata penuh keyakinan dan tekad yang mantap, ia segera melompat ke tengah udara dan menyambut datangnya serangan lawan.


"Pedang Penakluk Jagad!"


Wutt!! Trangg!!! Trangg!!!


Benturan antar senjata langsung terjadi. Zhang Fei melayani mereka sekaligus. Sesekali ia melompat di atas senjata lawannya.


Kalau hal itu dilakukan oleh orang biasa atau pendekar kelas rendah, tentu saja hal tersebut sangat mustahil.


Sayangnya, hal itu dilakukan oleh Zhang Fei, yang tidak mungkin pun bisa menjadi mungkin.


Dengan ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat sempurna, memangnya apa yang tidak bisa dia lakukan?