
"Tentu saja. Dia adalah sahabat baikku sejak muda dulu,"
Orang Tua Aneh Tionggoan kemudian melompat turun dari kudanya. Ia menunggu orang tua yang mirip dengan pengemis itu tiba di depannya.
Melihat orang tua tersebut turun, dengan cepat Zhang Fei juga melakukan hal sama.
Karena kebetulan di pinggir hutan itu banyak rumput hijau yang tumbuh subur, maka keduanya segera melepaskan kuda-kuda itu untuk merumput.
Sementara itu, diam-diam Zhang Fei merasa terkejut. Sebab ia tidak menyangka, ternyata dalam waktu yang sangat singkat, orang tua tadi malah sudah tiba di depannya.
"Rupanya kau tidak berubah," kata Orang Tua Aneh Tionggoan ketika sahabatnya itu sudah tiba.
"Kalau berubah, itu bukan aku," jawabnya seraya tertawa.
Dia kemudian menghabiskan sepotong daging ayam itu. Setelahnya segera menenggak arak di dalam cawan.
"Siapa pemuda ini? Apakah dia adalah anakmu?" tanyanya sambil melirik ke arah Zhang Fei.
"Tentu saja bukan, dasar bodoh," jawabnya tertawa.
"Lalu dia siapa?"
"Ia adalah sahabat mudaku. Marganya Zhang, namanya Fei,"
Orang Tua Aneh Tionggoan sengaja tidak membeberkan siapa Zhang Fei lebih jauh. Bukan karena tidak percaya kepada sahabatnya itu, melainkan karena ia merasa, bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya.
"Oh, jadi ini anak muda yang tadi membicarakan aku?"
Ia memandang Zhang Fei dengan tatapan mata setajam pisau. Ketika ditatap olehnya, anak muda itu merasa jantungnya langsung berdegup lebih kencang.
'Bagaimana mungkin dia bisa tahu? Benarkah orang tua ini mempunyai telinga yang sangat tajam?'
Batin Zhang Fei bertanya-tanya. Dia merasa heran, dari mana orang tua itu mengetahui bahwa ia sempat membicarakannya?
Cukup lama orang tua itu memandangi dirinya dengan tatapan sama. Hal tersebut membuat Zhang Fei menjadi salah tingkah.
Untunglah pada saat itu terdengar Orang Tua Aneh Tionggoan berkata. "Anak Fei, beri salam kepadanya. Dia adalah Dewa Arak Tanpa Bayangan Kiang Cen. Inilah orang yang tiga hari lalu mengirimkan surat lewat sebatang anak panah,"
"Oh, baiklah," katanya pura-pura tidak tahu. "Zhang Fei memberikan hormat untuk Tuan Kiang. Mohon maaf apabila aku yang muda ini sempat berlaku tidak sopan," ujar anak muda itu sambil membungkukkan badan.
Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak menjawab. Tiba-tiba tangan kanannya dijulurkan. Ia mengelus-elus kepala Zhang Fei menggunakan telapak tangannya.
Pada saat itu, Zhang Fei ingin mengangkat kepala. Tapi anehnya dia justru tidak mampu mengangkat kepala itu.
Dia merasakan seolah-olah ada sesuatu yang telah menekan kepalanya. Sesuatu itu sangat berat sehingga tidak bisa dihilangkan hanya menggunakan tenaga luar.
'Hemm ... sepertinya dia ingin mengujikku," batinnya.
Menyadari akan hal tersebut, diam-diam dia menyalurkan hawa murni dan tenaga sakti ke seluruh tubuhnya. Beberapa saat kemudian, perlahan namun pasti, Zhang Fei mulai bisa mengangkat kembali kepalanya.
Walaupun cukup lama, tapi setidaknya usaha yang dia lakukan itu tidak sia-sia.
Dia berhasil mengangkat kepalanya kembali.
"Hahaha ..." tiba-tiba Dewa Arak Tanpa Bayangan tertawa lantang. Setelah menghabiskan sisa arak di dalam guci, ia kemudian berkata kepada Orang Tua Aneh Tionggoan. "Tua bangka, ternyata kau tidak salah memilih teman perjalanan,"
"Tentu saja. Karena itulah aku mengajaknya mengembara bersama," jawab orang tua itu seraya tertawa pula.
Dua sahabat itu tertawa cukup lama.
Zhang Fei tahu apa yang sedang mereka bicara dan tertawakan. Hanya saja dia memilih diam dan tidak mau ikut campur.
Sepuluh menit kemudian, ketika matahari sudah mulai tenggelam, Dewa Arak Tanpa Bayangan mengajak berpindah tempat. Dia membawa dua orang itu ke sebuah pohon besar yang berdaun rimbun.
