Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Sayembara II


Selama menunggu waktu tiga hari, Zhang Fei terus mencari-cari informasi tentang kelompok yang bernama Bintang Langit tersebut.


Siang dan malam dia terus bergerak. Zhang Fei terus mengumpulkan informasi dari orang-orang yang dia temui di sekitar pusat Kota Luoyang tersebut.


Usahanya itu akhirnya membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Zhang Fei berhasil mengetahui cukup banyak informasi tentangnya.


Rupanya, Kelompok Bintang Langit tersebut baru berdiri sekitar setengah tahun yang lalu. Jumlah anggotanya sekarang sudah ada sekitar dua puluh orang saja.


Dua orang di antaranya menjabat sebagai Ketua dan Wakil Ketua.


Sekarang, konon katanya mereka sedang membutuhkan lagi setidaknya tiga orang petinggi untuk melengkapi struktur yang belum lengkap.


Alasan kenapa Kelompok Bintang Langit tidak memiliki banyak anggota, bukan lain adalah karena tidak sembarang orang bisa bergabung dengannya.


Menurut informasi yang didapatkan Zhang Fei, jika ingin menggabungkan diri dengan kelompok tersebut, setidaknya orang itu harus bisa bertahan dari serangan Ketuanya sebanyak empat puluh jurus.


Selama ini, memang sudah banyak orang-orang yang mencoba peruntungan. Sayangnya, kebanyakan dari mereka justru malah tewas dalam uji coba tersebut.


Zhang Fei belum bisa memastikan di manakah haluan mereka. Hanya saja, kalau dilihat dan dibandingkan dari berbagai informasi yang dia miliki, rasanya Kelompok Bintang Langit tersebut berada di aliran tengah.


Tetapi, hal tersebut pun bisa dibilang belum pasti. Maka dari itulah Zhang Fei memutuskan untuk hadir di sayembara nanti, sekaligus dia ingin menggali kelompok itu lebih jauh lagi.


###


Saat itu hari sudah masuk tengah malam. Rembulan yang muncul di atas langit, tampak tertutupi oleh awan hitam yang menggumpal.


Udara malam ini terasa sejuk. Bau harum bunga yang sedang mekar bisa tercium dengan jelas.


Sekarang, Zhang Fei sedang berada di sebuah restoran mewah. Ia duduk di ruangan lantai dua. Di hadapannya ada beberapa jenis makanan yang lezat dan arak berkualitas tinggi.


Zhang Fei melakukan makan malam sendirian. Dia tidak di temani oleh siapa pun.


Cara makannya juga sangat perlahan. Seolah-olah dia adalah orang tua yang sudah lemah dan tidak mempunyai tenaga.


Di sisi sebelah barat yang berdekatan dengan jendela ruangan, tampak di sana ada dua orang pria berumur enam puluhan tahun yang sedang duduk berhadapan.


Mereka tidak memesan makanan. Akan tetapi, keduanya sudah menghabiskan beberapa guci besar arak berkualitas tinggi.


Zhang Fei tidak kenal dengan mereka. Hanya saja dia tahu bahwa dua orang itu bukan manusia sembarangan. Setidaknya, kedua orang tersebut tentu berasal dari kalangan dunia persilatan.


Meskipun pakaiannya mirip orang-orang awam, tapi hawa pembunuh yang keluar dari dalam tubuhnya masih tetap bisa dirasakan dengan jelas.


Zhang Fei sebenarnya merasa curiga terhadap mereka berdua. Apalagi setelah dia merasakan ada segumpal hawa sesat yang tidak bisa dihilangkan.


Diam-diam, Zhang Fei mulai menyelidiki kedua orang tersebut. Siapa tahu, informasi yang bisa didapatkan nanti akan memuaskan hatinya.


"Besok adalah waktu yang telah ditentukan untuk melangsungkan sayembara," kata orang tua yang bertubuh tinggi.


"Ya, benar. Besok adalah waktunya," sahut orang tua satunya lagi yang mempunyai postur tubuh sedikit lebih pendek.


"Hemm ... apakah kau tahu berapa jumlah pendekar yang datang kemari?"


