Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Tiga Golok dan Empat Pedang


Tujuh orang itu segera mencabut pula senjatanya masing-masing. Tiga batang golok besar dan berat segera diangkat ke tengah udara. Empat macam pedang lemas juga sudah berkilat.


Sekarang, mereka telah siap menghadapi anak muda yang mencari penyakit itu. Orang-orang tersebut yakin, dengan gabungan kekuatannya, mereka pasti bisa membunuh si pemuda.


Apalagi dia hanya datang seorang diri. Aku rasa untuk membunuhnya sangatlah mudah, semudah membalikan telapak tangan. Pikir salah seorang dari mereka.


Sementara itu, Zhang Fei yang sudah tidak bisa menahan diri lagi, dia langsung melancarkan serangan pertama begitu melihat musuh-musuhnya siap.


Wutt!!!


Pedang Raja Dewa berkelebat cepat ke depan sana. Pertama kali turun tangan, Zhang Fei sudah mengeluarkan jurus keempat dari Kitab Pedang Dewa. Yaitu Memadamkan Rembulan Melenyapkan Bayangan.


Kilatan cahaya putih yang dikeluarkan oleh pedang pusaka itu semakin banyak. Ribuan kuntum bunga pedang memancar menyambar tujuh orang yang ada di dalam ruangan itu.


Dalam waktu sesaat saja, ruangan tersebut telah dipenuhi oleh hawa pedang yang sanggup membuat orang-orang awam pingsan karenanya.


Wushh!!! Wushh!!!


Tujuh orang musuhnya tidak mau diam saja. Melihat di pemuda sudah menyerang, dengan segera mereka meluncur ke depan dan menyambut serangannya.


Benturan langsung terjadi. Tiga orang yang maju pertama kali seketika merasakan tangannya ngilu. Goloknya bergetar keras akibat benturan barusan.


"Rupanya dia punya sedikit kemampuan," kata salah seorang berbicara kepada rekannya.


"Benar. Tapi jangan khawatir, kita pasti bisa membunuhnya,"


Wutt!!!


Selesai berkata seperti itu, orang tersebut langsung melayangkan bacokan golok. Bayangan golok memenuhi ruangan, gulungan sinar hitam melesat ke arah Zhang Fei.


Tiga macam serangan itu cukup merepotkan. Apalagi setelah dilihat lebih selidik, ternyata ketujuh orang tersebut, semuanya merupakan pendekar kelas atas satu.


Kalau saja yang bertarung sekarang adalah Zhang Fei di masa lalu, mungkin ia tidak akan berani datang seorang diri.


Lain halnya dengan Zhang Fei di masa sekarang.


Tanpa dia sadari, keberaniannya melawan kejahatan justru jauh lebih besar. Belum lagi pengalaman bertarungnya yang sudah semakin banyak. Tidak hanya itu saja, bahkan secara tidak langsung, kemampuan dan kematangan jurus-jurus milik Zhang Fei juga sudah meningkat cukup pesat.


Hal-hal semacam itu terjadi begitu saja. Mungkin Zhang Fei sendiri belum menyadari sepenuhnya.


Dia bisa mengalami hal itu tak lain adalah karena saking seringnya terlibat dalam dunia persilatan yang penuh dengan pertarungan-pertarungan menegangkan.


Sehingga secara otomatis, apa yang telah dia lewati itu malah menjadi 'pupuk' untuk dirinya sendiri.


Sepertinya pepatah kuno yang mengatakan bisa karena biasa, memang tidak salah. Ungkapan tersebut malah sangat benar.


Karena hampir semua orang di muka bumi ini, pasti pernah mengalaminya tanpa dia sadari.


Di dalam ruangan, saat ini pertarungan sengit sudah mulai berlangsung. Tiga orang itu menyerang Zhang Fei secara terus-menerus. Mereka tidak pernah memberikan waktu jeda untuknya.


Sayang sekali, walaupun serangan yang mereka berikan tiada putusnya, namun Zhang Fei tidak terlihat kewalahan sama sekali. Meskipun diserang dari tiga titik berbeda, tapi dia selalu punya cara untuk mengatasinya.


Jurus Memadamkan Rembulan Melenyapkan Bayangan benar-benar mampu menangani tiga orang tersebut. Terbukti sekarang, setelah lima belas jurus berlalu, Zhang Fei sudah mulai menguasai keadaan.


Keempat orang lainnya masih berdiri di pinggir. Mereka belum turun tangan. Bukan karena tidak ingin membantu, melainkan karena ruangan itu terlalu sempit.


