
Para pendekar yang mampu menyaksikan bagaimana pedang Zhang Fei bergerak, seketika langsung memberikan pujian. Mereka kagum terhadap kemampuan anak muda itu.
"Ilmu pedangnya benar-benar hebat,"
"Pedang itu sangat mirip seperti kilat,"
"Aku yakin, si Tua Lu pasti tidak akan mampu menahan serangannya,"
Berbagai reaksi dari para penonton terdengar bersahutan. Saat ini semua orang sedang menunggu bagaimana hasil dari serangan tersebut.
Sementara di tengah arena, pertarungan yang berlangsung sedang seru-serunya. Zhang Fei terus mencecar Lu Bai dengan tebasan dan tusukan pedang yang dahsyat.
Orang tua itu sendiri tidak mau kalah. Dia mengerahkan segenap tenaga dan kekuatannya. Setiap sambaran golok itu seolah-olah mampu membelah gunung.
Deru angin yang tercipta semakin nyaring. Walaupun Golok Raja Harimau miliknya cukup berat, tapi rupanya Lu Bai tidak terlihat terbebani sama sekali.
Dia terus bergerak dengan bebas dan leluasa. Bacokan golok beberapa kali berbenturan dengan tebasan pedang.
Tapi lagi-lagi hasil yang didapatkannya tetap saja. Ia selalu kalah dalam adu tenaga.
Beberapa jurus kemudian, serangan Zhang Fei semakin dahsyat. Sedangkan gerakan Ketua Perguruan Harimau Utara itu justru semakin kacau.
Pada detik-detik terakhir itu, tiba-tiba Pedang Raja Dewa melesat cepat melancarkan tusukan. Bersamaan dengan gerakan tersebut, secara cepat pula tangan kiri Zhang Fei yang menggenggam sarung pedang, dibenturkan dengan golok lawan sehingga senjata itu terlepas dari genggaman tangannya.
Golok terlempar dan menancap cukup dalam di atas tanah.
Duel itu langsung berhenti. Zhang Fei tidak meneruskan serangannya. Ujung Pedang Raja Dewa tepat berada di depan tenggorokan lawan. Jarak yang tersisa hanya sekitar setengah inci saja. Padahal kalau dia mau, tinggal mendorongnya sedikit, niscaya Lu Bai akan tewas di tangannya.
Sayang sekali, Zhang Fei tidak mau melakukan hal itu.
Dia tidak mau membunuh lawan. Walaupun dirinya tidak suka dengan sikap dan kesombongannya, tapi ia tetap berusaha untuk menjaga harga dirinya.
Dia tidak ingin menjatuhkan harga diri Ketua Perguruan Harimau Utara itu di depan banyak orang.
"Kau kalah!" katanya dengan nada dingin.
Lu Bai tidak langsung menjawab ucapan itu. Dia hanya menatap Zhang Fei dengan berbagai macam makna.
Peluh sebesar biji kacang terlihat mulai mengucur di keningnya.
"Kenapa kau tidak meneruskan seranganmu?" tanyanya setelah sekian lama menutup mulut.
"Karena aku tidak mau melakukannya,"
"Pasti ada alasan dibalik tindakanmu ini,"
"Kau ingin tahu?"
"Ya, sangat ingin," jawbanya sambil mengangguk.
"Karena kau belum pantas untuk mati di ujung pedangku,"
Sambil berbicara demikian, dengan cepat Zhang Fei menerima Pedang Raja Dewa dari hadapan lawannya dan langsung disarungkan kembali.
Setelah itu, dia langsung membalikkan tubuh dan berniat pergi dari halaman tersebut.
Para penonton kembali berbisik-bisik bersama rekannya. Mereka membicarakan sikap yang diberikan oleh Zhang Fei barusan.
Mereka yang tidak mengerti, langsung menyangka bahwa pendekar muda itu terlalu sombong dan sebagainya. Namun bagi para tokoh yang paham akan maksud serta tujuannya, saat itu juga mereka langsung memberikan pujian kepadanya.
"Pendekar misterius itu benar-benar pria sejati,"
"Benar. Aku merasa kagum kepadanya,"
Dalam pada itu, Lu Bai benar-benar merasa tidak terima. Dia menggertak gigi dan mengepalkan kedua tangannya dengan kencang.
