Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pukulan Inti Es


Kedua tangannya melakukan gerakan yang cepat. Tubuhnya berputar-putar bagaikan kincir yang tertiup angin kencang. Gerakannya lincah dan cekatan.


Walaupun pedang milik Zhang Fei terus-menerus mengancam seluruh tubuhnya, tapi si Tubuh Besi masih bisa meloloskan diri. Hebatnya, cara dia meloloskan diri sangat berbeda dengan cara pada umumnya.


Entah bagaimana dia bergerak, tahu-tahu ia sudah selamat dari ancaman maut.


Awalnya Zhang Fei tidak heran, sebab dalam sebuah pertarungan, bisa meloloskan diri dari serangan itu sudah merupakan hal biasa.


Tapi setelah sepuluh jurus kemudian, ia mulai menyadari akan hal tersebut. Diam-diam dirinya memperhatikan cara lawan bergerak.


'Ternyata dia mempunyai cara khusus untuk melepaskan diri dari serangan yang rumit. Hebat juga orang ini,' pikir Zhang Fei.


Dalam pada itu, ia masih terus mencoba menurunkan serangan. Pedang Raja Dewa masih memberikan ancaman maut. Ujung pedang sudah siap untuk merobek-robek tubuh lawannya.


Tetapi hasilnya masih tetap sama. Si Tubuh Besi masih bisa melepaskan dirinya!


Pada akhirnya, Zhang Fei memilih untuk melompat mundur. Ia menghentikan dulu serangannya.


"Kenapa kau berhenti, anak muda?" tanya si Tubuh Besi dengan nada hambar.


"Aku sengaja. Aku hanya ingin memberikan waktu bernafas untukmu," katanya dingin.


"Cih, jangan memandang rendah diriku. Sebab aku tidak selemah yang kau bayangkan,"


"Benarkah?" Zhang Fei mengangkat kedua alisnya. "Kalau begitu, baiklah. Coba tahan serangan ini!"


Wutt!!!


Ia menyerang kembali dengan jurus Murka Pedang Dewa. Bedanya, tenaga yang terkandung dalam jurusnya kali ini sudah ditambah. Hasilnya tentu jauh lebih hebat daripada sebelumnya.


Ternyata, setelah menambah kekuatan, hasilnya terbukti nyata. Dalam beberapa jurus saja, si Tubuh Besi sudah mulai kelabakan. Beberapa kali tubuhnya hampir menjadi korban pedang pusaka itu.


Untunglah ia mempunyai kelebihan tersendiri. Sehingga dirinya masih bisa selamat.


Namun karena serangan Zhang Fei tidak pernah berhenti, lama-kelamaan ia semakin terpojok. Apalagi dengan ditambah daya tekanan dari hawa pedang yang dihasilkan.


Srett!!!


Suara robekan kain terdengar. Pangkal lengan sebelah kanan si Tubuh Besi terlihat mengalami luka. Darah segar segera keluar.


Melihat luka tersebut, tiba-tiba Zhang Fei menghentikan serangan untuk yang kedua kalinya.


"Aneh," gumamnya perlahan.


Sambil berbicara seperti itu, ia pun terus memandangi ke mulut luka di Tubuh Besi. Ia dibuat heran sekaligus terkejut.


Memang benar, pangkal lengan lawannya sudah mengalami luka akibat tebasan pedang barusan. Tapi, luka yang diakibatkan itu ternyata tidak begitu dalam. Malah darah yang keluar pun tidak banyak. Pemandangan seperti ini, jelas sangat berbeda dari pemandangan biasanya.


Yang mana biasanya, setiap musuh yang sudah terluka oleh Pedang Raja Dewa, pasti akan mendapatkan luka yang tidak main-main. Apalagi dulunya, pedang itu sendiri merupakan pusaka yang pernah menjadi bahan rebutan kaum dunia persilatan.


Karena alasan itulah, tidak heran bila semua korban keganasan Pedang Raja Dewa, kalau tidak mati, pasti akan mengalami luka parah.


Namun nyatanya, semua hal tersebut tidak berlaku bagi si Tubuh Besi.


Walaupun dia terluka, tapi lukanya dangkal dan terlihat tidak mematikan. Padahal jelas-jelas, tadi Zhang Fei sudah menebasnya dengan pengerahan tenaga sembilan bagian.


"Anak muda, kenapa kau melamun? Apakah sampai di sini saja kemampuanmu itu?"


Tiba-tiba si Tubuh Besi berbicara. Nadanya sangat mengejek. Zhang Fei yang mendengarnya, bahkan langsung tersulut kembali amarahnya.


