Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Berpisah


Yang lainnya menganggukkan kepala beberapa kali. Mereka cukup mengerti maksud dari ucaoan Pendekar Tombak Angin. Malah apa yang dia sampaikan barusan, rasanya memang tidak salah.


Dalam dunia persilatan itu terdapat segala macam jenis manusia. Mulai dari yang mempunyai wajah satu, dua, atau bahkan sampai wajah seribu pun ada.


Kalau kita kurang cermat dan kurang hati-hati dalam setiap melakukan tindakan, bukan tidak mungkin kita bisa mati dengan cepat.


Jangankan orang yang masih baru, bahkan tokoh angkatan tua yang sudah mempunyai banyak pengalaman saja, terkadang masih bisa terkena jebakan dan siasat musuh.


"Terimakasih sebelumnya, Tuan Cao. Tapi aku yakin, aku bisa menghadapi semua rintangan di perjalanan nanti. Kau jangan terlalu khawatir, aku menganggap perjalanan nanti sebagai bekal untuk di hari depan," kata Zhang Fei yang sejak tadi diam, tiba-tiba ikut bicara.


"Tapi kalau memang harus mati dalam menjalankan tugas ini, aku juga tidak akan mati penasaran. Aku malah bangga karena bisa gugur dalam tugas mulia," sambungnya kemudian.


Empat Datuk Dunia Persilatan menganggukkan kepala. Mereka kembali dibuat kagum oleh ucapan anak muda itu.


"Bagus, anak Fei. Tidak malu kau menjadi anak dari si Pedang Kilat. Ternyata kau benar-benar mewarisi sifat kegagahannya," ucap Orang Tua Aneh Tionggoan memujinya.


"Sepertinya pemimpin seluruh dunia persilatan memang sudah lahir," sambung Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Tuan berdua terlalu memuji. Apa yang aku lakukan ini, tak lebih karena mencontoh sikap kalian semua,"


"Hahaha ... baiklah, baiklah," tukas Dewa Arak Tanpa Bayangan seraya tertawa. "Jadi bagaimana, apakah masih ada yang tidak setuju dengan usulku ini?" tanyanya kembali.


"Kami setuju," jawba mereka secara serempak.


"Nah, kalau begitu, kita mulai membahas lebih lanjut lagi,"


Orang tua itu menuangkan arak ke dalam cawan. Dia lebih dulu minum beberapa kali, sebagai setan arak, meskipun sudah banyak air kata-kata yang masuk ke perutnya, namun sedikit pun ia belum terlihat mabuk.


Berbeda dengan empat orang yang duduk bersamanya. Wajah mereka sudah mulai memerah karena terlalu banyak minum arak.


Setelah puas minum arak, dia segera melanjutkan kembali rencananya.


Dewa Arak Tanpa Bayangan mulai membagikan tugasnya kepada empat orang tersebut. Masing-masing dari mereka mendapatkan tugas yang telah disesuaikan sebelumnya dengan kemampuan sendiri-sendiri.


Termasuk dia pun mendapatkan tugas yang tidak mudah.


Salah satunya, Empat Datuk Dunia Persilatan bertugas untuk bergerak secara diam-diam. Mereka diharuskan menghalau atau menggagalkan rencana-rencana besar yang akan dilakukan oleh pihak musuh.


Sedangkan khusus untuk Zhang Fei, karena usianya masih muda, maka ia menugaskan anak muda itu mengembara dalam dunia persilatan. Salah satunya, dia harus membasmi kejahatan dan membantu orang-orang yang membutuhkan.


Di satu sisi, Zhang Fei juga diharuskan untuk mencari informasi tentang pergerakan partai aliran sesat di Tionggoan.


"Selian itu, aku juga menugaskanmu untuk ikut andil dalam perebutan benda pusaka yang dikabarkan bakal terjadi dalam waktu dekat ini. Terkait informasi lebih lanjutnya, dalam beberapa hari ke depan, aku akan memberitahukannya kepadamu, anak Fei," kata Dewa Arak Tanpa kemudian.


"Baik, Tuan Kiang. Semoga saja aku bisa menjalankan tugas ini dengan baik," jawab Zhang Fei.


"Aku percaya kepadamu. Kau pasti bisa melakukan semuanya sesuai dengan harapan,"


Anak muda itu mengangguk. Keadaan di sana menjadi hening. Lima orang tokoh dunia persilatan sedang minum araknya secara perlahan.


