Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Halilintar Menyapa, Angin Menerjang


"Ketua, apakah kau sudah siap?" tanya salah satu dari ketujuh orang tersebut.


"Sejak awal aku sudah siap," jawab Zhang Fei sambil tersenyum hangat.


"Baiklah. Lihat pedang!"


Orang itu berteriak keras. Tubuhnya langsung meluncur ke depan sambil memberikan tusukan pedang beruntun yang diarahkan ke beberapa titik.


Enam orang sisanya tidak berdiri di tempat. Begitu melihat rekannya bergerak, mereka pun langsung melakukan tindakan yang sama.


Tujuh batang pedang sudah memburu ke arah Zhang Fei. Serangan mereka senjata cepat dan sulit dilihat dengan mata telanjang.


Zhang Fei memicingkan mata. Dia memperhatikan setiap batang pedang yang mengarah ke tubuhnya tersebut. Dia baru bergerak setelah ketujuh senjata tajam itu hampir mengenainya.


Wutt!!! Trangg!!!


Dentingan nyaring terdengar secara beruntun. Tujuh batang pedang tadi berhasil ditangkis dalam waktu yang relatif singkat.


Para anggota Organisasi Pedang Cahaya sempat terkejut. Mereka tidak percaya, ternyata serangan gabungan tersebut mampu ditangkis hanya dengan beberapa gerakan sederhana.


Kalau saja tidak mengalaminya secara langsung, niscaya mereka akan sulit mempercayai hal ini.


Namun terlepas apapun itu, Zhang Fei tetaplah Zhang Fei. Walaupun usianya masih terbilang muda, tetapi kemampuannya tentu tidak kalah dari para tokoh angkatan tua.


Wutt!!!


Empat batang pedang datang dari empat penjuru yang berbeda. Tiga orang sisanya segera menyusul. Yang satu dari atas dan mengincar batok kepala. Dua lainnya saat ini sedang mencari celah kosong yang tidak sengaja diciptakan oleh Zhang Fei.


Begitu menemukannya, mereka langsung mengambil tindakan cepat.


Kejadian seperti sebelumnya terulang. Tujuh batang pedang lagi-lagi mengancam seluruh tubuh Ketua Dunia Persilatan.


Bedanya, kali ini serangan mereka lebih bervariasi dan teratur. Empat orang menyerang, tiga orang sisanya menunggu kesempatan. Begitu seterusnya sampai beberapa jurus ke depan.


Untuk menghadapi serangan gabungan itu, secara diam-diam Zhang Fei telah mengeluarkan salah satu jurus pedang yang dia pelajari dari salah satu kitab pusaka ketika dirinya berlatih di dalam goa.


"Kilatan Pedang Membelah Bumi!"


Wutt!!!


Tubuhnya tiba-tiba menghilang dari pandangan mata. Detik berikutnya, tahu-tahu Zhang Fei sudah terbebas dari kepungan tersebut.


Begitu mendapatkan posisi yang baik, dia langsung berusaha membalikkan keadaan. Pedang Raja Dewa berkilat di bawah tempaan sinar mentari pagi.


Hawa pedang yang keluar terasa menekan dan membawa semacam rasa gentar di hari semua lawannya.


Perlahan tapi pasti, satu-persatu dari mereka mulai mencelat mundur ke belakang. Sekitar lima belas jurus kemudian, Zhang Fei sudah berhasil menyelesaikan pertarungan tersebut.


Dia belum memberikan komentar apapun. Setelah pertarungan itu mencapai batas yang telah ditentukan sebelumnya, Zhang Fei segera kembali ke posisi semula.


Dia kemudian menghimpun kembali tenaga dalam dan hawa murninya. Begitu semua persiapan sudah kembali normal, dia langsung berkata kepada anggota sisanya.


"Paman Goan dan yang lainnya, sekarang giliran kalian," ujar Zhang Fei sambil tersenyum.


Mereka yang dipanggil segera mengangguk sambil tersenyum. Keenam orang itu lalu berjalan ke tengah-tengah arena.


"Silahkan mulai,"


Tio Goan mengangguk. Setelah memberikan aba-aba, dia langsung maju menjadi orang yang pertama.


Wutt!!! Trangg!!!


Zhang Fei terkejut saat melihat kemampuan orang tua itu. Ternyata Tio Goan mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai taraf tinggi.


"Ilmu meringankan tubuhmu ternyata sudah sangat tinggi. Kau hebat, Paman Goan," katanya setelah dia berhasil menangkis tebasan pedang orang tua itu.


