
"Aku tidak peduli," jawbanya dengan nada dingin.
"Aku hanya mengungkapkan hal yang sebenarnya. Sudah lama kudengar ada seorang pendekar muda yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Aku merasa beruntung karena bisa bertemu denganmu secara langsung," kata si Tubuh Besi Tong Gok tidak menghiraukan ucapan Zhang Fei.
"Aku juga beruntung karena bisa bertemu pengkhianat di sini. Sehingga aku tidak perlu repot-repot mencari untuk memenggal kepalanya,"
Tong Gok tiba-tiba tertawa lantang. Suara tawanya bahkan sampai menggugurkan dedaunan yang terdapat di sekitar halaman.
"Harus aku akui, nyalimu memang besar, anak muda. Tapi untuk memenggal kepalaku, rasanya hal itu tidak mudah. Setidaknya kau harus berkorban cukup banyak apabila ingin melakukannya,"
"Omong kosong!"
Wutt!!!
Zhang Fei langsung bergerak. Dia melancarkan serangan pertama menggunakan pedang pusaka miliknya.
Namun belum lagi serangan itu mengenai si Tubuh Besi, tiba-tiba sembilan orang ninja yang berada di sisinya, sudah ikut bergerak secara bersamaan.
Mereka mencabut pedang panjang warna hitam itu. Secepat kilat, para ninja tersebut langsung menyambut serangan Zhang Fei.
Wutt!!! Wushh!!! Wushh!!!
Sembilan batang pedang panjang menggulung tubuh anak muda itu. Gabungan serangan yang mereka berikan sangat berbahaya. Kalau orang lain yang berada di posisinya, niscaya ia akan terbunuh dalam waktu singkat.
Untunglah yang ada di posisi itu adalah Zhang Fei. Anak tunggal dari si Pedang Kilat Zhang Xin.
Walaupun ia sendiri merasa kerepotan, tapi toh dia masih bisa membebaskan dirinya. Dengan gerakan kilat, ia telah berhasil lolos dari kepungan lawan.
Sekarang, dirinya sudah kembali ke posisi semula. Alasan kenapa dia mengambil langkah mundur, tak lain adalah karena Zhang Fei merasa tertekan oleh serangan gabungan mereka.
Sungguh, baginya lebih baik bertarung melawan tokoh Tionggoan yang mempunyai kemampuan lebih tinggi, daripada harus bertarung melawan para ninja dari negeri Jepun itu.
Kalau menghadapi tokoh-tokoh Tionggoan, Zhang Fei mungkin masih mempunyai akal. Tapi menghadapi para ninja tersebut, ia sendiri sampai dibuat kelabakan.
"Kenapa, anak muda? Apakah kau merasa tidak sanggup melawan mereka?" tanya si Tubuh Besi Tong Gok sambil tersenyum dingin.
Sepertinya dia berhasil membaca posisi Zhang Fei pada saat itu. Karenanya ia berani memberikan pertanyaan yang sebenarnya ejekan tersebut.
"Jangan terlalu meremehkan aku, pengkhianat. Jangankan sembilan orang, bahkan kalau harus menghadapi dua puluh orang sekali pun, aku rasa ... aku masih sanggup," jawab anak muda itu tidak mau kalah.
"Hahaha ... benarkah?" ia tertawa lagi. Kemudian si Tubuh Besi segera berbicara kepada para ninja. "Keluarkan Formasi Matahari Terbit ..."
Sembilan ninja itu menganggukkan kepala. Setelah mendengar perintah barusan, mereka langsung berlompatan ke berbagai penjuru.
Zhang Fei segera dikepung oleh lawan. Kepungan itu sangat rapat. Sehingga tidak ada celah sedikit pun untuknya melarikan diri.
'Apa lagi yang akan mereka lakukan?'
Ia memandang ke sekelilingnya. Dalam pada itu, diam-diam Zhang Fei juga sudah mengerahkan segenap kemampuannya.
Dia tahu posisinya sekarang. Dia pun sadar, kalau tidak berlaku serius, bukan tidak mungkin perjalanannya hanya akan sampai di sini.
Maka dari itu, jalan satu-satunya hanyalah berusaha sekuat mungkin dan mengeluarkan jurus andalannya!
Wutt!!! Wutt!!!
Sembilan ninja itu sudah bergerak. Pedang panjang yang mereka genggam seketika mengeluarkan cahaya putih keperakan yang kemilau.
