Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Penyerangan II


Perlu diketahui, Gan Li yang berjuluk Pendekar Pedang emas itu bukanlah orang biasa. Dalam dunia persilatan, dirinya dikenal sebagai orang yang mempunyai kemampuan hebat.


Terutama sekali dalam hal ilmu pedang. Meskipun usianya sudah tua, tapi semangatnya tetap muda.


Ilmu pedangnya sudah sangat tinggi. Malah menurut kabar burung yang beredar, ia bisa mengalahkan tiga pendekar kelas satu hanya dalam waktu lima puluh jurus saja.


Pendekar kelas satu itu sudah termasuk jago kawakan. Kalau ia bisa mengalahkan lima orang seperti itu hanya dalam waktu lima puluh jurus, dari sini saja bisa dibayangkan betapa hebatnya ilmu pedang yang dia kuasai.


Pertarungan yang berlangsung tampak semakin sengit lagi. Orang-orang persilatan yang datang bersama dirinya, sekarang menjadi saksi terkait bagaimana sepak terjang orang tua itu.


Di satu sisi, dibalik gelapnya hutan, enam orang lain juga sedang memperhatikan pertarungan tersebut dengan seksama.


Mereka mengawasi dengan serius. Terutama sekali anak muda yang berada di posisi paling depan.


"Sebentar lagi pihak Tuan Gan Li akan segera berada di bawah angin. Situasi pun akan segera berbalik,"


Di tengah keheningan, mendadak Pek Ma bicara. Nadanya serius. Seperti pula raut wajahnya.


Anak buah dan muridnya menengok. Mereka sedikit bingung dengan ucapan orang tua itu barusan.


Bagaimana mungkin di Pendekar Pedang Emas yang sekarang mendominasi pertarungan, bisa dikatakan bakal berada di bawah angin? Apa pula alasan ia berkata bahwa situasinya akan berbalik?


Lima orang itu masih memandang ke arah si Telapak Tangan Kematian Pek Ma dengan wajah bingung. Berbagai macam pertanyaan muncul di benak mereka.


Siapa pun pasti akan penasaran. Begitu juga dengan Zhang Fei dan yang lainnya.


"Jangan dulu banyak bertanya. Coba lihat ke arena pertarungan," katanya bicara lagi.


Kembali kelima orang menengok ke tengah-tengah arena. Awalnya mereka tidak menemukan kejadian apa-apa. Kecuali hanya pertarungan sengit seperti sebelumnya.


Namun tidak lama setelah itu, mendadak satu bayangan manusia melesat dengan sangat cepat dari dalam markas.


Bayangan itu muncul tepat ketika si Pendekar Pedang Emas sudah berhasil melukai empat orang lawannya.


Trangg!!!


Benturan yang teramat keras terjadi. Percikan bunga api memantul ke atas. Orang tua itu sendiri langsung terdorong mundur sebanyak tiga langkah.


Puluhan mata memandang terbelalak.


Manusia mana yang bisa mementalkan Pendekar Pedang Emas hanya dengan satu benturan saja?


Jawaban dari pertanyaan itu segera diketahui!


Setelah situasi kembali normal, saat ini di halaman depan sudah muncul satu sosok manusia.


Manusia itu mengenakan pakaian hijau tua dengan lambang lima tengkorak berukuran kecil di bagian dadanya.


Di bagian belakang pun terdapat gambar yang sama. Hanya saja, gambar di bagian belakang cukup besar dan jumlahnya cuma satu.


"Siapa kau?" tanya Pendekar Pedang Emas Gan Li dengan kening berkerut.


"Pemimpin Lima dari Organisasi Bulan Tengkorak," jawab orang itu dengan suara parau.


Rombongan pendekar tersentak kaget. Baru pemimpin kelimanya saja, ternyata sudah mampu mendorong tubuh Wakil Ketua Partai Gunung Pedang hanya lewat benturan saja?


Jika pemimpin kelima saja sekuat itu, lantas bagaimana dengan pemimpin pertamanya? Sekuat apa dia itu?


Pendekar Pedang Emas sendiri kaget setengah mati. Kalau saja ia tidak melihat ada lima lambang tengkorak di bagian depan, niscaya dirinya tidak akan percaya.


Sayang sekali, dia sudah melihat dan mengerti maksudnya. Sehingga mau tidak mau, orang tua itu harus mempercayai ucapan barusan.


"Di mana Pemimpin Organisasi Bulan Tengkorak yang lain?" tanyanya setelah ia berhasil menguasai dirinya kembali.


