
Kakek tua itu tidak langsung menjawab pertanyaan Zhang Fei. Dia tampak sedang berpikir lebih dulu. Seolah-olah saat ini dirinya sedang mengingat-ingat kejadian beberapa waktu lalu.
Suasana di sana kembali dicekam dengan keheningan. Sepi. Sunyi.
Bau amis darah dan bau bangkai yang tercium terbawa angin malam, semakin menambah daya seram di gedung yang besar dan megah tersebut.
"Setahuku, tiga hari sebelumnya, ada sekitar dua orang yang datang kemari, Tuan Muda. Dua orang itu mengenakan pakaian serba hitam, wajah mereka sangar dan dipenuhi cambang yang lebat," kata si kakek tua mulai bercerita.
"Apakah mereka datang untuk menemui Hartawan Cong Lai?" tanya Zhang Fei dengan cepat.
"Benar. Mereka datang untuk menemui majikan,"
"Apa yang mereka katakan?"
"Aku ... aku tidak tahu pasti. Yang jelas, setelah keduanya keluar dari dalam gedung, wajah mereka tampak marah. Malah sepanjang jalan, orang-orang itu terus memaki dan mengancam majikan,"
Zhang Fei mulai membayangkan sesuatu. Pikirannya pun mulai berjalan, menerka-nerka apa yang terjadi di hari itu.
Sayang sekali, walaupun sudah berusaha cukup lama, tapi ia tidak menemukan titik terang.
"Setelah kedatangan dua orang itu, apakah ada orang asing lagi yang datang kemari?" tanyanya lebih jauh.
"Tidak ada," jawab si kakek tua sambil menggelengkan kepala. "Hanya saja, setelah kejadian di hari itu, beberapa cabang usaha majikan mendapat musibah. Ada sekelompok orang yang dengan tiba-tiba membuat rusuh di beberapa usahanya,"
"Mereka pasti adalah anak buah dua orang yang datang sebelumnya," kata Zhang Fei menyela.
"Benar, aku juga menduga demikian," ucap si kakek tua membenarkan.
"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Apakah Hartawan Cong mengambil tindakan?"
"Tidak sama sekali. Majikan justru membiarkan hal itu. Dia melupakannya begitu saja,"
Sejak dahulu, Hartawan Cong Lai memang dikenal sebagai orang yang ramah dan baik hati. Ia tidak pernah mencari masalah dengan siapa pun juga.
Dia pun dikenal sebagai orang kaya yang dermawan. Setiap hari, ia pasti mengeluarkan hasil usahanya untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan.
Sayang sekali, orang sebaik dirinya, justru harus tewas mengenaskan.
"Aku rasa, peristiwa berdarah ini pun terjadi karena masalah itu. Dua orang itulah yang telah mendatangkan malapetaka bagi Keluarga Hartawan Cong Lai,"
Zhang Fei sangat yakin akan hal tersebut. Dia percayai dugaannya tidak mungkin salah.
Apalagi dari cerita singkat barusan, ia sudah bisa meraba bahwa dua orang yang datang tersebut, tentunya adalah anggota atau bahkan petinggi dari Partai Panji Hitam yang terdapat di kota sekitar.
"Paman," katanya bicara lebih jauh. "Begini saja, sekarang coba kau cari warga sekitar. Beritahukan bahwa seluruh Keluarga Hartawan Cong telah tewas dibantai orang tak dikenal. Setelah itu, kau minta bantuan kepada mereka untuk menguburkan semua jasad orang-orang yang ada di sini,"
"Baik, Tuan Muda. Sekarang juga aku akan mencari warga," jawab si kakek tua dengan cepat.
Walaupun sebenarnya dia sudah sangat lelah, tapi entah kenapa, mendadak saja tenaganya tiba-tiba muncul kembali.
Apakah hal itu diakibatkan karena ia merasa senang, sebab mayat majikan dan saudaranya yang lain, akan segera dikuburkan dengan layak? Ataukah tenaga tersebut, muncul karena dia mempunyai harapan baru?
Tiada yang tahu pasti apa jawabannya. Tapi sekarang, si kakek tua telah berjalan keluar.
Zhang Fei memandangi kepergiannya. Setelah orang tua itu berada di gerbang luar, dirinya berniat untuk pergi lagi ke dalam.
