
Tanpa terasa tiga hari sudah berlalu. Selama tiga hari itu, berbagai macam laporan terus berdatangan ke Gedung Ketua Dunia Persilatan.
Setiap harinya, Zhang Fei selalu saja sibuk mengurus berbagai macam persoalan. Kebanyakan dari setiap laporan tersebut berhubungan dengan peperangan yang terjadi di daerah-daerah sekitar.
Belum lagi ada beberapa macam laporan tentang misteri yang harus dipecahkan.
Kadangkala Zhang Fei mengeluh. Ternyata menjadi Ketua Dunia Persilatan benar-benar berat. Dulu dia menyangka bahwa tugasnya hanya itu-itu saja.
Ternyata setelah kekacauan mencapai puncak, ia baru tahu betul, seperti apakah tugas Ketua Dunia Persilatan yang sesungguhnya.
Kalau saja tidak ada para Datuk Dunia Persilatan di sisinya, niscaya sudah sejak beberapa waktu lalu dia menyerah.
Untunglah para tokoh angkatan tua itu selalu menemaninya. Mereka selalu membantu Zhang Fei apabila ia merasa kesulitan. Mereka selalu mencari jalan keluar ketika dia kebingungan menghadapi suatu masalah.
Apa yang mereka lakukan kepadanya, setiap hari selalu bertambah. Zhang Fei percaya, dia tidak akan pernah bisa membalas kebaikan mereka. Walau dengan apapun caranya.
Tetapi di satu sisi lain, berkat orang-orang itu, berbagai persiapan bisa di atasi. Peperangan yang terjadi di beberapa daerah pun bisa selesaikan cukup mudah.
Meskipun perang terus terjadi, tetapi pihak mereka lebih sering membawa pulang kemenangan. Hal itu bisa terjadi karena para tokoh utamanya telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyatukan tenaga dan pikiran.
Dengan bermodalkan pengalaman dan ilmu-ilmunya, mereka bisa menghadapi semua itu. Strategi perang yang diberikan oleh para tokoh angkatan tua tersebut benar-benar bermanfaat.
Zhang Fei telah belajar banyak dari mereka.
Sehingga tanpa disadari, jati dirinya semakin terbentuk. Zhang Fei telah menjadi pribadi yang tenang dalam setiap kondisi. Ia tidak hanya matang di bagian luar, melainkan juga matang di bagian dalam.
Tanpa dia ketahui juga, sebenarnya para tokoh angkatan tua itu sering membicarakan dirinya di ruang pertemuan. Rupanya, diam-diam mereka juga memperhatikan perkembangan Zhang Fei.
Tidak hanya itu saja, bahkan mereka sengaja mengatasi masalah di depannya supaya dijadikan contoh.
Dan hasilnya tidak percuma. Zhang Fei benar-benar memanfaatkan itu semua. Sehingga, pemahan dan pengetahuannya pun ikut bertambah.
###
Pada saat itu hari sudah masuk sore. Para pendekar aliansi sudah kembali ke kamarnya masing-masing. Mereka sedang beristirahat karena seharian ini sudah berperang melawan musuh-musuhnya.
Zhang Fei dan Lima Datuk Dunia Persilatan sedang duduk di ruang pertemuan. Mereka melakukan aktivitas seperti biasanya.
Untuk yang kesekian kali, tiba-tiba seorang petugas mengetuk pintu. Setalah dipersilahkan masuk, petugas itu langsung memberikan sebuah laporan kembali.
Zhang Fei sebenarnya sudah agak malas. Apalagi seharian ini dia belum beristirahat. Tetapi karena hal itu menjadi tanggungjawabnya, maka mau tak mau dia harus tetap menerima dan membaca laporan tersebut.
Ia segera membuat gulungan surat dan membaca isinya. Setelah selesai, Zhang Fei segera menutupnya kembali.
"Hahh ..." tiba-tiba dia menghembuskan nafas panjang dan berat.
Zhang Fei menuangkan arak ke dalam cawan. Dia minum sampai tiga kali.
"Ada apa, Ketua Fei?" tanya Pendekar Pedang Perpisahan.
"Seorang anggota Organisasi Pedang Cahaya memberikan laporan bahwa di pusat Kota Sichuan terjadi hal-hal yang misterius," jawab Zhang Fei.
"Hal-hal misterius yang bagaiamana, Ketua?"
"Di sana sering terjadi pembunuhan berantai. Orang-orang kaya yang membela pemeirntah, pejabat setempat yang ikut membantu perjuangan warga, tiba-tiba mati mengenaskan. Sebagiannya lagi ada yang hilang tanpa jejak,"
"Aih, masalah apa lagi ini?"
