
Beberapa waktu kemudian, Zhang Fei dan Ou Yang Shen sudah tiba di sebuah tebing yang berdekatan dengan pusat Kota Hubei. Di sana ada cukup banyak wisawatan yang berdatangan dari berbagai penjuru.
Semakin bertambahnya waktu, maka semakin banyak pula wisatawan yang datang berkunjung.
Kedua orang tersebut memilih tempat duduk di bawah pohon rindang yang berdekatan dengan batu besar. Di sana tempatnya agak sepi, sehingga mereka bisa bicara sepuasnya.
Sebelum memulai pembicaraannya, Zhang Fei lebih dulu membuat segel arak yang sempat dia beli ketika di perjalanan tadi.
Beberapa tarikan nafas berikutnya, terdengar Yang Shen berbicara.
"Sebenarnya, apa tujuanmu datang ke Kota Hubei ini?" tanyanya tanpa menoleh.
"Sudah aku katakan, tujuanku datang kemari adalah untuk mencari pengalaman saja,"
"Tidak, aku tidak percaya," dia menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Bagi seorang pendekar, dalam setiap kunjungannya ke tempat-tempat tertentu, pasti dia akan melakukan penyelidikan atau mencari hal-hal yang mencurigakan. Bukankah begitu?"
"Benar," jawab Zhang Fei tidak menampik.
Perlu diketahui, Ou Yang Shen juga seorang pendekar. Jadi, tidak heran kalau dia pun mengetahui tentang hal-hal tersebut.
"Lalu, bagaimana tanggapanmu tentang Kota Hubei ini?" tanyanya lebih jauh.
Zhang Fei berpikir sebentar. Diam-diam dia pun menilai bagaimanakah sifat dan karakter orang yang ada di depannya tersebut.
Ia mengingat kembali awal pertemuan dan pembicaraannya selama di kedai arak. Setelah menganggap bahwa Ou Yang Shen ini bukan orang jahat, maka Zhang Fei pun segera menjawab.
"Kalau dilihat dari luar, sebenarnya Kota Hubei adalah kota yang sangat aman. Seolah-olah di kota ini tidak terdapat persoalan-persoalan yang merugikan banyak pihak seperti yang sering terjadi di tempat lain. Akan tetapi ..."
"Akan tetapi apa?" tanya Yang Shen dengan cepat.
"Semua tanggapan itu terpaksa aku tarik setelah menemukan suatu keganjilan,"
"Keganjilan? Bisa kau ceritakan keganjilan apa yang dimaksud itu?"
Yang Shen semakin penasaran. Dia ingin mendengar penjelasan Zhang Fei lebih lanjut lagi.
"Beberapa saat yang lalu, aku sempat berjalan-jalan ke daerah pinggiran Kota Hubei, awalnya memang tidak menemukan apa-apa. Tapi setelah diselidiki lebih lanjut, aku justru menemukan adanya daerah terlarang,"
Sambil bicara demikian, Zhang Fei juga membayangkan pengalamannya saat berada di sana. Dia masih ingat dengan jelas bagaimana sikap dua orang penjaganya yang sedikit aneh.
"Jadi, daerah terlarang itukah yang membuatmu merasa curiga?"
"Ya, aku rasa semuanya tidak sesederhana yang aku lihat. Kecurigaan itu semakin bertambah dengan sikap penjaganya yang arogan,"
Yang Shen mengangguk. Seakan-akan dia sudah paham terkait apa yang disampaikan oleh Zhang Fei.
"Kalau begitu, tujuan dan pengalaman kita memang sama," ujar Yang Shen setelah beberapa saat kemudian.
"Maksud, Paman?" tanya Zhang Fei seraya melirik ke arahnya.
"Kedatanganku ke kota ini, selain berkunjung, sebenarnya juga sedang mencari suatu keganjilan seperti yang telah kau ceritakan,"
"Jadi, Paman Shen juga telah mengetahui keberadaan daerah terlarang itu?"
"Ya, aku sudah tahu sebelumnya. Dan apa yang kau rasakan, sebenarnya sama dengan diriku,"
Ia berhenti sebentar. Setelah mengambil nafas, Yang Shen melanjutkan lagi ucapannya.
"Sebenarnya aku sudah mendapat informasi tentang keganjilan ini sebelumnya. Beberapa waktu lalu, salah satu sahabatku yang tinggal di Kota Hubei, pernah mengirimkan sepucuk surat. Dalam surat itu mengatakan bahwa di kotanya terjadi satu peristiwa yang aneh,"
"Peristiwa apa yang dimaksudkan olehnya, Paman?"
