
Suasana di sana langsung tegang. Para pendekar yang memutuskan untuk melibatkan diri dalam sayembara, saat ini terlihat sedang terkejut.
Mereka juga penasaran. Siapa sebenarnya pendekar bertopeng itu? Benarkah dia mempunyai julukan Pendekar Pedang Dari Selatan?
Orang-orang itu saling pandang. Mereka berbisik-bisik kepada rekannya masing-masing.
Sementara di atas mimbar, para petinggi dari Kelompok Bintang Langit juga menampilkan raut wajah serupa. Tetapi selain itu, mereka pun merasa kesal.
"Kau kenal siapa pendekar ini?" tanya salah seorang kepada petinggi di sisinya.
"Aku tidak tahu," jawabnya sambil menggelengkan kepala.
"Bagaimana denganmu?" tanya pria tua itu kepada yang lain.
"Aku juga tidak mengenalnya, Ketua. Bahkan mendengar julukannya sendiri, baru sekarang saja,"
Pria tua yang ternyata menjabat sebagai Ketua Kelompok Bintang Langit itu segera menampilkan ekspresi kecewa setelah mendengar jawaban dari para petingginya.
Dia mengalihkan pandangannya. Sekarang dirinya sedang memandang Zhang Fei mulai dari atas sampai bawah. Tatapan matanya begitu tajam, sepertinya dia sedang menyelidik.
"Kalau terus dibiarkan, bisa-bisa dia akan mengacaukan rencana yang telah kita buat," kata si Ketua setengah berbisik.
"Benar, Ketua. Hal itu juga yang sedang kami khawatirkan saat ini," seorang petinggi menyahut dengan cepat. Dia pun merasa takut kalau pendekar bertopeng itu akan merusak semuanya.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang, Ketua?"
"Untuk sementara, kita lihat saja dulu. Kalau situasinya sudah tidak bisa dikendalikan, barulah kita ubah semua rencana,"
"Baiklah, kami siap menjalankan perintah,"
Mereka kembali terdiam dengan posisi tetap. Sepasang matanya terus-menerus memandangi Zhang Fei.
"Tuan pendekar, mengapa kau melukai diriku?" tanya petinggi yang menjadi lawan Zhang Fei pada saat itu.
"Bukankah peraturannya memang seperti itu? Kau saja boleh membunuh para pendekar, masa aku tidak boleh melukaimu? Kalau begini caranya, bukankah ini sangat tidak adil?"
Zhang Fei membalikkan ucapan orang itu. Dia mengatakannya dengan nada sinis sambil melemparkan senyuman dingin.
Petinggi tersebut menjadi kesal sendiri. Rasanya, tidak mungkin dia harus menelan ludah di hadapan banyak orang.
Tetapi kalau ingin membalas perlakuan lawan, dia merasa tidak sanggup. Apalagi semuanya sudah terbukti.
"Baiklah. Kalau begitu ..." ia mencoba bangkit berdiri dan berusaha memulihkan tenaganya. Setelah selesai, orang itu langsung melanjutkan kembali ucapannya. "Mari kita bertarung sampai titik darah terakhir!"
Wushh!!!
Kutungan pedangnya dilemparkan dengan cepat.
Petinggi Kelompok Bintang Langit itu sendiri tiba-tiba menerjang ke depan. Dia langsung mengeluarkan jurus tangan kosong yang menjadi pamungkasnya pada saat itu juga.
Tidak perlu ditanyakan lagi, sudah tentu ia berniat untuk mengadu nyawa.
Melihat tindakan yang dilakukan oleh musuh, dengan segera Zhang Fei memberikan senyuman mengejek. Sebelum jurus lawan mengurung tubuhnya, Zhang Fei telah lebih dulu menyambut serangan tersebut.
Jurus Pedang Penakluk Jagad kembali digelar. Bayangan pedang segera menyelimuti muka bumi. Pertarungan sengit kembali berlangsung beberapa saat. Namun pada detik berikutnya, semuanya langsung berhenti total.
Pedang Raja Dewa masih berada di genggaman tangan Zhang Fei. Ujung pedang itu terlihat mengucurkan darah segar yang terus menetes ke lantai.
Di hadapannya, tampak ada seseorang yang sudah terkapar dengan posisi telungkup. Darah dari lehernya terus keluar tanpa berhenti.
Kejadian barusan berlangsung singkat. Tidak banyak orang-orang yang bisa menyaksikannya dengan jelas.
"Apakah masih ada lawan yang lain?" tanya Zhang Fei sambil melirik ke arah para petinggi Kelompok Bintang Langit.
