
Di dalam ruangan besar itu, pada saat ini pria tua berpakaian hijau sedang berbicara di depan semua orang yang ada.
"Aku turut prihatin dengan peristiwa yang menimpa saudara kita beberapa hari lalu," katanya dengan suara yang serak parau.
"Peristiwa itu benar-benar mengejutkan. Aku sendiri tidak menyangka bahwa Kelompok Bunga Merah ternyata bisa dihancurkan oleh seorang bocah ingusan," sambung rekannya yang berpakaian hitam.
"Ya, siapapun yang mendengar berita ini, pasti akan sama terkejut," sahut yang lainnya.
Hartawan Ouw yang sebelumnya diam, sekarang mulai berbicara.
"Awalnya aku juga sama seperti kalian. Tapi setelah tahu siapa pemuda itu, aku jadi tidak terlalu heran," katanya dengan nada tenang. Seolah-olah peristiwa di markas Kelompok Bunga Merah itu tidak berarti apa-apa baginya.
"Memangnya, siapa pemuda itu, Tuan?" tanya pria yang mengenakan pakaian hijau kembali.
"Dia bermarga Zhang dan bernama Fei. Ia adalah pendekar muda yang belakangan ini sedang ramai dibicarakan oleh orang-orang,"
"Oh, jadi pendekar muda itu yang dimaksud?"
"Benar. Tidak salah lagi,"
"Tapi, kenapa dia berani mencari masalah dengan kita?"
"Aku sendiri tidak tahu. Sepertinya dia memang ingin menghalangi pekerjaan kita ini,"
"Keparat!" Ketua Kelompok Bunga Hitam mengepalkan tangan. Ia bicara sambil menggertakkan giginya karena sudah terbawa emosi.
"Bagaimanapun juga, pemuda itu harus kita bereskan,"
"Kalian tenang saja," kata Hartawan Ouw kemudian. "Aku sudah menyebarkan orang-orang untuk mencari dan menangkapnya. Walaupun belum mendapatkan hasil, tapi cepat atau lambat, kita pasti akan mendapatkannya,"
Dia berhenti sebentar, memandangi orang-orang yang ada di dalam ruangan itu. Beberapa saat kemudian, terdengar dia bicara lagi.
"Sekarang lebih baik kita bicara yang selanjutnya,"
"Baik, Tuan,"
"Kami mengerti,"
Hartawan Ouw menganggukkan kepala. Dia berkata, "Kota ini sudah berhasil kita kuasai. Aku ingin memperluas wilayah ke kota lain sambil tetap mendatangkan rekan-rekan kita yang berasal dari negeri asing. Tujuannya supaya ke depan, kita bisa lebih mudah lagi apabila ingin memperluas kekuasaan,"
Semua pemimpin dari kelompok masing-masing menganggukkan kepala. Mereka sepertinya setuju dengan niat Hartawan Ouw yang ingin memperluas wilayah kekuasaannya.
"Aku setuju, Tuan. Tapi, apakah rencana ini sudah diketahui oleh Ketua Partai Panji Hitam?"
"Justru dialah yang menyuruhku untuk melakukannya. Kalau tidak ada perintah dari beliau, bagaiamana mungkin aku berani bertindak?"
Pembicaraan di antara orang-orang itu rupanya menyangkut tentang perluasan wilayah dan dunia persilatan.
Tidak salah lagi, Hartawan Ouw ternyata masih bagian dari Partai Panji Hitam.
Bukitnya saja, beberapa kali dia membicarakan partai tersebut. Dan pada saat bicara itu, ia tampak begitu menghormatinya.
Zhang Fei dan dua Datuk Dunia Persilatan yang ada di atas atap, seketika langsung merasakan darahnya mendidih. Apalagi setelah mereka mendengar pembicaraan itu.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus membunuh mereka semua," kata Zhang Fei. Tanpa sadar, dia berbicara cukup kencang.
"Siapa di sana?" salah seorang yang berada di dalam ruangan tiba-tiba membentak nyaring. Sepertinya mereka juga mendengar ucapan Zhang Fei barusan.
"Gawat, kita ketahuan," kata Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Semuanya sudah terlanjur. Kita bergerak sekarang saja," sahut Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Wushh!!! Wushh!!! Wushh!!!
Tiga orang itu seketika melompat ke bawah. Genteng atap langsung hancur berhamburan.
Mereka jatuh tepat di atas meja besar. Makanan dan minuman yang sebelumnya tertata rapi, saat ini sudah berantakan. Ruangan itu langsung berubah hanya dalam waktu singkat.
