
Malam telah datang. Kegelapan segera menyelimuti seluruh muka bumi. Malam ini cuaca terasa dingin. Ini pertanda bahwa puncak musim kemarau telah tiba.
Suasana di Gedung Ketua Dunia terlihat sepi sunyi. Semua pendekar yang aliansi yang pada saat itu berada di sana, telah masuk ke dalam kamar masing-masing untuk melakukan istirahat.
Sementara di ruang pertemuan, saat ini di sana setidaknya sudah ada tujuh orang. Semuanya adalah orang-orang yang selalu berkecimpung dalam dunia persilatan.
Mereka adalah Zhang Fei, Yak Mei, Pendekar Pedang Perpisahan dan juga Empat Datuk Dunia Persilatan.
Suasana di ruangan tersebut masih hening. Tidak ada seorang pun yang berbicara. Yang terdengar hanyalah suara arak masuk ke tenggorokan.
Lewat beberapa waktu kemudian, tiba-tiba Dewa Arak Tanpa Bayangan membuka mulutnya.
"Ketua Fei, mengapa kau tidak mau mendengar ucapan kami?" tanyanya dengan nada dalam. Sorot matanya menatap lekat. Seolah orang tua itu ingin menelan Zhang Fei bulat-bulat.
"Apa maksudmu, Tuan Kiang?"
"Kau tak perlu pura-pura tidak mengerti. Jawab saja pertanyaanku, mengapa kau tidak mau mendengar ucapan kami semua?" tanya orang tua itu mengulangi.
Zhang Fei menghembuskan nafasnya sebelum memberikan jawaban. Setelah itu, ia baru bicara. "Baiklah. Aku akan menjawab,"
Ia berhenti lagi sekedar untuk mengambil nafas. Kemudian sambungnya, "Aku terpaksa tidak mendengarkan ucapan kalian karena aku tidak bisa terus-menerus berdiam diri di dalam gedung ini,"
"Memangnya kenapa?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan dengan cepat.
"Tuan Kai, coba kau bayangkan, semua pendekar sudah turun ke lapangan untuk melawan musuh-musuh yang ingin menguasai tanah air kita. Mereka berjuang tanpa memperdulikan keselamatan nyawa sendiri. Semua itu dilakukan demi membela negerinya. Sedangkan aku? Aku dipaksa untuk terus berdiam di sini tanpa melakukan apapun juga. Kalau kau ada di posisiku, kira-kira apa yang akan kau lakukan?"
Zhang Fei berkata dengan nada cukup tinggi. Ia memang kesal karena tidak diperbolehkan turun tangan. Padahal, pertempuran besar sudah dimulai.
"Tapi, Ketua Fei, ini semua demi kebaikan bersama. Sekarang bukan waktu yang tepat untukmu turun tangan," ujar Pendekar Tombak Angin ikut nimbrung dalam pembicaraan.
"Lalu kapan waktu yang tepat supaya aku bisa turun tangan? Apakah nanti setelah peperangan ini berakhir? Ataukah nanti ketika tercipta banyak korban jiwa di pihak kita? Apakah itu maksud kalian?"
Suasana di dalam ruangan menjadi tegang. Yao Mei yang tidak mengerti apa-apa ikut merasa tak enak hati setelah menyaksikan nada bicara Zhang Fei yang menggebu-gebu.
'Sebenarnya ada apa ini? Mengapa di antara mereka seperti sedang terjadi masalah?' ia bertanya-tanya dalam hatinya.
Sementara itu, Pendekar Tombak Angin seketika terdiam setelah mendengar perkataan Zhang Fei. Dia tidak tahu harus bicara bagaimana lagi.
Suasana di sana kembali hening. Tetapi ketegangannya bisa dirasakan semakin jelas lagi.
"Ketua Fei, aku rasa, kau sudah tahu bukan mengapa kami semua melarangmu untuk turun tangan saat ini?" tanya Dewi Rambut Putih memecahkan keheningan di dalam ruangan tersebut.
"Ya, aku tahu. Kalian melarangku karena beberapa alasan. Pertama, selama ini, para pendekar aliran sesat terus berusaha mencari dan ingin membunuhku dengan alasan bahwa aku adalah keturunan terakhir keluarga Zhang. Kalian takut para tokoh sesat itu akan menuntut balas kepadaku secara bersamaan, bukan?"
