
Zhang Fei langsung tergetar hatinya. Dia tidak pernah menyangka, ternyata nenek tua yang memiliki suara seperti kaleng rombeng itu adalah salah satu Datuk Dunia Persilatan.
'Pantas saja Tuan Kai dan Tuan Kiang tampak sedikit segan kepadanya,' batin anak muda itu.
Sekarang, setelah mengetahui siapakah si nenek tua, Zhang Fei tidak berani bertindak gegabah lagi.
Walaupun kemampuannya pada saat ini sudah tinggi, tapi rasanya dia masih berada di bawah dari para Datuk Dunia Persilatan.
Ya, dia yakin akan hal tersebut.
Sementara itu, Nenek Tua Seribu Jarum terlihat sedikit agak kesal ketika serangannya berhasil digagalkan oleh Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Setan arak, berani sekali kau mencampuri urusanku," katanya dengan nada tidak senang.
"Nenek tua, bukan begitu. Tapi dia ini masih muda. Apakah kau tidak malu, menyerang pendekar muda yang masih hijau seperti dirinya? Bagaimana kalau kabar ini sampai menyebar luas? Bukankah nantinya kau bakal menjadi bahan tertawaan sahabat dunia persilatan?"
Ucapan itu tepat bersarang di benak Nenek Tua Seribu Jarum. Untuk sesaat ia menjadi serba salah.
Di satu sisi, dirinya sangat kesal kepada Zhang Fei yang berani kurang kepadanya. Tapi di sisi lain, dia pun membenarkan ucapan Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Ia adalah seorang Datuk Dunia Persilatan. Tokoh ternama dalam rimba hijau, bagaiamana mungkin dia mau menjatuhkan namanya begitu saja?
"Hemm ..." ia mendengus kesal. "Siapa anak muda itu sebenarnya?" tanyanya lebih jauh.
"Margaku Zhang, namaku Fei. Salam hormat untuk Nenek Tua Seribu Jarum," kata anak muda itu bersikap lebih hormat lagi.
"Cih, kenapa sikapmu malah melunak? Apakah kau terkejut setelah mengetahui siapa aku sebenarnya?" tanya Nenek Tua Seribu Jarum kepada Zhang Fei.
Anak muda itu tidak menjawab. Tapi dia pun tidak menampik ucapannya.
Sementara itu, Orang Tua Aneh Tionggoan yang sejak tadi terdiam, sekarang secara tiba-tiba membuka mulutnya.
"Cui Ni, kenapa kau bisa datang bersama anggota Partai Panji Hitam? Apakah sekarang, kau sudah bekerja sama dengan mereka?" tanyanya sambil menatap tajam.
Bagi orang lain, peristiwa ini mungkin terbilang biasa.
Namun bagi dua Datuk Dunia Persilatan itu, peristiwa tersebut justru terhitung luar biasa.
"Siapa sudi bekerja sama dengan mereka?" Nenek Tua Seribu Jarum tidak terima dengan tuduhan tersebut.
"Lalu, kenapa kau bisa ada di sini?"
"Aku hanya membalaskan hutang masa lalu,"
"Tidak disangka, ternyata iblis sesat sepertimu, masih tahu akan balas budi," ejek Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil tersenyum dingin.
"Tutup mulutmu, setan arak!" ujarnya sambil menunjuk orang tua itu.
Sementara itu, tujuh orang serba hitam yang sejak tadi berdiri sejajar, sampai saat ini mereka masih berada di posisi semula. Orang-orang itu tidak berani bergerak.
Agaknya mereka baru akan bergerak ketika mendapat perintah dari Nenek Tua Seribu Jarum.
Di langit, rembulan tiba-tiba menghilang. Segumpal awan hitam bergerak menutupinya. Suasana menjadi sedikit gelap. Beberapa ekor kelelawar terbang mengelilingi halaman kediaman Hartawan Ouw yang saat ini sudah berubah menjadi mayat.
"Perkenalkan, mereka adalah Tujuh Setan Hitam. Pasukan khusus yang diciptakan oleh Partai Panji Hitam untuk menjaga keamanan di wilayah ini," ucap datuk sesat itu setelah ia terdiam cukup lama.
Bersamaan dengan dirinya bicara, tiba-tiba tujuh orang serba hitam melakukan sebuah gerakan. Mereka mencabut pedang dan golok yang menjadi senjata masing-masing.
