Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Turun ke Lapangan


Satu bulan kemudian ...


Setelah terbentuknya Aliansi Kekaisaran Song itu, serangan demi serangan mulai bermunculan di berbagai daerah sekitar. Serangan itu tidak berasal dari satu kelompok, bahkan dari beberapa kelompok sekaligus.


Musuh-musuh yang selama ini hanya berani menyerang secara sembunyi-sembunyi, sekarang telah berani menyerang secara terang-terangan.


Hal itu bisa terjadi karena mereka telah melihat bahwa saat ini adalah waktu paling tepat untuk melancarkan aksinya dalam rangka usaha menguasai Kekaisaran Song.


Masing-masing kubu berpikir bahwa Kekaisaran Song sudah berada di titik paling lemah. Hal itu bisa dilihat dari semakin sedikitnya jumlah pendekar yang berkeliaran. Dan semakin surutnya tokoh-tokoh yang biasa terdapat di setiap tempat.


Selain daripada itu, alasan lainnya adalah karena mereka mendapat informasi bahwa prajurit Kekaisaran yang bertugas di beberapa titik pun sudah banyak berkurang.


Mereka tidak tahu, ini semua justru adalah perangkap yang telah dipasang oleh Kaisar dan juga Ketua Dunia Persilatan.


Walaupun keduanya tidak banyak berdiskusi terkait masalah ini, tapi masing-masing dari mereka sudah mempunyai cara tersendiri untuk menghadapinya.


Berkat bantuan dari orang-orang yang sudah ahli di bidangnya, pada akhirnya rencana itu berhasil disusun dan dibuat secara sempurna.


Khusus di pihak Kekaisaran, sebelum Kaisar Song Kwi Bun memberi perintah kepada para prajurit dan Jenderalnya untuk berperang, dia lebih dulu menyuruh mereka untuk membawa pergi para warga yang tinggal di daerah rawan.


Hal itu dilakukan supaya meminimalisir jumlah korban jiwa yang tidak bersalah.


Kaisar tidak mau rakyatnya banyak yang menjadi korban keganasan musuh, maka dari itulah dia memerintahkan orang-orang untuk mengungsikan mereka ke tempat yang jauh lebih aman.


Berkat kecepatannya dalam bertindak, berkat perhitungan para pembantunya yang tepat, akhirnya apa yang dia harapkan itu bisa benar-benar terbukti.


Ketika perang dimulai, tempat-tempat itu sudah kosong. Rumah-rumah warga banyak yang ditinggalkan begitu saja. Desa kecil yang berada di pelosok, kota sekitar yang berada di titik rawan perang, saat itu sudah menjadi tempat yang tidak berpenghuni.


Pihak musuh yang telah melakukan serangan pun merasa terkejut akan hal tersebut. Mereka tidak menyangka bahwa Kaisar ternyata akan bertindak lebih cepat dari mereka.


Akibat hal itu, mereka kebingungan sendiri. Biasanya, orang-orang tersebut akan mencari gara-gara di desa atau kota yang menjadi sasarannya. Mereka akan merampas harta, menjarah, memperkosa dan melakukan tindakan kriminal lainnya.


Tapi sekarang? Sekarang mereka tidak bisa melakukan itu semua.


Pada akhirnya orang-orang itu bingung harus berbuat apa. Mereka bingung mencari perbekalan di perjalanan. Mereka juga tidak tahu harus mencari makanan ke mana.


Sebab semua tempat yang biasa dijadikan sasaran, kini telah mati!


Di Gedung Ketua Dunia Persilatan, hampir semua pendekar yang tergabung dalam Aliansi Kekaisaran Song, sudah dikerahkan ke berbagai titik rawan perang.


Setiap beberapa hari sekali, akan ada pendekar atau mata-mata yang datang untuk memberikan laporan.


Beberapa hari yang lalu, lima Datuk Dunia Persilatan juga sudah terjun ke lapangan untuk menghadapi musuh-musuh tangguh. Mereka disebar ke beberapa titik sekaligus.


Meskipun perjuangan yang dilakukan olehnya masing-masing terbilang keras dan melelahkan, namun semua itu segera tergantikan dengan kemenangan yang selalu diharapkan!


Dalam waktu yang bersamaan, sebenarnya Zhang Fei juga ingin turun langsung ke lapangan. Dia ingin membantu para pendekar dan yang lainnya dalam menghadapi musuh-musuh dari luar.