Tidak ada jawaban dari pertanyaan tersebut. Para petinggi itu masih diam sambil menutup mulutnya.
"Ketua, apa yang harus kita lakukan sekarang? Sepertinya rencana kita benar-benar gagal," salah seorang petinggi berbisik di telinga si Ketua.
Sementara Zhang Fei, dia bersikap seolah-olah tidak mendengar ucapannya. Ketua Dunia Persilatan tersebut masih tetap berdiri menantang lawan.
"Kita langsung habisi saja mereka. Bukankah empat orang anggota kita sudah berada di titik yang telah ditentukan?" tanya si Ketua.
"Ya, aku rasa demikian, Ketua,"
"Bagus. Kalau begitu, beri tanda kepada mereka supaya melancarkan tugasnya sekarang juga,"
"Baik,"
Petinggi itu tiba-tiba bersuit sangat nyaring. Suaranya yang melengking tinggi, terasa begitu menusuk ke telinga.
'Rupanya kabar yang aku peroleh kemarin tidak sepenuhnya benar. Yang melawan para pendekar ternyata bukan si Ketua langsung. Melainkan hanya petinggi biasa saja,' batin Zhang Fei sambil mengamati mereka.
Terkait hal ini, sebenarnya dia tidak terlalu terkejut. Apalagi hal itu masih bisa dianggap wajar, mengingat mereka sedang menjalankan renca busuknya.
Cuma, yang membuat Zhang Fei kagum adalah karena orang-orang itu bisa menutupi informasi kelompoknya dengan sangat rapat.
Sementara itu, Zhang Fei yang melihat sikap musuhnya barusan segera tersenyum dingin. Dia sudah tahu apa yang sedang dilakukan oleh pihak lawan.
"Apakah kalian sedang memanggil empat orang yang membawa tabung bahan peledak dan jarum rahasia?" tanyanya sambil tersenyum sinis.
Para petinggi serentak memperlihatkan ekspresi terkejut ketika mendengar pertanyaan itu. Mata mereka juga melotot besar, seolah-olah hendak melompat keluar.
"Ba-bagaimana kau tahu?"
"Tentu saja aku tahu," Zhang Fei tiba-tiba tertawa menyeramkan. Selapis hawa pembunuh mendadak merembes keluar dari setiap bagian tubuhnya.
"Asal kalian tahu saja, keempat orang itu saat ini sudah menjadi mayat,"
"Omong kosong!" bentak si Ketua.
"Aku tidak sedang berbohong. Apalagi, aku sendiri yang telah membunuh mereka,"
Ekspresi terkejut kembali diperlihatkan oleh orang-orang itu. Mereka masih ragu. Antara setengah percaya, dan setengah tidak percaya.
"Coba kalian pikir, kalau memang benar empat orang itu masih hidup, mengapa sampai sekarang mereka belum menjalankan tugasnya?"
"Hemm ..." si Ketua mendengus sambil menatap Zhang Fei dengan penuh dendam.
"Hahaha ... kalian tidak menyangka bahwa rencana untuk membunuh para pendekar itu akan gagal, bukan?"
"Siapa kau sebenarnya?"
"Bukankah sudah aku katakan sebelumnya?"
"Ketua, lebih baik kita jangan banyak bicara dengannya. Sekarang, kita serang saja dia bersama-sama," bisik seorang petinggi.
"Kau benar. Kalau begitu, mari kita lakukan sekarang juga,"
Wushh!!! Wushh!!!
Para petinggi yang jumlahnya mencapai tujuh orang tersebut tiba-tiba melompat dari tempatnya masing-masing. Mereka kemudian mengurung Zhang Fei dari setiap penjuru yang ada.
Berbagai macam senjata sudah dicabut keluar. Mereka siap untuk mencabut nyawa lawannya!
"Para pendekar yang terhormat, aku harap mata kalian segera terbuka setelah melihat semua kejadian ini. Semoga saja kalian sadar bahwa sebenarnya, saat ini kalian sedang dijebak," kata Zhang Fei dengan tenang.
Walaupun tujuh orang sudah mengepungnya. Tapi dia tidak terlihat gentar sedikit pun. Dia bahkan masih bisa tersenyum hangat.
Sementara para pendekar di bawah sana, mereka langsung terkejut. Ucapan Zhang Fei barusan telah mengembalikan kesadarannya.
Akan tetapi ketika mereka ingin melibatkan diri, tiba-tiba dari arah lain juga muncul setidaknya dua puluh dua orang pria serba hitam.
Mereka bukan lain adalah anggota dari Kelompok Bintang Langit!