
Suara Orang Tua Aneh Tionggoan terdengar menyeramkan. Ia seakan-akan sedang berbicara dengan musuh besarnya saja.
Tidak hanya itu, bahkan dirinya juga mengeluarkan hawa pembunuh pekat yang memenuhi ruangan tersebut.
Suasana di sana seketika berubah tegang. Setegang saat terjadinya pertempuran melawan Partai Tujuh Warna tadi.
Di sisinya, walaupun Pengemis Tongkat Sakti tidak ikut berbicara, tapi dia pun jelas memperlihatkan sikap yang tidak bersahabat.
Ia mengambil langkah yang sama dengan sahabatnya. Yaitu mengeluarkan hawa pembunuh dan sorot mata setajam pisau!
Melihat sikap kedua tokoh angkatan tua yang dengan cepat berubah itu, Zhang Fei menjadi bingung.
Ada apa sebenarnya? Apakah mereka adalah musuh besar dari keluarganya?
Sungguh, dia tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Lama, lama sekali dirinya menutup mulut. Ia seakan tidak bisa bicara. Seperti juga tidak mendengar ucapan Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Kenapa diam saja? Apakah sekarang, kau sudah berubah menjadi orang yang bisu dan tuli?"
Orang tua aneh itu tiba-tiba bertanya lagi. Kali ini dengan nada tinggi.
"Tu-tuan ... sebenarnya ada apa?"
"Jangan banyak tanya. Jawab saja semua pertanyaanku tadi!"
Zhang Fei menelan ludah. Walaupun kemampuannya sudah tinggi, tapi dua orang tua di depannya juga bukan manusia biasa.
Terlebih lagi Orang Tua Aneh Tionggoan, ia adalah sosok misterius yang sampai sekarang belum diketahui latar belakangnya.
"Baiklah. Aku akan menjawab dengan jujur," katanya setelah lama terdiam.
Ia mengambil nafas panjang, kemudian mulai menjawab. "Pedang Raja Dewa ini aku dapatkan dari guruku sebelumnya. Yaitu Lima Malaikat Putih. Guru Pek Ma mendapatkannya dari ruang bawah tanah bekas kediaman Keluarga Zhang, kemudian diwariskan kepadaku,"
"Hemm ... jadi gurumu yang sudah mencuri pasangan benda pusaka milik Keluarga Zhang itu?"
"Tidak. Bukan begitu maksudku, Tuan,"
"Lalu bagaimana?"
"Guru Pek Ma sengaja membawa dua benda pusaka itu dan memberikannya kepadaku, karena akulah pewaris tunggal dari Keluarga Zhang,"
Zhang Fei berhenti sebentar. Dia memandangi dua orang tua itu. Pada saat Orang Tua Aneh Tionggoan ingin bicara, ia sudah mendahuluinya.
"Kalau Tuan berdua percaya, sebenarnya si Pedang Kilat adalah Ayahku sendiri. Dan Zhang Liong adalah Kakek, sekaligus juga guruku. Beliau yang telah mengajarkanku selama dua tahun sehingga bisa menjadi seperti sekarang ini,"
Ia berkata dengan tegas. Zhang Fei sudah memutuskan untuk membeberkan siapa dia sebenarnya.
Walaupun dirinya bisa melihat dengan jelas perubahan wajah dan sikap tidak bersahabat dari kedua tokoh tersebut, tapi ia tidak merasa takut.
Apabila keduanya musuh besar dari Keluarga Zhang, Kalau memang dirinya harus bertarung, maka ia akan melawannya.
Asalkan demi membela keluarga, rasanya mati pun tidak menyesal.
Siapa sangka, setelah dirinya menjelaskan semua hal itu, tiba-tiba sikap mereka kembali mengalami perubahan.
Keduanya menarik hawa pembunuh yang sangat pekat itu, kemudian sorot mata yang tadi sangat tajam, sekarang telah kembali seperti semula.
"Kau tidak berbohong?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan kemudian.
"Tidak, Tuan. Aku mempunyai buktinya,"
Anak muda itu kemudian memperlihatkan kalung yang menjadi warisan Keluarga Zhang.
Setelah melihat benda tersebut, ekspresi Orang Tua Aneh Tionggoan dan Pengemis Tongkat Sakti lagi-lagi berubah.
Mereka saling pandang satu sama lain. Lalu kemudian wajahnya memperlihatkan kebanggaan.
Mereka tertawa bersama sampai menggetarkan ruangan tersebut.
"Akhirnya penerus dunia persilatan telah lahir,"
"Hahaha ... kau benar. Aku yakin, dia akan menjadi penerus leluhurnya,"
Dua tokoh tua itu berbicara di tengah gelak tawanya.