Sehingga kalau sampai mereka ikut turun tangan, niscaya gerakannya akan terbatas. Jurus-jurus yang dikeluarkan juga tidak akan bisa berkembang dengan sempurna.


Wutt!!! Srett!!!


Setelah dua puluh jurus kemudian, suara teriakan terdengar cukup keras. Satu orang dari mereka sudah roboh bersimbah darah. Zhang Fei terus bergerak, dia mulai memberikan serangan balasan dengan dorongan delapan bagian tenaga miliknya.


Pedang Raja Dewa berkilat bagaikan petir. Setiap sambarannya mendatangkan perasaan ngeri. Gulungan sinar putih yang tercipta bagaikan pusaran angin puyuh di tengah gurun pasir.


Benda apapun yang ada di dekatnya, pasti akan langsung terbawa dan tergulung bersamanya.


Alasan kenapa Zhang Fei bisa membunuh mereka cukup mudah, salah satunya adalah karena orang-orang tersebut terlalu terburu nafsu sehingga gerakannya sedikit kacau.


Jangan lupa, dalam sebuah pertarungan yang melibatkan pendekar kelas atas, sedikit kesalahan saja bisa menyebabkan akibat yang sangat fatal.


Dan sekarang hal itu benar-benar terbukti.


"Anak muda, rupanya ilmu pedangmu tidak buruk," kata salah seorang berkata kepada Zhang Fei.


"Ini belum seberapa. Aku bahkan bisa melakukannya lebih baik lagi," jawab Zhang Fei sambil tersenyum sinis.


"Cihh! Kau terlalu sombong dan percaya diri,"


"Oh?" Zhang Fei mengangkat kedua alisnya. Seolah-olah dia penasaran dengan ucapan orang itu.


"Kau pikir setelah membunuh mereka, kau juga bisa membunuh kami dengan mudah?"


"Aku tidak mengatakan demikian,"


"Tapi aku bisa menebaknya,"


"Hemm ... tapi sepertinya, apa yang kau ucapkan tidak terlalu salah," ia kembali tersenyum sinis. "Aku rasa, membunuh kalian juga sama mudahnya dengan membunuh mereka," kata Zhang Fei sambil menunjuk tiga orang yang sudah menjadi mayat itu.


"Berisik! Lihat pedangku!"


Seseorang sudah tidak bisa lagi menahan diri dan amarahnya. Dia langsung meluncur ke depan sambil memberikan tusukan pedang yang mengarah ke bagian dada.


Trangg!!!


Zhang Fei mengangkat Pedang Raja Dewa dan menahan tusukan tersebut.


"Jangan terlalu gegabah. Karena aku bisa membunuhmu dalam hitungan detik,"


Orang itu menggertak gigi. Bersamaan dengan hal tersebut dia pun sedang berusaha menarik pedangnya kembali. Akan tetapi sayangnya usaha itu buntu.


Pedangnya masih tetap menempel dan seolah-olah tidak bisa ditarik.


Bukk!!!


Zhang Fei memberikan serangan menggunakan telapak tangan kiri. Musuhnya langsung terlempar hingga membentur tembok.


Karena merasa tidak terima, dengan segera dia bangkit berdiri dan kembali menyerang Zhang Fei.


Harus diakui, serangannya memang ceper. Tapi sayangnya ia sudah tidak bisa mengontrol diri sendiri. Sehingga setiap serangan yang harusnya berbahaya, justru malah sebaliknya.


Zhang Fei sempat mempermainkan orang itu beberapa waktu. Setelah merasa puas, dia langsung memainkan Pedang Raja Dewa dengan jurus yang sama.


Srett!!!


Darah segar menyembur ke tengah udara. Tubuh orang tersebut sempat berputar sebelum ambruk.


"Mengapa kalian hanya menonton dan tidak ikut bermain-main?" tanya Zhang Fei kepada tiga orang lainnya.


Mereka tidak ada yang menjawab. Setelah menyaksikan sepak terjang Zhang Fei, saat ini ketiga orang itu merasa sedikit jeri.


Akan tetapi karena semuanya sudah diluar kendali, mau tak mau mereka pun harus mengambil langkah yang sama.


Tiga orang itu menyerang serempak. Jurus pedang gabungan diberikan saya itu juga. Kilauan cahaya putih memburu dan memberikan sedikit tekanan.


Zhang Fei tersentak, ia mundur dua langkah ke belakang.


'Jurus mereka mengandalkan kecepatan. Itu artinya, aku harus bisa lebih cepat kalau ingin keluar sebagai pemenang,' batinnya berkata.