Namun sayang sekali, Zhang Fei tidak bisa melakukan hal itu. Walaupun dia sudah memaksa, ia tetap tidak mampu melakukannya!


Para Datuk Dunia Persilatan selalu menahan Zhang Fei untuk terjun langsung ke lapangan dengan alasan bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuknya.


Pernah suatu hari dia memaksa, dan Dewa Arak Tanpa Bayangan secara tegas berkata. "Anak Fei, kau harus tetap diam di dalam Gedung Ketua Dunia Persilatan ini. Untuk sementara waktu, setidaknya kau tidak boleh turun tangan. Aku khawatir kau menemukan lawan tangguh dan nantinya, hal buruk akan terjadi kepadamu,"


Sebenarnya Zhang Fei mengerti dan memahami kenapa para tokoh itu melarangnya untuk turun saat ini.


Mereka takut dia pulang tinggal nama. Mengingat bahwa musuh-musuh itu, salah satunya adalah mengincar nyawa Zhang Fei.


Ia paham betul akan hal tersebut!


Tapi kalau harus tetap diam, mau bagaimana? Apakah ia baru boleh turun tangan setelah korban di pihaknya bertambah banyak? Ataukah selama perang berlangsung, dia hanya boleh menjadi penonton?


Tidak! Zhang Fei tidak bisa terus-menerus berdiam dan membiarkan perang terus berlangsung!


Bagaimanapun juga, dia harus turun tangan!


Ketika ia sedang melamun dan memikirkan hal tersebut di ruang pribadinya, tiba-tiba pintu diketuk orang.


Seorang petugas segera masuk dan memberikan laporan.


"Ketua Fei, ada surat untuk Ketua," katanya setelah memberi hormat.


"Surat dari siapa?" tanyanya penasaran.


"Dari salah satu anggota Organisasi Pedang Cahaya,"


"Mana suratnya?" Zhang Fei menjawab cepat.


Petugas itu kemudian memberikan surat tersebut. Begitu diterima, Zhang Fei segera membacanya.


"Ketua Fei, di Desa Hu ada perang yang cukup besar. Kami pun saat ini berada di kota tersebut. Kami melihat, di antara pendekar yang ikut bertempur, ada seorang gadis cantik yang mempunyai ciri-ciri persis seperti Nona Mei,"


Isinya hanya itu saja. Walaupun tidak ada nama pengirimnya, tapi Zhang Fei tahu siapa yang telah mengirimkan surat tersebut.


Ia segera melipatnya dan kembali berbicara kepada petugas itu.


"Panggil Paman A Cu kemari," katanya memberi perintah.


"Baik, Ketua,"


Petugas tersebut segera pergi untuk memanggil A Cu. Beberapa saat kemudian, orang yang dipanggil segera masuk ke dalam ruangan.


"Apakah Ketua Fei memanggilku?" tanyanya.


"Ya, Paman Cu. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan,"


A Cu mengangguk. Dia menunggu Zhang Fei bicara lagi.


Perlu diketahui, A Cu adalah seorang pria tua yang usianya sudah mencapai enam puluhan tahun. Dalam Gedung Ketua Dunia Persilatan, ia menjabat sebagai Kepala Penasihat.


Kemampuannya dalam ilmu silat juga tidak boleh dipandang rendah. Ketika usia mudanya, ia termasuk ke dalam jajaran pendekar yang ditakuti lawan dan disegani kawan.


Maka dari itulah, tidak heran kalau ia mendapat yang cukup tinggi di Gedung Ketua Dunia Persilatan.


"Di Desa Hu saat ini sedang terjadi pertempuran yang cukup hebat. Aku menitipkan posisimu kepadamu untuk sementara waktu ini, Paman," kata Zhang Fei setelah beberapa saat kemudian.


"Tunggu dulu. Lalu, Ketua akan pergi ke mana?"


"Aku akan pergi ke sana untuk memberikan bantuan,"


"Tapi Ketua ..."


"Jangan banyak membantah. Ini adalah perintah!" katanya dengan tegas.


A Cu tidak menjawab. Dia terlihat ragu dan takut.


Mungkin dirinya takut dimarahi oleh para Datuk Dunia Persilatan.


"Jangan khawatir, aku yang akan bertanggungjawab kalau para Datuk Dunia Persilatan memarahimu, Paman," ucap Zhang Fei seolah mengetahui isi hatinya saat itu.


"Baiklah, Ketua," jawabnya menurut.