"Hajar tiga manusia itu!" kata Nenek Tua Seribu Jarum memberikan perintah.
Orang-orang itu menyerang Zhang Fei dan dua Datuk Dunia Persilatan dengan ganas.
"Serahkan mereka kepadaku dan anak Fei, lebih baik kau mengurus nenek tua itu saja," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan kepada sahabatnya.
"Baiklah, aku serahkan mereka kepadamu,"
Orang Tua Aneh Tionggoan melompat ke atas. Tubuhnya meluncur di antara kilatan pedang dan golok yang berseliweran tanpa henti.
"Serahkan kepalamu, nenek tua!" ujarnya membentak nyaring sambil melancarkan serangan tangan kosong.
Di satu sisi, Tujuh Setan Hitam saat ini sudah menyerang Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan. Tiga orang menyerang anak muda itu, sedangkan empat sisanya melawan si orang tua.
Tiga orang yang berhadapan dengan Zhang Fei, kebetulan menggunakan pedang sebagai senjatanya.
Sekarang mereka sudah mengurung anak muda itu dari tiga penjuru. Kilatan batang pedang yang sangat tajam sudah mengancam tubuhnya setiap saat.
Pedang Raja Dewa yang ia genggam belum mengeluarkan taringnya. Sampai pada saat ini, Zhang Fei masih belum menyerang. Dia hanya menangkis dan menghindari tiga pedang tersebut.
Ia memang berniat untuk mempermainkannya.
"Bocah, kenapa kau selalu menghindar? Apakah kau takut? Kalau benar, lebih baik menyerah sebelum terlambat," kata salah satu dari mereka sambil terus menyerang.
"Untuk apa aku takut terhadap tikus seperti kalian? Hemm ... kalian saja yang tidak becus menggunakan pedang," ejeknya sambil menangkis satu-persatu serangan yang datang.
Tiga orang itu langsung marah. Mereka paling tidak terima apabila mendapat ejekan. Apalagi, ejekan tersebut berasal dari anak muda.
"Berikan nyawamu!" katanya sambil berteriak nyaring.
Wushh!!!
Satu pedang menusuk dari arah depan. Dua pedang lainnya menebas dari sisi kanan dan kiri. Mereka bergerak dan menyerang secara bersamaan. Setiap yang dilakukannya selalu saling melengkapi satu sama lain.
Tidak bisa dipungkiri lagi, kerjasama yang mereka lakukan cukup baik. Malah kalau saja kemampuannya masih seperti dulu, mungkin saat ini Zhang Fei sudah kewalahan menghadapi anggota Tujuh Setan Hitam tersebut.
Untunglah kemampuannya sekarang sudah berbeda jauh dari yang dahulu. Jadi, walaupun di mata orang lain, mereka sangat berbahaya, tapi baginya masih belum apa-apa.
Wushh!!!
Zhang Fei menjejakkan kakinya menjejak ke tanah. Tubuhnya langsung membumbung tinggi ke atas. Sesaat kemudian, ia sudah melancarkan serangan dari tengah udara.
Pedang Raja Dewa tiba-tiba bergerak mengeluarkan kilatan cahaya putih keperakan!
Suara bertemunya logam terdengar sehingga membuat telinga mendengung.
Ketika dirinya sudah kembali ke bawah, tanpa membuang waktu lagi, Zhang Fei segera melanjutkan usahanya.
Ia mengeluarkan jurus Empat Tangan Gerakan Pedang. Tiga orang lawannya terkejut. Semua kerjasama dan serangan yang mereka lakukan serempak, ternyata bisa dengan mudah dipatahkan oleh anak muda itu.
Trangg!!!
Tiga batang pedang itu patah menjadi dua bagian. Kutungan pedang melesat dan menancap di tanah. Belum selesai rasa terkejut mereka, tahu-tahu ketiganya merasakan tenggorokan dingin. Dingin seperti udara pada malam ini.
Beberapa detik kemudian, tiba-tiba darah segar mengalir deras dari tenggorokannya masing-masing. Mereka langsung ambruk ke tanah dengan kondisi tidak bernyawa.
Zhang Fei berhasil mengalahkan mereka hanya dalam waktu kurang dari dua puluh lima jurus.
Sementara di sisinya, berbarengan dengan kejadian barusan, Dewa Arak Tanpa Bayangan juga terlihat sedang mendesak lawan menggunakan Guci Emas Murni, senjata pusaka andalannya.