
Sekarang, para tokoh dunia persilatan itu sudah kembali berada di ruang pertemuan. Walaupun hari masih terhitung pagi, namun mereka sudah memilih untuk pesta arak.
Beberapa pelayan segera datang dengan membawa berguci-guci arak dan makanan ringan. Setelah semua sajian selesai dihidangkan, para pelayan itu segera kembali ke belakang untuk melanjutkan tugas yang lainnya.
Saat ini, Yao Mei sedang menjelaskan semua kejadian yang telah menimpa dirinya kepada sang ayah. Gadis cantik itu bercerita secara lengkap mulai dari awal sampai akhir.
Tidak ada satu pun cerita atau kejadian yang ditutup-tutupi oleh Yao Mei. Dia memberitahukan semuanya secara gamblang.
Meskipun para tokoh yang lain sudah mendengar cerita tersebut, namun tetap saja mereka mendengarkan secara seksama.
Sementara Yao Shi, sepanjang anak gadisnya bercerita, dia telah beberapa kali memperlihatkan ekspresi terkejut dan tidak menyangka.
Sebenarnya pada saat itu, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ingin dia ajukan kepada Yao Mei. Namun karena masih ingin mendengarnya secara lengkap, maka Yao Shi memilih diam dan menahan perasaannya.
Sekitar beberapa menit kemudian, ketika Yao Mei selesai bercerita, barulah Yao Shi segera mengajukan pertanyaan.
"Jadi, secara tidak langsung, kau telah diangkat menjadi murid Ratu Pedang Kembar Kesunyian?" tanyanya dengan cepat.
Yao Shi menebak bahwa anak gadisnya itu pasti telah diangkat jadi murid Ratu Pedang Kembar Kesunyian. Mengingat bahwa selama berada di dalam goa, ia telah menerima banyak ilmu darinya.
Gadis cantik itu minum arak dulu sebanyak dua cawan. Setelah selesai, ia baru menjawab.
"Tidak, Ayah. Walaupun Ratu Pedang Kembar Kesunyian telah mengajarkan ilmu pedang kepadaku, tapi dia tidak mengangkat aku sebagai muridnya. Bahkan dia pun tidak memintaku supaya menjadikannya guru. Beliau hanya meminta supaya aku menggunakan ilmu pedang warisannya itu untuk kebaikan dan membantu orang-orang yang membutuhkan," kata Yao Mei menjelaskan kepada ayahnya.
"Hemm ... lalu, apakah sekarang kau telah berhasil menguasai semua ilmu yang telah dia ajarkan?"
"Sudah, Ayah. Hanya saja masih belum sempurna,"
"Kenapa begitu?"
"Karena tenaga dalamku masih belum cukup. Jadi, kedahsyatan dari setiap jurus itu tidak sampai maksimal,"
"Hemm ..." Yao Shi mendengus perlahan. Sepertinya dia sedikit menyesali akan hal tersebut.
Pada dasarnya, Yao Mei tahu betul bahwa ayahnya itu merupakan Datuk Dunia Persilatan aliran sesat yang menduduki urutan nomor satu.
Dari hal itu saja, ia sudah tahu setinggi apa kemampuan dan tenaga dalam yang dimiliki olehnya.
Tetapi, Yao Mei tidak berani untuk meminta sesuatu kepadanya. Apalagi sejak kecil, ia memang jarang meminta apapun.
Jadi yang bisa dia harapkan saat ini hanyalah dua hal. Pertama adalah menunggu keajaiban yang bisa membuat tenaga dalam dan tenaga saktinya meningkat secara pesat. Dan kedua adalah menunggu ayahnya mau menyalurkan tenaga dalam sekaligus tenaga sakti tersebut.
Suasana di dalam ruangan hening untuk beberapa saat. Pada saat itu, dengan cepat Dewa Arak Tanpa Bayangan berbicara memecahkan keheningan.
"Tua bangka, kau benar-benar orang tua yang tega sekali," katanya sambil menggelengkan kepala beberapa kali.
Ucapan itu membuat yang lain terkejut. Mereka tidak mengerti. Namun memilih untuk tetap diam.
"Apa maksudmu, setan arak?" tanya balik datuk sesat itu.
"Apakah ucapanku kurang jelas? Atau memang kau yang terlalu bodoh?" Dewa Arak Tanpa Bayangan berkata sambil melemparkan senyuman sinis. "Sudah jelas-jelas anakmu bicara seperti itu. Semestinya sebagai orang tua, kau harus bisa merasakan hatinya. Mengapa kau tidak mau memberikan sebagian tenaga dalam dan tenaga saktimu kepada Nona Mei? Bukankah hal ini sangat wajar apabila dilakukan olehmu?"
