
"Ketua," salah seorang tua yang lain tiba-tiba membuka mulut dan memecahkan keheningan di dalam ruangan tersebut. "Apakah semua warga desa telah tewas semuanya?"
"Aku tidak bisa memastikan hal itu. Hanya saja saat tiba di sana, aku tidak berhasil menemukan seorang warga sekali pun,"
Orang tua itu mengangguk beberapa kali. Dia bertanya lagi. "Kalau begitu, dari mana Ketua bisa mengetahui bahwa di desa ini sudah terjadi pembantaian?"
Zhang Fei tersenyum dingin lebih dulu. Sesaat kemudian dia langsung menjawab, "Kondisi rumah-rumah warga banyak yang rusak. Belum lagi di atas tanah ada banyak tetesan darah manusia. Lebih dari itu, aku juga menemukan keluarga Kepala Desa beserta para pegawainya, ikut tewas bersimbah darah di tengah ruangan,"
"Aih ... malang sekali nasib mereka," orang tua yang paling kiri menghembuskan nafas berat. Seolah-olah dirinya memang menyayangkan kejadian tersebut.
"Orang yang sudah melakukan pembantaian ini benar-benar laknat. Dia harus dihukum dengan penderitaan yang serupa," Ketua Cabang Partai Pengemis berseru tegas. Urat-urat lehernya menegang. Otot di punggung tangan juga menyembul keluar.
"Kau benar. Dan aku pun memang sudah berniat seperti itu. Aku tidak akan membunuh para pelaku tersebut, aku hanya akan menghancurkan ilmu silatnya sampai dia mengalami penderitaan seumur hidup,"
Zhang Fei berkata dengan nada yang jauh lebih serius. Dari setiap patah kata yang dia ucapkan itu seolah-olah mengandung daya kekuatan tersendiri.
Empat orang tua tersebut saling pandang satu sama lain. Tiba-tiba saja bulu kuduk mereka berdiri.
"Se-setuju. Aku setuju, Ketua," katanya sedikit gugup. "Dan aku rasa, balasan itu memang sangat setimpal,"
Zhang Fei tidak menjawab. Dia hanya diam saja.
Sedangkan Ketua Cabang segera melanjutkan lagi. "Lalu sekarang, apakah Ketua Fei sudah berhasil menemukan pelakunya?"
"Ya, aku sudah menemukan mereka semua,"
"Kapan Ketua mencarinya?"
"Beberapa saat yang lalu,"
"Baiklah. Kalau begitu, mari kita pergi sekarang juga untuk memberikan pelajaran kepadanya,"
"Tidak perlu pergi jauh-jauh," ucap Zhang Fei dengan santai.
"Eh, mengapa?" tanya orang tua itu kebingungan.
Sebelum bicara, Zhang Fei lebih dulu menurunkan kedua kakinya yang disimpan di atas meja. Setelah itu dia langsung memasang wajah serius serta memberikan jawaban.
"Karena pelakunya sudah ada di sini,"
"Di sini? Di sini di mana?"
"Persis di hadapanku," katanya sepatah demi sepatah.
Keempat orang tua itu kembali saling pandang. Mereka tampak kebingungan.
"Apakah yang dimaksud oleh Ketua, adalah kami?"
"Kalau bukan kalian, siapa lagi? Apakah di ruangan ini masih ada orang lain?"
"Hemm ... Ketua, sekarang bukan waktu yang tepat untuk bercanda,"
"Aku tidak bercanda. Aku serius," Zhang Fei segera bangkit berdiri. Dia menatap mereka secara bergantian. "Sudahlah, jangan berpura-pura bodoh lagi. Sejak awal, aku sudah tahu penyamaran kalian. Setiap jawaban yang diberikan itu, bagiku sangat tidak masuk akal,"
Keempatnya tetap diam. Mereka masih belum ada yang berbicara
"Ketua, apa maksudmu? Kami benar-benar tidak mengerti. Jawaban yang aku berikan itu serius. Mengapa kau bilang tidak masuk akal?"
Zhang Fei menarik nafas dalam, setelah dihembuskan kembali, dia langsung menjelaskan.
