
Di halaman itu, saat ini ternyata sudah ada cukup banyak orang yang bersenjata lengkap. Tidak perlu diterangkan lebih lanjut, sudah tentu mereka itu adalah anak buah Hartawan Ouw.
Orang-orang yang jumlahnya hampir mencapai empat puluh tersebut, saat ini sudah mengelilingi Zhang Fei dan lainnya.
Hartawan Ouw masih ada di sana. Ia masih berdiri di tempatnya semula.
Sepasang matanya yang tajam laksana golok, memandang ke arah tiga tokoh dunia persilatan yang telah membunuh orang-orang kepercayaannya.
Sebenarnya dia sangat marah dengan peristiwa yang berlangsung itu. Hanya saja, Hartawan Ouw juga bukan orang bodoh. Maka dari itulah sebisa mungkin dia harus menahan nafsunya.
"Iblis tua Ouw, orang-orang kepercayaanmu sudah mati," kata Zhang Fei dengan nada dingin.
"Ya, aku tahu. Dan aku sangat kagum dengan kemampuanmu, anak muda," ucapnya memuji Zhang Fei.
"Aku tidak butuh pujianmu,"
"Itu terserah. Tapi aku memang mengagumimu. Usiamu masih muda, tapi kemampuanmu sudah sangat tinggi. Kalau saja kau berada di pihakku, mungkin aku akan memberikanmu posisi tinggi,"
"Sayangnya, kita berada di jalan yang berseberangan. Kalau kau mau memberiku keududukan, ak pun tidak sudi untuk menerimanya,"
"Ya, itu sudah pasti. Karena itulah aku tidak mau menawarkan apapun kepadamu,"
Meskipun sedang berhadapan dengan tiga tokoh kelas atas, tapi sikap Hartawan Ouw masih seperti biasanya. Tetap dingin dan berwibawa.
Di wajahnya yang dipenuhi lemak itu, tidak terlihat sedikit pun rasa takut. Ia justru memandangi satu-persatu tiga orang di depannya.
"Heh, setan tua. Aku ingin bertanya kepadamu,"
"Oh, apa yang ini ditanyakan oleh Orang Tua Aneh Tionggoan?" tanyanya sambil tersenyum.
"Hahaha ... tidak kusangka, ternyata kau juga mengenali aku," ucap orang tua itu seraya tertawa sinis.
"Kau adalah salah satu tokoh penting dalam rimba hijau, mana mungkin aku tidak mengenalmu?"
"Hemm ... baiklah, baiklah," katanya mengangguk beberapa kali. "Sebenarnya, apakah kau mempunyai hubungan terkait dengan masuknya orang-orang asing ke negeri kita?"
"Itu benar, Tuan. Sedikit banyaknya, aku ikut terlibat dalam hal tersebut,"
"Aku juga mendengar, kau sempat membicarakan Partai Panji Hitam, dan sepertinya hubunganmu dengan partai itu juga sangat dekat,"
"Tidak salah. Memang akulah salah satu orang kepercayaan mereka,"
Hartawan Ouw menjawab setiap pertanyaan Orang Tua Aneh Tionggoan dengan jujur.
Dia sendiri tidak percaya, ternyata orang tersebut mempunyai nyali yang besar.
"Hemm, kau tahu, apa akibatnya dari perbuatan yang kau lakukan selama ini?"
"Aku tahu,"
"Tapi kenapa kau tetap melakukannya? Apakah kau tidak takut mati?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan ikut berbicara.
"Mati adalah suatu hal yang pasti. Jadi, untuk apa aku takut?"
"Bagus, bagus sekali. Rupanya kau benar-benar pemberani," ucapnya memuji Hartawan Ouw. "Bagaianna kalau nanti kau benar-benar mati?"
"Jangankan nanti, Tuan. Mati sekarang pun tidak jadi soal,"
"Hemm, kau serius?"
"Aku tidak becanda,"
Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak bicara lebih lanjut. Dia hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali, lalu menoleh ke arah Zhang Fei.
"Anak Fei, lakukan sekarang,"
"Baik, Tuan,"
Zhang Fei segera bersiap. Sedetik kemudian, dirinya sudah meluncur deras ke arah Hartawan Ouw. Ia sudah berniat untuk membunuh orang tua itu dalam satu kali serangan.
Karenanya dalam gerakan tersebut, dirinya telah mempersiapkan tenaga yang besar.
