
Para tokoh utama yang berada di dalam Gedung Ketua Dunia Persilatan, kini semuanya telah berada di halaman depan yang luas. Di belakang mereka, ada sekitar tiga puluh pendekar dan mata-mata yang kemampuannya setara dengan pendekar kelas dua dan satu.
Mereka semua sudah siap. Siap untuk menyambut tamu yang akan datang!
Seorang petugas memberi isyarat bahwa pasukan Partai Panji Hitam sudah berada dalam jarak yang cukup dekat.
"Buka pintu gerbang!" kata Zhang Fei setelah menerima laporan tersebut.
Dua orang petugas menarik tangan yang panjang dan besar. Pintu gerbang yang tinggi dan kokoh itu langsung terbuka lebar.
Seketika segera dilihat bahwa di depan sana ada seratus orang lebih yang datang secara bersamaan.
Di pihak Partai Panji Hitam, Dewa Sesat Tiada Tanding tampak terkejut. Dia tidak menyangka bahwa kedatangannya itu akan mendapat sambutan khusus.
Sepasang matanya menatap tajam. Kedua alisnya seketika terangkat ketika dirinya melihat bahwa di halaman depan, para tokoh dunia persilatan sudah berdiri dan menunggunya.
'Celaka! Sepertinya kedatanganku telah diketahui lebih dulu,' batinnya berkata.
Dia merasa sedikit khawatir. Namun untuk membatalkan niat, tentu saja hal itu sangat tidak mungkin.
Jadi secara terpaksa, dia terus memberi perintah untuk maju tanpa keraguan.
Mereka baru berhenti setelah tiba melewati pintu gerbang.
Saat itu, Zhang Fei segera maju lima langkah ke depan. Dia melemparkan senyuman kepada ratusan orang yang berdiri di depannya.
"Selamat datang di Gedung Ketua Dunia Persilatan, Tuan-tuan. Aku selaku Ketua, merasa sangat terhormat karena kedatangan kalian ini," katanya menyapa sambil membungkukkan badan.
Zhang Fei menatap sekilas ke arah Dewa Sesat Tiada Tanding. Setelah itu, dia melanjutkan lagi ucapannya. "Maaf kalau aku tidak menyambut kalian dengan baik. Sebenarnya, aku ingin mengajak kalian untuk pesta arak. Tapi sayang sekali, jumlah kalian terlalu banyak. Sehingga maafkan kalau aku membatalkan niat tersebut,"
Ketua Dunia Persilatan berkata dengan suara keras. Semua orang yang ada di sana bisa mendengarnya secara jelas.
Dewa Sesat Tiada Tanding tersenyum dingin. Namun sebisa mungkin, dia tetap tenang dan menjaga sikapnya.
"Suatu kehormatan juga karena kedatangan kami bisa disambut langsung oleh Ketua Fei yang menjabat sebagai Ketua Dunia Persilatan. Maaf kalau kedatangan kami sangat mendadak dan tidak memberi kabar sebelumnya," ia berpura-pura membalas keramahan Zhang Fei.
Padahal yang sebenarnya, tokoh sesat itu sedang menutupi ketakutan sekaligus keraguannya.
Di antara rangkaian kejadian ini, yang paling mengejutkan adalah bahwa di Gedung Ketua Dunia Persilatan, ternyata ada lima tokoh utama yang ikut hadir.
Sungguh, dia tidak menyangka. Padahal tadinya, dia menduga bahwa para Datuk Dunia Persilatan itu sedang tidak ada. Mengingat bahwa peperangan terus-menerus terjadi.
Siapa nyana, ternyata mereka malah ada di Gedung Ketua Dunia Persilatan.
Siapa pun yang berada di posisinya saat itu, pasti akan merasakan hal serupa.
"Hahaha ..." Zhang Fei tertawa setelah mendengar ucapan Dewa Sesat Tiada Tanding. "Tidak masalah, Tuan. Tapi kalau boleh tahu, sebenarnya apa niat utama kalian sehingga datang kemari?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
"Sebenarnya, kedatangan kami kemari adalah karena ingin bersilaturahmi,"
"Oh, apakah bersilaturahmi dengan pertempuran?" ia bertanya sambil tersenyum dingin.
"Bisa dibilang begitu,"
"Baiklah. Supaya tidak membuang-buang waktu, mari kita mulai silaturahmi ini,"
Begitu ucapannya selesai, para pendekar yang ada di belakangnya langsung melakukan persiapan. Masing-masing dari mereka segera memegang senjata dan menyiapkan jurusnya.