"Pertama, aku tahu bahwa kalian ini adalah manusia-manusia laknat yang sedang menyamar menjadi orang-orang Partai Pengemis. Coba pikir baik-baik, sejak kapan anggota Partai Pengemis mengenakan pakaian bersih? Sejak dulu, yang mengenakan pakaian bersih di Partai Pengemis hanya pemimpinnya saja. Itu pun tidak benar-benar bersih,"
"Kedua, kau mengatakan bahwa markas cabang ini sudah berdiri selama lima tahun yang lalu dan belum direnovasi? Coba ingat, waktu lima tahun itu cukup lama, sedikit banyaknya, pasti akan ada kerusakan di sana sini. Mau tidak mau, renovasi harus segera dilakukan. Tetapi, di sini aku melihat bahwa bangunan ini masih sangat baru. Bahkan semua barang-barang pun masih terlihat berantakan. Bukankah ini juga sudah ganjil?"
"Dan ketiga, aku mengatakan bahwa pembantaian itu terjadi di sana ini, tepatnya sekitar dua atau tiga hari yang lalu. Tapi, kau mengatakan tidak tahu sama sekali? Bukankah ini sangat lucu? Padahal seharusnya kalian bisa lebih tahu dari siapa pun juga. Markas cabang Partai Pengemis berada di sini, peristiwa itu pun terjadi di tempat yang sama. Sudah sepantasnya kalau anggota kalian juga selalu berkeliaran di setiap tempat untuk mencari derma (sedekah) orang lain. Jadi, mengapa bisa tidak tahu?"
Zhang Fei menjelaskan panjang lebar kepada empat orang tua di hadapannya. Apa yang tadi dia tanyakan, apa yang sebelumnya mereka jawab, barusan telah dia gabungkan untuk dijadikan sebuah penjelasan.
Setelah mendengarnya, seketika keempat orang tua itu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka hanya mampu duduk mematung di kursinya masing-masing.
"Sejak dulu, Partai Iblis Sesat memang selalu mencari gara-gara," katanya sambil tersenyum sinis.
"Hemm ..." orang yang sebelumnya diduga sebagai Ketua Cabang, tiba-tiba mendengus dingin. "Ternyata Ketua Dunia Persilatan sekarang tidak sebodoh yang aku pikirkan,"
"Tentu saja. Yang bodoh itu justru kalian,"
"Omong kosong!"
Wutt!!!
Belasan jarum berukuran sangat kecil tiba-tiba dilepaskan oleh salah satu dari mereka. Dengan jarak sedekat itu, rasanya sudah tidak ada waktu lagi untuk menghindarkan diri.
Untunglah sebelumnya Zhang Fei sudah mempersiapkan segalanya. Dengan gerakan kilat, ia segera mengangkat kursi di hadapannya.
Belasan jarum kecil tadi langsung menancap di seluruh bagian kursi yang sempat diduduki olehnya.
Wushh!!! Brakk!!!
Zhang Fei melemparkan kursi tersebut. Seorang dari mereka segera memukulnya dengan tenaga dalam sampai membuatnya hancur berkeping-keping.
Bersamaan dengan itu, Zhang Fei segera melayang mundur. Dia baru berhenti setelah berada di depan halaman.
Sedangkan empat orang tua tadi, mereka segera memanggil anak buahnya. Namun sayang sekali, tidak ada seorang pun anak buah yang bisa mendengar ucapannya.
Begitu berjalan ke halaman depan, mereka segera mendapati bahwa semua anak buahnya sudah terkapar di atas tanah dalam kondisi tidak bernyawa.
Melihat itu, keempatnya tentu merasa terkejut setengah mati.
Siapa yang telah membunuhnya? Apakah Ketua Dunia Persilatan? Tidak. Itu tidak mungkin. Apalagi sejak tadi, dia berada di dalam ruangan yang sama dengannya.
"Pembunuhnya ada di sini, mengapa kalian tetap diam di dalam?" tanya Zhang Fei sambil tersenyum sinis.
Empat orang tua itu langsung menoleh ke arah Zhang Fei. Mereka baru sadar, ternyata tepat di belakang Ketua Dunia Persilatan, ada lagi satu orang serba hitam yang sedang berdiri tegak.
Di tangan kanan dan kirinya ada sepasang pedang yang masih meneteskan darah segar.
"Kau benar-benar datang tepat pada waktunya," kata Zhang Fei memuji mata-mata itu.
"Terimakasih, Ketua. Kau terlalu memuji,"
Mata-mata itu kemudian melangkah. Sekarang dia telah berdiri di sisi Zhang Fei.
Dengan demikian, empat orang tua tadi bisa lebih jelas melihat sosoknya.