Siapa nyana, ketika jarak yang tersisa hanya setengah langkah, tiba-tiba dari samping sebelah kanan, melesat setitik bayangan putih keperakan.
Sinar itu meluncur dengan cepat sekali. Untunglah Zhang Fei mempunyai mata yang sangat tajam, tepat sebelum benda itu menembus tubuhnya, ia sudah melompat satu langkah ke belakang.
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan tiba-tiba muncul bergerak cepat ke arahnya. Bayangan itu bukan lain adalah manusia.
Manusia yang mengenakan pakaian serta cadar hitam.
"Jangan terburu-buru dulu, bocah kecil," kata salah satu dari mereka sambil tersenyum dingin dibalik cadarnya.
"Siapa kalian?" tanya Zhang Fei cukup terkejut.
"Mereka adalah dua orang anggota Partai Panji Hitam yang selalu mengawasi gerak-gerik Hartawan Ouw," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan dengan cepat.
Anak muda itu menoleh ke belakang. Seolah-olah ia kurang percaya terhadap ucapannya.
"Tua bangka itu benar. Tidak disangka, ternyata ia mempunyai pengetahuan cukup banyak," kata orang serba hitam yang berada di sebelah kiri.
Zhang Fei semakin heran. Bagaimana mungkin orang tua itu bisa tahu?
Keningnya berkerut. Beberapa pertanyaan tiba-tiba muncul di benaknya.
Mengetahui akan hal tersebut, mendadak Dewa Arak Tanpa Bayangan juga ikut bicara.
"Setiap orang yang bekerja sama dengan partai besar, pasti akan ada yang selalu mengawasinya. Entah itu untuk memastikan agar orang tersebut berada dalam pengawasannya, ataupun juga supaya tidak ada pihak lain yang berani mengganggunya,"
"Oh, benarkah, Tuan?" tanya Zhang Fei lebih jauh.
Dia masih hijau dalam dunia persilatan. Pengalamannya tidak sebanyak dua orang tua itu, jadi wajar apabila masih ada banyak hal-hal yang belum dia ketahui.
Maka dari itu, mumpung masih ada kesempatan, dirinya ingin mencari tahu hal yang memang tidak dia ketahui.
"Tentu saja, anak Fei. Lagi pula, kau harus selalu hati-hati. Karena biasanya, masih ada anggota lain selain mereka berdua,"
"Aih, kalau begitu, kita sudah terkepung? Gerak-gerik kita sudah sejak tadi diketahui oleh mereka?"
"Sepertinya begitu," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan mendahului sahabatnya.
"Ah ..."
Zhang Fei mengeluh tertahan. Dia baru menyadari akan hal ini.
Kalau sudah begini, mungkinkah ia bisa menyelamatkan diri dari kepungan itu?
"Jangan panik, anggap saja semua ini sebagai bekal pengalamanmu untuk di kemudian hari, anak Fei. Sekarang, lebih baik kau fokuskan pikiranmu saja," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Baiklah, Tuan. Aku mengerti,"
"Sudah, bicaranya?" tanya sosok serba hitam itu lagi.
"Sudah," jawab Zhang Fei dengan tegas.
"Bagus. Kalau begitu, sekarang saatnya untuk mengirimmu ke neraka,"
Orang serba hitam itu langsung mencabut pedang tipis yang tadi tertancap. Setelah berhasil, dia segera melancarkan tebasan ke arah Zhang Fei.
Wutt!!!
Cahaya putih keperakan langsung gemerlap. Hawa pedang yang lumayan pekat, segera dia rasakan dengan jelas.
Menyadari lawannya bukan orang sembarangan, tanpa banyak bicara lagi, Zhang Fei langsung mencabut Pedang Raja Dewa.
Trangg!!!
Benturan pertama terjadi. Beberapa saat kemudian, mereka segera melanjutkan pertarungannya.
Sosok serba hitam itu memainkan pedang tipis miliknya dengan cepat dan ganas. Jurus-jurus pedang yang ia miliki rupanya cukup hebat.
Tapi hal itu masih belum cukup untuk membunuh Zhang Fei.
Belasan jurus sudah berlalu. Awalnya mereka seimbang, tapi sekarang, sosok serba hitam mulai terlihat terdesak.
Pedang Raja Dewa bergerak menebas dari kanan ke kiri mengincar leher dan kepala. Kadang-kadang, pedang itu juga memberikan tusukan yang mengarah ke beberapa titik.