"Mereka akan muncul kalau sudah saatnya," jawab Pemimpin Lima dengan tenang.


"Hemm, suruh keluar saja sekarang. Aku ingin masalah ini cepat selesai," tantang orang tua itu.


"Kau sungguh-sungguh?"


"Kenapa tidak?"


"Sangat yakin,"


"Aku justru tidak yakin," kata orang itu sambil menggelengkan kepala.


"Omong kosong!"


Seorang tokoh dari rombongan para pendekar berkata dengan suara nyaring. Tanpa memperdulikan keadaan di sekitar, mendadak dia melompat ke depan dan langsung melancarkan serangan.


Wushh!!!


Tombak sepanjang satu depan sudah menusuk dengan sangat cepat. Ia mengincar jantung lawan!


Namun serangan itu bisa ditangkis dengan mudah. Tokoh barusan masih penasaran karena serangannya bisa dimentahkan begitu saja. Setelah mendapatkan posisi, ia menyerang lagi.


Kali ini belasan tusukan melesat secara bersamaan!


Bayangan tombak bagaikan hujan. Dia mengincar seluruh tubuh lawan.


Pemimpin Lima tersenyum dingin. Dia mulai menggetarkan golok yang berada di genggaman tangannya.


Ketika golok bergerak, semua serangan tombak langsung sirna saat itu juga.


Dia bisa mematahkan serangan beruntun tokoh tadi hanya dengan gerakan sederhana!


"Mari kita serang dia bersama-sama!"


Tokoh lain ikut berseru nyaring. Begitu seruan terdengar, empat belas pendekar kelas atas lainnya ikut turun ke arena pertarungan.


Belasan bayangan manusia seketika mengepung Pemimpin Lima. Adapun empat orang yang tadi bertarung melawan Gan Li, sekarang mereka sudah tewas karena diserang secara brutal.


"Aku tidak percaya para pendekar aliran putih ternyata berani main keroyokan," kata Pemimpin Lima dengan nada sengit.


Meskipun mulutnya berkata seperti itu, tapi dalam hatinya, dia tidak merasa takut sedikit pun.


Justru bersamaan dengan ucapan barusan, dia sudah mulai menangkis ataupun menghindari serangan yang datang.


Pendekar Pedang Emas yang melihat kejadian ini merasa malu. Apalagi ketika mendengar ucapan musuhnya barusan.


Tetapi setelah dipikir kembali, rasanya dalam keadaan seperti sekarang, mengikuti peraturan dalam dunia persilatan bukanlah jalan terbaik.


Apalagi dia sudah tahu bagaimana kemampuan musuh.


"Dalam keadaan sekarang, tidak ada peraturan apapun juga. Lihat serangan!"


Orang tua itu berteriak. Pedang yang mampu mengeluarkan sinar emas kembali bergetar dengan hebat.


Pemimpin Lima benar-benar berada di posisi tertekan. Baru sebentar jalannya pertarungan, di beberapa bagian tubuhnya sudah terdapat luka yang mengalirkan darah segar.


Lima belas orang pendekar tampak seperti sekelompok harimau kelaparan. Mereka menyerang tanpa mengenal ampun.


Sepuluh jurus sudah berlalu. Pemimpin Lima semakin kewalahan menghadapi lawannya.


"Ternyata kalian adalah iblis yang berkedok malaikat!"


Di tengah-tengah jalannya pertarungan mendadak terdengar teriakan yang menggetarkan seluruh isi hutan. Belum selesai gemar suaranya, dari dalam markas kembali muncul bayangan manusia.


Jumlahnya ada sembilan!


Tidak salah lagi, itu adalah sembilan petinggi dari Organisasi Bulan Tengkorak!


Hembusan angin menerbangkan segala yang ada di sekitar. Kemunculan mereka, lagi-lagi tepat pada waktunya.


Sebab pada saat itu, Pemimpin Lima sudah kewalahan karena dikeroyok oleh belasan orang pendekar kelas atas.


"Ternyata apa yang dikatakan oleh Ketua, tidak salah," ujar Pek Ji tiba-tiba bicara sambil menghela nafas berat.


Walaupun pertarungan belum mencapai puncak, tapi dia sudah mempunyai firasat bahwa pihak pendekar pasti akan berada di bawah angin.


Apalagi, dia sudah bisa merasakan hawa pembunuh yang teramat kental yang keluar dari tubuh para pemimpin tersebut.