"Kurang lebih sekitar tiga puluh orang. Mereka yang datang itu, paling rendah adalah pendekar kelas dua,"


"Benarkah? Kalau begitu ... besok akan terjadi pertunjukkan yang seru,"


Dua orang tersebut terus bercakap-cakap. Pembahasan mereka tidak pernah lepas dari acara sayembara yang akan digelar besok hari.


Mereka tidak takut perbincangan itu didengar orang lain. Walaupun keduanya menyadari bahwa di sana ada seorang yang mengenakan topeng, namun mereka tidak pernah berpikir bahwa orang itu adalah pendekar.


Alasannya karena mereka bisa melihat bahwa orang yang dimaksud sangat lambat. Baik itu cara makannya, mengunyahnya, atau lain sebagainya.


Walaupun penampilannya mirip seorang pendekar, tapi kenyataan malah lain. Dia justru lebih mirip seorang yang berpenyakitan.


Sementara itu, selama keduanya berbincang-bincang, Zhang Fei terus saja mendengarkan dengan seksama.


Setelah beberapa waktu berikutnya, dia mulai bisa meraba terkait sayembara itu.


'Sepertinya acara sayembara ini sangat mirip dengan perebutan benda pusaka yang dulu pernah terjadi di Gunung Lima Jari. Pihak musuh sengaja mengadakannya dengan tujuan untuk menjebak para pendekar,' batin Zhang Fei menduga.


Peristiwa berdarah itu masih tergambar jelas dalam benaknya. Apalagi, dia sendiri terlibat dan bahkan hampir kehilangan nyawa.


'Aku tidak boleh membiarkan peristiwa semacam itu terulang lagi. Aku harus bisa menghentikan rencana mereka,'


Zhang Fei bertekad dalam hatinya. Dia ingin menggagalkan rencana busuk ini.


Tetapi, harus dengan cara apa dia melakukannya? Untuk bicara terus terang, tentu saja hal itu sangat tidak mungkin.


Lagi pula, siapa yang akan percaya ucapan orang asing seperti dirinya?


Dia semakin berpikir keras. Mau tidak mau, Zhang Fei harus segera turun tangan. Sebagai Ketua Dunia Persilatan, sudah tentu dia tidak boleh tinggal diam.


Semua ini adalah tanggungjawabnya!


Siapa pun yang berani mengacaukan dunia persilatan, maka orang itu akan berhadapan langsung dengan dirinya!


Tadinya, Zhang Fei berniat untuk meringkus kedua orang itu. Namun, dia segera mengurungkan niat tersebut karena alasan ingin membereskan mereka sekaligus.


Tanpa terasa, waktu terus berlalu. Sekitar sepuluh menit kemudian, Zhang Fei memutuskan untuk pergi lebih dulu.


Setelah membayar biaya makan, dia langsung pergi keluar restoran dan segera kembali ke penginapan yang sudah dipesan sebelumnya.


Malam itu, Zhang Fei tidak dapat tidur nyenyak. Sepasang matanya sangat sulit dipejamkan. Dia sudah tidak sabar menunggu pagi hari nanti dan ingin melihat acara sayembara tersebut.


###


Mentari pagi sudah muncul di ufuk sebelah barat. Keadaan di pusat Kota Luoyang tampak semakin ramai. Puluhan orang pendekar memenuhi beberapa rumah makan yang sudah buka.


Setelah beberapa saat kemudian, mereka langsung pergi dari sana dan segera menuju ke bangunan megah yang menjadi markas Kelompok Bintang Langit.


Pada saat semua orang sudah menuju ke sana, Zhang Fei justru baru bangun dari tidur. Dia hanya tidur sesaat. Itu pun setelah dirinya memaksakan diri sekuat tenaga.


Lima belas menit kemudian, Zhang Fei sudah menyelesaikan semua persiapannya. Detik itu juga dia langsung menuju ke markas Kelompok Bintang Langit.


Jarak untuk menuju ke markas itu tidak terlalu jauh. Jadi, hanya sebentar saja dia sudah tiba di sana.


Dari kejauhan, tampak ada puluhan orang pendekar yang sudah memadati halaman depan yang cukup luas. Di depan sana ada sebuah mimbar yang cukup besar, sepertinya mimbar itulah yang akan dijadikan tempat arena pertarungan.


Zhang Fei mengawasi semua keadaan dari atas dahan pohon. Dia belum menuju ke sana, mungkin karena dirasa belum waktunya.