"Kedua, kalian takut aku akan menemukan lawan yang tangguh di medan peperangan. Apalagi kita belum benar-benar mengetahui setinggi apa kemampuan tokoh-tokoh aliran sesat dari Kekaisaran lain. Singkatnya, kalian khawatir kalau aku akan pulang tinggal nama, bukankah begitu?"
Zhang Fei menatap para tokoh dunia persilatan itu secara bergantian. Dia sedang menunggu jawaban dari mereka terkait penjelasannya barusan.
"Hahh ..." Dewa Arak Tanpa Bayangan tiba-tiba menghembuskan nafas panjang. "Benar, apa yang kau katakan itu memang benar, Ketua Fei. Karena alasan tersebutlah kami melarangmu turun ke medan pertempuran,"
Zhang Fei tiba-tiba tersenyum sinis. Kemudian dia berkata dengan nada dalam.
"Tuan Kiang, kalau memang begitu, lalu untuk apa aku berlatih berbagai macam ilmu silat? Selama ini, alasan kenapa aku berlatih berbagai macam ilmu, itu karena aku ingin membantu banyak orang. Aku juga ingin mewujudkan impian semua orang, termasuk juga impian kalian. Kalau begini caranya, lalu untuk apa aku melatih diri? Bukankah secara tidak langsung, pengorbananku selama ini adalah sia-sia?"
Ia menatap tajam para Datuk Dunia Persilatan. Dalam keadaan seperti sekarang, kewibawaan yang keluar dari tubuh Zhang Fei bisa dirasakan lebih jelas lagi.
"Lalu, apa yang kau inginkan untuk saat ini, Ketua Fei?" tanyanya setelah beberapa saat kemudian.
"Aku ingin turun tangan ke lapangan dan ikut berjuang bersama kalian semua," jawab Zhang Fei dengan tegas.
"Apakah kau yakin, Ketua Fei?"
"Aku sangat yakin!"
"Bagaimana ... bagaimana kalau nanti hal buruk terjadi kepadamu?"
"Aku sudah siap kalau memang harus kehilangan nyawa. Keluarga Zhang bukan manusia yang takut mati. Mereka rela mati asalkan membela kebenaran. Aku harap, kalian tidak akan melupakan perkataanku ini,"
"Hahh ... baiklah. Kalau begitu, kami akan mengizinkanmu untuk turun langsung," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak bisa menolaknya lagi.
"Tuan Kiang, mengapa kau mengizinkan Ketua Fei untuk melakukan itu?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan yang sejak tadi menutup mulut.
"Sebab meskipun dilarang juga akan percuma, Tuan Wu. Ketua Fei mempunyai watak yang keras. Semakin dilarang, dia akan semakin berani. Jadi, aku rasa tidak ada gunanya lagi melayang dia,"
"Baiklah, aku mengerti,"
Zhang Fei langsung tersenyum girang setelah mendengar jawaban tersebut.
Akhirnya ia diizinkan untuk turun ke medan peperangan.
Inilah yang sudah dia inginkan sejak awal! Inilah tujuannya!
Dengan begitu, posisinya sebagai Ketua Dunia Persilatan akan lebih berguna. Karena secara tidak langsung, dia akan memimpin peperangan besar tersebut.
Suara arak yang dituang ke dalam cawan dan masuk ke tenggorokan kembali terdengar. Satu masalah telah berhasil diselesaikan.
Sekarang, giliran mengurus masalah lainnya.
Dewa Arak Tanpa Bayangan menoleh ke arah Yao Mei yang sejak tadi menatap dengan ekspresi wajah bingung.
"Nona Mei, mengapa kau diam saja?" tanyanya basa-basi.
"Aku tidak mengerti apapun tentang masalah ini, Tuan Kiang. Jadi, aku hanya bisa mendengarkan saja,"
Orang tua itu lalu tertawa lantang. Setelah suara tawanya berhenti, dia segera menjelaskan semuanya secara singkat kepada gadis cantik tersebut.
Setelah mendengar semuanya, Yao Mei tampak lebih terkejut lagi.
"Zhang Fei ... benarkah ... benarkah sekarang kau telah menjadi Ketua Dunia Persilatan?"
"Kalau hal itu tidak benar, lalu mengapa aku bisa duduk di kursi ini?" jawabnya sambil tersenyum.
"Ah ... syukurlah. Aku ikut senang,"
Yao Mei tersenyum bahagia. Tanpa sadar dia segera memegangi tangan Zhang Fei yang kebetulan berada di atas meja, tepat di sisinya.
"Aku mengucapkan selamat untukmu. Selamat, Ketua Dunia Persilatan ..." katanya penuh arti.