
"Terimakasih, Ketua Yin. Terimakasih," orang tua yang sejak tadi bicara langsung mengucapkan rasa terimakasihnya.
Dia dan yang lain sangat senang karena telah mendapat ampunan dari Ketuanya.
"Jangan berterimakasih kepadaku," ucap Yin Yin dengan cepat. "Tapi berterimakasih lah kepada Ketua Fei. Sebab kalau bukan karena dirinya, mungkin aku telah memberikan hukuman yang berat kepada kalian,"
Sebenarnya sejak jauh-jauh hari, Yin Yin sudah berniat untuk memberikan hukuman kepada para petinggi yang berhasil dikelabui oleh pihak musuh itu.
Hanya saja niat tersebut tiba-tiba dibatalkan setelah mendengar permintaan Zhang Fei.
Alasan kenapa dia mau menuruti permintaannya adalah karena gadis cantik itu memandang tinggi Ketua Dunia Persilatan. Di satu sisi, hal tersebut dilakukan sebagai bukti bahwa Yin Yin mau mendengar dan menuruti ucapannya.
Untuk selanjutnya, siapa pun pasti sudah mengerti. Apalagi, semua itu menyangkut dengan perasaan!
"Terimakasih, Ketua Fei," kata pria tua tadi sambil memberikan hormat dan diikuti yang lainnya.
Zhang Fei menanggapinya dengan senyuman. Kemudian dia berkata, "Baiklah, semua masalah di sini sudah selesai. Sekarang, mari kita kembali ke Partai Pengemis,"
Semuanya langsung mengangguk. Orang-orang itu pun segera berlalu dari Kuil Kehidupan dan berniat untuk kembali ke markas.
Di tengah-tengah perjalanan, Zhang Fei sempat menemui seorang mata-mata yang selalu mengikuti dan mengawasi di belakangnya.
Ia memberi perintah kepadanya supaya memberikan laporan terkait masalah ini kepada Jenderal yang berada di daerah setempat.
Tujuannya adalah supaya Jenderal tersebut mengurusi hal-hal yang menyangkut Kuil Kehidupan lebih lanjut lagi.
###
Tengah malam sudah tiba. Malam ini kebetulan terang bulan. Zhang Fei dan yang lainnya baru saja tiba di markas pusat Partai Pengemis.
Kedatangan mereka disambut meriah. Semua anggota bersorak-sorai gembira setelah mengetahui bahwa Ketua mereka berhasil membereskan masalah yang selama ini telah mengganggu ketenteraman di sana.
Malam itu, seluruh anggota Partai Pengemis melangsungkan pesta arak. Di halaman depan, puluhan orang pengemis sedang duduk bersila sambil menikmati arak keras bersama.
Pesta itu berjalan secara meriah. Setelah semua orang mabuk dan merasa kenyang, mereka langsung tidur pulas di halaman depan tersebut.
Sementara di dalam ruangan, di sana kini ada Zhang Fei dan Pengemis Tongkat Sakti yang sedang berbicara empat mata.
Mereka tidak ikut pesta arak. Keduanya lebih suka berbincang-bincang dan minum dengan santai.
Selama beberapa waktu belakangan, keduanya telah membahas cukup banyak hal. Mereka pun sempat menceritakan pengalaman masing-masing.
Begitu suasana mulai tenang, barulah Zhang Fei berkata lebih serius dengan membahas persoalan yang tadi siang dia bereskan.
Dia menceritakan semua yang terjadi di Kuil Kehidupan secara singkat namun jelas. Si Pengemis Tongkat Sakti menganggukkan kepala beberapa kali.
Walaupun hanya mendengarkan ceritanya saja, namun dia sudah bisa membayangkan semuanya. Orang tua itu benar-benar bangga. Kekagumannya kepada Zhang Fei bertambah kuat daripada dahulu kala.
"Ternyata apa yang aku ucapkan beberapa tahun lalu itu menjadi kenyataan," katanya sambil tersenyum.
"Ucapan yang mana, Tuan Bai?" tanya Zhang Fei sambil mengerutkan kening.
"Ah, Tuan Bai bisa saja. Mungkin hal itu hanya kebetulan," kata Zhang Fei seraya tersenyum lembut.