Siapa sangka, baru saja akan pergi, tiba-tiba Zhang Fei mendengar sebuah teriakan. Teriakan yang sudah dikenalnya.
Tanpa banyak membuang waktu lagi, dia langsung melesat keluar!
Begitu tiba di sana, tahu-tahu kakek tua barusan telah tewas. Tewas bersimbah darah!
Tepat di lehernya yang sebelah kiri, ada sebatang pisau sepanjang satu jengkal yang telah menembusnya. Kematian orang tua itu benar-benar mengenaskan.
Zhang Fei melesat lagi, ia menuju ke sudut yang dipandang oleh si kakek. Dia yakin, pembunuh itu pasti ada di sana.
Sayangnya, begitu tiba di sudut yang dimaksud, di sana sudah tidak ada siapa-siapa lagi.
Beberapa kali ia mencari petunjuk, tapi tidak ditemukan pula sesuatu apapun.
Kecuali hanya jejak kaki.
"Ilmu meringankan tubuh orang ini benar-benar hebat," gumamnya sambil memperhatikan jejak kaki yang sangat tipis itu.
Malam semakin larut. Kentongan kedua telah terdengar.
Zhang Fei semakin merasakan darahnya mendidih. Kemarahan di dalam dadanya, seolah-olah itu adalah api yang membara.
Sekarang, di sana sudah tidak ada lagi manusia hidup kecuali dirinya. Si kakek tua telah tewas.
Itu artinya, mau tidak mau, dia sendiri yang harus mencari warga untuk membantu menguburkan mayat Keluarga Hartawan Cong Lai.
Wushh!!!
Anak muda itu langsung pergi menuju ke pusat kota. Setelah beberapa lama kemudian, dia berhasil pula mengumpulkan warga sekitar. Jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang.
Awalnya mereka tidak mau, apalagi setelah mendengar ceritanya.
Tetapi setelah Zhang Fei memberikan sedikit imbalan, akhirnya toh para warga itu bersedia juga.
Di dunia ini, manusia mana yang tidak butuh uang? Siapa pula yang tidak ingin mempunyai uang?
Walaupun mungkin masih ada orang yang tidak butuh dan ingin mempunyai uang, tapi pastilah orang-orang itu jumlahnya teramat sedikit sekali.
Tepat pada saat kentongan keempat terdengar, semua mayat yang bernasib malang itu, akhirnya selesai dikubur juga.
Halaman belakang kediaman Hartawan Cong Lai dijadikan sebagai tempat peristirahatan terakhir mereka.
Setelah semua kegiatan selesai, para warga pun langsung pulang ke rumahnya masing-masing.
Sedangkan Zhang Fei tidak langsung pergi. Dia masuk kembali ke dalam gedung, mencari tempat penyimpanan harta.
Sayang sekali, hampir semua harta kekayaan Hartawan Cong Lai, sudah raib dibawa oleh manusia-manusia iblis itu.
Ia tidak menemukan banyak uang, kecuali hanya sedikit.
Zhang Fei membawa semua uang yang ia temukan. Setelah berhasil, dia segera pergi dari gedung tersebut.
Pagi hari sekali, ia sudah berjalan di tengah jalan berdebu. Anak muda itu mencari-cari kuil dan panti asuhan. Ia berniat untuk memberikan semua harta tersebut kepada mereka.
Begitu menemukannya, ia pun langsung memberikan semua harta. Sesuai dengan tujuan awal.
Tepat pada saat matahari sudah meninggi, semua kegiatannya sudah selesai.
Sekarang saatnya mencari makan. Ia berjalan menuju ke warung makan sederhana. Memesan arak dan nasi sayur.
Karena tidak mau membuang waktu terlalu lama, maka Zhang Fei pun segera menyelesaikan kegiatan makannya dengan cepat.
Awalnya begitu selesai, ia berniat untuk segera pergi. Siapa tahu, baru saja dirinya bangkit berdiri, tiba-tiba ia menyaksikan ada seorang pengemis tua yang berjalan masuk ke warung makan sederhana itu.
Pakaian pengemis tua itu sudah lusuh. Bahkan tubuhnya juga kotor, penuh dengan debu-debu jalanan.
Di mata orang lain, dia mungkin hanya dipandang sebagai pengemis tua biasa. Tapi di mata Zhang Fei, justru malah sebaliknya.
Dia yakin, pengemis tua itu bukanlah pengemis biasa!