Zhang Fei yang melihat hal tersebut menjadi bingung. Ia memandang keduanya secara bergantian sambil mempertanyakan banyak hal di dalam hatinya.
"Tuan, kenapa kalian tertawa? Apakah ada yang lucu?" tanyanya karena tidak bisa menahan lagi keheranan.
"Tidak, tidak. Kami seperti ini karena saking bangganya," ucap Pengemis Tongkat Sakti.
"Aku tidak mengerti," kata Zhang Fei.
Mereka kemudian berhenti tertawa dan kembali duduk di bangkunya masing-masing. Beberapa saat kemudian, setelah minum arak, Orang Tua Aneh Tionggoan kembali bicara.
"Anak Fei, kau tahu, kenapa tadi kami bersikap seperti itu kepadamu?"
"Aku tidak tahu, Tuan,"
"Itu karena kami takut, kau adalah orang yang sudah mencuri dua benda pusaka itu. Asal kau tahu saja, sejak dahulu kala, Keluarga Zhang sangat dihormati oleh semua orang persilatan. Terutama sekali saat zamannya Pendekar Naga Putih Zhang Yi, leluhur dari keluarga itu sendiri,"
"Jadi, kalian juga mengetahui cerita leluhur Zhang Yi?"
"Tentu saja kami tahu. Hal ini sudah menjadi cerita turun temurun dari generasi ke generasi. Maka dari itu, setelah kematian si Pedang Kilat, banyak para tokoh rimba hijau yang ingin membalaskan dendamnya kepada Partai Panji Hitam. Mengingat jasa-jasa yang diberikan oleh Keluarga Zhang kepada dunia persilatan sangatlah besar,"
"Sayangnya, mereka lebih dulu mengetahui hal ini. Sehingga dengan segala cara, para manusia iblis itu sudah berhasil membuat keadaan dunia persilatan kacau. Di satu sisi lain, Partai Panji Hitam juga sangat kuat, dengan keadaan seperti sekarang, ingin balas dendam pun rasanya sangat sulit sekali,"
Sepanjang Orang Tua Aneh Tionggoan bercerita, Zhang Fei bisa melihat beberapa kali milik wajahnya berubah. Begitu pula dengan Pengemis Tongkat Sakti.
Diam-diam, ia merasa bangga. Ternyata keluarga mempunyai kedudukan tinggi dalam dunia persilatan.
Dengan kenyataan itu, sepertinya niat untuk menyatukan kembali para pendekar bisa terwujudkan.
Ya, Zhang Fei yakin bisa melakukannya!
"Aih, aku sungguh terharu mendengarnya, Tuan. Aku benar-benar berterimakasih atas semuanya," ucapnya penuh rasa hormat.
"Tidak perlu berterimakasih. Semua ini memang sudah seharusnya, anak Fei," kata Pengemis Tongkat Sakti.
"Pengemis tua ini benar. Tapi untuk sementara waktu, jangan sampai hal ini menyebar luas. Aku takut kau berada dalam bahaya,"
Kalau benar apa yang disampaikan oleh Orang Tua Aneh Tionggoan, itu artinya, Zhang Fei akan mengalami kesulitan apabila pihak musuh mengetahui siapa dia sebenarnya.
Bukan suatu hal mustahil ia akan dibunuh oleh Partai Panji Hitam, mengingat bahwa dirinya adalah pewaris tunggal dari Keluarga Zhang.
"Aku mengerti, Tuan," katanya mengiyakan.
"Sekarang tenang saja dulu. Perlahan namun pasti, kita pasti bisa mengembalikan keadaan seperti dahulu kala," kata Pengemis Tongkat Sakti.
"Saranku, berlatihlah dengan tekun. Aku yakin, kau akan menjadi sosok seperti Pendekar Naga Putih Zhang Yi," Orang Tua Aneh Tionggoan bicara penuh keyakinan.
Sahabat di sisinya menganggukkan kepala.
Mereka percaya akan hal tersebut. Apalagi setelah tahu bahwa Zhang Fei adalah anak muda yang mempunyai bakat luar biasa. Buktinya saja, di usia muda, dia sudah bisa menguasai Kitab Pedang Dewa yang sangat sulit diperagakan.
"Baik, Tuan. Aku juga meminta bimbingan kalian berdua,"
"Hahaha ... anak baik. Sekarang pergilah istirahat,"
"Kalau begitu, aku pergi dahulu," Zhang Fei membungkuk hormat. Setelah itu dirinya langsung keluar dari sana. Dia ingin tidur, tubuhnya sudah benar-benar merasa lelah.