
Alasan mengapa dia bertekad seperti itu adalah karena Zhang Fei melihat bahwa pendekar wanita itu sudah terdesak cukup hebat.
Dua orang pria tua itu, sepertinya bukan lawan yang mudah untuk dihadapi. Hal tersebut bisa dilihat dari bagaimana cara mereka bergerak dan menyerang si pendekar wanita.
Gerakan keduanya sangat cepat. Setiap serangannya juga selalu tepat sasaran. Dari setiap gerakan yang mereka lakukan, rasanya tidak ada yang sia-sia.
Pada saat itu, posisi di pendekar wanita sudah benar-benar terdesak hebat. Kalau tidak ada bantuan, tinggal beberapa saat lagi, ia pasti akan menelan kekalahan.
Untungnya pada saat itu, Zhang Fei telah datang. Ia tiba di sana telah ketika dua tokoh tua itu baru saja melancarkan serangannya.
"Tapak Buddha Maha Agung!"
Zhang Fei berteriak dengan lantang. Bersamaan dengan itu, ia mendorong telapak tangannya ke depan. Tangan kirinya berada di sebelah pinggang sebagai benteng pertahanan kalau-kalau ada serangan mendadak dari sisi lain.
Wushh!!! Blamm!!!
Segulung tenaga sakti yang sangat dahsyat menerjang ke arah depan sana. Benturan jurus tingkat tinggi terjadi. Ledakan besar langsung terdengar pada saat itu juga.
Tidak hanya itu saja, bahkan benturan barusan juga telah menciptakan gelombang kejut yang cukup lumayan.
Dua tokoh tua itu terdorong sampai lima langkah. Sedangkan di pendekar wanita harusnya terdorong lebih jauh lagi.
Beruntung, di saat yang tepat pula, dengan segera Zhang Fei telah berada di belakangnya. Buru-buru ia menahan luncuran gadis itu dan merangkulnya.
Zhang Fei memutarkan tubuh untuk mementalkan daya dorongan tadi. Setelah berhasil, ia langsung menurunkan gadis cantik itu dari pangkuannya.
"Terimakasih, pendekar," kata gadis itu sambil menundukkan wajahnya karena merasa malu.
"Nona tidak perlu sungkan. Maaf kalau aku telah berlaku tidak sopan," jawab Zhang Fei dengan nada lembut
Ketua Dunia Persilatan segera memandang gadis itu, begitu juga sebaliknya.
Pada saat itulah, sesuatu yang sangat diluar dugaan tiba-tiba terjadi. Peristiwa yang tidak disangka-sangka itu, berlangsung dengan sendirinya.
"Zhang Fei ..."
"Nona Mei ..."
Masing-masing dari mereka berkata. Waktunya hampir bersamaan.
Pandangan mata keduanya segera beradu. Perasaan mereka langsung campur aduk detik itu juga.
Ada perasaan aneh yang tiba-tiba timbul di hati masing-masing. Entah perasaan apakah itu. Sebab mereka sendiri tidak bisa menjelaskannya. Setidaknya untuk saat ini.
Pandangan mata yang tadinya menggambarkan keterkejutan, secara perlahan mulai berubah. Menjadi menggambarkan kerinduan dan kegembiraan.
Lama ... lama sekali mereka berdua saling tatap. Walaupun mulutnya sama-sama membisu, namun tatapan mata mereka sudah mengatakan semuanya.
Mereka berpandangan seperti itu dalam jarak yang sangat dekat. Sehingga masing-masing bisa melihat sesuatu dibalik tatapan matanya.
Adegan romantis yang tidak disangka-sangka itu baru berakhir setelah salah satu dari tokoh tua tadi berkata dengan suara lantang.
"Manusia dari mana yang berani mengganggu urusanku?"
"Manusia dari mana pula yang beraninya mengeroyok seorang gadis? Apakah dia tidak malu dengan umur dan kemampuannya? Sungguh tidak disangka, ternyata di dunia ini masih ada manusia serendah itu,"
Bukannya menjawab, Zhang Fei malah melemparkan ejekan kepada tokoh tua tersebut. Dengan suaranya yang lantang itu, tentu mereka bisa mendengarnya secara jelas.
Bukan main geramnya pria tua tersebut setelah mendengar ejekan barusan. Wajahnya langsung memerah karena marah. Kedua lengannya juga terkepal.