"Terimakasih. Ketua terlalu memuji," Tio Goan tersenyum sambil tetap bersikap waspada.


Sementara itu, hampir dalam waktu yang bersamaan, tiba-tiba dari arah belakang sana, ada seseorang yang berteriak cukup keras.


"Masih ada aku, Ketua Fei,"


Sekelebat bayangan manusia tahu-tahu sudah berada persis di belakang Zhang Fei. Dia memberikan tusukan yang dengan telak mengincar punggung.


Untunglah pada saat itu Zhang Fei sudah melakukan persiapan. Sehingga pada detik-detik terakhir tersebut, ia bisa mengambil tindakan.


Zhang Fei menggeser kaki berikut tubuhnya. Tusukan barusan tahu-tahu lewat satu jengkal di depannya. Setelah itu, ia segera memberikan serangan menggunakan telapak tangan.


Bukk!!!


Orang yang menyerang tersebut rupanya adalah Zhu Yun. Dan saat ini ia terdorong akibat hantaman telapak tangan barusan. Untung dia bisa menguasai diri dengan cepat sehingga mampu menguasai dirinya kembali.


"Tusukan pedangmu lumayan cepat. Sayangnya kau terlalu bertindak gegabah," kata Zhang Fei sambil tersenyum.


Zhu Yun juga tersenyum. Tetapi dia belum mengambil langkah yang berikutnya.


Wushh!!!


Empat orang sisanya tidak mau hanya berdiri seperti patung. Tanpa menunggu waktu yang lebih lama, mereka juga sudah bergerak secara bersamaan.


Kilauan batang pedang yang tajam terlihat begitu jelas. Empat batang pedang bergetar keras. Zhang Fei merasa kesulitan, buru-buru dia menarik mundur dirinya supaya tidak menjadi amukan pedang tersebut.


Trangg!!! Trangg!!!


Ia menangkis beberapa kali. Tetapi usaha tersebut tidak berhenti sampai di situ saja. Sebab setelah dirinya selesai menahan empat pedang, dari belakang sana sudah tiba lagi dua batang pedang yang lainnya.


Pertempuran yang cukup sengit segera berlangsung di halaman itu. Keenam orang anggota Organisasi Pedang Cahaya terus menyerangnya tanpa memberikan waktu jeda.


Zhang Fei mulai berlaku serius. Dia beranggapan bahwa pertarungannya yang sekarang, sedikit lebih menegangkan daripada pertarungan yang sebelumnya.


Di antara keenam orang tersebut, yang paling diperhatikan olehnya adalah dua orang. Yaitu Tio Goan dan juga Zhu Yun.


Menurutnya, kedua orang itu telah mempunyai dasar ilmu pedang yang sempurna. Pengalamannya di medan pertarungan juga tidak perlu diragukan lagi.


Walaupun Zhang Fei belum mendengar cerita mereka di masa lalu, tetapi dia sudah cukup tahu. Hal itu terjadi karena Zhang Fei bisa melihat bagaimana keduanya ketika menjalankan sebuah pertarungan.


Selama ini, Tio Goan dan Zhu Yun selalu tampil tenang. Walaupun sedang dalam keadaan bahaya, tetapi mereka tetap berhasil menguasai emosi di dalam jiwanya.


Bagi Zhang Fei, hal itu sangat berarti. Sebab dengan bersikap tenang, biasanya seseorang bisa berpikir lebih jernih dari yang seharusnya.


'Kalau begini caranya, aku harus mengeluarkan kembali salah satu jurus pedang kelas atas,' batinnya berkata.


Karena menyadari tidak ada jalan keluar kecuali cara itu saja, pada akhirnya Zhang Fei memutuskan untuk melakukannya.


"Halilintar Menyapa, Angin Menerjang!"


Wutt!!! Wushh!!!


Tusukan beruntun yang cepat bagaikan kilat tiba-tiba datang ke setiap lawannya, disusul kemudian dengan datangnya tebasan pedang bertenaga kuat yang mampu menghempaskan segalanya.


Keenam orang ahli pedang itu tercekat. Terutama sekali adalah Tio Goan. Sebagai salah satu tokoh angkatan tua, tentu saja dia cukup tahu jurus pedang apa yang digunakan oleh Zhang Fei sekarang.


"Murka Pedang Dewa!"


Belum lagi selesai akibat dari jurus sebelumnya, kini tahu-tahu Zhang Fei sudah mengeluarkan lagi jeuus andalannya.