Para tokoh yang lain segera menoleh ke arahnya. Dalam hati, mereka baru teringat akan hal ini. Diam-diam, orang-orang tersebut juga membenarkan ucapan Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Hemm ... kenapa aku harus memberikan sebagian tenaga dalam dan tenaga sakti itu?"
"Aih, bodoh. Dasar bodoh!" maki orang tua itu sangat kesal.
Si Cakar Maut Yao Shi mengangkat kedua alisnya sambil tetap menatap lawan bicaranya tersebut.
"Benar kata Tuan Kiang, Ayah. Jadi, aku mohon supaya Ayah ..."
"Tidak! Aku tetap tidak mau melakukannya," katanya memotong ucapan Yao Mei dengan tegas.
"Ayah ..."
"Kau ..."
Suasana menjadi tegang setelah mendengar penolakan tegas tersebut. Mereka merasa kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh si Cakar Maut.
"Tuan Shi, mengapa kau tidak mau melakukannya? Bukankah ini bagus, supaya nantinya nama Nona Mei bisa terangkat dan dikenal oleh banyak orang," Zhang Fei yang juga merasa kesal, secara tiba-tiba ikut berbicara.
"Pokoknya aku tidak mau! Sekali tidak mau, sampai kapan pun tidak mau!" ia menjawab jauh lebih tegas dari sebelumnya.
"Kenapa? Coba sebutkan alasannya!" Zhang Fei sudah tidak bisa menahan diri lagi. Tanpa sadar, ia berkata dengan nada sedikit tinggi.
Padahal tadinya dia sangat berharap bahwa datuk sesat itu mau melakukannya. Dengan demikian, tingkat kemenangan di pihaknya bisa bertambah besar.
"Karena aku tidak ingin anakku ikut andil dalam peperangan ini!"
"Ayah!" Yao Mei langsung bangkit berdiri dan berkata dengan tegas. "Mengapa begitu? Bukankah dulu, Ayah telah mengizinkan aku untuk ikut terlibat? Mengapa sekarang, Ayah malah mengingkari ucapan sendiri? Apakah Ayah tidak malu kalau sampai orang luar tahu bahwa seorang Datuk Dunia Persilatan tidak menepati janjinya?"
Seketika Yao Shi langsung terkejut setelah mendengar ucapan tajam dan menusuk dari anak tunggalnya tersebut.
Dia tidak menyangka bahwa sekarang anak gadisnya berani membentak.
"Mei'er, sejak kapan kau berani membentak Ayahmu sendiri?" tanyanya sambil menatap tajam.
"Sejak Ayahku menjadi seorang pembohong!" jawabnya dengan tegas pula. "Satu hal yang harus Ayah tahu, bahwa aku paling tidak suka dibohongi. Oleh siapa pun itu!"
Datuk Dunia Persilatan aliran sesat itu kembali terdiam. Lama ... lama sekali dia menatap wajah Yao Mei secara dalam.
Ayah dan anak itu saling tatap. Yang lain juga menatap mereka secara bergantian.
"Baik! Kalau memang kau mau tenaga dalam dan tenaga saktiku, Ayah akan mengabulkannya. Tapi dengan satu syarat!" katanya kembali bicara setelah sekian lama menutup mulut.
"Apa itu?" tanya Yao Mei segera.
"Ayah ingin menguji apakah kau memang mampu untuk mendapatkannya atau tidak,"
"Apa?"
Yao Mei seketika terkejut. Begitu juga dengan yang lain.
"Tua bangka, ucapanmu itu terlalu bodoh. Bagaiamana mungkin Nona Mei mampu melawanmu?" Dewa Arak Tanpa Bayangan segera angkat bicara. Dia merasa tidak setuju dengan syarat tersebut.
"Hemm ... lalu, apa maksudmu, setan arak?"
"Bagaimana kalau Ketua Fei akan menemaninya? Mereka berdua adalah pendekar muda pilihan. Ada baiknya, kau juga menguji Ketua Dunia Persilatan kita,"
"Baik. Aku setuju," jawabnya sambil menganggukkan kepala.
###
Maaf ya, sekarang author sedikit disibukkan dengan kegiatan 17-an karena menjadi panitia. Jadi mungkin hanya bisa up 1 bab dulu. Kalau sudah senggang, pasti akan up 2 bab seperti biasa.
Mohon pengertiannya ya ...