
Sekitar sepuluh menit kemudian, Zhang Fei dan Orang Tua Aneh Tionggoan Kai Luo akhirnya tiba di tempat tujuan mereka. Jarak yang tersisa paling-paling hanya sekitar lima belas tombak saja.
Walaupun mereka belum memasuki kawasan Partai Pengemis, tapi di tempat sekitar sana, sudah banyak para pengemis yang berkeliaran. Para pengemis itu ada di setiap sudut kota.
"Zhang Fei, kau lihat bangunan itu?" tanya Kai Luo sambil menunjuk ke depan sana.
"Ya, aku melihatnya, Tuan,"
"Nah, itulah markas pusat Partai Pengemis,"
"Oh, jadi kita sudah hampir tiba?"
"Benar," katanya menganggukkan kepala. "Karena itulah, sejak tadi para pengemis yang kau lihat semakin banyak,"
"Pantas saja. Baiklah, kalau begitu, mari kita ke sana,"
Zhang Fei sudah tidak sabar lagi. Dia ingin cepat-cepat sampai di sana.
Karena sadar waktu tengah malam sebentar lagi akan tiba, akhirnya Kai Luo pun kembali mempercepat lari kudanya.
Sesaat kemudian, keduanya telah tiba di pintu gerbang. Di sana ada dua anggota yang menjaganya.
"Tolong tanya, siapakah Tuan berdua?" tanya salah satu anggota.
"Ketua kalian ada di dalam?" bukannya menjawab, Orang Tua Aneh Tionggoan malah balik bertanya kepada keduanya.
Dua penjaga itu saling pandang. Mereka sendiri merasa heran dengan tamunya itu.
"Ketua ada di dalam. Beliau sedang istirahat," kata penjaga itu masih sabar. "Tolong sebutkan dahulu siapa Tuan berdua, dan apa tujuannya malam-malam bertamu?"
"Aku sahabat lama dari Ketua kalian. Sampaikan kepadanya, aku ingin bertemu,"
Orang Tua Aneh Tionggoan tetap tidak mau memberitahu siapa dirinya. Zhang Fei sendiri sudah gemas ingin angkat bicara. Tapi ia tidak berani ikut campur.
"Apakah Tuan tidak mendengar pertanyaanku? Kalau tidak mau menyebutkan nama, mohon maaf, lebih baik Tuan berdua segera pergi dari sini ..."
Penjaga itu mulai kesal. Dia tidak tahu siapa dia orang tamu itu. Ia hanya tahu bahwa mereka adalah manusia sombong yang tidak mau menjawab pertanyaannya.
Melihat kemarahan di wajah penjaga itu, tiba-tiba Orang Tua Aneh Tionggoan tertawa lantang. Kemudian dia melompat tinggi ke atas dengan menjejak punggung kuda miliknya.
Begitu tiba di tengah-tengah udara, ia langsung berbicara dengan pengerahan tenaga sakti.
"Tua bangka, aku tahu kau belum tidur. Cepatlah sambut kedatanganku. Masa ada sahabat lama bertamu, kau hanya diam saja di dalam sana?"
Suara itu bisa terdengar jelas oleh setiap orang yang ada di sekitar sana. Semua yang termasuk wilayah Partai Pengemis, pasti mendengar ucapannya.
Zhang Fei yang ada di sisi Lain Luo, diam-diam merasa kagum.
'Ternyata tenaga sakti orang tua ini sudah sangat tinggi sekali. Sungguh tidak kusangka,' batin anak muda itu sambil memandang ke arah Orang Tua Aneh Tionggoan.
Sementara itu, setelah selesai bicara, ia kembali duduk di atas kuda jempolan miliknya.
Sedangkan di sisi lain, bersamaan dengan hal tersebut, tiba-tiba dari berbagai penjuru mendadak muncul puluhan anggota Partai Pengemis.
Mereka langsung mengepung Zhang Fei dan Kai Luo. Para anggota itu merasa kesal dengan cara bicara Orang Tua Aneh Tionggoan yang dianggapnya terlampau tidak sopan.
Suara tongkat bambu yang diketuk-ketuk ke tanah segera terdengar. Puluhan anggota Partai Pengemis tersebut mengelilingi kedua orang itu sambil terus memukulkan tongkat mereka.
Ini adalah ciri khas dari Partai Pengemis. Kalau para anggotanya sudah bersikap seperti ini, itu artinya mereka siap melakukan serangan.
