
Sekitar sepuluh menit kemudian, pesanan Pek Ma sudah diantarkan oleh orang tua tadi. Bau harum dari sayur itu tercium dengan jelas.
Begitu hidangan sudah berada di atas meja, guru dan murid itu langsung menyantapnya selagi hangat.
Selama menyantap hidangan, keduanya tidak bicara. Mereka terus fokus kepada makanannya masing-masing.
Zhang Fei makan dengan lahap. Apalagi dari kemarin dirinya belum makan.
"Guru, setelah ini kita akan ke mana lagi?" tanyanya setelah ia menyelesaikan sarapan.
"Nanti kau akan segera tahu," ujar Pek Ma.
Kedua orang itu tidak berlama-lama. Sekitar lima menit kemudian, mereka segera membayar biaya dan langsung pergi dari warung makan tersebut.
Siang harinya, guru dan murid itu sudah berada di sebuah tebing. Tebing tersebut terletak di bukit yang berdekatan dengan hutan yang terdapat di sekitar Kota Luoyang.
Zhang Fei dan Pek Ma duduk secara berhadapan. Di sana juga ada dua guci arak keras.
Siang hari ini terasa panas. Matahari bersinar dengan terik. Di langit tidak ada awan. Sehingga wajar apabila panasnya lebih menyengat kulit.
Untunglah rasa panas itu bisa berkurang karena hembusan angin pegunungan yang tidak pernah berhenti.
Sampai sekian lama, di antara mereka belum ada yang bicara. Hanya suara arak masuk ke tenggorokan saja yang bisa terdengar.
"Guru, kenapa guru bisa tahu kalau aku berada di kediaman Hartawan Wang dan menjadi tahanannya?" tanya Zhang Fei memecahkan keheningan.
Pertanyaan ini sudah ada di dalam pikirannya sejak kemarin. Dia sungguh penasaran terkait gurunya yang bisa mengetahui dia sedang berada di mana.
Sungguh, Zhang Fei sangat heran. Maka dari itu dia memutuskan untuk menanyakannya secara langsung.
Sementara itu, Pek Ma tersenyum lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan Zhang Fei. Ia pun menenggak araknya sebanyak dua kali.
Setelah itu barulah orang tua tersebut menjawabnya.
"Asal kau tahu saja anak Fei, selama ini, aku selalu mengikutimu dari belakang,"
"Apa? Jadi, guru selalu ada di belakangku?"
"Ehmm, benar," katanya membenarkan.
"Tapi, kenapa aku tidak pernah melihat dan merasakan kehadiran guru?"
Zhang Fei semakin bingung. Kalau memang gurunya selalu menguntit, lalu kenapa dia tidak bisa melihat atau bahkan merasakan kehadirannya?
Padahal, dia sendiri yakin terhadap kemampuan sendiri. Selama lima tahun berada di tempat yang sunyi, dia sudah dilatih luar dalam dengan keras.
Bahkan lima orang gurunya telah melatih kepekaan, baik lahir maupun batin.
"Hahaha ..." Pek Ma tertawa lagi. Bahkan tawanya cukup lantang sehingga menggetarkan pepohonan yang terdapat di sekitar sana. "Anak Fei, jangan lupa. kalau aku ingin menguntit seseorang, siapa pun tidak akan ada yang bisa mengetahuinya,"
"Hemm, benar juga. Pantas saja aku tidak pernah tahu,"
Anak muda itu baru sadar bahwa gurunya memang sangat ahli dalam hal menguntit. Karena itu, setelah menyadari akan hal tersebut, dia tidak banyak bicara lagi.
Zhang Fei terdiam lagi. Ia pun menenggak araknya cukup banyak.
"Kalau begitu, di mana guru yang lainnya?"
"Mereka sedang menjalankan tugasnya masing-masing,"
"Apakah guru tahu di mana mereka sekarang?"
"Aku tidak tahu pasti. Yang jelas, malam nanti mereka akan tiba di kota ini,"
"Jadi, kalian sudah berencana untuk bertemu di Kota Luoyang?"
"Tepat sekali,"
Zhang Fei mengerutkan keningnya. Ia merasa semakin penasaran.
Sebenarnya akan ada kejadian apa di Kota Luoyang? Kenapa gurunya, Lima Malaikat Putih, bahkan berencana untuk bertemu di sini?