"Aku bahkan belum mengeluarkan semuanya," jawabnya menutupi kenyataan.


"Bagus. Kalau begitu, ayo keluarkan seluruh kehebatanmu,"


"Baik,"


Zhang Fei menganggukkan kepala. Tiba-tiba dirinya menyarungkan kembali Pedang Raja Dewa.


Dalam lamunan barusan, ia telah berhasil menyadari satu hal.


"Sudah pasti orang ini mempunyai tubuh yang sangat keras. Sepertinya dia menguasai semacam ilmu kebal terhadap senjata apapun,"


Di samping pemikiran semacam itu, Zhang Fei juga bisa merasakan bahwa si Tubuh Besi ini menguasai tenaga Yang (keras/panas).


Maka dari itu, untuk menghadapinya, dia harus melayani dengan tenaga lemas Im (lemas/dingin).


Jadi karena itulah dia memilih menyarungkan kembali pedangnya. Ia akan menghadapi si Tubuh Besi dengan menggunakan tangan kosong. Sekaligus mencoba menghadapinya dengan tenaga yang berlawanan.


Sementara di satu sisi, Tubuh Besi tiba-tiba mengerutkan kening melihat lawan mudanya menyarungkan senjata.


"Heh, kenapa kau menyarungkan pedangmu?" tanyanya keheranan.


"Setelah berpikir sesaat, aku rasa untuk menghadapi musuh sepertimu, aku tidak perlu menggunakan senjata," jawabnya sambil tersenyum dingin.


"Sombong sekali!" katanya kesal.


"Jangan banyak bicara. Bersiaplah untuk menyambut seranganku,"


Zhang Fei langsung menyalurkan tenaga berhawa dingin kepada kedua tangannya. Walaupun jurus tangan kosong ini sangat jarang dia pakai, tapi jurus ini juga merupakan warisan dari gurunya si Telapak Tangan Kematian Pek Ma.


Siapa tahu dengan jurus ini, justru bisa mengalahkan si Tubuh Besi, pikirnya.


Kedua tangan Zhang Fei diangkat ke depan. Ia membuat gerakan ke atas dan ke bawah dengan sangat lemas. Sekilas pandang, gerakan itu tidak seperti bertenaga. Namun sebenarnya, justru mengandung tenaga yang tidak bisa dipandang sebelah mata.


Sesaat kemudian, setelah semua tenaga terkumpul dan persiapan selesai, Zhang Fei langsung melesat ke depan.


"Pukulan Inti Es!"


Ia memberikan serangkaian pukulan cepat dan dahsyat yang mengandung tenaga dingin.


Si Tubuh Besi tersenyum menyeringai, dia belum tahu bahwa lawan sudah mengetahui titik kelemahan dirinya.


Wushh!!!


Dengan jurus Tangan Besok Memikul Gunung, ia segera menyambut pukulan beruntun yang dilayangkan oleh Zhang Fei.


Kedua orang itu kemudian beradu pukulan dan tendangan untuk beberapa waktu. Benturan keras terus terjadi.


Zhang Fei tidak mau bertindak gegabah. Ia terus berusaha mempertahankan dirinya supaya terus berada di posisi terbaik.


Wushh!!!


Telapak tangan kanan si Tubuh Besi tiba-tiba didorong ke depan. Ia mengincar jantung lawannya.


Bukk!!!


Serangan itu dengan telak menghantam dada Zhang Fei. Tapi anehnya, begitu telapaknya menyentuh dada anak muda tersebut, si Tubuh Besi justru merasakan hal lain.


Ia merasa, telapak tangannya seolah-olah masuk ke dalam samudera yang sangat dalam. Begitu masuk, seluruh tenaganya langsung sirna begitu saja.


Bukan hanya itu, malah dirinya juga tidak bisa menarik kembali tangannya.


Pada saat demikian, dengan gerakan yang super cepat, Zhang Fei langsung melancarkan pukulan dahsyat.


Bukk!!!


Ia memukul tenggorokan si Tubuh Besi. Tokoh sesat itu mengeluarkan suara seperti ayam disembelih. Kedua bola matanya melotot besar.


"Kemampuanmu memang hebat. Tapi kecerdasanmu masih berada di bawahku," katanya dengan nada dingin.


Plakk!!!


Zhang Fei menyerang lagi. Kali ini giliran telapak tangan kirinya yang menghantam wajah si Tubuh Besi dengan telak.


Begitu dirinya melepaskan tangan lawan yang menempel di dadanya, tiba-tiba si Tubuh Besi langsung ambruk ke tanah.


Dia tewas dengan membawa rasa penasarannya ke alam baka!