Melihat ada penyusup masuk, Hartawan Ouw dan orang-orangnya langsung mengambil sikap waspada. Mereka mengurung Zhang Fei dan lainnya.
"Aku adalah orang yang sedang kau cari-cari," jawab anak muda itu dengan dingin.
"Oh, jadi kau yang bernama Zhang Fei?"
"Benar,"
"Bagus. Dicari tidak ketemu, tidak dicari malah datang sendiri,"
Hartawan Ouw tertawa lantang sampai perutnya yang penuh lemak itu naik turun dengan cepat. Setelah puas tertawa, kembali dia berkata. "Anak muda, nyalimu besar juga sehingga berani datang kemari,"
"Tentu saja aku berani, memangnya, kenapa harus tidak berani?"
Zhang Fei dan Hartawan Ouw mulai terlibat dalam adu mulut. Sedangkan Dewa Arak Tanpa Bayangan dan Orang Tua Aneh Tionggoan, saat ini justru sedang menikmati arak yang tersisa.
Kedua tokoh dunia persilatan itu seolah-olah tidak menghiraukan semua peristiwa yang sekarang sedang terjadi di sana. Mereka tetap minum arak dengan nikmat.
"Hemm, tua bangka dari mana yang berani bersikap sombong seperti ini?" Ketua Kelompok Bunga Hitam bicara dengan nada sinis. Ia menyindir dua Datuk Dunia Persilatan.
"Kau berbicara dengan kami?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan mewakili sahabatnya.
"Tentu saja. Bukankah di ruangan ini, hanya kalian berdua saja yang sudah bau tanah?"
Suasana di sana mulai memanas. Kedua belah pihak yang terlibat mulai terpancing emosinya.
"Anak Fei, sekarang!"
Dewa Arak Tanpa Bayangan memberikan isyarat. Zhang Fei mengerti maksudnya, maka dari itulah dia langsung melancarkan serangan pertamanya.
Wutt!!!
Ia melayangkan pukulan ke arah Hartawan Ouw dengan gerakan cepat. Tapi sebelum serangan tiba, ada dua orang pengawal pribadinya yang lebih dulu menyambut serangan itu.
Di sisinya, tepat pada saat Zhang Fei menyerang, orang-orang dari dua kelompok juga ikut melakukan hal serupa.
Mereka menyerang dua Datuk Dunia Persilatan!
Suara berat dan nyaring telah terdengar. Semua yang ada di dalam ruangan, hanya dalam waktu singkat telah hancur berantakan.
Karena ruangan itu tidak cukup untuk menjadi ajang pertarungan, akhirnya Zhang Fei dan yang lain memutuskan melompat keluar.
Mereka memilih halaman yang cukup luas sebagai tempat pertempurannya!
Beberapa saat kemudian, orang-orang yang tadi ada di dalam ruangan, kini semuanya sudah ada di halaman.
Tidak mau membuang waktu lebih lama, mereka segera melanjutkan kembali pertarungan yang tadi sempat terhenti.
Wushh!!! Wutt!!! Wutt!!!
Pihak Hartawam Ouw menyerang lebih dulu. Mereka melancarkan serangan yang berbeda kepada lawannya masing-masing.
Pada saat itu, Zhang Fei telah menghadapi dua orang pengawal Hartawan Ouw, melihat keduanya menyerang, maka dia pun langsung menyambutnya dengan sigap.
Plakk!!! Plakk!!!
Benturan telapak tangan terjadi. Dua orang itu terdorong mundur dua langkah ke belakang. Sedangkan Zhang Fei hanya terdorong setengah langkah.
Karena sadar waktu yang dimilikinya tidak banyak, akhirnya anak muda itu memutuskan untuk langsung mengeluarkan jurus tangan kosong miliknya.
"Meraih Rembulan di Langit Barat!"
Ia berteriak sambil melesat ke depan sana. Serangkaian pukulan yang berbahaya itu sudah digelar. Dua orang pengawal pribadi Hartawan Ouw tercekat, mereka tidak menyangka bahwa anak muda itu ternyata mampu bergerak secepat kilat.
Namun karena situasinya sudah tidak memungkinkan, terpaksa mereka pun melayaninya dengan jurus yang dimiliki.
Pertarungan di halaman itu sudah dimulai. Teriakan dan bentakan nyaring terdengar mewarnai jalannya pertempuran.
"Anak Fei, jangan membuang waktu. Lebih cepat, itu lebih baik lagi," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan bicara melalui pikirannya.