"Tidak, tidak," orang tua itu menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Orang yang sudah banyak pengalaman di masa lalu, pasti akan mempunyai prediksi yang sama denganku," lanjutnya menegaskan.
Memang benar, sejak dulu, setiap tokoh angkatan tua yang melihat Zhang Fei, pasti akan berkata serupa seperti halnya si Pengemis Tongkat Sakti.
Walaupun di antara mereka tidak ada yang mengenal Zhang Fei secara penuh, namun prediksi tokoh-tokoh itu pasti akan sama.
Orang-orang seperti mereka tidak melihat latar belakang. Melainkan melihat orang yang diprediksinya.
Zhang Fei hanya tersenyum hangat untuk menanggapi ucapan tersebut. Dia tidak ingin membahasnya lebih lanjut.
Setiap kali ada orang yang memujinya, dia pasti selalu mencari cara untuk segera menyelesaikan pujian tersebut.
Sejak dulu, Zhang Fei tidak pernah ingin dipuji oleh orang lain. Alasannya adalah karena dia takut akan menjadi sombong dan angkuh karena semua pujian itu.
Seperti yang diketahui, pada umumnya, kalau manusia tidak bisa membawa dan menguasai diri, maka dia akan berubah drastis ketika orang lain memuji dirinya secara terang-terangan.
Zhang Fei tentu tidak mau hal itu terjadi kepadanya. Maka dari itu, sebisa mungkin dia selalu mencegah kalau ada orang lain yang memujinya.
Saat ini ia sedang menuangkan arak ke dalam cawan. Ia minum sebanyak tiga kali. Setelah itu, Zhang Fei segera mengubah topik pembicaraan.
"Tuan Bai, sebelumnya aku ingin meminta maaf kepadamu,"
"Minta maaf soal apa?" tanyanya dengan cepat.
"Aku tidak berhasil menemukan obat penawar itu. Walaupun sudah mencari sekuat tenaga, aku tetap tidak berhasil menemukannya," Zhang Fei segera menundukkan kepala. Dia merasa bersalah sekaligus menyesal karena tidak bisa menemukan obat penawar tersebut.
Sementara itu, mendengar ucapan Zhang Fei, si Pengemis Tongkat Sakti tidak terlihat sedih sama sekali. Dia justru malah tersenyum. Tanpa terasa, kedua matanya mulai berair. Namun sebisa mungkin dia terus menahan supaya air mata tersebut tidak menetes.
"Ketua Fei, mengapa kau harus meminta maaf kepadaku? Mengapa juga kau merasa bersalah seperti itu?" tanyanya seraya tertawa. "Dalam hal ini, kau sangat tidak bersalah, jadi tidak perlu meminta maaf. Lagi pula, kau tidak terlibat sama sekali terkait kejadian yang telah terjadi kepadaku. Jadi tenanglah. Jangan terlihat murung seperti itu,"
Diam-diam, si Pengemis Tongkat Sakti memandangi Zhang Fei dengan tatapan lain. Dia pun terlihat menganggukkan kepalanya. Seolah-olah ada sesuatu yang ia sukai dalam diri anak muda itu.
"Tapi ... Tuan Bai, seharusnya ... seharusnya aku bisa membantumu untuk kembali seperti semula. Tapi ... tapi ...," Zhang Fei tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ia merasa tenggorokannya saat itu tercekat.
"Sudahlah, Ketua Fei. Lagi pula, aku sudah merasa nyaman dengan kondisiku saat ini,"
Ia memandangi Zhang Fei dengan tatapan hangat. Begitu pula sebaliknya.
Pada saat itu, tiba-tiba Zhang Fei teringat akan seseorang yang ia dia anggap bisa membantu si Pengemis Tongkat Sakti.
"Ah, aku tahu. Walaupun tidak berhasil menemukan obat penawar itu, tapi aku yakin Tuan Bai masih bisa sembuh. Di dunia ini, mungkik hanya dia seorang yang dapat menyembuhkanmu," ucapnya seraya berseru girang.
"Apa maksudmu, Ketua Fei? Siapa orang yang maksudkan itu?" tanya Pengemis Tongkat Sakti penasaran.
"Tabib Dewa Dong Ying!" katanya dengan tegas. "Aku yakin, orang tua itu pasti bisa mengembalikanmu seperti semula,"