Mereka lalu duduk tepat di bawahnya.
Setelah melakukan bincang-bincang untuk beberapa saat, tiba-tiba Dewa Arak Tanpa Bayangan mengubah arah pembicaraan. Sekarang raut wajahnya mulai serius.
"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya ada sesuatu penting yang ingin kau bicarakan kepadaku,"
Orang Tua Aneh Tionggoan tahu bagaimana sifat dan karakter setiap sahabatnya. Dari semua sahabat yang ada, hampir semua tidak pernah mengajaknya bertemu secara khusus apabila tidak ada sesuatu yang ingin dibicarakan.
Maka dari itulah, walaupun sekarang dia belum tahu tujuan Dewa Arak Tanpa Bayangan mengajaknya bertemu, tapi ia yakin, dibalik pertemuan ini ada hal penting yang menyangkut semua kejadian di dunia persilatan sekaligus Negeri Tionggoan sendiri.
"Baiklah, jadi begini," katanya mulai bicara lagi. "Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan kepadamu. Pertama, aku ingin mengajakmu pergi ke kediaman Hartawan Ouw, sebab di sana akan terjadi sesuatu,"
"Soal ini aku sudah tahu," potong Orang Tua Aneh Tionggoan dengan cepat.
"Ya, itu karena kau sudah menumpas habis Kelompok Bunga Merah,"
"Dari mana kau tahu?" tanyanya sedikit heran.
"Karena aku sudah beberapa waktu tinggal di kota ini,"
"Hemm, baiklah. Lanjutkan," pintanya.
"Nah yang kedua, Ketua Dunia Persilatan Beng Liong mengirimkan undangan khusus kepada Empat Datuk Dunia Persilatan. Dia mengajak bertemu tepat pada bulan purnama nanti. Pertemuan itu akan diadakan di Gedung Ketua Dunia Persilatan,"
"Untuk apa beliau meminta Empat Datuk Dunia Persilatan berkumpul dan berbicara dengannya?"
"Aku sendiri belum tahu. Hanya saja, hal ini pasti menyangkut semua masalah dalam rimba hijau,"
"Baik, aku akan datang ke sana,"
"Untuk yang ketiga ini, negeri kita mulai dimasuki oleh orang-orang asing. Sebagian dari mereka juga ada yang berasal dari negeri lain,"
"Aih, kalau begitu keadaan Tionggoan semakin genting,"
"Benar. Kekacauan dalam dunia persilatan pun semakin menjadi. Secara tiba-tiba, tokoh-tokoh angkatan tua yang dulu mengasingkan diri, sekarang mulai bermunculan. Kabarnya, dalam rimba hijau juga akan terjadi perebutan benda pusaka,"
"Apa? Kau bicara serius?"
Orang Tua Aneh Tionggoan sangat terkejut. Dari semua kabar yang disampaikan oleh Dewa Arak Tanpa Bayangan, kabar terakhir inilah paling mengejutkan dirinya.
Bagaimana tidak? Tokoh-tokoh angkatan tua yang sudah lama mengasingkan diri itu jumlahnya tidak sedikit. Mereka pun tidak semua berasal dari aliran putih. Malah sebagian besar ada yang berasal dari aliran hitam.
Kalau benar kabar yang disampaikan itu, maka dunia persilatan benar-benar akan mengalami gejolak yang sulit dibayangkan.
"Aku tidak berbohong,"
"Lalu kau percaya dengan kabar terakhir itu?"
"Tentu saja. Malah aku sendiri sudah beberapa kali berjumpa dengan tokoh-tokoh yang mengasingkan diri itu, bagaianna mungkin aku tidak percaya?"
Dewa Arak Tanpa Bayangan mempunyai kebiasaan sama dengan Orang Tua Aneh Tionggoan. Malah tidak hanya merasa berdua, hampir kebanyakan tokoh angkatan tua, pasti sangat senang mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya.
Maka dari itu, tidak heran rasanya apabila mereka mengetahui banyak informasi tentang dunia persilatan.
Sementara di satu sisi, sejak awal Zhang Fei sudah mendengarkan semua pembicaraan mereka secara pasti.
Dan dia benar-benar dibuat terkejut ketika mereka membicarakan tentang Empat Datuk Dunia Persilatan.
Sekarang benaknya sedang bertanya-tanya, apakah benar bahwa dua orang tua di sisinya itu, merupakan bagian dari mereka?
###
Oh iya, untuk novel baru, mungkin update rutinnya bulan nanti ya. Soalnya mau didaftarkan kontrak dulu, tapi jangan lupa untuk menambahkan ke novel favorit kalian ya, hehe ...
Catatan, novel baru nanti genrenya Xianxia, berbeda dengan ini yang genrenya wuxia (klasik).
See you ...