"Jangan melakukan hal bodoh," ucap Orang Tua Aneh Tionggoan menegurnya.
"Baiklah, Tuan. Maafkan aku," jawab Zhang Fei lalu menarik kembali hawa murni dan nafsu pembunuhnya.
Pada saat situasi semakin tegang, tiba-tiba dari dalam markas terlihat ada satu orang tua yang keluar. Ia berjalan dengan perlahan. Tapi siapa sangka, hanya dalam waktu singkat, ia justru sudah berada di dekat pintu gerbang.
"Dia bukan musuh. Dia adalah sahabatku. Beri dia hormat," ucap orang tua tersebut dengan suaranya yang penuh oleh wibawa.
Mendengar perkataan itu, para anggota yang jumlahnya puluhan tersebut, tanpa banyak bicara, mereka langsung memberikan hormat secara bersamaan.
"Hahaha ... kau terlalu sungkan,"
Orang Tua Aneh Tionggoan tiba-tiba melompat dari atas kudanya. Zhang Fei segera mengikuti gerakan orang tua itu. Keduanya kemudian berjalan masuk ke dalam gerbang.
"Tua bangka, bagaimana kabarmu?" tanyanya sambil memeluk.
"Seperti biasa. Aku baik," orang tua yang diduga adalah Ketua Partai Pengemis itu membalas pelukan Kai Luo.
Keduanya benar-benar terlihat seperti sahabat yang sudah lama tidak bertemu.
"Mari kita masuk ke dalam," ajaknya.
"Mari,"
Tiga orang tersebut berjalan masuk. Para anggota yang tadi berkumpul, satu-persatu mulai membubarkan diri. Beberapa orang dari mereka, ada juga yang membawa dua ekor kuda tadi untuk disimpan di istal kuda.
Beberapa waktu kemudian, ketiganya sudah berada di sebuah ruangan yang besar dan mewah. Di dalam sana terdapat cukup banyak barang-barang berharga dan lukisan yang mahal harganya.
Ruangan itu benar-benar megah. Sangat bertolakbelakang dengan nama partainya.
Saat ini, mereka sudah duduk di atas bangku yang terbuat dari batu pualam.
Ketua Partai Pengemis menuangkan arak ke dalam cawan. Setelah terisi penuh, mereka langsung bersulang.
"Anak muda, perkenalkan, dia adalah Ketua Partai Pengemis. Namanya Chen Mu Bai. Orang-orang persilatan memberikan julukan si Pengemis Tongkat Sakti," kata Kai Luo memperkenalkan sahabatnya.
"Hahaha ... kau terlalu berlebihan. Bagaimanapun juga, kemampuanku masih berada di bawah kemampuanmu," ia berkata sambil tertawa lantang. "Ngomong-ngomong, siapa anak muda ini?" tanyanya lebih jauh.
"Dia bermarga Zhang dan bernama Fei. Usianya masih muda, tapi kemampuannya aku rasa cukup jauh di atas cucumu,"
Kalau orang lain yang berbicara seperti itu, pasti si Pengemis Tongkat Sakti akan langsung marah. Tapi karena yang berkata adalah sahabatnya, maka ia tidak marah.
Malah orang tua itu percaya akan ucapannya.
"Oh, benarkah? Kalau begitu, suatu saat nanti, aku ingin melihat muda-mudi itu berlatih tanding,"
"Kalau ada kesempatan, aku yakin anak muda ini mau. Bukan hanya mau bertanding, malah sepertinya dia mau menjadi pasangan cucumu itu,"
Kedua orang tua tersebut bercerita sambil tertawa tiada henti. Sedangkan di satu sisi, Zhang Fei tidak ikut nimbrung.
Ia justru merasa malu karena obrolan barusan. Menurutnya, Orang Tua Aneh Tionggoan terlalu memandang tinggi.
Tanpa terasa, waktu yang mereka lewatkan untuk bercanda sudah cukup lama. Kentongan pertama belum lama terdengar di kejauhan sana.
Suasana mulai sepi hening. Hawa terasa dingin. Arak pun sudah ditambah beberapa kali untuk menghangatkan tubuh.
"Pengemis tua," kata Kai Luo menyebut sebutan akrab di antara keduanya. "Aku tahu kau sedang menghadapi persoalan rumit. Coba sebutkan, bagaimana bisa kau mendapat persoalan serumit itu?"