"Hati-hati, orang tua yang berpenampilan seperti biksu itu mempunyai kemampuan yang sangat tinggi. Jurus-jurus tangan kosongnya tidak bisa dipandang rendah," kata Yao Mei berbisik di telinga Zhang Fei.
Zhang Fei mengangguk sebagai jawaban. Ia kemudian menatap penuh selidik orang tua yang diduga biksu tersebut.
Ia mengenakan kain warna kecoklatan yang dililit mulai dari bagian leher sampai bagian betisnya. Tidak hanya itu saja, bahkan dia pun mengenakan kalung tasbih berukuran besar.
Tatapan matanya mencorong tajam. Persis seperti mata harimau di tengah kegelapan malam. Hawa sesat yang dikeluarkan tubuhnya juga tidak main-main. Bahkan Zhang Fei sendiri mampu merasakannya dengan jelas.
Kedua belah pihak yang ada di sana masih saling pandang untuk beberapa waktu. Di antara mereka tidak ada yang berbicara.
Sementara di sisi lain, pertempuran yang melibatkan banyak orang itu sudah mencapai puncak. Para anggota Organisasi Pedang Cahaya juga ikut turun tangan tepat setelah Zhang Fei melesat tadi.
Setelah adanya bantuan orang-orang itu, keadaan menjadi berbalik. Pihak Kekaisaran Song yang sebelumnya berada di bawah angin, secara perlahan mulai bisa mengembalikan keadaan.
Semilir angin berhembus. Bau amis darah manusia mulai tercium cukup jelas.
"Bukankah kau adalah Zhang Fei, Dewa Pedang Dari Selatan sekaligus Ketua Dunia Persilatan?" tanya pria tua yang berpenampilan seperti biksu tersebut.
"Benar, itu memang aku. Dari mana kau tahu?" Zhang Fei cukup terkejut. Dia tidak menyangka bahwa orang tua itu ternyata mengenalinya.
"Hahaha ... bagus sekali. Akhirnya kau muncul di waktu yang tepat. Jadi, aku tidak perlu susah payah mencarimu," orang tua itu tertawa lantang sampai tubuhnya ikut berguncang. Bersamaan dengan suara tawa tersebut, terasa pula tekanan hawa sesat yang ikut menyebar.
"Hemm ... siapa kau sebenarnya?" tanya Zhang Fei semakin penasaran.
"Kau bahkan tidak mengenalku?" ia kaget ketika mendengar bahwa Ketua Dunia Persilatan ternyata tidak mengenalnya.
Bukankah ini adalah sesuatu yang menyebalkan?
Hampir semua orang yang berkecimpung dalam dunia persilatan pasti tahu siapa dirinya. Tapi ini ... orang yang mengaku nomor satu dalam rimba hijau, justru malah tidak mengenalnya?
Apa-apaan ini?
Ia mendengus dingin. Setalah beberapa saat kemudian, orang tua itu baru menjawab.
"Namaku Kong Bai. Orang-orang persilatan memanggilku dengan julukan Biksu Sembilan Nyawa!"
Ia berkata dengan nada dalam. Pertanda bahwa dirinya benar-benar kesal.
"Apakah kau masih tidak tahu?"
"Oh, jadi kau adalah Datuk Dunia Persilatan aliran sesat yang menduduki urutan ketiga?" tanya Zhang Fei dengan hambar.
"Ya, itulah aku,"
"Ya, ya, ya. Aku mengenalmu sekarang," katanya sambil menganggukkan kepala beberapa kali.
Biksu Sembilan Nyawa tersenyum sinis. Ia tetap menatap Zhang Fei dengan tajam.
Hatinya sangat berharap Ketua Dunia Persilatan akan kaget ataupun takut ketika mengetahui siapa dirinya. Namun sungguh tak disangka, ia bahkan tidak terkejut, apalagi terlihat takut.
'Bocah keparat ini benar-benar kurang ajar. Aku harus bisa membunuhnya secepat mungkin,' batin datuk sesat itu.
Sementara itu, tanpa terasa matahari sudah semakin bergeser ke sebelah barat. Tinggal sebentar lagi, malam akan menyapa alam mayapada.
Zhang Fei memandang langit yang mulai memerah. Setelah itu, dia berkata lagi.
"Malam sudah hampir tiba. Dan aku tidak punya banyak waktu untuk melayani manusia sepertimu. Kalau kau mau bertarung, mari kita lakukan secepatnya. Dan kalau kau tidak berani, menyerahlah sekarang juga,"