Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Ujian Kemampuan


Wushh!!!


Sekelebat bayangan tampak terdorong mundur tujuh langkah ke belakang. Zhang Fei tidak sampai jatuh bergulingan di atas tanah. Namun sekarang dirinya berada dalam kondisi berlutut.


Seluruh tubuhnya terasa lemas. Peluh sebesar biji kacang kedelai telah membasahi kening. Seperti halnya keringat dingin.


Walaupun barusan hujan pertarungan sungguhan, akan tetapi tetap saja hal itu mendatangkan kekhawatiran.


Memang benar Empat Datuk Dunia Persilatan hanya mengeluarkan sepertiga bagian kemampuannya. Akan tetapi kalau setiap serangan mereka mengenai tubuh dengan telak, rasanya bukan tidak mungkin hal tersebut bisa menghilangkan nyawanya.


Zhang Fei menghembuskan nafas lega. Dia sangat bersyukur bisa membebaskan diri dari posisi yang berbahaya barusan.


Sementara Empat Datuk Dunia Persilatan, saat ini mereka sudah kembali ke posisi semula. Empat pasang mata memandang tepat kepada Zhang Fei.


Masing-masing dari mereka memberikan senyuman hangat. Ekspresi wajahnya menggambarkan kepuasan dan kegembiraan.


Setelah beberapa saat kemudian, ketika Zhang Fei kembali berdiri dan menghampiri mereka, tiba-tiba Dewa Arak Tanpa Bayangan berkata.


"Hebat, anak Fei. Kau benar-benar mampu melakukan," ia berucap sambil tersenyum lebar.


"Apa yang telah kami lakukan untukmu selama enam hari ini ternyata tidak sia-sia," sahut Pendekar Tombak Angin.


"Benar. Sekarang bahkan kekuatan batinmu sudah lebih kokoh. Aku rasa, ke depannya kau bisa sedikit bertahan dari serangan ilmu sihir tokoh pilih tanding. Asal kau selalu tenang, maka yang kau katakan pasti akan terbukti nyata," sambung Dewi Rambut Putih. Ia memperlihatkan deretan giginya yang rapih dan putih bersih itu.


Orang Tua Aneh Tionggoan menganggukkan kepalanya beberapa kali. Sama seperti yang lain, dia pun gembira sekaligus merasa bangga kepada Zhang Fei.


"Percayalah, anak Fei, dalam waktu kurang dari lima tahun lagi, kau pasti sudah berada di puncak kejayaan," katanya penuh rasa yakin.


Dipuji oleh Empat Datuk Dunia Persilatan, Zhang Fei malah merasa malu sendiri. Untuk sementara waktu dia tidak berbicara. Zhang Fei hanya mampu menundukkan kepala sambil berusaha menahan rasa harunya.


"Aku mengucapkan banyak terimakasih kepada kalian para Datuk Dunia Persilatan. Kalau tidak ada kalian, mungkin aku tidak sampai di titik ini," ucap Zhang Fei dengan hariu setelah beberapa saat kemudian.


Zhang Fei sangat menyadari akan hal tersebut. Kalau tidak ada orang-orang baik di sekelilingnya, mungkin dia tidak akan menjadi yang sekarang.


Bagaimanapun juga, selalu ada orang lain di sekeliling orang-orang yang mampu mencapai kesuksesannya. Entah itu kerabat, keluarga, kekasih, atau bahkan sahabat sekali pun.


Rasanya sangat mustahil kalau ada orang yang sukses tanpa melibatkan orang lain di dalamnya.


Siapa pun itu, dia pasti akan membutuhkan orang lain. Karena pada hakikatnya, setiap manusia yang hidup itu satu sama lain saling membutuhkan.


Si kaya butuh kepada si miskin. Begitu juga di miskin yang butuh kepada si kaya.


Jadi, jangan pernah merasa angkuh dengan apa yang dimiliki sekarang. Karena semua itu tidak akan pernah didapatkan apabila tidak ada yang membantunya.


Percayalah! Karena ini bukan khayalan. Ini adalah kenyataan!


"Kami hanya membantu sedikit saja, anak Fei. Sisanya kembali kepada dirimu sendiri," sahut Dewa Arak Tanpa Bayangan kemudian.


