Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Orang Tua Bernasib Malang


"Hemm ..." orang tua itu mendengus dingin. Wajahnya terlihat geram. Tapi hatinya justru merasa tergetar.


Nyali mereka langsung ciut setelah melihat apa yang disaksikan oleh mata kepalanya sendiri. Mereka benar-benar tidak percaya bahwa dua puluh orang anak buahnya ternyata mampu dihabisi cukup mudah.


Meskipun mereka hanya setara pendekar kelas dua, tapi dengan jumlah yang cukup banyak itu, rasanya masih membutuhkan waktu sedikit lama untuk membunuhnya.


Siapa sangka, semuanya benar-benar terjadi diluar sangkaan mereka.


"Mengapa kalian masih belum menyerangku? Apakah merasa takut? Atau ... memang tidak berani?" tanya Zhang Fei kepada empat orang tua itu.


Dia melemparkan senyuman mengejek. Setiap uang melihatnya pasti akan langsung marah.


"Kami harus takut kepadamu? Jangan bermimpi! Lihat ini!"


Wushh!!!


Satu orang tua bergerak dengan cepat. Dalam waktu satu kedipan mata, dia sudah berhasil tiba di depan Zhang Fei. Satu buah pukulan yang membawa angin menderu langsung mengincar dadanya.


Tapi sebelum pukulan itu mengenai dada Zhang Fei, mata-mata yang berdiri di sisinya sudah bertindak lebih dulu.


Ia menangkis pukulan tersebut dengan kaki kanannya. Tendangan itu cukup keras, sampai-sampai membuat orang tua tadi terdorong tiga langkah.


'Rupanya kemampuan orang bercadar itu cukup lumayan juga. Buktinya saja dia mampu menahan jurusku dengan mudah,' batinnya sambil melirik ke arah mata-mata.


Wushh!!!


Dia bergerak lagi. Kali ini, dia segera memberikan pukulan beruntun yang datangnya bagaikan kilat. Yang diincar masih Zhang Fei. Namun lagi-lagi, usahanya tidak membuahkan hasil.


Mata-mata itu kembali mengambil langkah. Tendangan beruntun dilancarkan untuk menahan semua pukulan tadi. Sesekali, dia pun sempat menggetarkan pedangnya untuk membuat mundur lawan.


Usahanya itu berhasil. Orang tua tadi saat ini sudah kembali ke posisi awal. Dia tidak mau terlalu mengambil resiko untuk menahan sabetan pedang tadi.


Sementara itu, karena sudah menunggu cukup lama, namun lawan tidak juga menyerang, pada akhirnya Zhang Fei memutuskan untuk maju lebih dulu.


"Telapak Dewa Maut!"


Wutt!!!


Serangan telapak tangan dia lepaskan ketika dirinya berada di tengah udara. Deru angin yang dihasilkan dari jurus itu datang menggebu-gebu.


Sambaran anginnya bagaikan tornado yang melanda. Debu-debu dan dedaunan kering berhamburan lalu menyatu dalam satu gulungan.


Tiga orang tua yang menjadi targetnya tersentak dengan kehebatan jurus tersebut. Secara bersamaan mereka langsung mengambil langkah mundur.


Ketiganya mundur sejauh empat langkah. Namun ternyata Zhang Fei tidak membiarkan mereka lepas dari jeratannya. Dia terus mengeluarkan serangan jarak jauh menggunakan kedua telapak tangannya itu.


Alhasil, mau tak mau mereka berempat harus menghadapinya. Masing-masing dari ketiga orang tua itu segera mengeluarkan jurus untuk menangkis.


Blarr!!! Blarr!!!


Benturan jurus terjadi. Ketiganya terdorong dua langkah ke belakang. Tangan kanan mereka terasa ngilu setelah terjadinya benturan barusan.


Sedangkan Zhang Fei, ia hanya mundur sejauh setengah langkah saja. Itu pun dirinya segera berada dalam posisi bersiap.


"Pukulan Halilintar!"


Wutt!!! Duarr!!!


Pukulan jarak jauh yang mengeluarkan ledakan segera terjadi di sana. Ledakan yang tercipta itu bisa dibilang sangat keras. Kalau ada orang awam di sana, mungkin telinganya tidak akan berfungsi untuk beberapa saat.


Ketiga orang lawannya kembali terkejut. Apalagi setelah menyaksikan jurus pukulan barusan.


Wutt!!! Wutt!!!


