
Cucu dari Ketua Partai Pengemis itu tidak segera menjawab. Dia lebih dulu melirik ke arah Yu Yuan dengan tatapan tidak senang.
"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertanya," jawab gadis cantik itu dengan nada dingin. "Lagi pula, mau aku berada di mana pun, itu bukan urusanmu,"
Chen Liu Yin atau yang biasa dipanggil Yin Yin itu, tidak melirik lagi ke arah Zhang Fei. Dia memilih melangkah ke depan, seolah-olah sengaja ingin menjauh dari Zhang Fei.
Anak muda itu sendiri merasa ada yang aneh dengan sikap Yin Yin. Walaupun sebelumnya mereka tidak pernah bertegur sapa, tapi tidak seharusnya dia bersikap sedingin itu.
'Ah, mungkin hanya perasaanku saja,' batinnya sambil menghela nafas panjang.
Sementara itu, dua puluh orang pendekar sesat masih terlihat berdiri di tempatnya masing-masing. Sepertinya mereka baru akan bergerak lagi apabila mendapat perintah dari Walikota Loo Ji Kun.
Di langit, malam semakin larut. Cahaya rembulan sudah lenyap karena tertutup oleh awan kelabu. Suara lolongan serigala di kejauhan sana, terdengar cukup menyeramkan.
"Aku tidak menyangka, ternyata situasinya akan seramai ini," setelah lama menutup mulut, akhirnya Walikota Loo Ji Kun berbicara lagi.
Beberapa kali dia memandangi tiga pendekar muda itu secara bergantian. Ada rasa kagum, heran, dan juga kesal yang bercampur menjadi satu.
"Kenapa kalian masih diam saja? Ayo, bereskan bocah keparat itu," tegasnya sambil menunjuk ke arah Zhang Fei. "Apabila dua gadis ****** itu menghalangi, jangan tanggung-tanggung, habisi juga mereka," katanya melanjutkan.
"Kami terima perintah," jawab dua puluh pendekar sesat secara bersamaan.
Mereka kembali mengambil sikap kuda-kuda. Tiga helaan nafas kemudian, orang-orang itu langsung menerjang ke depan.
Karena sudah mengetahui bagaimana kehebatan Zhang Fei, maka para pendekar sesat itu akhirnya dibagi menjadi tiga bagian.
Lima orang menyerang Yu Yuan, lima orang lagi juga menyerang Chen Liu Yin. Sedangkan sepuluh orang sisanya, langsung melancarkan jurus dahsyat ke arah Zhang Fei.
Pertempuran hebat yang tadi sempat terhenti, sekarang mulai dilanjutkan lagi.
Wushh!!! Wushh!!!
Bayangan para pendekar sesat bagaikan setan. Lima batang senjata tajam menyerang ke arah Yu Yaun, pedang dan golok berkelebat dengan cepat dan siap mencabik-cabik tubuhnya.
Gadis itu agak terkejut pada saat melihat kehebatan ilmu meringankan tubuh lawannya. Namun karena situasinya sudah serius, dia pun tidak mau bermain-main lagi.
Pedang di tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Dia langsung menurunkan jurus pedang khas dari Perguruan Teratai Putih.
Jurus Bunga Teratai Bermekaran sudah digelar. Sambaran pedang yang mengeluarkan cahaya putih keperakan langsung menggulung di depan tubuhnya dan menghalau lima serangan yang datang.
Benturan nyaring terjadi. Pertarungan langsung berjalan dengan seru.
Lima pendekar sesat yang menjadi lawannya tidak mau menaruh belas kasihan. Dengan cepat mereka meningkatkan serangan dan daya tenaga dalam setiap usahanya.
Sekitar dua puluh jurus kemudian, keadaan mulai berbalik. Yu Yuan tidak bisa bergerak leluasa lagi. Seluruh jalan keluarnya sudah tertutup rapat oleh para pendekar sesat itu.
Tetapi walaupun demikian, dia tetap berusaha sekuat tenaga. Berbagai macam jurus khas Perguruan Teratai Putih yang lebih berbahaya, segera dia keluarkan pada saat itu juga.
Di sisinya, Chen Liu Yin yang juga melawan musuh dengan jumlah sama, terlihat sudah mulai bertarung dengan sengit. Bedanya, pertarungan gadis ini lebih seru dan menegangkan daripada pertarungan milik Yu Yuan.