"Entahlah, Tuan Kiang. Aku bingung harus dengan cara apa membalaskan budi kebaikan kalian semua,"


"Terimakasih, Tuan Kiang. Terimakasih. Aku pasti akan melakukannya,"


Zhang Fei langsung bersujud tiga kali di depannya. Meskipun mereka berempat bukan gurunya secara resmi, tapi Zhang Fei sudah menganggap bahwa mereka adalah bagian dari guru kehidupannya.


Menyaksikan apa yang dia lakukan, Empat Datuk Dunia Persilatan juga merasa terharu. Mereka tidak berbicara. Keempatnya hanya saling pandang dan tersenyum satu sama lain.


Kelima orang tokoh dunia persilatan tersebut pergi dari hutan itu ketika hari masuk siang. Sebelum berpisah, mereka sempat melakukan makan bersama.


###


Hari sudah berganti lagi. Waktu yang dinantikan untuk uji kemampuan sudah tiba. Suasana di halaman depan Istana Kekaisaran tampak lebih ramai daripada biasanya.


Hampir semua orang-orang penting yang ada sudah hadir di sana. Sebuah mimbar dengan lima buah kursi dan meja sudah disiapkan. Tempat itu dikhususkan untuk Kaisar dan Empat Datuk Dunia Persilatan.


Sekarang semua orang yang ada sedang menunggu. Menunggu ujian kemampuan yang sebentar lagi akan segera digelar.


Suasana pagi ini sangat cerah. Mentari bersinar terik dan memberikan kehangatan bagi makhluk yang hidup di muka bumi.


Perlu diketahui, dalam acara ini, Kaisar tidak hanya mengundang semua pejabat istana yang ada. Dia bahkan telah mengundang beberapa tokoh dunia persilatan angkatan tua yang telah dipilih. Baik itu yang berasal dari partai, perguruan, atau bahkan perorangan.


Saat ini, suasana di sana masih ramai. Setiap orang sedang mempertanyakan siapakah yang akan menjadi Ketua Dunia Persilatan berikutnya.


"Kalau dari berita yang aku dengar, katanya sih pendekar muda bernama Zhang Fei itu, yang akan menggantikan posisi Ketua Beng Liong," kata salah satu pendekar yang hadir.


"Zhang Fei? Apakah dia adalah pendekar muda yang sering mengembara bersama Empat Datuk Dunia Persilatan?"


"Entahlah. Aku kurang tahu,"


"Bagaimana mungkin pendekar muda sepertinya bisa menjadi Ketua Dunia Persilatan? Memangnya kemampuan yang dia miliki sudah cukup? Kita semua tahu, menjadi Ketua Dunia Persilatan itu bukanlah pekerjaan yang mudah,"


Orang-orang terus membicarakan hal-hal seperti itu. Banyak dari mereka yang meragukan kemampuan Zhang Fei. Tapi tidak sedikit pula yang merasa setuju karena mereka telah mengetahui bagaimana kemampuannya.


Sementara itu, setelah mentari sudah berada di posisi cukup tinggi, tiba-tiba seorang tua yang ditugaskan menjadi juru bicara, memberikan pengumuman.


"Selamat pagi hadirin sekalian, hari ini Kaisar akan mengadakan acara ujian kemampuan bagi calon Ketua Dunia Persilatan yang selanjutnya. Supaya tidak membuang banyak waktu, mari kita sambut orang yang dimaksudkan ..." kata orang tua itu dengan suara lantang.


Setelah mengambil nafas, orang tua tersebut kembali melanjutkan. "Kepada Tuan Muda Fei, silahkan masuk ke tempat yang sudah disediakan,"


Begitu ucapannya selesai, dengan segera Zhang Fei memasuki tengah-tengah halaman depan tersebut. Dia tampil dengan pakaian serba biru.


Dengan ukuran pakaian yang sangat pas, ia tampak lebih tampan dan gagah dari biasanya.


Semua orang yang ada di sekitar sana segera merasakan aura kewibawaan yang keluar secara otomatis dari tubuh Zhang Fei.


Sekarang dia telah berdiri di tengah-tengah arena. Zhang Fei sedang menunggu pendekar yang akan menjadi lawannya nanti.


"Sekarang, mari kita sambut pendekar yang akan menjadi lawan Tuan Muda Fei. Untuk Pendekar Pedang Tetesan Darah dan Pendekar Tangan Raja, dipersilahkan masuk ke arena pertarungan," kata orang tua itu memanggil lawan Zhang Fei.