Di pihak lain juga sama. Dewa Sesat Tiada Tanding segera memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk bersiap melancarkan serangan.
Pancaran sinar mentari pagi terasa menyegarkan tubuh. Sebenarnya keadaan seperti ini, sangat cocok untuk dinikmati bersama teh hangat dan hidangan pelengkap lainnya.
Sayang sekali, saat ini merupakan keadaan yang berbeda.
Kedua belah pihak tidak bisa melakukan kebiasaan tersebut. Sebab mereka harus melangsungkan pertempuran demi memperjuangkan tujuan dan haknya masing-masing.
"Serang!" Dewa Sesat Tiada Tanding berteriak dengan keras.
Suaranya menggelegar bagaikan halilintar. Sebelum teriakan itu lenyap, semua orang-orangnya telah bergerak.
Para anggota ada yang langsung menarik tali busur. Satu tarikan nafas kemudian, hujan anak panah pun langsung terjadi di halaman depan Gedung Ketua Dunia Persilatan.
Wutt!!! Wutt!!!
Puluhan sampai ratusan titik hitam turun dari langit secara serempak. Para tokoh dari Gedung Ketua Dunia Persilatan langsung melompat tinggi dan menyambut datangnya anak panah itu.
Sedangkan para pendekar lainnya, mereka segera menerjang ke depan dan menyambut anak panah yang langsung di arahkan ke target sasaran.
Pertempuran yang melibatkan banyak orang langsung terlibat detik itu juga. Para pendekar di bawah kepemimpinan Zhang Fei segera menyerbu.
Dilihat dari cara mereka bergerak dan mendekatkan diri, rasanya hal itu tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Apalagi para pendekar tersebut masuk dalam tokoh-tokoh yang mempunyai kemampuan lumayan.
Walaupun kalah dalam jumlah, tapi bukan berarti mereka akan kalah dalam kekuatan!
Berbeda dengan pihak Partai Panji Hitam. Meskipun mereka membawa banyak orang, namun rata-rata hanyalah anggota biasa dan pendekar kelas rendah.
Dari sini saja, siapa pun bisa menilai bahwa kemenangan pasti akan berpihak kepada Zhang Fei dan yang lainnya.
Wutt!!! Wutt!!!
Puluhan bayangan pendekar terus melesat ke sana kemari. Berbagai macam jurus dan senjata juga ikut berkelebat di tengah udara.
Mata-mata Gedung Ketua Dunia Persilatan apa lagi. Sekali mereka bergerak, maka sudah dipastikan bakal ada nyawa yang melayang percuma.
Pertempuran itu berjalan seru. Namun karena kalah dalam kekuatan, maka tidak heran kalau baru sebentar saja, sudah ada cukup banyak korban di pihak Partai Panji Hitam.
Benturan antar senjata, adu jurus dan hujan anak panah terus berlangsung. Semakin lama jalannya pertempuran, maka semakin banyak juga orang-orang yang menjadi korban.
Sekitar lima belas menit kemudian, sebagian pertempuran sudah hampir selesai. Sekitar sepuluh orang pendekar dari pihak Zhang Fei, tampak ada yang tergelatak di atas tanah kering dan berdebu itu.
Seluruh tubuh mereka sudah dipenuhi oleh anak panah yang menancap begitu dalam.
Zhang Fei mampu melihat hal tersebut. Hatinya terasa pilu.
Ternyata walaupun orang-orangnya mempunyai kemampuan cukup tinggi, kenyataan di lapangan tidak selalu sesuai dengan apa yang dibayangkan.
Di satu sisi, mereka mungkin seorang pendekar yang memiliki kemampuan. Di sisi lainnya, mereka juga seorang manusia yang mempunyai titik lemah dan kadang-kadang tidak waspada.
Sepuluh orang yang menjadi korban tersebut, rata-rata adalah mereka yang bersikap ceroboh.
Mereka hanya memperhatikan serangan dari depan saja. Sedangkan serangan dari sisi yang lain, tidak dihiraukan sama sekali.
Maka dari itu, tidak heran kalau anak panah yang menancap tersebut tersedia di seluruh tubuhnya.
Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit saja, puluhan nyawa manusia sudah melayang. Pemandangan ini benar-benar mengerikan. Apalagi dengan ditambahnya darah segar yang terus mengalir.