
Malam harinya, tanpa mengulur waktu, Zhang Fei langsung benar-benar pergi menuju ke kediaman pejabat yang dimaksudkan oleh para warga tadi.
Setelah bertanya-tanya, rupanya pejabat yang hendak dia kunjungi itu bernama Loo Ji Kun, ia sering dipanggil Tuan Loo. Kabarnya, orang itu menjabat sebagai Walikota di Kota Yunnan.
Tuan Loo sudah menjabat sekitar lima tahun. Selama dirinya menjabat, kehidupan warga di Kota Yunnan sangat memprihatinkan. Mereka hidup serba kekurangan.
Padahal tadinya, warga di Kota Yunnan bisa dibilang cukup makmur. Mereka bisa hidup bahagia walau hanya mengandalkan hasil sawah ladang atau sejenisnya.
Tapi, semua kemakmuran dan kebahagiaan itu seketika lenyap ketika Loo Ji Kun menggantikan Walikota sebelumnya.
Sudah banyak warga Kota Yunnan yang melakukan protes terhadap pemerintahan Loo Ji Kun. Sayangnya, semua itu tidak ada hasil. Malah ada kabar yang beredar bahwa setiap warga yang melakukan protes, pasti akan mendapat bencana dalam hidupnya.
Kalau tidak mati mengenaskan, pastilah warga itu akan hilang lenyap begitu saja.
Semenjak kejadian itulah, tidak ada lagi warga sekitar yang berani menentang peraturannya. Semuanya terpaksa tunduk terhadap segala aturan yang diberikan oleh Walikota tersebut.
Tidak hanya itu saja, bahkan sudah ada cukup banyak pendekar-pendekar dunia persilatan dari berbagai penjuru yang sengaja datang dan memberikan pelajaran kepada Walikota Loo Ji Kun.
Namun, setiap pendekar yang melakukan hal itu, pasti akan mengalami nasib sama. Mereka bakal tewas secara mengenaskan.
Apalagi ada desas-desus yang tersiar bahwa Walikota itu mempunyai banyak kaki tangan yang juga berasal dari kalangan rimba hijau.
Oleh sebab itulah, meskipun ia bertindak sesuka hati, tapi tetap tidak ada orang yang berani melawannya.
Sekarang, secara tiba-tiba telah ada seorang pendekar muda yang sengaja ingin berkunjung dan memberikan pelajaran kepadanya. Lalu, apakah ia akan berhasil? Benarkah dia bisa memberikan "hadiah" kepada Walikota Loo Ji Kun?
Saat ini Zhang Fei sudah tiba di kawasan sekitar kediaman sang Walikota. Meskipun sebelumnya dia sudah mendengar cerita tersebut dari beberapa warga, tapi tekadnya sudah bulat.
Apapun yang terjadi, dia tetap akan memberikan pelajaran kepadanya.
Bukankah salah satu tugas yang diberikan oleh guru dan kakeknya, adalah membantu mereka yang membutuhkan?
"Sepertinya itulah gedung yang dimaksudkan," gumam Zhang Fei sambil memandangi gedung megah dan tinggi yang ada di depannya.
Setelah dipastikan benar, ia kemudian menyimpan kuda miliknya di sebuah tempat yang agak gelap dan sepi. Kebetulan di tempat itu terdapat banyak rumput hijau yang tumbuh subur. Sehingga sekalian saja ia membiarkan kudanya merumput.
Zhang Fei segera melompat turun dari punggung kuda. Ia membenarkan tali sabuknya dan melakukan persiapan lain. Begitu selesai, dirinya segera berjalan mendekat ke bangunan tempat tinggal Walikota Loo Ji Kun tersebut.
Di depan pintu gerbang utama itu terlihat ada dua orang penjaga bertubuh tinggi kekar. Mereka mengenakan pakaian seragam dengan senjata tombak di tangan kanannya masing-masing.
"Apakah Tuan Loo ada di dalam?" tanya Zhang Fei kepada penjaga itu dengan nada hambar.
"Siapa kau?" tanya balik si penjaga.
"Pertanyaanku saja belum dijawab,"
"Hemm ... mau apa malam-malam begini datang kemari?"
