
Ucapan Datuk Dunia Persilatan aliran sesat itu tidak bisa berlanjut. Sebab pada saat yang bersamaan, tiba-tiba matanya melihat ada cahaya putih keperakan yang berkelebat dengan sangat cepat.
Saking cepatnya cahaya itu bergerak, sampai-sampai dia sendiri tidak mampu menyaksikannya secara jelas.
Lewat satu tarikan nafas kemudian, tahu-tahu ada sesuatu yang jatuh menggelinding ke atas tanah.
Kepala!
Kepala tokoh sesat itu ternyata telah lepas dari tempatnya!
Darah segar langsung menyembur keluar. Disusul kemudian dengan ambruknya tubuh si pemilik kepala.
Dua orang Datuk Dunia Persilatan yang berada di belakang sama-sama terkejut setelah menyadari apa yang telah terjadi di sana.
Mereka tidak menyangka rekannya akan tewas tanpa kepala. Lebih tidak menyangka lagi adalah bahwa musuh yang sudah dianggap tidak berdaya itu, ternyata masih mampu melancarkan serangan yang begitu dahsyat.
Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Sehingga mereka berdua tidak mampu melakukan tindakan apapun.
Sementara itu, setelah berhasil membunuh musuhnya, Zhang Fei pun langsung ambruk ke atas tanah. Sekarang tenaganya benar-benar habis.
Jangankan untuk melancarkan serangan seperti barusan, bahkan untuk menggerakkan jari tangannya pun, dia merasa tidak sanggup.
Melihat Zhang Fei yang ambruk, kedua Datuk Dunia Persilatan tadi segera melangkah ke arahnya. Mereka benar-benar marah karena kematian satu orang rekannya.
"Bocah keparat! Mau mati pun masih juga menyombongkan diri," kata salah satu Datuk Dunia Persilatan.
Ia kemudian mencengkeram kerah baju dan memaksa Zhang Fei untuk berdiri.
"Kalau mau bunuh, bunuh saja. Yang penting, aku telah berhasil menghabisi satu orang dari kalian," ucap Zhang Fei dengan susah payah.
Ia kemudian memejamkan mata. Zhang Fei tidak ingin melakukan apa-apa lagi. Lebih tepatnya, dia memang tidak sanggup melakukan sesuatu apapun.
Untuk saat ini, Ketua Dunia Persilatan Kekaisaran Song itu telah menyerahkan mati hidupnya kepada langit.
Kalau harus mati, matilah dengan cepat. Zhang Fei tidak akan merasa menyesal. Ia justru akan merasa bangga karena telah tewas dalam pertarungan yang memperjuangkan tanah airnya sendiri.
Bagi seorang pendekar seperti dirinya, justru kematian seperti inilah yang sangat diimpikan.
Mati demi membela tanah air. Mati demi membela kebenaran!
Dengan begitu, apalagi yang harus dia sesalkan?
Bukk!!!
Sebuah pukulan keras menghantam ulu hatinya dengan telak. Tamparan yang mengandung tenaga dahsyat juga mendarat di kedua pipinya.
Datuk Dunia Persilatan aliran sesat itu benar-benar marah. Ia terus menghajar Zhang Fei dengan tenaganya yang tidak bisa dipandang ringan.
Pukulan dan tendangan terus berdatangan bagaikan hujan yang tidak pernah berhenti. Tokoh sesat itu terus menyiksanya. Untuk saat ini, dia tidak berharap Zhang Fei cepat mati.
Dia hanya ingin membuatnya menderita dan merasakan sakit yang teramat sangat. Tapi sayangnya, Zhang Fei tetap saja diam dan memejamkan mata.
Terhadap semua serangan yang menimpanya, seolah-olah hal itu tidak memberikan perasaan apapun juga.
Wutt!!! Srett!!!
Tebasan dan bacokan golok ikut mendarat di tubuhnya. Berbagai macam luka semakin terlukis dengan jelas.
Ketika dia mau memenggal kepala Zhang Fei, tiba-tiba rekannya yang sejak tadi menunggu berbicara. "Jangan bunuh dia sekarang,"
"Kenapa aku tidak boleh membunuhnya?" ia menoleh seketika.
"Karena itu bukan jalan keluar terbaik,"
"Lalu, bagaimana jalan keluar terbaik itu?"
Ia kemudian berjalan dan meminta supaya Zhang Fei diberikan kepadanya. Setelah itu, tokoh sesat tersebut langsung mengeluarkan setidaknya lima belas paku berwarna perak dari balik saku bajunya.