Diam-diam dirinya merangkak mengambil goloknya kembali. Setelah Golok Raja Harimau sudah berada dalam genggamannya lagi, tiba-tiba dia meluncur sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya sampai ke titik tertinggi.
Ternyata Lu Bai si Ketua Perguruan Harimau Utara itu berniat untuk menyerang Zhang Fei dengan cara licik!
Gerakan tubuhnya benar-benar cepat. Lebih cepat dari semua gerakan sebelumnya. Mungkin hal itu terjadi karena sekarang dia telah didorong oleh perasaan dendam.
Dendam yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya!
Golok Raja Harimau sudah siap untuk menembus punggung Zhang Fei sampai ke jantungnya.
Semua orang yang hadir di sana tercekat. Mereka ingin ikut campur, tapi sayangnya sekarang bukan waktu yang tepat. Lebih daripada itu, rasanya untuk turun tangan pun sudah terlambat. Sebab golok tajam tersebut sudah hampir mencapai target sasarannya.
Tetapi siapa sangka, tepat sebelum Golok Raja Harimau benar-benar menembus punggung Zhang Fei, tiba-tiba saja dia menundukkan tubuhnya ke depan lalu melakukan gerakan memutar.
Bersamaan dengan itu, secara cepat pula dia mencabut Pedang Raja Dewa kembali!
Sringg!!! Slebb!!!
Pedang pusaka itu dengan telak menembus tenggorokannya. Golok yang hampir mencapai target, seketika langsung jatuh ke tanah kembali.
Lu Bai melotot besar sambil memandang ke arah Zhang Fei.
"Ka-kau ..." dia tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi. Sebab darah segar telah keluar cukup banyak melalui mulutnya.
"Aku sudah memberimu kesempatan, tapi rupanya kau malah ingin kesempitan," ucap Zhang Fei dengan nada hambar.
Ia segera mencabut pedangnya. Tubuh Lu Bai pun langsung jatuh berdebum ke atas tanah. Darah merah yang masih segar segera menggenangi seluruh tubuhnya.
Orang-orang Perguruan Harimau Utara langsung berlari menghampiri ketuanya. Lu Tan Cu terlihat tidak terima, tapi dia pun tidak berani mengambil tindakan.
Sementara di sisi lain, untuk yang kesekian kalinya, terdengar pembicaraan bisik-bisik di antara para pendekar yang menonton.
Akibat kejadian barusan, hampir semua pendekar merasa tidak senang atas apa yang telah dilakukan oleh Lu Bai barusan.
"Rupanya dia benar-benar bodoh,"
"Selama ini aku sudah bertemu banyak orang. Tapi rasanya, belum ada satu pun manusia yang seperti tua bangka Lu itu,"
"Sifat manusia di muka bumi ini sangat banyak. Dan dari semua sifat itu, yang paling dibenci oleh semua orang, adalah sifat tidak tahu diri,"
Zhang Fei masih ada di sana. Dia tidak berbicara sepatah kata pun. Dirinya hanya menatap jasad Lu Bai dengan tatapan sedingin es.
"Bawa dia pergi. Aku sudah tidak ingin melihat wajahnya lagi," ucapnya kemudian.
Dengan segera orang-orang Perguruan Harimau Utara mengangkat jasadnya. Mereka langsung pergi sambil membawa bebagai macam perasaan.
"Suatu hari nanti, aku pasti akan membalas kejadian ini," tegas Lu Tan Cu sambil bangkit berdiri. Dia sempat memandangi Zhang Fei dengan tatapan dendam, lalu membalikkan tubuhnya dan pergi begitu saja.
Pada akhirnya duel yang penuh dramatis itu sudah selesai. Zhang Fei berhasil keluar sebagai pemenang.
Karena tidak ada lagi sesuatu kejadian yang menarik, para pendekar yang tadi hadir memenuhi halaman, secara perlahan mulai meninggalkan tempat tersebut.
Dalam waktu singkat saja, penonton yang pergi sudah lebih dari setengahnya.
Saat itu Zhang Fei juga ingin pergi, tapi sebelum kakinya benar-benar melangkah, tiba-tiba ada sekelebat bayangan manusia yang berhenti tepat di depannya.
"Walaupun penampilanmu berbeda, tapi aku tetap bisa tahu siapa dirimu sebenarnya," kata orang yang baru datang tersebut.