Lima orang Datuk Dunia Persilatan yang ada di dalam ruangan sama-sama terkejut setelah mendengar penjelasan Zhang Fei. Mereka saling pandang satu sama lain.
Kejadian ini sangat diluar dugaan. Siapa pun pasti tidak pernah menyangka.
"Tapi, mengapa hal itu bisa terjadi? Bukankah di Kota Sichuan juga terdapat banyak prajurit Kekaisaran dan anak murid dari beberapa partai aliran putih yang berjaga?" tanya Pendekar Tombak Angin kebingungan.
Sebenarnya, setelah peperangan mulai sering terjadi, Kaisar Song Kwi Bun telah memerintah banyak prajurit untuk menjaga keamanan di setiap titik yang rawan.
Terutama sekali kota-kota besar yang sering dikunjungi dan memiliki banyak wisata, juga ada tempat-tempat lain yang memiliki kepentingan tersendiri.
Tidak hanya prajurit saja, bahkan anak murid partai-partai aliran putih pun disuruh menjaga di tempat-tempat tertentu oleh para Ketuanya.
Dengan tujuan supaya kehadiran mereka bisa meminimalisir kejadian-kejadian yang mendatangkan kerugian dan kekacauan.
Tetapi siapa sangka, langkah itu rupanya masih belum efektif untuk menjaga keamanan di wilayah-wilayah tersebut.
Mungkin karena musuh-musuh yang berdatangan bukan hanya merupakan pendekar kelas rendah. Melainkan ada juga tokoh-tokoh kelas atas.
"Sepertinya mereka kewalahan. Atau kalau tidak, mereka kecolongan dengan apa yang dilakukan oleh pihak musuh," sahut Dewi Rambut Putih yang segera mendapat anggukan kepala dari yang lainnya.
"Maka dari itulah, kita harus segera ke sana," kata Zhang Fei ikut berbicara.
"Kenapa harus kita yang turun tangan secara langsung, Ketua?" Mengapa tidak kita perintahkan saja para pendekar aliansi? Atau mungkin, Ketua juga bisa memerintahkan anggota Organisasi Pedang Cahaya," ucap Dewi Rambut Putih seperti kurang setuju.
Zhang Fei tersenyum sambil menoleh ke arahnya. Setelah itu, dia berkata lagi.
"Nyonya Ling, menurutku, persoalan ini tidak semudah yang terlihat. Lagi pula, orang-orang yang melakukannya pasti bukan pendekar kelas rendah. Minimal, mereka adalah jajaran pendekar kelas satu ke atas,"
"Kalau tidak seperti itu, mana mungkin pihak kita kewalahan? Jika yang melakukannya pendekar biasa, aku rasa Organisasi Pedang Cahaya pun sudah cukup untuk mengatasinya. Tetapi ternyata, mereka bahkan kembali mengirimkan laporan. Itu artinya, anggotaku merasa tidak mampu mengatasi masalah ini,"
Jauh-jauh hari, Zhang Fei telah memerintahkan kepada semua anggota Organisasi Pedang Cahaya bahwa ketika mereka menghadapi persoalan dan tidak sanggup untuk mengatasinya, maka lebih baik tidak usah memaksakan diri.
Alasan kenapa dia memberi perintah seperti itu adalah demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.
"Benar apa Ketua Fei itu, Nyonya Ling. Aku juga berpendapat bahwa mereka yang melakukannya merupakan tokoh kelas atas. Maka dari itu, ada baiknya kita sendiri yang turun langsung ke lapangan," sambung Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Kalau orang tua itu sudah berbicara, maka yang lainnya tidak bisa lagi membantah.
Begitu juga pada saat ini! Semua orang langsung merasa setuju. Termasuk Dewi Rambut Putih sendiri.
"Baiklah. Kalau Tuan Kiang sudah berbicara, maka aku menurut saja," katanya sambil tersenyum.
Meskipun tidak ada yang berpihak kepadanya, tetapi Dewi Rambut Putih tidak merasa kesal sedikit pun.
Apalagi, ia tahu orang seperti apakah Dewa Arak Tanpa Bayangan itu.
"Baiklah, karena semua sudah setuju. Maka aku akan mengambil keputusan bahwa kita akan pergi malam ini juga," kata Zhang Fei dengan tegas.
Walaupun merasa lelah, tetapi dia tetap tidak boleh melepaskan tanggungjawab jawab ini.
Maka dari itu, ia harus berangkat secepat mungkin!