
"Tidak ada, Ketua Fei," sahut Penasihat Yu Long sambil menggelengkan kepala. "Kami sudah memikirkan jalan keluar dari masalah ini selama beberapa hari, namun sayangnya, kami tidak menemukan jawaban lain lagi,"
Zhang Fei kembali menghembuskan nafas panjang dan berat. Dia melirik sekilas ke arah Dewa Arak Tanpa Bayangan. Dan orang tua itu pun segera memberikan reaksi yang sama seperti Zhang Fei.
"Kira-kira bagaimana, apakah kalian berdua setuju?" tanya Kaisar Song Kwi Bun sambil memandang mereka berdua secara bergantian.
"Kalau memang ini merupakan jalan keluar yang terbaik, maka apa boleh buat, Kaisar," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Ah ... terimakasih, Tuan Kiang. Terimakasih, Ketua Fei,"
Kaisar langsung tersenyum penuh hormat kepada mereka berdua. Dua tokoh dunia persilatan yang dituju juga segera membalas hormat tersebut.
Suasana di ruangan itu hening untuk beberapa saat. Masing-masing orang yang ada di sana sama-sama bergelut dengan pikirannya sendiri.
Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan sebenarnya masih belum siap dengan keputusan Kaisar. Hanya saja mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Mau tidak mau, mereka harus tetap mau.
Apalagi, hal ini demi Kekaisaran Song, demi tanah airnya sendiri.
Di satu sisi, mereka merasa bangga karena bisa mewakili tanah kelahirannya. Tapi di sisi lain, mereka juga merasa ragu.
Bagaimana kalau nantinya, kedua orang itu gagal membawa kemenangan? Kalau sampai hal tersebut terjadi, bukankah itu artinya, berakhir juga impian semua orang-orang di Kekaisaran Song?
"Kaisar ..." setelah beberapa saat terdiam, Zhang Fei kembali membuka mulutnya.
Kaisar Song Kwi Bun pun segera menatap Zhang Fei.
"Jujur saja, dalam hal ini, kami merasa sangat bangga karena bisa mewakili Kekaisaran Song. Tapi di satu sisi, kami juga mempunyai keraguan," kata Zhang Fei mulai menyampaikan isi hatinya.
Dewa Arak Tanpa Bayangan melirik ke arah Ketua Dunia Persilatan, namun dia tidak berkata sepatah kata pun. Sepertinya, orang tua itu sendiri sedang menunggu Zhang Fei melanjutkan bicaranya.
"Keraguan apa, Ketua Fei?" tanya Kaisar lebih dulu.
"Kami ragu sekaligus takut nantinya tidak bisa membawa pulang kemenangan. Kalau hal ini terjadi, pasti semua rakyat di Kekaisaran Song akan merasa kecewa. Dan kami berdua tidak mau hal ini terjadi," Zhang Fei bicara dengan nada dalam. Ekspresi wajahnya saat itu juga terlihat sangat serius.
"Benar apa yang dikatakan oleh Ketua Fei, Kaisar. Aku sendiri sangat setuju. Menurutku, daripada harus menanggung malu, lebih baik kami pulang tinggal nama saja," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan langsung menyambung perkataan Zhang Fei barusn.
Walaupun ucapan itu diutarakan secara perlahan, tapi isinya benar-benar membuat siapa pun terkejut.
Semua orang yang ada di ruangan segera memandang ke arahnya dengan tatapan dalam.
Namun sesaat kemudian, tiba-tiba Kaisar tampak tersenyum hangat ke arahnya. Setelah minum satu cawan arak, Kaisar segera berkata.
"Tuan Kiang, menurutku, kau terlalu berlebihan. Kalah ya kalah. Memangnya, kenapa kalau nanti kalian benar-benar kalah? Bukankah dalam sebuah pertandingan, kalah menang adalah hal yang biasa saja?"
Mendengar jawaban dari Kaisar, baik Zhang Fei maupun Dewa Arak Tanpa Bayangan, keduanya langsung mengumpat di dalam hati masing-masing.
