
Kini, mereka bertiga sudah kembali berada di taman bunga. Di tengah malam yang terang bulan, di bawah pancaran cahaya bulan purnama, tiga pendekar muda sedang duduk di bangku taman.
Udara di sana terasa sangat sejuk. Suara burung hantu terdengar keras di balik pohon rimbun.
Ketiganya masih menutup mulut. Mereka masih menikmati indahnya bulan purnama dan harumnya bunga-bunga yang bermekaran.
"Makan gratis di restoran termahal sudah, sekarang tinggal hadiah yang terakhir. Ah ... aku sudah tidak sabar ingin tahu bagaimana rasanya dicium oleh dua orang gadis cantik," kata Zhang Fei sambil tertawa mengejek.
Yao Mei dan Yin Yin seketika menoleh ke arahnya. Mata mereka melotot besar. Walaupun wajahnya masih terlihat marah dan tidak senang, tapi ada suatu perasaan lain yang tidak bisa ditutupi.
"Kau benar-benar ingin dicium oleh kami?" tanya Yao Mei menegaskan.
"Tentu saja. Siapa juga yang mau menolak ciuman dari gadis cantik seperti kalian?"
"Hemm ... semua pria sama saja. Mereka selalu pandai mencoba," ucap Yin Yin mencibir.
"Sudah, sudah. Ayo, cium aku sekarang juga," Zhang Fei berkata sembari mengangkat kedua alisnya.
Plakk!!!
Sebuah tamparan tiba-tiba mendarat di pipinya. Yin Yin menampar Zhang Fei. Walaupun tidak terlalu keras, tapi tetap saja tamparan itu telah meninggalkan bekas warna merah.
"Eh ... mengapa kau malah ..."
Ucapan Zhang Fei tidak bisa diteruskan. Sebab tepat pada saat itu, Yao Mei dan Yin Yin tahu-tahu telah mencium pipinya dengan lembur dan mesra.
Bibir keduanya menempel dalam waktu yang cukup lama. Zhang Fei tidak melakukan apa-apa lagi. Dia tampak menikmati kejadian tersebut.
Lama-kelamaan, secara refleks kedua tangannya ikut merangkul gadis-gadis itu. Tidak hanya berciuman saja, bahkan saat ini mereka terlihat berpelukan.
Ketiganya mulai memejamkan mata. Mereka tampak terbuai dalam kejadian itu.
Perlu diketahui, ketiganya sama-sama baru merasakan hal seperti ini. Sehingga tidak perlu heran kalau jantung mereka ikut berdebar cukup kencang.
Lewat beberapa waktu kemudian, 'kejadian' itu sudah selesai. Setelahnya di antara mereka tidak ada yang berbicara lagi. Masing-masing terlihat canggung. Seolah-olah mereka tidak tahu harus berbicara apa.
"Hari sudah larut malam. Mari kita kembali ke kamar masing-masing," ucap Zhang Fei kepada keduanya.
Yao Mei dan Yin Yin mengangguk. Mereka langsung pergi dari sana tanpa ada yang berbicara lagi.
###
Tiga hari kemudian, semua anggota Partai Pengemis diliputi oleh rasa kegembiraan dan keharuan. Pasalnya adalah karena si Pengemis Tongkat Sakti yang selama beberapa waktu ini mengalami penderitaan, kini sudah kembali sembuh seperti sedia kala.
Hari itu, mereka kembali mengadakan pesta sebagai ungkapan rasa syukur atas kesembuhannya.
Semua orang ikut merayakan pesta tersebut. Selama semalaman suntuk, mereka minum arak sampai puas.
Sayangnya, pesta itu tidak bisa diikuti oleh Tabib Dewa Dong Ying. Sebab dia telah kembali ke Istana Kekaisaran tepat satu hari yang lalu.
Sebenarnya Zhang Fei dan yang lain sudah berusaha menahan kepergian orang tua itu. Tapi dia pun tetap bersikeras dengan alasan bahwa di Istana Kekaisaran masih ada banyak urusan yang harus segera diselesaikannya.
###
Waktu telah berganti lagi. Saat itu masih pagi hari, Zhang Fei dan yang lain sudah berada di halaman belakang seperti biasanya.