"Dalam surat tersebut, dia mengatakan bahwa ada cukup banyak warga yang hilang secara tiba-tiba. Menurutnya, para warga itu adalah mereka yang tinggal di daerah pinggiran,"
"Mungkin daerah terlarang itu ada sangkut pautnya dengan peristiwa yang dimaksudkan oleh sahabatmu, Paman,"
"Ya, aku juga beranggapan seperti itu," katanya sambil mengangguk.
"Kalau begitu, yang harus kita lakukan sekarang adalah memeriksa ke dalam daerah terlarang tersebut," ujar Zhang Fei mengutarakan pendapatnya.
"Benar. Tapi, bagaiamana caranya? Apakah kita harus lewat pintu depan?"
"Kalau tidak ada jalan lain, aku rasa hal itu pun tidak masalah,"
"Bagaimana jika para penjaga itu mengetahui kedatanganku?"
"Itu mudah. Kemampuan mereka juga tidak terlalu tinggi," kata Zhang Fei dengan tegas.
"Baiklah. Malam nanti, kita akan memulai penyelidikan ini,"
Yang Shen tidak perlu merasa ragu. Apalagi dia sudah banyak mendengar berita tentang anak muda bernama Zhang Fei tersebut.
Begitulah, setelah keduanya sepakat akan memulai penyelidikan, maka mereka menunggu malam hari tiba di tempat tersebut.
Sepanjang hari, keduanya terus bercerita tentang banyak hal. Dari cerita itu Zhang Fei juga bisa mengetahui bahwa Yang Shen sebenarnya bukan orang sembarangan.
Menurut pengakuannya, dia adalah salah satu murid dari seorang petinggi di Partai Gurun Pasir. Partai itu sendiri merupakan partai aliran putih terbesar yang menduduki posisi kedua.
Dari cerita singkat itu saja, siapa pun pasti bisa menilai bahwa kemampuan Ou Yang Shen pasti tidak bisa dipandang rendah.
Sementara itu, tanpa terasa malam hari sudah datang menyelimuti muka bumi. Kini keadaan di sekitar tebing menjadi benar-benar gelap.
Suara binatang penghuni hutan mulai terdengar riuh. Hawa dingin yang menusuk tulang segera bisa dirasakan dengan jelas.
"Sepertinya sekarang adalah saat yang tepat," sambil berkata demikian, Zhang Fei juga segera bangkit berdiri dari posisinya.
Ou Yang Shen tidak diam saja. Dia pun turut berdiri di sisi Zhang Fei.
"Apakah keadaan di Kota sudah mulai sepi?" tanya anak muda itu.
"Kalau keadaan di kota, semakin malam justru malah makin ramai. Tapi kalau keadaan di daerah pinggiran, saat malam begini pasti sudah sepi," jawab Yang Shen penuh rasa yakin.
"Kalau begitu, bagaiamana jika kita langsung menuju ke sana saja, Paman Shen?"
"Setuju. Aku rasa itu adalah langkah yang tepat,"
Dua orang pendekar itu langsung bersiap. Beberapa saat kemudian, mereka segera melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Jalan setapak yang curam itu tidak bisa menghalangi langkah mereka. Hanya sebentar saja, Zhang Fei dan Yang Shen sudah berada di jalan ramai kembali.
Setelah tiba di sana, tanpa membuang banyak waktu lagi, mereka berdua segera menuju ke daerah pinggiran yang menjadi tempat tujuannya.
Keadaan di sana terlihat sepi hening. Tidak nampak ada satu pun bayangan manusia kecuali hanya mereka berdua.
Wushh!!!
Ou Yang Shen melesat lebih dulu. Dia mencoba memancing kehadiran dua orang penjaga di sana.
Usaha itu membuahkan hasil. Sebelum dirinya memasuki pintu gerbang, tiba-tiba penjaga yang sebelumnya sempat menghalangi Zhang Fei, kini telah muncul dari balik semak belukar.
Wutt!!! Bukk!!!
Yang Shen bergerak cepat. Sebelum keduanya menurunkan serangan, dia sudah mendahuluinya. Hanya satu kali pukulan saja, mereka berdua langsung terkapar di atas tanah dalam keadaan tidak sadarkan diri.