Setelah terhindar dari jurus Pukulan Halilintar, mereka segera berpencar. Ketiganya kemudian melompat dari tiga penjuru berbeda.


Masih dalam waktu yang bersamaan, mereka segera mencabut senjatanya masing-masing. Satu batang golok, satu batang tombak dan sepasang posisi belati tahu-tahu sudah berada dalam genggaman tangan mereka.


Masing-masing dari serangan tersebut membawa jurus yang mampu merenggut nyawa manusia dalam waktu singkat.


Dengan kemampuannya yang setara pendekar kelas satu itu, rasanya tidak ada kesempatan lagi bagi Zhang Fei untuk mengambil langkah.


Namun siapa sangka, tepat sebelum ketiga serangan itu mengenai tubuh, Zhang Fei juga sudah mencabut Pedang Raja Dewa dari sarungnya.


Sringg!!!


Gerakannya mencabut pedang itu sangat cepat. Mungkin lebih cepat dari kedipan mata sekali pun. Mereka sendiri tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Trangg!!! Trangg!!!


Benturan antar senjata pusaka terjadi sebanyak tiga kali. Zhang Fei berhasil menangkis setiap serangan itu dengan sangat cepat.


Ketiga orang tua tercekat. Ketika mereka hendak mengambil langkah mundur, tahu-tahu Zhang Fei telah siap dengan serangan balasannya.


"Murka Pedang Dewa!"


Wushh!!!


Jurus pedang pamungkas segera dia keluarkan detik itu juga. Kilatan cahaya pedang yang terkena tempaan sinar rembulan, terlihat memukau. Memulai sekaligus menakutkan.


Sambaran pedang yang datang bagaikan kilat di tengah hujan deras. Tubuh Zhang Fei seperti lenyap dari pandangan mata. Yang terlibat oleh lawannya hanya kilatan pedang saja.


Benturan antar senjata terus terdengar. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Karena setiap kali terjadinya benturan, masing-masing senjata lawan langsung patah menjadi dua bagian.


Srett!!!


Darah segar menyembur bagaikan bunga api. Satu orang dari mereka langsung tewas setelah dadanya robek besar.


Tidak sampai di situ saja, Zhang Fei kembali melancarkan serangan lanjutannya. Tusukan pedang beruntun datang tanpa berhenti. Setelah berusaha bertahan beberapa jurus, akhirnya satu lawan kembali menemui ajal.


Ia langsung ambruk ke tanah setelah tenggorokannya ditembus oleh Pedang Raja Dewa.


Satu orang sisanya langsung merasakan takut sampai ke ubun-ubun kepala. Dia sudah tidak punya keberanian lagi untuk bertarung.


Setelah menyaksikan kematian dua orang rekannya, amarah yang sebelumnya meluap-luap, kini telah lenyap tanpa bekas.


Saat ini, yang dia inginkan hanyalah pergi menyelamatkan diri sejauh mungkin.


Namun sayangnya, hal itu tidak akan mungkin bisa terwujud. Harapannya untuk hidup, sama dengan harapan bisa naik ke atas langit.


Tentunya sangat-sangat mustahil!


"Jangan bermimpi kau bisa selamat dari jurusku!" kata Zhang Fei dengan tegas.


Srett!!!


Pedang Raja Dewa menebas dengan cepat. Satu buah kepala manusia tahu-tahu telah menggelinding ke atas tanah. Kejadian itu berlangsung cepat.


Bahkan korbannya sendiri mungkin tidak percaya. Ketika kepala miliknya jatuh ke tanah, tubuhnya masih sempat berdiri untuk beberapa saat.


Satu tarikan nafas kemudian, tubu tersenyum langsung ambruk ke tanah dengan darah yang terus keluar bagaikan air mancur.


Tiga petinggi yang sebenarnya berasal dari Partai Iblis Sesat, kini sudah merasakan akibat dari perbuatannya.


Tadinya, Zhang Fei tidak ingin membunuh mereka. Dia berniat untuk menghancurkan ilmu silatnya saja. Siapa nyana, ternyata ketiga orang tua itu malah memilih jalan lain.


Mereka lebih memilih mati daripada hidup menjadi orang yang cacat!


"Orang tua yang bernasib malang," gumam Zhang Fei sambil menghembuskan nafas panjang.


Sementara itu, hampir bersamaan dengan berakhirnya pertarungan tersebut, pertarungan milik mata-mata juga sudah ikut selesai.


Dia berhasil membunuh lawan dengan cara merobek isi perutnya!