Kalau pertandingan biasa, mungkin mereka tidak akan merasa se-khawatir ini. Tapi pertandingan yang sudah direncanakan ini tentu sangat berbeda dan tidak bisa disamakan dengan pertandingan-pertandingan biasanya.
Mereka akan mewakili Kekaisaran Song. Tidak hanya nama Kekaisaran saja, bahkan mereka pun akan mewakili nasib ratusan ribu orang yang tinggal di sana.
Kalau sampai kalah, tentu semua rakyat pun akan menanggung resikonya.
Dewa Arak Tanpa Bayangan bicara sangat serius. Dia pun sedikit gemas.
Untung orang yang berbicara itu adalah Kaisar. Coba kalau bukan, mungkin sudah sejak tadi dia memukul wajahnya.
"Aku mengerti apa maksudmu, Tuan Kiang. Tapi tolonglah, kau juga harus mengerti maksudku. Menang atau kalah, itu urusan nanti. Yang terpenting, kalian harus siap dulu,"
"Baiklah, kami siap," jawab Dewa Arak Tanpa Bayangan sedikit terpaksa.
"Terimakasih. Kalau kalian sudah mau, maka selanjutnya tinggal kami yang mewujudkan rencana ini," ujar Kaisar.
Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan mengangguk sambil tersenyum.
Obrolan serius itu masih berlangsung untuk beberapa waktu kemudian. Mereka baru selesai setelah matahari mulai bergeser ke sebelah barat.
###
Tiga tokoh dunia persilatan itu tinggal di Istana Kekaisaran selama tiga hari. Tadinya, mereka ingin langsung pulang tepat setelah rapat selesai. Hanya saja karena Kaisar terus memaksa, maka pada akhirnya mereka pun memutuskan untuk menginap.
Setelah tiga hari berlalu, tanpa berlama-lama lagi, mereka bertiga pun langsung berpamitan untuk kembali ke Gedung Ketua Dunia Persilatan.
Kaisar memberikan ketiganya satu kantong kecil yang berisi kepingan emas sebagai bekal di tengah-tengah perjalanan.
Karena kebetulan mereka sudah tidak punya bekal cadangan, maka terpaksa, ketiganya menerima pemberian tersebut.
Saat ini, Zhang Fei, Yao Mei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan sudah berada di atas kudanya masing-masing. Mereka telah melakukan perjalanan pulang sejak mentari pagi baru saja muncul menyapa muka bumi.
Seperti biasa, tiga ekor kuda itu berlari sangat kencang. Sehingga sangat wajar ketika matahari sudah berada di atas kepala, mereka telah sampai di kota berikutnya.
"Kita berhenti di warung arak itu," ucap Zhang Fei sambil menunjuk ke sebuah warung arak yang terletak di pinggir jalan kecil.
"Baik,"
"Setuju,"
Mereka langsung menuju ke sana. Setelah tiba di depan warung arak, ketiganya segera turun dari punggung kuda.
"Pesan tiga guci arak dan tiga krat daging segar," kata Zhang Fei setelah dia tiba di dalam.
"Baik, Tuan Muda. Silahkan tunggu sebentar," seorang pria tua menjawab penuh hormat. Setelah itu, dia langsung pergi ke belakang untuk menyiapkan pesanan.
Suasana di warung arak sangat sepi. Pengunjung yang datang pun hanya mereka bertiga.
Sebenarnya, di kota itu ada cukup banyak warung arak lain yang jauh lebih besar. Hanya saja, Zhang Fei memang sengaja memilih warung arak kecil tersebut.
Alasannya adalah supaya dia bisa berbicara lebih leluasa lagi.
Sekitar beberapa menit kemudian, pesanan pun sudah datang. Arak dan daging segar sudah tersedia di atas meja. Selesai bersulang arak beberapa kali, Zhang Fei segera mengawali pembicaraan yang cukup serius.
"Tuan Kiang, apakah kau setuju dengan keputusan dan rencana yang diambil oleh Kaisar?" tanyanya langsung ke inti persoalan.
"Entahlah, anak Fei," Dewa Arak Tanpa Bayangan menjawab sambil menggelengkan kepala. "Tapi kalau dipikir lebih lanjut, aku rasa keputusan itu memang sudah seharusnya,"