"Tuan Bai, selamat atas kesembuhanmu. Aku benar-benar merasa senang karena hal ini," kata Zhang Fei berkata dengan tulus.
"Terimakasih, Ketua Fei. Ini semua berkat perantaramu. Kalau tidak ada dirimu, mungkin selamanya aku akan menjadi orang yang tidak berguna,"
"Ah, Tuan Bai jangan begitu. Yang benar adalah semua ini sudah takdir,"
Zhang Fei berhenti sebentar. Dia kemudian minum teh hangat sebanyak dua kali. Setelahnya, ia kembali bicara. "Karena semua urusan di sini sudah selesai, maka aku pun memutuskan untuk segera kembali ke Gedung Ketua Dunia Persilatan,"
Zhang Fei tidak lupa dengan tugas-tugasnya. Dia tahu dan dia sadar bahwa saat ini, urusan dalam dunia persilatan masih belum selesai. Peperangan pun belum berakhir sepenuhnya.
Maka dari itu, karena di Partai Pengemis sudah tidak ada masalah lagi, dirinya berniat untuk segera kembali.
"Benar, Tuan Bai. Lagi pula, kami harus menghadapi musuh-musuh yang kemungkinan besar masih berambisi untuk menguasai Kekaisaran Song," sambung Yao Mei ikut merasa setuju dengan keputusan Zhang Fei.
"Aih ... apakah kalian berdua tidak bisa lebih lama lagi di sini?"
"Tidak bisa, Tuan Bai. Maaf,"
"Hemm ... baiklah. Karena kalian sudah bersikeras, maka aku tidak bisa memaksa lagi," ucap si Pengemis Tongkat Sakti sambil mengangguk. "Ngomong-ngomong, kapan kalian akan kembali ke sana?"
"Mungkin sore hari nanti, Tuan Bai," jawab Zhang Fei dengan cepat.
"Apakah tidak bisa menunggu besok hari?"
"Tidak. Kami harus secepatnya pulang ke sana,"
"Baiklah, baiklah. Aku mengerti,"
Si Pengemis Tongkat Sakti mengangguk beberapa kali. Dia tidak banyak bicara lagi.
Orang-orang itu kembali bersulang. Keadaan di sana hening untuk beberapa saat.
"Zhang Fei ... apakah ... apakah aku boleh ikut bersama kalian?" tanya Yin Yin secara tiba-tiba.
"Ini ..."
"Kalau tidak keberatan, tolong ajak cucuku ini, Ketua Fei. Walaupun dia sudah menjabat sebagai Ketua, namun pengalaman masih sedikit. Jadi dengan ikut Ketua Fei, aku berharap dia bisa menambah pengalaman lainnya," sambung si Pengemis Tongkat Sakti.
Yin Yin memandangi Zhang Fei dengan serius. Ia memasang wajah memelas.
Ketua Dunia Persilatan dibuat kebingungan. Di satu sisi dia ingin mengajaknya, tapi di sisi lain, dia takut nantinya malah akan mendatangkan hal-hal yang tidak diinginkan bagi Yin Yin.
"Aku jamin, cucuku tidak akan membuatmu repot, Ketua Fei. Lagi pula ... dengan ikut bersamamu, aku juga berharap bahwa hubungan kalian bisa lebih dekat lagi,"
Si Pengemis Tongkat Sakti bicara dengan jujur dan apa adanya. Walaupun perkataan itu tidak diteruskan, namun semua orang yang ada di sana sudah mengerti apa maksudnya.
Sementara itu, diam-diam Yao Mei dan Yin Yin juga saling pandang. Meskipun mulut mereka tidak berbicara, namun mata keduanya sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.
"Benar apa kata Tuan Bai, Zhang Fei. Aku rasa, Ketua Yin tidak akan menyusahkanmu. Malah dengan adanya dia, secara tidak langsung kekuatan di pihak kita akan bertambah," ucap Yao Mei tiba-tiba ikut berbicara.
Zhang Fei seketika menoleh ke arahnya. Dia tampak terkejut. Ketua Dunia Persilatan tidak percaya bahwa Yao Mei akan setuju dengan apa yang disampaikan oleh si Pengemis Tongkat Sakti.
"Baiklah. Karena kalian semua setuju, maka aku tidak bisa menolaknya lagi," katanya seraya mengangkat kedua pundak.