Semua senjata rahasia itu lalu ditancapkan di semua titik penting yang terdapat pada tubuh manusia. Pada saat kejadian, tanpa sadar Zhang Fei telah mengeluarkan keluhan tertahan.
Namun untuk melakukan sesuatu, dia sudah tidak mampu lagi. Satu demi satu, paku-paku itu mulai melesak masuk ke tubuh. Begitu selesai, tokoh tersebut langsung melemparkannya begitu saja.
"Dengan begini, dia akan merasakan siksaan yang sangat berat. Bocah keparat ini tidak akan langsung mampus. Setidaknya, dia baru mati setelah tujuh hari kemudian. Selama waktu itu, setiap saatnya dia akan merasakan penderitaan yang sulit dibayangkan," tokoh sesat tersebut tersenyum dingin.
Sedangkan rekannya langsung tertawa sangat lantang.
"Bagus, bagus sekali. Kau memang sangat cerdas," ia memuji sambil menepuk-nepuk pundaknya.
"Tentu saja," sahutnya tersenyum bangga. "Sudahlah, sekarang, mari kita pergi,"
"Baik,"
Dua datuk sesat tersebut segera pergi. Namun sebelum langkahnya menjauh, dia yang menggunakan golok sempat merampas Pedang Raja Dewa dari tangan Zhang Fei
Sementara itu, di sisi lain, bersamaan dengan pertarungan Ketua Dunia Persilatan, di sana ada juga Dewa Arak Tanpa Bayangan yang terlihat kesulitan melawan tiga orang musuhnya.
Orang tua itu terus ditekan dari tiga sisi berbeda. Walaupun dia telah mengeluarkan seluruh tenaga dan kemampuan, tetapi dirinya tetap tidak mampu berbuat lebih.
Sejak pertarungannya dimulai, Dewa Arak Tanpa Bayangan hanya mampu berada di posisi bertahan. Dia tidak pernah menyerang.
Kalaupun ada kesempatan untuk memberikan serangan balasan, serangannya tersebut tidak pernah maksimal.
Sebab ketika ia menyerang balik, selalu saja ada tokoh sesat lain yang menghalangi usahanya.
"Tua bangka, menyerah saja. Sampai kapan pun kau tidak akan pernah bisa mengalahkan kami,"
"Benar. Daripada repot-repot membuang tenaga, lebih baik serahkan nyawamu dengan percuma,"
"Kalau kau tidak ingin mati, dengan senang hati kami akan mengabulkannya. Tapi dengan syarat, kau harus menghancurkan ilmu silatmu sendiri,"
Suara tawa kemudian terdengar begitu lantang. Tawa mereka mirip seperti iblis yang datang dari neraka.
Dewa Arak Tanpa Bayangan benar-benar geram. Kemarahannya sudah tidak bisa dilukiskan lagi.
Seumur hidup, rasanya baru sekarang dia mengalami penghinaan seperti saat ini.
"Amarah Dewa Arak!"
Karena sudah tidak tahan lagi, pada akhirnya dia pun mengeluarkan salah satu rangkaian jurus pamungkas ciptaannya sendiri.
Dewa Arak Tanpa Bayangan berteriak dengan keras. Bersamaan dengan itu, dia pun mementalkan sebatang pedang, dua kapak dan satu tongkat besi yang pada saat itu ingin ******* tubuhnya
Suara nyaring berdentang beberapa kali. Tiga orang lawannya seketika terdorong mundur setelah mereka merasakan adanya tekanan tenaga sakit yang sulit dibendung.
"Dewa Arak Meminta Sedekah,"
Jurus pertama segera digelar. Kedua tangannya bergerak cepat melancarkan pukulan dan totokan ke titik penting. Dua orang tokoh sesat langsung menjadi sasarannya.
Namun karena kemampuan mereka pun tidak berada jauh di bawahnya, maka hasil yang didapat pun tidak maksimal.
Jurus tersebut bisa dihalau cukup mudah setelah mereka menggabungkan kekuatannya.
"Pukulan Dewa Mabuk!"
Karena sadar jurus pertamanya tidak bisa memberikan hasil memuaskan, akhirnya ia memutuskan untuk mengeluarkan rangkaian jurus yang lebih tinggi lagi.
Jurus keempat sudah digelar. Kedua tangan Dewa Arak Tanpa Bayangan memukul dengan cepat sekali. Setiap pukulan itu mengandung tenaga besar. Jangankan manusia, bahkan batu sebesar meja pun bisa langsung hancur kalau terkena pukulannya.
Sayangnya, lagi-lagi usaha Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak bisa berjalan dengan mulus.