Beberapa waktu kemudian, terdengar Orang Tua Aneh Tionggoan bicara lagi.


"Anak Fei, dalam menjalankan tugas nanti, kau harus tetap bersikap seperti ini. Jangan lupa, kau pun harus melatih kemampuanmu. Terutama sekali dalam memainkan pedang,"


"Apabila anak Fei ingin belajar ilmu pedang, mungkin Dewi Rambut Putih bisa memberikan sedikit ilmunya kepadamu," ucap Pendekar Tombak Angin ikut nimbrung.


"Boleh, tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk melakukan itu. Jadi terpaksa, kau harus belajar menyatukan dirimu dengan pedang secara mandiri," katanya sambil tersenyum.


"Ah, kalian semua terlalu baik. Aku jadi merasa tidak enak," ujar Zhang Fei sedikit salah tingkah. "Apa yang kalian ucapkan barusan, pasti akan aku ingat selalu. Terimakasih untuk semua kebaikannya. Aku berjanji, suatu saat nanti, aku akan benar-benar menjadi Dewa Pedang,"


Ia berkata dengan penuh semangat. Malah dalam perkataannya seolah-olah ada satu kekuatan yang tidak bisa dibendung.


"Kami percaya kepadamu," kata Empat Datuk Dunia Persilatan secara bersamaan.


Zhang Fei tersenyum bangga. Semangat dalam dirinya menjadi bertambah setelah dia mendapat kepercayaan dari tokoh-tokoh utama dalam rimba hijau.


Kentongan ketiga telah terdengar kembali. Lima tokoh dunia persilatan tersebut akhirnya keluar dari dalam restoran. Mereka berjalan menuju ke penginapan dan masuk ke kamarnya masing-masing.


Karena sudah merasa sangat lelah, maka begitu tubuhnya menyentuh pembaringan, orang-orang itu pun langsung tertidur dengan pulas.


Keesokan paginya, pada saat mentari pagi baru muncul sedikit, kelima tokoh tersebut sudah bangun dari tidurnya masing-masing. Malah mereka juga melangsungkan sarapan pagi secara bersama.


Rencananya, siang nanti, masing-masing dari mereka akan berpisah dan mulai menjalankan tugasnya tersendiri.


Pada akhirnya, tanpa terasa waktu perpisahan pun tiba juga. Setelah masing-masing pamit dan memberikan hormat, mereka langsung pergi begitu saja.


Sekarang, Zhang Fei masih berada di pusat kota. Ia belum pergi seperti Empat Datuk Dunia Persilatan. Anak muda itu ingin menyusun rencananya terlebih dahulu.


Dia ingin membereskan persoalan di hari lalu. Salah satunya membalaskan dendam Lima Malaikat Putih, yaitu mencari sosok Pendekar Pedang Emas Gan Li!


Di mana dia sekarang? Benarkah orang tua itu ada di sekitar Kotaraja? Sungguhkah ia sudah menjadi bagian dari Partai Iblis Sesat?


Zhang Fei tidak tahu. Tapi dirinya yakin, dugaannya di hari lalu, tidak akan meleset jauh.


"Ah, biarlah semua berjalan semestinya," gumamnya.


Ia mulai melangkahkan kakinya kembali. Mencari-cari informasi tentang dunia persilatan dan tentunya tentang perebutan benda pusaka yang kabarnya akan terjadi sebentar lagi.


Selama tujuh hari, Zhang Fei mencari kabar keberadaan Pendekar Pedang Emas di Kotaraja. Sayangnya dia tidak menemukan apa-apa.


Karena sudah merasa bosan, akhirnya anak muda itu memutuskan untuk pergi kembali ke kota sekitar.


Siapa tahu di kota lain ada sebuah peristiwa atau sesuatu yang memerlukan bantuannya.


Wushh!!!


Zhang Fei melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Dalam waktu yang tidak lama, ia telah berada di pusat perbatasan sebelah Selatan.


Di sana ada kota lain yang tidak kalah besar. Di atas pintu gerbang yang megah itu, ada sebuah tulisan yang dibuat dari tinta warna emas.


"Kota Qinghai .."


Zhang Fei memandangi tulisan itu cukup lama. Ia baru tersadarkan setelah ada seseorang yang menegurnya.