"Aku ingin bertemu dengan Tuan Loo,"
"Tidak bisa. Beliau sudah istirahat. Sekarang, lebih baik kau pergi saja dari sini,"
Zhang Fei menatap tajam ke arah dua penjaga itu. Tanpa banyak bicara, dia langsung bergerak dengan sangat cepat. Beberapa totokan segera dilancarkan, hanya satu helaan nafas saja, tahu-tahu dua penjaga tersebut sudah ambruk ke tanah dalam keadaan tak sadarkan diri.
Setelah berhasil melumpuhkan dua penjaga, ia langsung masuk ke dalam sana.
Suasana di halaman depan sepi sunyi. Tidak nampak ada satu pun bayangan manusia. Seolah-olah, di tempat itu memang tidak ada penghuninya.
Zhang Fei terus berjalan. Dia ingin segera masuk ke dalam. Pada akhirnya, sekitar beberapa helaan nafas kemudian, ia sudah tiba di pintu masuk.
Suasana di sana masih sama. Sepi dan hening. Tidak terdengar ada suara mencurigakan apapun.
Ke mana para penghuninya? Benarkah gedung itu sudah dikosongkan? Menurut kabar, Walikota Loo Ji Kun mempunyai banyak kaki tangan, tapi kenapa sekarang tidak terlihat seorang pun?
Berbagai macam pertanyaan seperti itu tiba-tiba bermunculan dalam benaknya. Dia sungguh heran, sebab baru sekarang dirinya merasa curiga.
Tanpa sadar, secara perlahan Zhang Fei meneruskan langkahnya kembali.
Begitu tiba di tengah-tengah ruang tamu yang besar itu, mendadak ia mendengar ada suara angin tajam yang datang dari empat penjuru.
Wushh!!! Wushh!!!
Empat batang anak panah tiba-tiba melesat secepat kilat ke arahnya.
Wutt!!!
Ia menggerakkan kedua tangannya secara serempak. Hanya dengan gerakan sederhana, empat batang anak panah itu telah berada di genggamannya.
Zhang Fei menjatuhkan empat anak panah tersebut ke lantai. Baru saja selesai, kejadian yang sama kembali terulang. Kali ini, anak panah yang melesat ke arahnya malah semakin banyak lagi.
Namun dengan gerakan yang sama, dia kembali berhasil merontokkannya.
"Kalau kalian punya nyali, kenapa hanya berani menyerang dari tempat gelap saja?" Zhang Fei berkata dengan nada dingin. Sepasang matanya juga memandang ke setiap penjuru yang ada.
Cukup lama dia menunggu, tapi tetap tidak ada jawaban yang terdengar.
Wushh!!!
Secara mendadak, sebatang tombak setengah depa tiba-tiba melesat dari arah belakangnya.
Mata tombak itu berwarna putih keperakan. Tajamnya tidak perlu diragukan lagi. Dari luncurannya saja, siapa pun bisa menilai bahwa orang yang melemparnya, pasti bukan manusia sembarangan.
Namun Zhang Fei sudah bersiaga atas segala kemungkinan yang akan terjadi. Tiba-tiba dirinya memutar tubuh, bersamaan dengan itu ia langsung melepaskan pukulan jarak jauhnya.
Wutt!!!
Tombak yang melesat cepat itu tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Lalu kemudian balik melesat ke tempat asalnya dengan kecepatan lebih tinggi.
Krakk!!!
Pangkal tombak yang terbuat dari kayu melesak ke dinding cukup dalam. Seluruh batang tombak masih bergetar tiada hentinya.
"Bagus, bagus, sekali. Suatu demonstrasi tenaga dalam yang patut dipuji,"
Sebuah suara agak besar tiba-tiba terdengar dan menggema ke seluruh ruangan.
Sesaat kemudian, dari setiap penjuru mata angin terlihat ada cukup banyak bayangan manusia yang bermunculan.
Mereka mengenakan pakaian dan senjata yang berbeda.
"Delapan, sepuluh, lima belas, dua puluh," Zhang Fei bergumam sambil terus menghitung bayangan manusia yang muncul tersebut.
"Tiga puluh ..."
Rupanya di ruang tamu itu, kini sudah hadir tiga puluh orang yang saat ini sudah mengepung dirinya!
"Sepertinya aku sudah masuk ke dalam perangkap mereka," ujarnya perlahan.
Suasana di dalam ruangan seketika diliputi oleh ketegangan. Tiga puluh orang tersebut, semuanya menatap tajam ke arah Zhang Fei. Hawa pembunuh sudah terasa menyesakkan dada. Seolah-olah, setiap saat bisa saja terjadi banjir darah!