Hawa pedang yang teramat pekat terasa mendera seluruh tubuhnya. Dalam waktu yang sangat singkat, mereka sudah tiba di depannya dan siap melancarkan serangan.
Di waktu yang sama, Zhang Fei juga segera mengeluarkan jurus pamungkasnya.
"Murka Pedang Dewa!"
Wutt!!!
Wushh!!!
Cahaya pedang menyeruak. Kilatan putih mewarnai malam terang bulan. Hawa pedang yang lebih dahsyat segera terasa.
Sembilan ninja itu tercekat. Gerakan mereka menjadi lambat. Malah untuk beberapa saat, mereka seolah-olah berubah menjadi patung.
Trangg!!! Trangg!!!
Percikan bunga api tiba-tiba saja memercik ke tengah udara. Sembilan batang pedang yang mereka genggam tahu-tahu sudah kutung.
Tidak berhenti sampai di situ saja, Zhang Fei segera menyerang lagi. Pedang Raja Dewa yang sudah mengeluarkan taringnya, langsung menerjang ke arah sembilan orang ninja itu.
Ia mengincar setiap titik berbahaya yang terdapat di tubuh manusia. Di antaranya adalah jantung dan tenggorokan!
Slebb!!! Srett!!!
Darah segar memercik. Suara jeritan menahan sakit langsung terdengar memilukan. Dalam waktu yang tidak lama, empat orang ninja sudah tewas di ujung pedangnya.
Lima orang ninja yang tersisa tercekat. Mereka tidak menyangka akan perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini.
Formasi serangan yang selama ini mereka banggakan, ternyata bisa dipatahkan dengan sangat mudah oleh seorang pendekar muda.
Karena jumlah anggotanya sudah berkurang, maka Formasi Matahari Terbit yang tadi digelar, kini menjadi hancur berantakan.
Mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kecuali hanya bertahan dengan sekuat tenaga.
Dalam pada itu, pertempuran yang terjadi di tengah halaman tersebut sudah berlangsung sengit. Sekarang yang berada di posisi menyerang adalah Zhang Fei. Ia terus memburu setiap musuhnya. Anak muda itu tidak pernah berhenti sebelum berhasil merenggut nyawa target.
Srett!!! Slebb!!!
Suara yang sama terus terdengar beberapa kali. Kurang dari dua puluh jurus berikutnya, Zhang Fei telah berhasil membunuh mereka semua.
Si Tubuh Besi yang menyaksikan sepak terjang anak muda itu tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya mampu memandangi Zhang Fei dengan tatapan tidak percaya.
Sungguh, ia tidak pernah membayangkan, ternyata kehebatan anak muda itu benar-benar tinggi.
'Kalau begini kenyataannya, aku jadi tidak yakin mampu menghadapi anak muda itu,' batinnya berkata.
Berpikir sampai di situ, tiba-tiba dia mempunyai akal untuk menyelamatkan diri.
Ya, yang bisa dia perbuat saat ini hanya lari. Lari sejauh dan secepat mungkin.
Namun, baru saja ia mempunyai niat seperti itu, tahu-tahu Zhang Fei sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Kau pikir bisa lari dariku?" tanyanya dengan nada dingin.
Si Tubuh Besi Tong Gok tercekat. Dia hanya bisa menelan ludah. Sepasang matanya menatap ke pedang yang masih digenggam oleh Zhang Fei.
Pedang pusaka itu masih meneteskan darah segar. Hawa pedang yang sangat pekat, bisa dia rasakan dengan sangat jelas.
"Serahkan kepalamu!"
Wutt!!!
Zhang Fei langsung melesat ke depan bersamaan dengan ucapan tersebut. Ia masih menyerang dalam jurus yang sama. Pedang Raja Dewa kembali menunjukkan taringnya, pedang itu mengincar jantung!
Tokoh angkatan tua dari aliran sesat tersebut langsung kaget setengah mati. Buru-buru dia menghindari amukan lawannya. Ia melompat mundur sejauh tiga langkah.
"Jangan pernah berpikir kau bisa menyelamatkan selembar nyawamu!" tukas Zhang Fei.
Pedang Raja Dewa berkilat. Cahaya pedang mulai menembus malam yang gelap. Si Tubuh Besi sadar akan posisinya saat ini. Karena merasa tidak ada lagi jalan keluar, maka secara terpaksa dia jadi melayani anak muda itu.