Bedanya, Yin Yin masih kurang pengalaman bertarung. Sehingga sesekali dirinya terdesak oleh serangan lawan. Untunglah setiap kali terpojok, ia selalu bisa membebaskan dirinya dengan jurus-jurus pedang yang diajarkan oleh sang kakek.
Kelebatan pedang tipis miliknya bagaikan bianglala. Setiap tebasan yang dilakukan olehnya mendatangkan ancaman maut tersendiri. Lima pendekar sesat yang ingin membunuhnya jadi tidak berdaya.
Meskipun mereka menang dalam jumlah, tapi sangat jelas bahwa mereka kalah dalam adu jurus.
Karena alasan itulah dalam dua puluh lima jurus saja, Yin Yin sudah bisa melumpuhkan dua orang pendekar sesat. Meskipun mereka tidak sampai tewas, namun keduanya mengalami luka yang tidak ringan. Malah satu di antara mereka ada yang kutung tangan sebelah kanannya.
Yin Yin tidak berhenti sampai di situ saja. Lima jurus kemudian, tiba-tiba dirinya melompat ke depan. Pedang tipis itu ditebaskan, dia menyerang dengan jurus Dewi Bunga Turun ke Bumi.
Pedangnya mengeluarkan cahaya gemerlap. Pertarungan sengit segera berlangsung. Benturan antar senjata tidak terhindarkan lagi.
Sekitar dua belas jurus kemudian, jerit memilukan sudah terdengar. Dua orang pendekar sesat tampak melompat mundur. Di beberapa bagian tubuhnya sudah ada luka yang mengeluarkan darah cukup banyak.
Satu orang musuh sisanya, karena dia sudah kalah mental, maka dengan perjuangan cukup mudah saja, Chen Liu Yin juga mampu melumpuhkannya.
Di satu sisi, bersamaan dengan jalannya dua pertarungan tersebut, Zhang Fei sudah dikeroyok oleh sepuluh orang pendekar sesat.
Mereka yang menyerangnya adalah pendekar kelas satu. Kalau diteliti lebih lanjut, mungkin orang-orang itu adalah yang terbaik di antara lainnya.
Sehingga tidak heran kalau jurus yang mereka berikan lebih telengas dan berbahaya.
Sepuluh batang senjata pusaka hilir-mudik tanpa berhenti. Kilatan cahaya terus mewarnai jalannya pertarungan.
Zhang Fei sudah berada dalam konsentrasi penuh. Pada saat mendapatkan kesempatan yang baik, secara tiba-tiba dirinya membentak nyaring.
Seluruh batang Pedang Raja Dewa bergetar keras. Hawa pedang menyeruak. Dia mengeluarkan lagi jurus Pedang Penakluk Jagad yang sangat digdaya itu.
Setelah jurus tersebut keluar, semua musuhnya jadi tergetar. Buru-buru mereka menyelamatkan dirinya masing-masing.
Tapi sayangnya, semua usaha yang mereka lakukan tidak ada yang berhasil. Mereka tidak mampu lari dari amukan Pedang Raja Dewa!
Wutt!!! Trangg!!!
Sepuluh senjata tajam itu patah dalam waktu yang terbilang singkat. Kutungan senjata mereka terlempar ke segala arah.
Dalam keadaan terkejut, mendadak ada selapis cahaya putih kemilau yang melesat secepat kilat. Disusul kemudian dengan jerit memilukan yang menggema di tengah udara.
Darah segar berhamburan bagaikan bunga api. Satu-persatu dari sepuluh pendekar sesat itu ambruk ke tanah. Mereka mengalami luka parah di beberapa bagian tubuhnya.
Dalam waktu lima puluh jurus, Zhang Fei telah berhasil merobohkan musuhnya. Walaupun tidak tewas seluruhnya, tapi mereka juga tidak dapat bangun kembali.
Setelah pertarungannya selesai, dia langsung menghimpun kembali tenaga dan hawa murninya yang telah terbuang.
Pertempuran barusan benar-benar menguras tenaga. Meskipun lawan yang dia hadapi bukan tokoh pilih tanding, tapi karena jumlah mereka cukup banyak, maka hasilnya tetap sama saja.
Zhang Fei menghela nafas lega. Masih untung dia bisa memenangkan pertarungan barusan. Walau di beberapa bagian tubuhnya terdapat luka akibat senjata lawan, tapi baginya hal tersebut bukan masalah berarti.