"Ketahuilah anak Fei ..." orang tua itu mulai bercerita. "Keadaan di dunia persilatan saat ini semakin kacau. Pertempuran antar kelompok semakin banyak terjadi setiap harinya. Khususnya di Kota Luoyang ini,"
"Menurut informasi yang aku dapatkan, di kota ini terdapat satu organisasi yang sudah menggetarkan seluruh kota. Kemunculan organisasi ini masih baru, tapi apa yang mereka lakukan sudah bisa menggemparkan rimba hijau,"
"Memangnya organisasi apa, guru? tanya Zhang Fei memotong cerita Pek Ma.
"Organisasi Bulan Tengkorak,"
"Organisasi Bulan Tengkorak?" tanyanya menegaskan.
"Benar. Organisasi ini sangat berbahaya. Bahkan berdirinya saja baru dua tahun, tapi ketenarannya sudah sampai ke pelosok. Terutama sekali di Kota Luoyang,"
"Kenapa Organisasi Bulan Tengkorak bisa sangat terkenal di kota ini?"
"Karena markas pusatnya memang ada di sini,"
Pek Ma berkata dengan perlahan dan penuh penekanan. Ia sengaja melakukanya supaya Zhang Fei bisa mendengar dengan jelas.
"Tapi, bukankah di sini juga ada partai-partai besar?"
"Memang ada. Markas pusat Partai Gunung Pedang juga ada di sini,"
Zhang Fei menganggukkan kepala. Dia pernah mendengar tentang partai tersebut.
Menurut cerita gurunya dulu, Partai Gunung Pedang adalah salah satu partai menengah dalam dunia persilatan.
Walaupun termasuk ke dalam kelas menengah, tapi partai tersebut mempunyai nama yang cukup terkenal dan disegani oleh orang-orang rimba hijau.
"Kalau begitu, lalu kenapa mereka tidak memberantas Organisasi Bulan Tengkorak ini, guru?" tanyanya lebih jauh lagi.
"Alasannya satu,"
"Apa itu?"
"Partai Gunung Pedang tidak ingin menghadapi mereka sendiri. Sebab dari informasi yang didapat, Organisasi Bulan Tengkorak ini masih memiliki hubungan yang cukup baik dengan Partai Panji Hitam,"
Lagi-lagi Partai Panji Hitam!
Zhang Fei hanya bisa menahan nafas. Sepertinya partai itu memang sangat menakutkan, buktinya saja sampai saat ini, belum ada satu pun pihak yang benar-benar berani mengambil tindakan pasti.
"Kalau begitu, langkah apa yang mereka ambil untuk menghadapinya?"
"Ketua Partai Gunung Pedang telah mengundang beberapa tokoh persilatan untuk membantu menghadapi Organisasi Bulan Tengkorak. Dan mereka berencana untuk langsung menyerang ke markas utama dari organisasi tersebut,"
"Hemm, kapan penyerangan itu akan dilangsungkan?"
"Besok saat tengah malam tiba,"
"Jadi maksud guru datang kemari, kalian ingin memberikan bantuan kepada Partai Gunung Pedang?"
"Tepat sekali," kata Pek Ma membenarkan.
Sekarang Zhang Fei mengerti alasan kenapa lima orang gurunya datang ke Kota Luoyang ini.
Jadi masalah utamanya adalah terkait Partai Gunung Pedang yang ingin menyerang langsung ke markas Organisasi Bulan Tengkorak!
Pantas saja beberapa saat yang lalu, gurunya berkata bahwa di kota ini akan terjadi banjir darah.
Ternyata masalah itulah yang dimaksud olehnya.
Zhang Fei langsung terdiam setelah mengetahui semuanya. Dia memandang ke kejauhan sana.
Pek Ma menenggak guci arak kembali. Dia segera menghabiskan arak yang tinggal sedikit itu.
"Guru, sampai kapan kekisruhan ini selesai?" tanya Zhang Fei lagi setelah dia diam cukup lama.
"Entahlah, guru sendiri tidak tahu. Yang pasti, kalau orang-orang persilatan tidak mau bersatu, maka kekacauan ini akan terus berlarut-larut dalam waktu yang cukup lama,"
"Kalau begitu tinggal bersatu saja. Bukankah partai besar dari aliran putih pun cukup banyak? Lalu kenapa mereka tidak membentuk aliansi saja?"